Sampai Maut Memisahkan Kita

Bagong Julianto, Sekayu-Sumsel

Tgl 20 Jan’ 09

Pagi masih sunyi sepanjang jalan menuju ke tempat kerja. Sekayu telah 20 km di belakang, setengah jam berlalu. Di tengah badan jalan utama di suatu blok kebun sawit, tergoleklah sesosok anjing betina ditunggui seekor jantan. Saya mendekat. Semula si jantan menyeringai. “Tsechk……tsechk……tsechkkkk”, ini adalah jurus modulasi andalan saya mendekati, menjinakkan dan sekaligus mengakrabi anjing. Tekan bawah lidah dengan geligi bawah depan, rapatkan dengan langit-langit belakang geligi atas, secara simultan hembus dan keluarkan suara.

Segera tampak pemandangan itu! Bengkak kemerahan di vulva/kelamin si betina, wajah sendu merana sedih si jantan, lelehan kering darah di sepanjang kening kanan si jantan langsung memicu umpatan nyerocos dari mulut saya: “Sungguh biadab wahai dikau pelantak sepasang sejoli baru berasyik masyuk ini!!” “Ban mobil entah badan besi cover depanmu telah melibas si jantan dan sekaligus merenggut nyawa si betina!!”.

Till Death Do Us Part01

Badan kaku si betina segera saya angkat. Saya duga pelantakan itu terjadi malam hari dan selama itu pula si jantan menunggui entah dengan sejuta rasa pedih perih. Tubuh kaku itu saya gotong ke rumpukan pelepah sawit. Denyut iba saya mungkin dirasa si jantan, dia mengekori saya meletakkan si betina di antara pokok sawit. Bagaimanapun seseorang mesti menyingkirkan jasad itu dari badan jalan.

Till Death Do Us Part02

Till Death Do Us Part03

Ini adalah kewajiban saya ke sekian, setelah berapa hari sebelumnya: ular, biawak dan baby babi. Teronggok begitu saja di badan jalan kebun dan tak ada yang mau singkirkan. Jadi bangkai dan berbau. Di kebun seputaran Medan dan sekitarnya, sulit jumpai onggokan bangkai binatang. Secepat itu terlindas, secepat itu diamankan. Demikian juga di seputar Kalteng, utamanya kebun dengan dominasi pekerja dari Jawa dan Medan.

Saya menunggu beberapa saat. Sekedar berempati dan menghibur si jantan. Tampak seseorang. Saya panggil. Seorang Mandor rupanya. Saya minta dia untuk lapor ke atasannya dan mengubur jasad itu, kalau tidak aroma busuknya beberapa hari lagi akan merepotkan pekerja panen. Tatapan mata si jantan, wajah sedih sendunya, sungguh bukan kisah yang semestinya berlaku jika saja si pelantak mau bersabar menunggu sejoli itu menyingkir dari badan jalan tadi malam……

Sampunn….. Suwunnnnn. (BGJ edit 1109)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.