Aku benci Om Bud….

Budiman Hakim

ADA salah seorang karyawan baru di kantor, namanya Adrianus Mohammad. Dia campuran Jawa dan Ambon. Aneh ya namanaya. Sejak hari pertama masuk di kantor kami, banyak staff yang membahas dan mempertanyakan perpaduan nama itu. Misalnya Gofur dari brand activation department. Dia memang selalu usil pada setiap anak baru. Dialah orang pertama yang ga tahan untuk tidak bertanya.

“Agama lu apa sih? Islam apa Kristen? Nama Adrianus koq direndingin sama Mohammad? Gue jadi bingung…,” tanya Gofur.

Adrianus cuma mesem-mesem aja tanpa memberikan jawaban. Belakangan baru diketahui bahwa orang tuanya ternyata kawin campur. Bapaknya Islam sedangkan ibunya Kristen. Bapak dan ibu, kedua-duanya ngotot ngasih nama versi mereka dan akhirnya terjadilah perpaduan nama yang cukup langka itu.

Lucunya, meski selalu minta dipanggil dengan nama ‘Adri’ semua temen-temen kantor memanggilnya dengan nama ‘Anus’ Hahahahaha… yah namanya juga anak-anak dari departemen kreatif, selalu ada aja kejailannya.

Eh tungu dulu! Panggilan itu ternyata bukan ga ada alasannya loh! Selain merupakan kependekan dari Adrianus, kata ‘Anus’ dipilih karena Adrianus Mohammad adalah seorang homosexual. Yak benar! Walaupun badannya besar, tinggi dan kekar, dia ternyata gay. Kalo lagi memandang dia, saya sering merasa ada yang kurang sinerji antara tubuhnya yang sangat macho namun suara dan cara berbicaranya persis banget sama waria-waria yang ada di Taman Lawang.

Ada dua hal yang membuat saya meyakini bahwa Adrianus adalah gay, pertama saat wawancara di MACS909. saya menyodorkan lembaran data untuk diisi. Di sinilah kejanggalan pertama terlihat. Dalam kolom data dia menulis sesuatu yang membuat saya bingung  bukan main. Seumur hidup belom pernah saya mendengar orang mengisi bagian ‘english’ seperti di bawah ini.

Name : Adrianus Mohammad

Religion : Christian

English : Fluent. Both oral and anal

“Adrianus. Emang kamu bisa ngomong bahasa Inggris pake pantat?” Tanya saya penasaran.

“Maksud Om Bud gimana? Saya ga ngerti?” Dia balik bertanya.

“Ini bagian bahasa Inggris, coba kamu baca sendiri.” Jawab saya sambil menyodorkan kembali formulir itu padanya.

Adrianus meraih kertas dan memeriksa jawabannya. Tiba-tiba mukanya berubah merah banget seperti kepiting rebus. Dia mengambil ballpoint dari kantongnya lalu mencoret kertas dan menulis sesuatu.

“Maap… eh maap.. Om Bud. Maksud saya eh… bahasa Inggris saya fluent. Both oral and written. Maap Om Bud. Saya salah tulis. Maap Om Bud.” Katanya tergagap-gagap sambil menyerahkan kembali formulir itu. Mukanya berubah pucat seperti kertas lalu kepalanya menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya.

“ Oh begitu. Ngerti deh saya sekarang.” Jawab saya sambil menahan geli. Saya ga mau komentar apa-apa lagi karna ga tega memperpanjang kemaluannya eh salah, maksud saya ga tega memperpanjang rasa malunya. Memperpanjang kemaluan? Hahahahaha… emangnya saya Mak Erot.

Peristiwa kedua adalah saat outing kantor. Beruntung sekali Adrianus. Belom sampe dua bulan bekerja sudah kebagian outing ke luar kota selama 3 hari. Kami menginap di hotel besar berupa cottage. Setiap cottage terdiri atas 5 kamar yang semuanya terletak di lantai dua. Tiap kamar diisi oleh dua orang.

