Artis Pencari Tuhan

Alexa – Jakarta
 

Hujan yang akhir-akhir ini sering mengguyur Jakarta dengan lebat sore itu tampak mengerikan dilihat dari lantai belasan di Plangi – jalan Gatot Subroto berkabut seperti pemandangan saat berada di Puncak.

Kutelpon ke rumah si Bocah belum pulang, segera kuhubungi HPnya. Dia menjawab sedang on the way pulang dengan naik ojek – cukup jauh jarak sekolah dari rumah pastinya tuh anak ongkosnya sudah habis. Saat hal itu kutanyakan – dengan gamblang dia menjelaskan. “Aku kan masih ada duit dari kakak-kakak kelas, honor main film.” Main film, film apa?

Rupanya tugas akhir kakak-kakak kelasnya yang berada pada jurusan Multi Media membuat film pendek dan si Bocah terpilih sebagai pemeran utama wanita. Sementara pemeran utama pria adalah teman sekelasnya yang memang artis sinetron. Pada hari Minggu lalu, dari jam 7 pagi si Bocah sudah meninggalkan rumah untuk shooting beberapa scene. Adegan ada yang dilakukan di GOR Jakarta Selatan dan adegan selanjutnya adalah di Burger King – Citos.

Rupanya si Bocah kelaparan walaupun sudah diberi makan siang – dia melahap si Burger dengan antusias sampai si Sutradara mengingatkan bahwa itu property dan seharusnya jangan dihabiskan sebelum adegan dianggap oke. Terpaksa mereka membelikan Burger lagi dan begitu adegan sudah oke – kembali si Burger plus French Fries ditandaskan oleh si Bocah.

Jam 5 sore shooting belum juga berakhir, waktu kutelpon konon mereka akan shooting hingga pk.9 malam. Phuih, tuh anak bener-bener bisa kurang istirahat – rupanya ia juga sudah lelah. Dan dasar punya akal seribu, dia telpon sepupu lelakinya yang mahasiswa untuk menjemput. Si sepupu datang bersama teman-temannya dan menjalankan “skenario”, pura-pura memarahi si Bocah karena pergi tanpa izin mamanya.

Akhirnya si Bocah boleh pulang, sampai rumah langsung makan nasi dengan porsi kuli, setelah itu lewat si mie tek-tek masih dipanggil pula…ha,ha,ha artis kok kayak gini ya. Perut kenyang langsung ketiduran di sofa…. kupandangi dia yang sedang tidur – keep wondering : ABG tapi kok tampangnya masih seperti anak balita gitu ya, jari-jari tangannya masih seperti jari bocah balita buntek-buntek dan lunak makanya paling seneng kalo jalan-jalan gandengan dengan dia.

Image011Malam-malam dia sudah mendusin dan ngobrol dengan kami. Waktu aku tanya kenapa sih dia sibuk banget gitu (sebelumnya dia baru saja jadi kakak senior untuk kegiatan LDKS – menginap di Puncak)…dengan sok tuanya dia menjelaskan bahwa dia tidak ingin menyia-nyiakan masa remajanya karena menurut perhitungan dia…begitu tamat SMK – dia akan bekerja sambil kuliah, jadi mana sempat buat main-main lagi. Mendengarnya jadi mak ceess, kendatipun kami sebagai orangtuanya sudah menabung dan mempersiapkan dana pendidikannya hingga perguruan tinggi – tapi dia juga tidak mau selalu menjadi “beban” kami dan dia ingin sekali bisa secepatnya membantu orangtua kandungnya yang memiliki anak bererotan (enam orang) mana ada salah seorang adiknya yang menderita autis.

Cerita mengenai bergabung si Bocah dalam keluargaku sudah pernah kutuangkan dalam tulisan:
http://koki-kolomkita.blogspot.com/2009/5/langit-koki-gank-nero-flu-babi-kaki-html

Mencari Tuhan di Usia Dini:
Yang belum kuceritakan adalah kisah pencarian Tuhan yang dialami si Bocah dalam usia dini. Orangtua si Bocah non Muslim – Ibunya Katolik, Bapaknya Protestan, nah keluargaku sendiri Muslim. Maka urusan agama dari si Bocah selalu menjadi issue yang sensitif. Karena terlahir dari keluarga non Muslim maka setiap periode si Bocah memasuki sekolah (SD, SMP dan SMK) biasanya saat pendaftaran itu aku membiarkan ayah kandungnya yang mengurus administrasi pendaftaran walaupun aku yang melakukan perburuan sekolah serta menyediakan dana pendidikan.

Di SD tercantum dalam data diri si Bocah- agama: Kristen. Waktu terus berlalu dan sebenarnya karena sekolahnya adalah SD Negeri maka tidak ada pengajar agama Kristen, so bagi non Muslim dimintakan nilai dari sekolah minggu mereka untuk pengisian raport. Tiap Sabtu dan Minggu Bocah pulang ke rumah ortu kandungnya tapi ternyata dia tidak pernah ke sekolah minggu karena ortunya rada cuek juga.

mencari tuhan

Waktu berlalu dan hal itu tampaknya hal ini tidak menjadi masalah hingga dia duduk di kelas 6 SD dan mendapat guru agama baru di sekolah. Pak guru ini tidak tinggal diam akan status quo agama Bocah dan dia dengan kesadaran penuh menyarankan si Bocah untuk belajar agama Islam dengan alasan seorang anak harus punya fondasi agama yang kuat supaya bisa membentengi dirinya dari pengaruh-pengaruh negatif, ke depannya opsi agama merupakan hak dasarnya sebagai manusia.

Si Bocah setuju dan mulailah dia belajar agama Islam dimana dia khusus mendapat jam tambahan, kepala sekolah yang dulunya juga merupakan guruku waktu SD menelpon dan mengucapkan selamat, “Si Bocah sudah jadi Mualaf.” Gubraaak, aku cuman speechless.

Masuk SMP lagi-lagi Bapaknya yang aku minta mengurus administrasi pendaftaran sehingga di formulir tetap tercantum Kristen sebagai agama si Bocah. Pas mau terima raport, sekolah memasuki era komputerisasi sehingga ada pembaruan data dan si Bocah merubah agamanya menjadi Islam. Begitu terima raport di mana aku minta Bapaknya yang mengambil – langsung kaget dia melihat agama si Bocah dan di rumah langsung di tipp-ex dan diganti menjadi Kristen.

Di lain pihak si Bapak mulai ditegur teman-teman kantornya di Sekolah *** – kesannya si Bapak itu sudah melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah mana agama si Bocah jadi Islam pula. Akhirnya si Bocah diminta kembali oleh orangtuanya itupun dengan marah-marah.

Perpisahan itu sangat menyakitkan bagiku. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan aku selalu meneteskan airmata, sajadah menjadi basah oleh airmataku tiap sholat. Semua orang di rumah sampai khawatir dan karenanya aku jadi enggak enak hati juga maka akhirnya jadilah mobil menjadi “kuil” tempat menangis Bombay. Nah kalau dah di mobil itu aku bisa lho sambil nyetir nangis bombay kalau perlu jerit-jerit, tapi akhirnya kebiasaan itu berhenti juga.

Manakala pandangan mata tertutup air mata menyebabkan aku menyerempet sebuah mobil hingga somplak. Kami sama-sama menepi di pinggir jalan untuk penyelesaian dan dari mobil itu keluar tiga pria muda tegap dan salah satunya bahkan membawa tongkat baseball. Saat ketemu itu kelihatannya mereka gak jadi marah malah iba melihat tampangku yang sembab dengan mata masih sedikit berair dan hidung merah, lha malah menawarkan mengantarkan aku pulang. Tentu saja dengan halus aku menolaknya, kutawarkan uang pengganti – tetap mereka menolak dan berkeras mengantarku pulang.

Akhirnya kukeluarkan senjata pamungkasku (aku nih sudah dua kali kehilangan SIM karena kecopetan dan males untuk mengurus SIM lagi jadi sudah lima tahun aku jadi pengemudi tanpa SIM. Nah untuk menghindari ribet berurusan dengan sengketa lalu lintas, aku selalu melipat uang Rp.20 ribuan dan Rp.100 ribuan dan diselipkan di bawah BH – kanan dan kiri. Tinggal di keluarkan sesuai tingkat kesalahan aja).

Di depan mereka aku rogoh si Rp.100rb dan menyelipkan uang itu ke tangan salah seorang pria muda itu, kutanyakan, “ Gimana, segini cukup enggak.” Saking bengongnya dengan aksiku itu, dia cuman mengangguk-angguk saja. Kutinggalkan mereka, dari spion kelihatan dia cuman bisa garuk-garuk kepala dan tertawa bersama teman-temannya.

