Wanita yang Menikahi Penderita HIV

Pada tgl 1 December, Dunia memperingati hari Aids sedunia. Kampanye tahun ini bertema "Stop AIDS, Saatnya Melayani".

Tema ini dipilih untuk mengajak seluruh pihak yang terkait dengan pengendalian HIV/AIDS yaitu orangtua, keluarga, masyarakat, dan pemerintah secara bersama-sama menunjukkan kepedulian dan secara nyata berkontribusi serta memberi dukungan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

world-aids-day-logo

Jodhy Yudono

Maafkan saya. Saya tidak sedang menakut-nakuti anda wahai pembaca, betapa ancaman HIV secara “nyata memang telah tiba di halaman rumah kita”. Tulisan berikut, adalah kisah nyata pertemuan saya dengan dua perempuan yang menikah dengan penderita HIV. Moga-moga ini bisa bisa menjadi pelajaran bagi kita sekalian.

Pada sebuah siang di bulan Maret, saat matahari terhalang oleh mendung di angkasa Desa Cimanengah, Cipaku, Bogor, saya bertemu dengan dua perempuan yang mengaku diri mereka sebagai perempuan-perempuan paling sial di dunia.

Bayangkanlah, keduanya menikah dengan penderita HIV. Siang itu, mereka berdua ada bersama saya. Duduk di beranda rumah obat Taman Sringanis yang tepat menghadap Gunung Salak, Bogor.

Sebutlah yang seorang bernama Prita, 25 tahun, sarjana jebolan sebuah universitas di Bandung, mengaku dirinya sudah salah tingkah saat menjelang pernikahannya dengan Budi (bukan nama
sebenarnya) setelah mendadak sang pacar mengaku dirinya positif HIV.

Awalnya, tentu saja sempat shock. Tapi apa mau dikata. Upacara pernikahan sudah di depan mata. Kerabat dan handai taulan juga sudah diberi kabar. “Tapi tak cuma persoalan keluarga dan kerabat, sebab saya sudah kadung cinta mati kepadanya,” tutur Prita beralasan kenapa dirinya sedia menikah dengan Budi, kendati tahu calon suaminya itu telah positif HIV.

Maka mulailah, Prita menjalani kemalangan hidup. Saat dirinya mengaku terus terang perihal kondisi suaminya, keluarganya pun menyisihkan dirinya seperti najis.

Tapi Prita yakin–meski belum pernah menjalani test HIV–dirinya tak tertular virus mengerikan itu. Sebab katanya, sepanjang setahun pernikahannya, suaminya selalu mengenakan kondom saat berhubungan intim.

Nah, seorang lainnya, panggillah dia Rini. Perempuan manis berusia 27 tahun yang keluarganya berada di Sumatra ini mengaku baru mengetahui suaminya terjangkit HIV baru sebulan yang lalu. “Padahal kami sudah menikah selama setahun,” ucap Rini.

Rini, kendati belum memeriksakan dirinya, tapi jauh di lubuk hatinya mengatakan, dia pastilah sudah terjangkit virus HIV. “Sejak kami menikah, tak pernah kami menggunakan kondom saat bersebadan,” ujar Rini memelas.

Prita dan Rini adalah sebuah gambaran, betapa HIV dan Aids sudah sedemikian menyebar di negeri ini. “Kita tidak pernah tahu, jangan-jangan orang-orang di sekeliling kita sudah poistif terinfeksi HIV,” ungkap Baby Jim Aditya, aktivis Aids tiap kali bercerita perihal
penyebaran HIV/Aids.

HIV/Aids, sebut Babby, adalah fenomena gunung es. Ia tampak kecil di permukaan, tapi sesungguhnya ia telah mewabah sedemikian luasnya. Baby malah menyebut persoalan ini sudah menjadi bencana nasional buat Indonesia, dengan perkiraan kasar, sebanyak 80 hingga 100 ribu warga Indonesia telah terjangkit virus HIV.

Kembali ke dua perempuan yang sedang mengikuti pelatihan mengembalikan kwalitas hidup penderita HIV/Aids di Taman Sringanis, Bogor itu. Prita, tampaknya memang lebih beruntung dibanding Rini. Setidaknya, ia mengaku hingga kini masih bisa membentengi dirinya
dengan kondom, meski dalam beberapa penelitian keamanan kondom sendiri masih diragukan sebagai penangkal penularan HIV.

Kebocoran, adalah salah satu hal yang mengkhawatirkan pada salah satu alat kontrasepsi ini.
Adapun Rini, untunglah kini ia terlibat aktif bersama suaminya di sebuah LSM yang menaruh perhatian pada penderita HIV/Aids.

Kegiatan ini menurut Rini, bisa melipur hatinya yang kerap diliputi oleh ketakutan akan hari esok yang legam. Tapi setabah-tabahnya Rini, ia cumalah seorang perempuan muda. Usianya baru 27. Sebuah usia yang belum cukup matang untuk menerima kegetiran hidup se-tiba-tiba itu. Bayangkanlah, ketika remaja, Rini menjalani hidupnya lurus-lurus saja. Ia memang tahu, beberapa kawannya memakai narkoba, tapi tak pernah sekalipun Rini mencobanya. Sebagai anak sulung di keluarganya, Rini juga ingin menjadi teladan bagi adik-adiknya. Oleh karenanya, ia pun semampunya berkelakuan baik, termasuk beribadah kepada Tuhan Yang Kuasa seperti yang diajarkan oleh agamanya.

Rini, tak seperti kebanyakan penderita HIV yang terjangkit lantaran narkoba atau seks bebas yang kebanyakan di antara mereka memang tahu risiko dari pilihan hidupnya. Rini adalah sebuah pengecualian. Kesalahan terbesar Rini cumalah karena ia memilih bersuamikan seorang lelaki penderita HIV yang tak jujur kepadanya.
* * *
Ya, ya…, berada di sekitar para penderita HIV sungguh seperti sedang menonton pertunjukan sulap. Kejutan demi kejutan yang mengoyak akal sehat, bisa mendadak datang dari mereka.
Saat Babby Jim Aditya memperkenalkan seorang penderita HIV bernama Polan (bukan nama sebenarnya) di tahun 2001 pada hari Aids, rasanya tak percaya. Kecuali masih muda, penampilan Polan juga tampak sehat-sehat saja.

Tapi rupanya, itu kejutan yang tak seberapa. Sebab dari mulut Polan akhirnya muncul kisahnya sendiri. Ternyata ia adalah seorang duda yang ditinggal mati istrinya yang juga terkena HIV/Aids. Tak berhenti sampai di situ, rupanya An dan istrinya almarhum…juga telah dikaruniai
seorang anak berusia 3 tahun (kala itu). Entahlah, apakah kini Polan telah berani memeriksakan anaknya itu untuk mengetahui sang anak terkena HIV atau tak. Tak cukup sampai di situ, terakhir terdengar kabar, Polan sudah menikah kembali. Tak jelas benar, apakah Polan menikahi seorang perempuan penderita HIV atau perempuan sehat.

Kemudian pada tahun 2003, saya diperkenalkan dengan seorang anak muda berusia 20 tahun bernama Andika. Saat bercakap-cakap dengannya, tampak betul jika Dika–panggilan akrab Andika, adalah seorang anak yang cerdas. Benar dugaan saya, sebab belakangan saya tahu, ketika sekolah dasar Dika selalu juara kelas. Tapi apa mau dikata, ternyata virus HIV pun siap merampas kemudaannya kapan saja. Ya, Andika, si anak cerdas, si muda belia, ternyata telah
terserang virus mematikan itu: HIV!

Dan tanpa tedeng aling-aling, Andika dengan gagah mengaku dirinya adalah junkies, adalah penderita HIV, adalah seorang anak muda yang belakangan gampang didera oleh penyakit maupun depresi yang turut memperlemah kondisi tubuhnya.

Setelah Andika, saya juga kenal Di, Ja, dan berpuluh-puluh anak muda yang pada tubuhnya telah mengeram virus HIV. Dari mereka yang masih segar bugar, setengah sehat, hingga yang sedang meregang maut di RS Dharmais. Sebagian besar terjangkit lewat jarum suntik yang digunakan ramai-ramai saat pakaw (mengkonsumsi putaw), sebagian lainnya lantaran hubungan seks bebas di antara para junkies.

Makin mengenal komunitas para penderita HIV, terasa kian terbukti ucapan Babby Jim Aditya pada suatu ketika, betapa HIV di Indonesia serupa fenomena bola salju yang menggelinding dari bukit. Makin besar dan makin membesar. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang di negeri kita telah terjangkit HIV. Dan sialnya, sebagian besar di antaranya adalah mereka yang tergolong usia produktif. Bahkan saya dengar dari cerita Wulan, salah seorang aktivis Aids, ada anak berusia 13 tahun yang juga telah terjangkit virus HIV.

“Kita tak pernah tahu, mungkin saja orang-orang di sekeliling kita sebetulnya sudah terjangkit virus HIV,” ujar Babby berkali-kali setiap membicarakan penyebaran virus HIV/Aids di Indonesia.
***
Tiga bulan sudah saya tak lagi berkomunikasi dengan Prita dan Rini. Dari Wulan saya dengar, Prita masih asyik dengan bisnis kausnya. Entahlah dengan Rini. Semoga saja keduanya memiliki kegiatan yang bisa melupakan derita hidup mereka.

Tapi sungguh, tiap kali mengenangkan wajah keduanya, saya sedih dibuatnya. Wajah-wajah yang manis itu, terutama Rini, mungkin saja akan segera kisut dalam sepuluh tahun mendatang lantaran Aids mendera kekebalan tubuhnya.

Hingga kini saya masih merasakan kepedihan hati Prita dan Rini yang pernah menuduh dunia tak adil memperlakukan mereka. Tapi begitulah hidup, kawan-kawan yang manis. Hidup bagai kain yang kita pintal hari demi hari. Sadar atau tidak, kita jualah yang memilih benang-benangnya untuk menjadi kain sutra atau selembar blacu yang rombeng.
“Lihatlah, Rin…mendung kini telah pergi. Matahari dengan leluasa menyengat gigir Gunung Salak. Begitulah pula hidup kita. Kadang redup, kadang cerah,” kata saya kala itu.
Rini cuma mengangguk. Ia mencoba untuk tersenyum, tapi tetap saja kabut masih membayang di matanya.
Ya, ya…, Rini memang belum memeriksakan darahnya untuk memastikan apakah dirinya positif HIV atau tidak. Tapi saya melihat bayang-bayang keputus-asaan amat kental di wajahnya.
Mulutnya terbata-bata ketika saya menanyakan perihal keluarganya nun di Pulau Sumatra sana. Ia bilang, keluarganya belum tahu kondisi dirinya dan juga suaminya.

Lantaran mengenangkan kemungkinan buruk itu, kemungkinan pada suatu kali kelak keluarganya tahu kondisi dirinya, air matanya mulai menitik di ujung kedua matanya.
Saya mengelus telapak tangannya lembut. Mencoba memberinya ketabahan. Lalu saya bilang, mengapa kita tak belajar kepada daun yang tetap bermanfaat bagi kehidupan kendati ia telah rontok ke tanah.
“Daun?” tanya Rini.
“Ya, daun…,” jawab saya.
“Daun…, akulah itu daun yang kini dimakan ulat, meranggas pelanpelan sebelum akhirnya mengelinting kering.”
“Semua orang juga akan kering mengelinting.”
“Tapi tidak seperti aku.”
“Ah, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok.”
“Maksudmu?”
“Kenapa kita memikirkan sesuatu yang sungguh mati bukan urusan
kita.”
“Lantas?”
“Menjadi daun itulah maksudku. Tak soal dimakan ulat atau diserang hama lainnya, toh ketika rontok, lantas jadi humus, ia bermanfaat bagi tanah yang menumbuhkan kehidupan bagi tanaman.”
Rini diam sejenak. Matanya menerawang jauh entah ke mana. Tapi pelan-pelan senyumnya terbit dari bibirnya yang tipis.
“Kenapa?” saya bertanya.
“Aku sedang berpikir,” sahut Rini.
“Memikirkan suamimu?”
Rini menggeleng.
“Memikirkankan ketemu pelawak?”
Rini mencibir. Lalu, dengan senyum dikulum ia berkata, “Aku sedang
berpikir mau jadi daun apa.”
“Semua daun bermanfaat,” kata saya.

Rini tiba-tiba bangkit. Masih dengan senyum di kulum, pelan-pelan ia melangkah menuju halaman yang ditumbuhi rumput dan aneka tumbuhan.

Rini terus berjalan. Mendadak ia menghilang di balik semak-semak tanaman sirih. Lima detik tak saya dengar suara Rini. Sambil berjalan mendekati tempat persembunyiannya, saya memanggil namanya.
“Rini…, Rini… di mana kamu?”
Tak ada jawaban.
“Rin…”
“Aku di sini.”
“Ngapain kamu di situ?”
“Aku sedang belajar jadi daun.”

Saat saya jumpai Rini, ia sedang telentang di atas rumputan sambil memejamkan mata. Dari mulutnya tersungging senyuman yang menyejukkan. Amat damai…sangat damai. Ah…, barangkali ia tengah membayangkan, dirinya telah sempurna menjelma daun.

tshirt

 

Picture :

Jimhall, altiusdirectory

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.