Di lantai bawah terdapat ruang dapur, ruang makan dan ruang tamu. Jadi kalo kita bosan di kamar, kita gabung aja dengan penghuni kamar lain di ruang tersebut. Bisa makan bareng, nonton TV bareng dan juga tersedia kamar mandi yang bisa dipakai oleh siapa saja.

Nah ketika lagi nonton TV bersama yang lain, saya tiba-tiba kebelet pipis. Karena urine saya udah di ujung, saya kabur secepatnya ke kamar mandi. Wan alhamdulillah kamar mandinya ga dikunci artinya kosong ga ada orang. Saking kebeletnya saya tabrak pintu itu dan langsung menuju ke arah kloset.

“Aaaaaaawwwwww…” Sebuah teriakan panjang mengejutkan saya. Untung rem saya lumayan pakem sehingga tidak perlu menabrak Adrianus yang sedang berdiri telanjang bulat di bawah shower.

“Om Bud! Ke luar! Ga liat nih saya lagi mandi? Om Bud ke luar dong, saya malu nih… please Om bud…” Katanya sambil menutup bagian tubuh yang menurut dia harus disembunyikan.

Nah di sini anehnya. Kalo memergoki perempuan telanjang kan biasanya mereka berusaha menyembunyikan alat vital dengan cara menutup buah dada dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan digunakan untuk menutup bagian selangkangan. Kalo laki-laki biasanya menggunakan kedua tangannya untuk menutup bagian penisnya.  Begitukan pada umumnya?

Tapi yang dilakukan Adrianus belom pernah saya saksikan. Sambil berteriak menyuruh saya ke luar, dia menutup mulut dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya dia pakai untuk menutup bagian pantatnya. Ajaib kan? Rupanya dia punya definisi sendiri tentang alat vital. Itu sebabnya bagian penis justru dia biarkan terpampang tanpa penghalang. Saya sempat melihat sekilas dan merasa aneh. Badannya luarbiasa kekar, tinggi besar dengan otot yang kencang, akan tetapi penisnya sangat mungil. Berani bertaruh jempol kaki saya pasti masih lebih besar. Akhirnya saya pun ke luar dan berlari ke toilet kamar.

Sebelum menerima Adrianus sebagai staff di kantor, saya sempat tanya dulu tentang dia ke atasan di kantor lamanya. Menurut mantan atasannya, “Lo jangan ngarepin dia dari segi ide Bud. Lemah banget kalo ide. Kelebihannya adalah pada crafting. Apalagi kalo disuruh ngelay out materi untuk iklan fashion itu dunianya. Yah sebagaimana gay pada umumnya lah…”

Mulanya saya ragu buat ngambil dia, tapi karena kita lagi butuh orang yang bisa dibayar murah ya terpaksalah ambil dia. Soal ide? Ntar saya aja yang ngide, biar dia sementara jadi eksekutor aja. Perlahan-lahan kan dia bisa belajar. Saya percaya bahwa learning by doing adalah cara paling ampuh dalam mempelajari periklanan.

Dalam perjalanannya ternyata tidak mudah mempnyai rekan kerja yang gay seperti dia. Orang ini moody dan cengeng banget. Segala macam hal dia komplain. Ada aja keluhannya. Dari ruang kantor yang berantakanlah, temen-temen kerjanya terlalu berisiklah, komputernya leletlah, AC kurang dinginlah, asep rokoklah, kekurangan printerlah… banyak deh pokoknya.

Setelah beberapa bulan bekerja, saya baru menyadari ternyata pengetahuan anak ini tentang periklanan sangat terbatas. Sialnya, udah kurang pengalaman, anak ini sok taunya minta ampun. Udah craftingnya masih mentah tapi gayanya seolah dia adalah dewa periklanan yang sangat perfeksionis. Sebuah kombinasi yang sangat menyusahkan.

Tapi itu masih mending. Yang ga nahan mulutnya itu loh. Setiap hari mencela staff-staff lain, terutama staff dari client service department, dia selalu ngatain mereka, katanya client service di kantor goblok semua dalam hal strategi. Ga ada fungsinya kecuali sebagai kurir dan budak klien.