Suatu hari kulihat ada ojek melintasi depan rumah dan si Bocah ada digoncengan. Tak lama kemudian ojek itu melintasi lagi sehingga kuberhentikan. Si Bocah turun dan berlari memelukku, rupanya dia sering melakukan kebiasaan ini jika rindu. Kelihatan kurus dia bercerita bahwa di rumahnya mereka hidup prihatin – nasi selalu ada tapi lauk belum tentu.

Ongkos sehari-hari juga seadanya sehingga sempat pada periode itu dia menjadi preman yang memalaki adik-adik kelasnya. Akhirnya kuminta seminggu sekali dia ke rumah untuk mengambil uang sakunya – ternyata uang sakunyapun masih diminta Bapaknya untuk mengisi bensin dan berbagi ongkos dengan adiknya.

Sampai suatu hari adikku mengabarkan kalau si Bocah kecelakaan hingga terlempar ke kolong suatu mobil. Aku makin khawatir waktu mendengar dia menjerit-jerit karena kakinya tidak bisa digerakkan. Beruntung suster langsung mengambil tindakan dan setelah tarik sana tarik sini, kakinya kembali normal. Momen itu menjadi turning point bagi kami semua, si Bocah dengan keputusan sendiri minta izin ke orangtuanya untuk kembali ke rumah kami dan dia juga meminta izin untuk memeluk agama Islam.

Akhirnya kedua orangtuanya mengizinkan dia kembali dan merelakan pilihan agamanya. Sempat kutanya alasannya memilih Islam dan dia dengan sederhana cuman menjawab, “Gak tau kenapa tapi kalau sholat kok sering meneteskan airmata.” Dan begitulah hidup kembali berjalan – kelihatannya si Bocah sudah melupakan semua itu dan sibuk dengan dunia ke ABGannya.

Kedua orangtuanya sebenarnya sering stress sendiri memikirkan beban hidup– Ibu bisa menjerit-jerit enggak keruan dan Bapak yang menyambi ngojek sehabis mengajar sering bengong dan melamun yang mengakibatkan dia berapa kali mengalami kecelakaan. Yang mengharukan baju-baju mereka itu banyak yang lungsuran dari baju si Bocah – bayangkan dari si Sulung diestafet ke semua adiknya hingga yang nomor enam – baju-baju itu sudah berumur di atas sepuluh tahun.

Anak-anak mereka sebenarnya secara fisik sangat adorable bahkan yang Autis itu mukanya cantik dan unik banget – seperti boneka oriental (aku bahkan memperkirakan jika sudah besar mukanya akan seperti Tracy Trininta). Anak-anak mereka kalau weekend sering nginap ke rumah kami dan kelihatannya happy banget. Pernah salah seorang adik si Bocah beberapa bulan menginap di rumah agar bisa mendekati sekolahnya yang ada di Jakarta karena waktu itu rumah mereka di Depok.

Akhirnya si Bapak pindah kontrakan ke Jakarta barulah si adik berkumpul kembali dengan keluarganya.

Sebenarnya aku pernah menyalahkan si Bapa dan Ibu kenapa juga punya anak banyak gini (dengan si Bocah ada enam anaknya dan perempuan semua) – hanya karena ambisi beranak pria.

Penutup:
Esoknya si Bocah sekolah seperti biasa, pulang sekolah dia cerita sekarang sedang “top of the pop” pergosipan di sekolah – dengan siapa lagi kalau bukan dengan sang pemeran utama pria. Dasar mereka bersekolah di SMK IT maka dengan mudah teman-teman mereka merekayasa foto kedua artis sekolah itu.Saat ini masih dua scene lagi yang harus diselesaikan artis “kawakan” itu dengan honor Rp.10.000.- sekali shooting.

Dear reader, sejarah keluarga besarku sebenarnya sejarah panjang toleransi beragama sebagaimana pernah kutuliskan tentang nenekku Manizen Jannah si Pioneer Advent di Jogja – jadi tulisan ini sekedar merupakan catatan atas perkembangan Bocahku bukan untuk membandingkan agama yang satu dengan yang lain. Salam.

 

Ilustrasi foto: segudangcerita.blogspot

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *