Laser Disc

Josh Chen – Global Citizen

 
Hhhmmm…apa ini?
 
Aku cukup yakin bahwa sebagian pembaca Baltyra tahu dan pernah tahu istilah ini, pernah punya atau sedikitnya pernah lihat. Yang masa remajanya (halah…) di kisaran 90’an, kayaknya tahu LD ini…
 
Laser Disc, yang disingkat LD adalah salah satu format video legendaris dan merupakan cikal bakal CD dan DVD dan penerusnya. Diperkenalkan dan dipasarkan dengan berbagai nama: Reflective Optical Videodisc, Laser Videodisc, Laservision, Disco-Vision, DiscoVision, and MCA DiscoVision sampai pertengahan 80’an Pioneer membelinya dan menjual hanya dengan satu nama Laser Disc.
 
Laserdisc
 
Awalnya menggunakan disc transparan, ditemukan oleh David Paul Gregg tahun 1958 dan dipatenkan tahun 1961 dan 1990. Tahun 1969 Philips menemukan penggunaan reflective disc yang jauh lebih bagus dibanding disc yang transparan. MCA dan Philips bergabung untuk menggeber temuan baru ini. Demo pertama diperkenalkan ke publik tahun 1972. Dan di tanggal 15 Desember 1978, 2 tahun setelah video format VHS, dan 4 tahun sebelum CD ditemukan, Philips memroduksi player pertama sementara MCA membuat disc pertama. Gabungan Philips dan MCA tidak terlalu sukses dan bubar beberapa tahun kemudian.
 
LD komersial pertama diperkenalkan ke pasaran adalah film JAWS di tahun 1978, dan produksi terakhir di Hong Kong adalah Tokyo Raiders. Di Jepang, LD masih diproduksi sampai akhir tahun 2001 dan keping terakhir diproduksi oleh Pioneer yang menghentikan seluruh produksinya tahun ini, 14 Januari 2009.
 
Di tahun 1998, diperkirakan LD Player di rumah tangga Amerika sebesar 2% (sekitar 2 juta unit), di tahun 1999 sekitar 10% rumah tangga di Jepang memiliki LD Player. Sejak pertama kali dijual di Jepang 10 Juni 1981, sudah terjual 3.6 juta players di Jepang saja. Seluruh dunia, terjual sekitar 16.8 juta unit, Pioneer menguasai market dengan 9.5 juta unit.
 
Di Indonesia aku tidak ingat dan kurang jelas kapan pertama kali masuk. Perkiraanku adalah di akhir sekitar tahun 1987 ke atas. Pertama kali masuk ke Indonesia, betul-betul merupakan barang mewah dan hanya kalangan atas yang sanggup memilikinya. Kendala lain adalah harga keping LD yang mahal sekali untuk ukuran masa itu. Di kisaran 80’an di Indonesia lebih populer video Betamax, format kecil, bukan VHS seperti standard Amerika dan Eropa pada umumnya, bahkan sampai saat ini.
 
Di masa itu, video serial silat sangat meluas, walaupun bukan dalam bahasa aslinya (Mandarin atau Cantonese), melainkan sudah full dubbing bahasa Inggris. Persewaan video menjamur di mana-mana dan merupakan booming trend di masa itu. Di kisaran akhir 80’an, pelahan LD mulai memasuki pasaran dan dikenal meluas. Memasuki tahun 90’an, harga LD player mulai “bersahabat” walaupun masih cukup tinggi juga. Akhirnya Papa memutuskan untuk membeli player yang sudah cukup lama kami inginkan. Dibelilah LD player Pioneer CLD-S350, termasuk low-end, termurah di jajarannya, dan yang terpenting adalah merek Pioneer yang memang disarankan oleh banyak teman.
 
Setelah player dibeli, mulailah aku mencari tahu di mana persewaan yang bagus dan lengkap koleksinya. Setelah menjelajah beberapa lama di sana sini, suatu hari aku menemukan 1 persewaan yang kecil tapi kelihatan penuh koleksinya waktu lewat di Tanah Mas satu sore. Menepilah aku dan langsung menjadi anggota tempat itu. Sampai dengan 1996 aku keluar dari Semarang, tempat itulah yang jadi tempat aku menyewa film-film dengan format LD ini.
 
Kekurangan dari LD – kalo bisa disebut kekurangan – adalah tidak adanya teks bahasa Indonesia dan jika ingin menampilkan teks bahasa Indonesia kita harus membeli satu alat lagi untuk digabungkan LD player sehingga dapat menampilkan teks. Karena ribetnya dan tidak praktisnya, kami memutuskan untuk melupakan alat tsb.
 
Di situlah sebenarnya kemampuan listening bahasa Inggris’ku mulai meningkat pesat, mengingat waktu itu jaman film-film berat seperti The Firm (Tom Cruise, dari novel John Grisham) dan Basic Instinct adalah 2 contoh film yang membuat dahi berkerenyit berpikir keras untuk jalan ceritanya sekaligus conversation di situ, sungguh tidak mudah. Pelahan tapi pasti kemampuan listening meningkat dan sanggup mengikuti mulai dari film ringan sampai berat. Masih jelas dalam ingatan, sewa 1 judul film ketika itu harganya Rp. 5000 untuk 3 hari, jika terlambat akan dikenakan denda Rp. 1000/hari. Entah sudah berapa ratus judul yang sudah kami sewa ketika itu.
 
Kelebihan LD ini adalah kualitas gambar dan suara yang prima. Pada masanya (dan masih sampai saat ini) kualitas gambar yang dihasilkan LD sungguh crisp dibandingkan dengan video terbaik dan asli (bukan bajakan) ketika itu. Suara sudah tidak usah ditanya, kualitas suara yang luar biasa bahkan untuk ukuran sekarang juga menjadi nilai lebih. Dolby surround sudah menjadi standard audio LD ketika itu, bahkan beberapa film sudah mengusung Dolby Surround AC-3 dan THX.
 
lddvdcomparison
LD – DVD Comparison
 
Selain keunggulan audio video’nya, masih ada keunggulan lainnya. Yaitu, banyak film x-rated yang semuanya tanpa sensor dan di cover biasanya akan tertulis “original uncensored, unrated version”.
 
Film-film bagus seperti Basic Instinct, The Color of the Night, The Lover, benar-benar tanpa sensor. Bagus di sini dalam arti bagus jalan cerita dan akting para pemainnya dan juga “bagus”…3 film tsb termasuk yang legendaris untuk jenis x-rated dan sekaligus memiliki jalinan cerita yang apik. Masih ada juga beberapa film Hong Kong yang termasuk kategori x-rated tapi ceritanya tidak terlalu istimewa.
 
Seumur-umur kami hanya memiliki 4 keping LD. Kitaro in concert yang aku beli untuk hadiah ulangtahun Mama ketika itu, cukup menguras kantong, hasil dari menabung beberapa saat lamanya. Salah satu musik favorit Mama adalah musik yang dibawakan oleh Kitaro, terutama dengan judul Matsuri yang penuh dengan gebukan taiko. Taiko (太鼓) secara harafiah berarti “drum besar” merupakan salah satu ciri khas kesenian dan musik Jepang. Terkadang disebut lebih spesifik lagi dengan kumi-daiko (組太鼓). Keping ke 2 adalah karaoke lagu-lagu Mandarin yang terkenal ketika itu, salah satu kompilasi terbaik di masanya. Dan 2 judul lain sebenarnya adalah “kecelakaan” memilikinya. Kami meminjam film dari persewaan yang sama, dan entah ada kejadian apa, waktu kami mengembalikan, ternyata persewaan tsb tutup. Setelah itu, beberapa kali kami ingin mengembalikan tapi selalu mendapati tempat tsb tutup. Setelah tanya kiri kanan tempat persewaan LD tsb, kami mendapat kejelasan ternyata beberapa waktu sebelumnya mereka terkena masalah dengan aparat entah karena film-filmnya atau karena import yang ilegal, kurang jelas bagi kami. Menurut tetangga sempat buka beberapa hari, kemudian tutup lagi sampai sekarang.
 
Setelah tahun 1996, otomatis aktivitas sewa menyewa dan menonton film-film LD berhenti sama sekali. Masing-masing kami bersaudara mulai berpencar menjalani kehidupan kami masing-masing. Di Jakarta dan kemudian disambung sekolah lagi, kemudian berkeluarga dan pindah ke Medan, menjadikanku melupakan LD player tsb. Barulah tahun 2003 ketika Mama meninggal, sewaktu membersihkan rumah, aku mendapati LD player tsb terbungkus rapi di kamarku beserta banyak peralatan audio yang aku tinggalkan ketika keluar dari Semarang. Itupun masih belum aku bongkar dan coba hanya dirapikan dan aku inventaris barang apa saja.
 
Kemudian terlupakan lagi sampai tahun 2006-2007 kami sekeluarga balik ke Jawa. Dalam satu perjalanan liburan ke Semarang, barang-barang tsb aku angkut dengan mobil ke Jakarta. Sekali lagi masih saja hanya sekedar memindahkan dari rumah di Semarang ke Jakarta sini. Barulah beberapa saat lalu, aku bongkar semua audio equipments dan memilah serta menginstalasinya di rumah. Semua masih berfungsi dengan baik dan sempurna. Dengan kualitas dan suara yang membuat seluruh memory masa itu di Semarang mengalir deras dalam ingatan. Jenis suara yang dihasilkan setiap alat memiliki ciri khas sendiri. Aku keluarkan Kitaro in Concert, dan dengan sedikit cemas berpikir apakah player itu masih berfungsi atau tidak, aku pasang Kitaro.
 
Dan kembalilah suara gebukan taiko dan synthetizer keyboard yang dimainkan oleh Kitaro memenuhi ruang keluarga kami. Dengan amplifier sederhana Sansui kuno aku merasakan kilas balik kehangatan keluarga berbelas tahun lalu di Semarang. Anak-anak kami terpesona dengan ukuran keping LD dan berkomentar yang sungguh membuatku tersenyum. Mereka berkata: “wow, cool…is it big CD, Papa? Or is it big DVD?”
 
LD Pioneer & Sansui Amplifier
LD Player Pioneer & Sansui Amplifier
 
Aku menjelaskan dan sorot mata mereka menyiratkan kekaguman kok ada segitu besarnya ukuran keping untuk menonton film. Mereka berdua bukan masanya video, bukan masanya LD, tapi masa mereka adalah VCD dan DVD. Aku sengaja mengenalkan mereka kaset dan LD yang sekarang mungkin di kebanyakan keluarga di Indonesia dan mungkin di mana saja di seluruh dunia, 2 benda antik itu sudah tidak ada lagi. Hanya ada dalam ingatan dan kenangan saja.
 
Kenyataan bahwa kami hanya memiliki 4 keping LD membuatku mencoba mencari tahu mana dan siapa yang masih menjual LD-LD bekas. Informasi akurat mengatakan untuk mencari ke Senen yang menutur kabar masih banyak sekali yang berjualan LD bekas berbagai jenis film dan musik. Bayangan untuk ke Senen dan berburu LD sungguh membuatku malas. Terlupakan lagi lah beberapa saat…
 
Baru ketika belakangan aku teringat, aku mencoba mencari lebih intensif di internet, aku mendapati satu iklan di forum terbesar di Indonesia, KasKus, iklan yang sebenarnya sudah cukup lama, dari tanggal postingnya. Iklan yang menyebutkan dijualnya satu set LD player rusak dan sekian judul LD. Dengan harap-harap cemas aku telepon nomer yang ada di situ. Diangkatlah telepon dan terjalin pembicaraan mengenai LD. Kami membuat janji dan di salah satu Sabtu aku meluncur ke belantara ibukota untuk melihat dan memilih koleksi yang dijualnya. Sudah aku sebutkan dari awal, player rusak tsb aku tidak mau…lha buat apa…hehe…
 
Akhirnya transaksi itu terjadi dan aku bawa pulang 26 judul film ke rumah. Dan memang harus kuakui, koleksi film yang aku beli termasuk top tier…thanks to “K”!
 
Film-film “legendaris” dari Pretty Woman, Sound of Music, Ghost, The Fugitive, The Lion King dan salah satu favoritku sepanjang masa adalah Forrest Gump. Sungguh luar biasa…
 
Most Faves
Most Faves
 
Forrest Gump
Forrest Gump
 
The Sound of Music
The Sound of Music
 
Karena perburuan dan didapatkannya beberapa koleksi ciamik, muncullah tulisan ini…hehehe…
 
Masih ingatkah Anda semua? Masih punyakah “barang antik” ini? Aku masih berpikir untuk melakukan perburuan lagi…mungkin film-film legendaris lain, semacam A Better Tomorrow (Ti Lung, Chou Yun Fa, Leslie Cheung), Last Song in Paris (Anita Mui, Joey Wong, Leslie Cheung), Chinese Ghost Story (Leslie Cheung, Joey Wong), dsb…
 
Terima kasih sudah membaca lagi…
 
Collections01
 
Collections02
Collections

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *