Waktu Terhenti di Jogja

Alexa – Jakarta

Buat reader yang hometown-nya Jogjakarta trus merantau ke kota lain terutama yang hectic macam Jakarta, Medan, Surabaya, Singapore, Hongkong (hehehe) – pas suatu kali mengunjungi Jogja kembali pasti merasakan perasaan yang sama denganku.

Baru jam 5.00 pagi KA yang kutumpangi sudah tiba di Stasiun Tugu dan kulanjutkan perjalanan dengan becak, kuminta si abang becak membuka kanopinya dan begitulah aku dalam becak yang terbuka meninggalkan stasiun Tugu. Kubiarkan angin pagi menerpa pipiku, suara bel becak berbaur dengan klenengan andong dan suara bel stasiun yang khas memindahkanku ke dimensi waktu lain.

becak

Rasanya mesin waktu berhenti di Jogja, segala kekawatiran yang menggelayut di hati tiba-tiba hilang, relaks …hanya itu yang kurasakan. Mana sempet teringat sama Antasari, Rhani Juliani, Bank Century. Cuman lima menit sudah sampai depan rumah mbakku.

BI

Kali ini aku khusus ke Jogja untuk urusan keluarga – adikku jalan naik pesawat (sempet dia bilang..duile cuman beda 15.000 Rp. tiketnya – tapi kujawab aku ingin bernostalgia naik KA, merasakan getaran-getaran jalannya, mendengarkan irama kereta beradu dengan rel, merasakan irama kehidupan di setiap stasiun pemberhentian). Kaki sedikit bengkak akibat posisi duduk selama 10 jam maka kuajak keponakan-keponakanku lari pagi….(yang kumaksud lari pagi tuh bukan lari yang konsisten, tapi lari sampai enggos-enggos disambung jalan trus saat napas sudah terkumpul lagi kembali lari).

Kami memasuki jalan yang kanan kirinya penuh rumah kuno model Belanda – tepat di depan sebuah rumah ada mbok-mbok tenongan lewat. Kujenguk isi dagangannya berisi sate “tikus” (dagingnya kecil2 banget dan kebanyakan lemak bening yang kenyil-kenyil itu dibumbui kecap…kelihatannya yummy), kuajak ponakan-ponakanku mencicipi…”di mana bu le’ makannya.”

Ya disini, di emperan rumah orang… Mereka setuju dan begitulah kami duduk si emperan pintu pagar rumah orang, si mbok meracik pesanan kami. Dari dalam rumah keluar seorang ibu sepuh, “Jeng, mbok masuk sini…ora ilok anak gadis ngiras ngono.” Beh, anak gadis ? (berarti penampakanku masih seperti 20 tahun ke bawah dong), akhirnya kami masuk dan duduk di teras rumah. Si Ibu masuk ke dalam dan keluar lagi membawa beberapa cangkir teh nasgitel. Beliau menemani kami dan omong punya omong ternyata beliau temannya ibuku waktu SMA – dia juga cerita kalau anaknya ada yang kerja di Jakarta juga.

Setelah jajanan tandas, kami pamit pulang dan begitu sampai rumah mbakku serta kakak ipar langsung mengajak pergi. “Ke mana?”, sarapan Saooto ( biar mantap – orang Jogja selalu menyebut soto jadi saaoto) di depan stasiun Tugu…, “males akh dah kenyang,” begitu aku selesai menolak langsung bibir mbakku yang sudah dirias manger-mangar itu maju 5 cm, mas Iparku langsung menengahi,”Wis…wis ayo berangkat.”

Jadilah demi menghindari perang Bharatayudha – kami berangkat. Di sana rame dan dengan bangga mbakku nanya,”enak tho?”, Aku cuman mengangguk-angguk, padahal sih dibandingkan dengan Soto di depan kantor Polisi Pancoran masih enak Soto Pancoran itu.

Kami pulang ke rumah dan matahari yang mulai naik menyebabkan panas Jogja mulai membakar kulit – bahkan di dalam rumah. Adikku yang naik pesawat sudah datang – bisik punya bisik, kami sepakat untuk tidur di hotel yang ber AC saja. Cukup jalan kaki sudah ada hotel yang mengusung konsep butik hotel, sayang tidak ada kamar kosong. Jalan kaki dilanjutkan hingga P.Mangkubumi dan ada hotel Kumbokarno – yang masih punya kamar kosong, kami segera check in, ponakan-ponakanku langsung minta izin ikutan tidur di hotel jadi mereka pulang ambil baju seragam dan tas sekolah buat besok.

Bu de Ratih ( isteri dari Pak de Ib yang ceritanya ada dalam the Shadow Play) sudah tiba dari Semarang dan ikut-ikutan mau tidur di hotel juga tapi dengan menawar…”Aku ora iso turu untel2an ngono.” Ya udah deh kami pesan extra bed buat dia.

Sibuk ngobrol dan bercanda di hotel untuk maksi kami cari-cari gudeg – beberapa meter dari hotel dan tepat di muka suatu gang ada penjual gudeg kering kesukaanku….bungkuuus Bu. Kata mbakku sih itu jalan Sosrowijayan – tempat penginapan murmer (murah meriah). Beberapa bungkus gudeg dibawa ke hotel, eh si Bu De gak doyan – dia mau beli sendiri gudeg favoritnya.

Dia jalan sendiri dengan gesit – badannya mungil dan langsing waktu aku tanya umurnya, beliau bilang 75 tahun padahal secara penampakan masih cocok lho disebut berusia 56 tahunan gitu ( Apa 75? Kok belum pake tongkat sih BuDe… Ooh bocah kurangajar ki, demikian jawabnya). Tidak lama kemudian dia muncul sembari membawa gudeg favoritenya…basah dan njemek, kami tidak ada yang doyan akhirnya dia makan sendiri.

Sorenya kami jalan ke rumah induk ntuk rapat keluarga dan pas lewat sebuah angkringan – kudengar percakapan beberapa lelaki di sana – “Saiki wulan opo tho?” Bulan Agustus (Gosh dalam hatiku – sekarang bulan Oktober Paaak). Somehow aku jadi ingat film Superman sewaktu Louis Lane –kekasihnya meninggal, dia terbang mengitari bumi untuk membalikkan waktu – begitulah yang kurasakan jika di Jogja – putaran waktu seolah-olah berhenti. Santaai lan sak panduuum jadi prinsip hidup yang mengantarkan warga Jogja menjadi warga Indonesia dengan usia harapan hidup yang paling tinggi.

Usai rapat keluarga, aku menunjukkan beberapa tulisanku yang sudah dimuat di majalah dan media online – mbakku langsung antusias.”Dik, aku tuh ingin banget hidup sebagai penulis. Lha kok malah kamu yang sudah mulai.” Dia mengeluarkan buku tulisan Arsewendo Atmowiloto berjudul “Mengarang itu Mudah”, aku belum bisa juga mengarang, lanjutnya. “Mbak, inget nggak dulu waktu SD malah sudah bikin cerita komik terus disewain ke temen2, nah dulu aja dah canggih gitu – sekarang pasti bisa deh”, jawabku membesarkan hatinya.

Dia malah menatap jauh berangan-angan,” Gini aja, lima tahun dari sekarang kita kumpul lagi – bikin kafe kayu dua lantai di Parangtritis. Bawahnya kafe, atasnya tempat tinggal kita sembari nulis buku-buku.” Trus para anak-anak dan lelaki gimana?, Anak-anak rak wis kuliah tho ning Jakarta karo si ketiga wae, nah lelaki..

Malamnya dan keesokan harinya kami sempatkan berjalan-jalan dan kembali membuktikan putaran waktu berhenti di Jogja:

Angkringan Joss

kopi

Di Angkringan Kopi Joss ini rombongan kami yang cukup ramai cuman kena pembayaran Rp.9000.- setelah makan dan minum sepuasnya.

Balik kembali ke Jakarta, kembali ke rutinitas, waktu berjalan kembali….

malioboro

Pulang ke kotaku…
Ada setangkup haru dalam rindu,
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh makna
Terhanyut aku akan nostalgia… ( Yogyakarta by Katon Bagaskara )

86 Comments to "Waktu Terhenti di Jogja"

  1. depot pulsa  14 February, 2012 at 20:28

    jogja when can i see u again..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *