Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
40 TAHUN KOES PLUS
SEHARUSNYA saya menulis artikel ini beberapa bulan lalu. Namun rasanya belum terlambat asalkan masih dalam tahun ini, tahun 2009. Artikel ini sengaja saya buat untuk mengenang atau mengingatkan sebagian generasi saya, atau generasi lain yang merasa mengenal kelompok musik yang bernama Koes Plus, yang dulunya memilih nama Koes Bersaudara. Kenapa harus diingat? Toh, mereka adalah masa lalu dan sudah tutup buku dalam perbincangan musik.
Saya tumbuh sejak kecil dengan musik mereka. Bukan hanya saya, mungkin ratusan juta orang merasa hidup mereka diwarnai musik mereka. Empat puluh tahun silam, Koes Plus lahir dengan album mereka pertama, bernama Dheg Dheg Plus tahun 1969. Setahu saya, kalau banyak yang suka, banyak juga yang tak suka. Sama juga dengan Koes Plus. Banyak yang mengidolakan, tapi tak sedikit yang mencela dengan alasan tertentu yang sudah menjadi hak mereka untuk mengeluarkan pendapatnya.
Dalam tulisan jangan coba-coba mendapatkan apa dan siapa sebenarnya Koes Plus. Kalau mau tahu, silahkan cari di semesta internet. Lebih banyak dan lebih jelas. Di sini hanya ditemukan bagaimana pendapat saya, pengalaman saya dan kekaguman saya, juga kekaguman banyak orang yang mungkin bisa terwakilkan di sini.
Bagi saya Koes Plus itu adalah Tony Koeswoyo. Siapa dia? Dialah yang mendirikan kelompok musik ini dan juga arsitek terbentuknya Koes Bersaudara, sebelum adanya Koes Plus. Plus, karena ada tambahan satu orang di luar keluarga mereka, yaitu Murry, si penabuh drum dan mungkin bisa dijuluki “Bapak Drummer Indonesia”. Bagi saya, Tony adalah mesin kreatif kelompok ini, dan juga ATM lagu bagi negeri ini. Ratusan lagu telah lahir dari idenya, meski ada juga lagu-lagu karya adik-adiknya yang terdengar indah. Dialah, satu-satunya anggota kelompok pencetus musik pop negeri ini, yang sudah tiada. Kakaknya, John, masih terlihat sehat, begitupun adik-adiknya, Nomo, Yon dan Yok.
Tony Koeswoyo adalah seniman musik beroktan tinggi yang bisa menghiasi langit Indonesia dengan lagu-lagunya yang indah dengan lantunan syair nan cantik bagai barisan puisi. Ini wajar, karena dalam otaknya, sudah mengendap buku-buku hebat yang dilahap habis sebagai sumber aspirasi ciptaannya.

Dari perjalanan negeri ini, Tony Koeswoyo harus diberi tempat khusus. Sama seperti Slamet Riyadi, Wolter Mongisidi, Diponegoro, dan patriot sejati lainnya, atas keberaniannya untuk negeri ini. Kehebatan Tony adalah berani mencoba sesuatu yang baru untuk dinikmati oleh orang banyak. Tak semua pahlawan itu harus berjuang di medan laga. Membunuh musuh, mengusir penjajah atau hal-hal patriotik lainnya yang berbau militerisme. “Mas Tony adalah pahlawan kami”, kata adiknya Nomo dalam sebuah wawancara di sebuah stasiun TV swasta setahun lalu.
Dia berani ditahan dan dijebloskan penguasa ke dalam penjara, karena hanya lagu-lagunya. “Mereka itu penyakit budaya”, kata Presiden Soekarno. Kalau namanya penyakit, ya memang harus dibasmi. Terkenanglah penahanan mereka di penjara Glodok, sebagai sebongkah fakta sejarah dalam perjalanan bangsa ini. Meski kita tahu, akhirnya mereka “bernyanyi” kembali ketika sudah tidak aktif sebagai musisi. Apa nyanyian mereka?
“Kami sengaja ditahan seolah-olah musuh negara, padahal dari balik jeruji besi, kami ditugaskan untuk membela negara”, kata mereka. Bela apa? Menyusup ke negara tetangga yang sedang bermusuhan dengan kita. Eee alaah…ternyata musisi bisa berjuang juga tokh… Belum cukup dimanfaatkan negara, mereka kemudian melakukan hal yang sama di Timor Timur, sebuah wilayah konflik yang sengaja diciptakan Indonesia untuk diambil alih untuk menambah luas wilayah.
Semua ini tak lepas dari peranan dan kejeniusan Tony, sebagai kakak dan juga lokomotif kelompok musik ini. Layakkah Tony disebut pahlawan? Oh, tidak semudah itu bagi pejabat yang menjalankan pemerintahan negera selama lebih 40 tahun ini. Namun, setidaknya Tony sudah menjadi pahlawan dalam keluarga mereka, keluarga Koeswoyo. Nama Koeswoyo sama dan sebangun (congruent) dengan nama Rockefeller dalam hal keuangan di Amerika, atau Kennedy dalam politik ataupun seperti keluarga Gemayel di Lebanon dalam hal pemerintahan. Keluarga Koeswoyo identik dengan perjalanan sejarah musik Indonesia.
Bagi saya, selayaknya Tony Koeswoyo dianugerahi predikat pahlawan negeri ini. Ya, kalau belum rela atau keberatan, namakan sebuah jalan di Tuban (kota kelahiran mereka) atau di Jakarta (tempat mereka berkembang). Saya ngiri melihat Kerajaan Inggris menganugerahkan gelar kerajaan kepada personil the Beatles, meski gelar itu dikembalikan lagi, karena Inggris membantu pembantaian di Biafra, Nigeria tahun 1966.
Indonesia adalah sebuah negara besar yang sangat tidak menghargai seniman. Uni Soviet saja, sebuah negara raksasa militer yang sarat dengan dosa, sangat menghargai pahlawan seni mereka. Siapa yang kenal jenderal-jenderal Soviet yang kejam dan memiliki otot militer yang terkuat di dunia? TIDAK ADA! Tapi coba, siapa saja sastrawan Uni Soviet? Woooo..segudang banyaknya dan dikenal dunia. Sampai kapal perang mutakhir mereka, dinamakan “Maxim Gorky”, sastrawan mereka yang terkenal. Ada Dostoyevsky, Chekov, Sholzenytshin atau Leo Tolstoy. Tapi jenderal-jenderal mereka, tak ada yang kenal dan tak mau orang mengenalnya. Males…
Mudah-mudah tulisan ini dibaca oleh penguasa atau orang yang berkepentingan dan kebetulan mengemari Koes Plus. Syukur-syukur di ketahui Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (nggak mungkin dia baca), yang gemar menyanyi dan bikin album yang rakyatnya disuruh membelinya. Suatu waktu saya ingin menyaksikan, paling tidak, SBY bernyanyi membawakan lagu-lagu karya Tony Koeswoyo sambil meresmikan Jalan Mendawai menjadi Jalan Tony Koeswoyo. Lho kok jalan itu? Ya, karena di situlah keluarga Koeswojo tinggal di Jakarta, di bilangan Kebayoran Baru, setelah hijrah dari Tuban, Jawa Timur.
Diabadikan nama Tony Koeswoyo menjadi nama jalan, bagi saya, sudah sebuah prestasi bagi pemerintah kita untuk memberi penghargaan kepada pekerja seni. Sekali-kali dong mereka dihargai, setidaknya menjadi nama jalan, kalau malas memberikan gelar kepahlawanan. Memang, di Jakarta saja nama jalan dari pekerja seni masih sedikit. Paling ada Jalan Abdul Muis, seorang sastrawan angkatan lama. Ada juga Jalan Benyamin Sueb, seorang penyanyi, budayawan Betawi dan juga actor. Ada pula Taman Amir Hamzah di daerah Matraman, Jakarta Pusat, yang diambil dari nama sastrawan asal Minangkabau, yang letaknya tak jauh dari rumah Barack Obama, ketika tinggal di Jakarta akhir 1960an, sebelum akhirnya menjadi Presiden Amerika Serikat.
Saya sendiri tak pernah menonton konser Koes Plus, apalagi Koes Bersaudara, karena saya belum lahir dan masih terlalu kecil. Apalagi ketemu. Tidak pernah! Saya hanya mengenal lagu-lagu mereka di radio-radio yang tak henti mengalunkannya sewaktu saya kecil. Buku-buku tulis saya untuk pelajaran semasa sekolah dasar, banyak bergambar kelompok Koes Plus. Pernah guru saya mencubit perut saya waktu kelas 2 SD, karena buku pelajaran saya tidak disampul coklat kertas kopi (kertas sampul), tapi dibiarkan telanjang bergambar kelompok musik tenar ini.
Namun saya bangga, karena kelompok Koes Plus pernah datang dan mampir ke rumah kediaman keluarga besar saya di Gorontalo, Sulawesi Utara. Kedua orang tua saya memang berasal dari kota itu, yang juga kota asal Presiden BJ Habibie. Namun saya belum pernah menginjakkan kaki di kota itu sampai detik ini.
Ceritanya, sewaktu mereka konser di Manado, ibukota Sulawesi Utara sekitar tahun 1974 (kalau tak salah), mereka mampir dan show di kota itu. Kebetulan yang menjadi event organizer waktu itu, suami sepupu saya dari ibu. Nah, diajaklah mereka ke rumah keluarga saya yang luas halamannya di Jalan Cempaka, Gorontalo. Mereka asik petik mangga arumanis dan menikmatinya sambil santai duduk di rumah nenek saya itu.
Mudah-mudah saja ada upaya pemerintah sedikit saja memberi peluang untuk menghargai Tony Koeswoyo sebagai pahlawan dalam bidang seni musik untuk Indonesia. Kalau tidak, ya tak apa-apa. Tony Koeswoyo sudah menjadi pahlawan dalam setiap hati orang yang bisa merasakan keindahan hidup melalui kata-kata dalam sebuah lagu. Terima kasih Tony.(*)
Ilustrasi: koesplus.com












December 7th, 2009 at 17:19
Nev : Nikmatilah masa bujangan, selagi masih bisa
Lagu ini diciptakan waktu mereka belum nikah ya? Atau sudah nikah tapi ngerasa perkawinan mengekang mereka :halah ngawur: hihihi
December 7th, 2009 at 17:16
oom iwan..sy nyanyi yg ini saja deh…
begini nasib jadi bujangan
kemana2, asalkan suka tiada orang yang melarang
December 7th, 2009 at 02:34
kapan kapan…. tell me why dong bang Iwan
December 7th, 2009 at 02:31
Mari kita tutup diskusi tentang Koes Plus, dengan menyanyikan lagu “Kapan-Kapan”…
Kapan kapan, kita berjumpa lagi…
Kapan kapan, kita pergi bersama…
December 6th, 2009 at 10:54
Lani,
TErkenang Victor Hutabarat?….. hayo, yang kirim lagu dengan ucapan: Balas dong lagu Terkenang ini dengan lagu Kutunggu Dikau di Bawah Pohon Jambu, segera kontak Lani di 0813-xxx1-xxx2, ditunggu…..
—————-
BJ : hahahhaah……sok teu aje seh…..
wakakakka….knp milih dibawah pohon jambu? emank gak ada pohon yg lbh enak buahnya?
nomer telp nya wes3X…..yo jelassss le ngawuuuuuuur, wong iki jg ming ethok2-an….to?
SOPH : aku kelingan, ktk msh di SMP Panbers mengadakan show didepan sekolahku…..msh ingat sampai skrg si Benny Panjaitan, ngomong gini: kami ini Batak….tp Batak alus lo ya….
krn pd umumnya org Batak, klu ngomong bak geledek spt org lagi bertengkar, lagian kata2nya kedengarannya….kedengarannya kasar gitu….aku ada teman bbrp org dr suku Batak, dan mrk mengamini!!!!!!
jd iki bkn pendptku, aku tanya, dan mrk jawab…..
selain itu teman2ku mengamini, klu mrk makan guguk semua lo, katanya lezaaaaaaaaat bin enaaaaaaaaak, huh aku mrinding disco…..kkkkkkk
December 5th, 2009 at 02:12
Saya gila bola, tapi cuma untuk Piala Dunia. Makanya saya bilang ini pestaku. Lebaran, biasa2 aja yg penting udh puasa. Natal, gitulah, standar dari tahun ke tahun. Ultah, buat apa dinget2 cuma bikin sedih aja. Olimpiade, nggak terlalu menarik diikuti. Kompetisi bole mingguan, males, kayak mesin aja nonton bola tiap malam. Piala Dunia….Allah Akbar. Ini pestaku.
December 5th, 2009 at 02:04
pak ISK: bener, aku juga lihat siaran langsung pengundian tersebut, udah komen di artikel pak Edy Qatar! Buat Brasil juga ngomong bola seperti ngomong agama, sensitif..bisa kepruk2an hi hi
December 5th, 2009 at 01:38
Oh…maaf, Aimee maksudku. Bukan Dewi. Salah nulis. Maklum jam 1.30 pagi… Maap ya…
December 5th, 2009 at 01:36
Dewi, hahahahahahahaaa…bener ‘kan? Tenang, bilang suami aku punya semua lagunya (hasil donlod, hihihi…
. Kapan mau minta, terserah… Gimana Brasil? Aku tadi nontol pengundian group Piala Dunia, pesta kegemaranku. Salam lagi buat misua…