Merah Putih Yang Kesepian

Handoko Widagdo – Solo

Lho ini kan bukan Bulan Agustus, mengapa bicara tentang bendera? Begini ceritanya. Siapakah diantara kita yang tidak bangga jika negara kita dihargai di negeri lain?

Rasa bangga itu meluap di dada ketika saya datang ke Pusat Penelitian Padi Dunia (IRRI: International Rice Research Institute) di Los Banos, Philippina. Kebanggan itu muncul saat saya memasuki Swaminathan Hall, tempat dimana saya menginap. Di lantai dua ada tertulis INDONESIA LOUNGE. Di Gedung Swaminathan ini, hanya dua Negara yang diberi ruang khusus, yakni Indonesia di lantai dua, dan Thailand di lantai tiga.

Saya sangat yakin bahwa nama Indonesia dan Thailand ditempatkan di gedung ini sebagai penghargaan IRRI terhadap Indonesia dan Thailand sebagai negara penghasil beras utama di dunia. Ditempatkan di Gedung Swaminathan adalah kehormatan, karena Swaminathan sendiri adalah tokoh (mantan Dierktor Jenderal IRRI) yang memberi visi baru pada IRRI saat kondisi perberasan dunia guncang.

Merah Putih01

Karena rasa penasaran – setelah mengatur barang-barang di kamar, saya segera lari ke INDONESIA LOUNGE. Ternyata mengecewakan. Bendera Merah Putih kesepian tanpa teman. Hanya ada Burung Garuda dan Lukisan Bali di bawahnya. Dinding begitu sepi tanpa hiasan.

Merah Putih02

Merah Putih03

Kekecewaan saya bertambah besar setelah memeriksa apa yang ada di THAILAND LOUNGE. Di pintu masuk terdapat lambing Negara Thailand. Di dindingnya dihiasi foto-foto yang memperkenalkan budaya dan keadaan Thailand. Beberapa patung diletakkan di dekat TV.

Merah Putih 04

Pintar juga orang Thailand ini. Mereka tahu bahwa Swaminathan Hall adalah tempat para tamu IRRI dari berbagai negeri. Tamu-tamu ini silih berganti setiap satu-dua minggu sekali. Rata-rata 50 tamu setiap minggu. Karena di dua lounge inilah diletakkan TV dan untuk saling bercengkerama antar tamu. Dengan memasang foto-foto yang menggambarkan negeri mereka, maka banyak orang akan mengenal Thailand.

Merah Putih05

Merah Putih06

Merah Putih07

Aku berjanji, jika nanti berkesempatan ke IRRI lagi, akan kubawa wayang dan batik. Akan ku hiasi dinding-dinding yang hambar. Sehingga Merah Putih tidak leyu, kuyu. Tapi tertawa berkibar.

Los Banos, Akhir November 2009

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *