Ironi Negara Laut Pengimpor Garam

Osa Kurniawan Ilham – Balikpapan

Percayakah Anda bahwa sejumput garam yang ada di makanan Anda kemungkinan besar bukan berasal dari negeri sendiri ?

Sejak 1997, selama hampir 9 tahun saya bekerja di sebuah perusahaan besar milik Jepang di Cilegon Banten yang bergerak di bidang petrochemical. Walaupun kami hanya memproduksi bahan kimia dasar, saya yakin bahwa Anda semua adalah konsumen dari produk kimia kami itu. Kalau Anda mandi, sabun yang Anda pakai itu menggunakan zat kimia NaOH (Natrium Hidroksida) atau biasanya kita menyebut Caustic Soda atau Soda Api, nah itulah salah satu produk kami.

Anda pasti tidak percaya kalau bahan baku pembuatan Caustic Soda ini adalah garam. Garam ?! Ya benar-benar garam, sama seperti yang biasa Anda pakai untuk memasak. Hanya bedanya, kalau Anda ingin garam bermineral (beryodium), kami tidak menginginkan adanya mineral di garam yang kami pakai itu. Garam ini setelah kami proses untuk dibersihkan akan kami masukkan ke Electrolysis Cell (teknologi membran, paten oleh Asahi Glass Japan) untuk kemudian menghasilkan Caustic Soda sebagai produk utama. Kapasitas produksi kami adalah 400.000 ton/tahun untuk caustic soda, belum hasil sampingan yang lain.

Untuk urusan bahan baku garam ini, kami mempunyai sebuah lapangan besar lengkap dengan conveyornya yang berfungsi sebagai gudang garam (bukan pabrik rokok lho..). Kapasitas gudang garam kami adalah 45.000 Ton. Untuk menjaga kontinuitas produksi, 2 kali sebulan sebuah kapal pengangkut garam berkapasitas 30.000 Ton akan datang dan melepaskan muatan garamnya ke gudang garam kami. Jadi konsumsi bahan baku garam industri adalah sekitar 720.000 Ton per tahun.

Seingat saya, garam tersebut kami impor dari Australia barat, sebuah padang gurun di bagian barat Australia yang dimanfaatkan sebagai penghasil garam khusus industri. Pernah suatu kali terjadi badai berkepanjangan di Australia sehingga membuat kami harus mengimpor dari India. Harganya memang murah, tapi kandungan mineral dan pengotornya masih sangat tinggi sehingga peralatan produksi kami cepat rusak.

Nah untuk urusan garam ini banyak orang bertanya kepada kami mengapa untuk urusan remeh temeh semacam garam saja, perusahaan kami harus mengimpor jauh-jauh dari Australia atau India ?! Kenapa tidak mengambil dari Madura saja ? Lalu biasanya saya akan menjawab, boro-boro untuk urusan garam industri, untuk mencukupi kebutuhan garam rumah tangga saja pemerintah republik ini sudah sangat pas-pasan.

Benar Saudaraku. Untuk urusan remeh temeh seperti garam saja kita harus impor. Majalah Gatra edisi 9 September 2009 menyebutkan bahwa dalam setahun setidaknya Indonesia menghabiskan devisa sebesar Rp 900 milyar untuk mengimpor garam sedikitnya 1.28 juta ton. Menurut data Departemen Perindustrian dan Perdagangan tahun 2003, tercatat kebutuhan garam nasional mencapai 855.000–950.000 ton untuk kebutuhan konsumsi dan 1.150.000–1.345.000 ton untuk kebutuhan industri.

Lalu bagaimana produksi garam nasional kita ? Menurut data dari PT Garam tahun 2000, BUMN ini hanya mampu menghasilkan 307.000 Ton/tahun sedangkan industri garam rakyat hanya berkisar 1.022.000 Ton. Semuanya dihasilkan oleh tambak garam seluas 30.500 ha. Jadi produktivitasnya sebesar 45 Ton/ha/tahun. Itu hanya pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan garam konsumsi, karena kualitasnya masih jauh di bawah spesifikasi garam industri yang menuntut NaCl di atas 95%. Konsekuensinya, kita masih perlu mengimpor 1.3 juta ton garam industri untuk keperluan industri kimia.

garam 1

Jadi coba direvisi lagi kalau di buku-buku pelajaran anak-anak kita menyebutkan bahwa Madura adalah penghasil garam Indonesia. Memang Madura penghasil garam, tapi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi kalau tidak dikatakan pas-pasan.

Sebuah ironi bukan ? Bahwa negara Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang sedunia yaitu 167.000 km, memiliki lautan luas yang menjadi bahan baku gratis industri garam tapi harus mengimpor garam dari luar.

Industri pembuatan garam sebenarnya sangat mudah. Menurut teman yang pernah melakukan kunjungan ke industri garam di Australia Barat, mereka memanfaatkan padang gurun di sana sebagai tambak-tambak garam. Cukup alirkan air laut ke tambak, biarkan di bawah terik matahari lalu di tambak akan tertinggal garam-garam yang siap dijual. Kalau mau dijual dalam bentuk garam industri yang minim mineral, cukup dialirkan ke tangki-tangki air secara terus menerus sampai kotoran dan mineralnya berkurang. Kalau mau dijual dalam bentuk garam rumah tangga, cukup masukkan ke proses lanjutan untuk yodiumisasi. Gampang dan tidak membutuhkan proses dan teknologi yang rumit selain kebutuhan lahan yang luas sebagai tambak. Tapi coba lihat data produksi garam Australia di tahun 2003, sampai mencapai produksi 10 juta Ton per tahun, hampir 10 persen dari total produksi garam dunia.

Balikpapan, 27 Nov 2009. http://living-indonesiacultural.blogspot.com.

Referensi :

  1. Majalah Gatra, edisi 9 September 2009.
  2. Proses Pembentukan Kristalisasi Garam. Dini Purbani. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003. http://www.dkp.go.id
  3. http://www.cea-life.com/minerals_health/salt_industry.htm
  4. http://www.istp.murdoch.edu.au/ISTP/casestudies/Pilbara/economic/Salt_Industry.html

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.