Dengan copywriternya dia juga ga cocok. Dia khusus dateng ke ruangan saya untuk minta diberi mitra lain. Kalo bisa laki-laki, katanya. Oh… rupanya dia ga merasa cocok bekerja dengan copywriternya yang kebetulan perempuan. Karena momentumnya pas banget dengan saat perombakan  group. Keinginan Anus bisa saya penuhi.

Sama klien juga ngeyelnya minta ampun. Dengan pengetahuan amburadul yang diperoleh entah dari mana, dia mendebat klien secara membabi buta. Karena kejadian ini terus berulang akhirnya klien hilang kesabarannya. Mereka meminta saya untuk mengganti dengan personil yang lain.

Saya inget jaman saya kerja di biro iklan Ogilvy dulu. Saya frustasi berat ketika salah satu klien memecat saya. Menurut klien itu (brandnya mobil BMW), copywriting saya jelek. Kurang berkelas sehingga mereka meminta saya diganti dengan copywriter yang lebih handal. Saya down banget waktu itu. Merasa dilecehkan, merasa disepelekan dan merasa harga diri saya dicampakkan ke tong sampah.

Karena itulah saya agak bingung bagaimana menyampaikan kabar buruk ini. Saya aja yang lelaki tulen hancur hati karena dipecat klien, apalagi dia yang perasaannya jauh lebih halus daripada saya. Kan ga lucu kalo dia sampe nangis menjerit-jerit histeris di ruangan saya. Bisa diomongin satu kantor wah… bahaya banget tuh. Tapi biar bagaimana pun kabar ini harus disampaikan. Dengan suara perlahan dan dengan pilihan kata-kata yang paling halus saya beritakan kabar buruk itu padanya. Dan apa yang terjadi?

Dugaan saya meleset jauh banget. Begitu mengetahui bahwa klien memecatnya, anak ini malah menyalami saya, berterimakasih karena merasa terlepas dari beban yang dia derita. Aneh banget! Begitu keluar dari ruangan saya, dia mengajak semua orang toss. Sambil berteriak-teriak dengan suara ngondeknya, dia memekik, “Give me five man. Give me five…!!! Toss!!”

Begitu sampai di kerumunan anak-anak kreatif yang sedang brainstroming, Anus melompat ke tengah-tengah mereka. Begitu kakinya mendarat di lantai, langsung pantatnya dimegal-megol-in, gerakannya kenceng banget menirukan gaya Inul lagi ngebor. Abis gitu dia ganti gerakan dengan gaya ngecor dari Uut Permatasari. Kaki kanannya ditarik dan ditarok di atas paha kirinya lalu dengan satu kaki dia melakukan gerakan berputar 180 drajat. Tarian pin disudahi dengan gerakan joget patah-patah dari Annisa Bahar. Huahahahahaha… semua orang tertawa ngakak ngeliat kelakuannya.

Temen-temennya pada bingung dong. Mereka menduga si Anus baru dapet kenaikan gaji karena keluar dari ruangan saya langsung jogat-joget penuh kegirangan seperti itu.

“Segitu girangnya Nus? Emang dapet kenaikan berapa persen?” tanya salah seorang staff.

“Bukan kenaikan. Ini lebih baik dari sekedar kenaikan gaji…,” jawab yang ditanya.

“Apa itu?” si penanya penasaran.

“Gue dipecat dari klien resek itu. Yiipii…!!! Bebas sudah penderitaan ini. Ambooi hidup begitu indah. Yihaaa…” Lalu dia melanjutkan gerakan ngebor Inul yang tadi dilakukannya, ga lama kemudian dia ganti gaya lagi dengan goyang gerjaji trademarknya Dewi Persik hehehehehehe…..

Dan mahluk ajaib ini pun saya pindahkan ke group lainnya. Masalah terus berlanjut. Para client service di group baru ini langsung sebel padanya. Biasalah, Anus secara ofensif terus merendahkan kemampuan anggota team lainnya. Perang dingin antara kreatif dan client service kembali membara.

Yang cukup memlelahkan, si gay ini sering curhat ke saya melalui email. Suratnya panjang banget. Kayaknya sekitar 5 halaman A4. Isinya selalu berupa keluhan. Misalnya begini, isinya udah saya potong biar pendek:

“Dear Om Bud

Saya kecewa banget dengan client service dan personil lain di group saya. Mereka bego-bego semua dan ga ngerti apa-apa. Sama klien kerjanya cuma manggut-manggut aja. Dikasih dead-line yang mepet langsung bilang iya. Mbok ya tawar dulu kek? Kan akhirnya kreatif juga yang ngerjain. Kreatif yang kelimpungan. Kreatif yang begadang sampe pagi. Apakah tidak ada tindakan dari management untuk merombak sturktur di kantor? Kita cari yang lebih capable. Mungkin memang jadi mahal tapi menarik SDM yang kuat itu bukan expenditure melainkan investment. Kalo kantor kita tetep memakai orang-orang seperti itu, saya yakin perusahaan kita ga maju-maju.”

Sambil menghela napas panjang berusaha agar tetep sabar, saya menjawab emailnya.

“Dear Anus

Sebuah team akan mencapai prestasi maksimal apabila ada respek antar individu dengan individu laiinya. Ibarat team sepakbola, kalo sesama anggota team saling sikut sendiri, mana mungkin bisa menang? Cobalah dimulai dengan hal yang paling sederhana itu. Mulailah dengan satu kata: RESPEK. Kalo itu udah berjalan, saya yakin team itu akan jadi semakin solid bahkan insya Allah akan menjadi the dream team.”

Minggu depannya datang email lagi dan panjang lagi.

“Dear Om Bud

Management kan selalu menuntut kualitas? Tapi mana bisa kualitas dicapai kalo ga ada dukungan dari klien. Materi iklan cetak yang saya buat cuma dikasih budget Rp 15 juta buat pemotretan. Mana cukup? Kalo mau kualitas ya harus ada investment. Client service itu bukan berjuang dulu malahan iya-iya aja dikasih Rp 15 juta. Pokoknya kerjaan ini saya buat… tapi saya ga mau bertanggungjawab sama kualitasnya. Kalo kerjaannya jelek? Salahkan kliennya yang pelit. Salahkan client servicenya yang tolol. Saya menolak untuk disalahkan…”

Saya balas lagi.

“Dear Anus

Tau ga kreatif yang jago itu yang bagaimana? Kreatif yang jago bukanlah orang kreatif yang bisa bikin iklan bagus. Kreatif yang jago adalah orang kreatif yang dikasih waktu mepet tapi hasilnya bagus. Dikasih budget dikit hasilnya tetep bagus. Dikasih mandatory bejibun hasilnya masih aja bagus. Berhentilah mengeluh karena semua klien tendesinya emang selalu begitu…”

Curhat lewat email ini terus berlanjut. Dalam sebulan kadang 3 atau 5 curhatan pastilah mendarat di inbox saya. Isinya ga bedalah sama yang di atas. Keluhan demi keluhan mengalir seperti serial sinetron melodramik yang supernorak itu. Kadang saya bales, kadang saya cuekin. Karena lama-lama capek loh ngeladeninnya.

Menyadari kalau emailnya sering ga dibales, dia mengirim email lagi ke saya dengan diCC-in ke presiden direktur. Ampun dech… lama-lama kan presdir saya BT juga tuh ngebaca komplain-komplain cengeng seperti itu. Akhirnya suatu hari dia manggil saya.

“Bud, itu si Anus ngeluh melulu kenapa sih? Ngapain juga pake diCC-in ke gue segala?” omel Pak Presdir

“Yah namanya juga anak muda. Dia masih mengira advertising itu adalah dunia ideal seperti yang diajarin di kampusnya. Culture shock kayaknya ngeliat dunia yang sebenarnya,” sahut saya.

“Loh? Kan dia udah pernah kerja di biro iklan lain sebelom masuk ke sini? Karyawan kayak gitu justru jadi beban. Bukannya membantu kok malahan nyusahin kita?”

“Iya ntar gue omongin lagi deh.”

“Kalo ga enjoy kerja di sini suruh resign aja! Sumpah, BT banget gue baca email-emailnya.

“OK. Kasih gue kesempatan buat ngedidik dia.”

Walaupun sama-sama duduk di management dan sama-sama sebagai pemegang saham, jabatan presdir itu adalah jabatan puncak. Sehingga secara  hirarkhi dia adalah atasan saya. Saya harus melaksanakan amanatnya. Akhirnya anak itu saya panggil dan saya kasih nasihat.

“Anus, lu kalo BT sama klien, bikin aja PSA (public service ad = iklan layanan masyarakat) atau initiative ad. Kan enak tuh ga ada mandatorinya. Itu Si Cecil bikin PSA dapet awards di lomba iklan nasional Citra Pariwara. Bahkan waktu magang aja dia udah dapet 2 metal di lomba iklan Pinasthika.” kata saya.

Di luar dugaan, Anusnya nyaut dengan nada judes, “Om Bud. Saya tau Cecil itu anak emasnya Om Bud. Saya ga suka dibanding-bandingin sama dia.”

“Eh lu ngomong jangan kurang ajar ya?” hardik saya.

“Maap Om Bud. Tapi Om Bud tau ga, kalo kreatif itu dibagi atas dua bagian?”

Eits? Baru tau saya kreatif terbagi dalam dua bagian. Siapa yang bagi ya kira-kira? Pikir saya kebingungan.

“Orang kreatif itu ada dua tipe. Satu tipe creative awards and satu lagi adalah tipe creative business. Cecil emang tipe creative awards, sedangkan saya termasuk creative business. Jadi percuma berharap saya bisa memperoleh awards di ajang lomba iklan,” katanya melanjutkan.

Huahahahahaha… ada-ada aja cara orang merangkai kata untuk mencari pembenaran bagi dirinya sendiri. Memang susah memoles orang kayak gini. Merasa dirinya bener sendiri dan ga pernah mau berkaca pada apa yang terjadi di depannya. Saya sering heran sama si Anus ini, keliatannya pinter banget tapi menganalisis dirinya sendiri kok susah banget keliatannya.

Sebenernya kalo mau mawas diri dikit aja, kan gampang untuk menilai diri sendiri. Secara eksternal klien ga ada yang suka sama dia, bahkan klien terbesar memecat dia. Secara internal, dia ga disukai orang, baik itu atasannya maupun bawahannya. Dari prestasi kerja, nilainya juga melempem. Lalu apalagi yang perlu diperdebatkan?

Saya pernah manggil Asep, group headnya Anus. Saya suruh dia ngomong ke Anus agar berhenti mengeluh. Mengeluh itu penyakit menular, takutnya keluhan itu akan menulari anggota team yang lainnya. Lalu apa jawab group head saya?

“Saya udah ngomong ke dia Om Bud. Saya bilang gini ‘Anus, lu badan gede kayak Rambo kok hati lu kayak Rinto sih? Berhenti ngeluh. Ayo tetep semangat. Kita harus punya mental pejuang, mental ulet, tahan banting dan ga pernah menyerah.’” Asep menjelaskan.

“Terus dia jawab apa?” tanya saya.

“Dia bilang, dari kecil dia emang punya penyakit stress. Dokternya kasih nasihat bahwa kalo ada sesuatu yang mengganjal harus segera dikeluarkan. Kalo ga stressnya bisa mendadak kumat. Kulitnya jadi gatal-gatal, ambeiennya keluar dan jerawatnya numbuh sampe bertingkat kayak hotel berbintang 5,” jawab Asep.

“Waduh! Repot dong kalo kita harus jadi tong sampahnya terus-terusan?”

“Nah itu dia. Saya juga bingung jadinya.” Asep menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Pokoknya larang anak itu ngeluh lagi. Kalo mau curhat ya keluarin aja di blognya, buku harian atau sama pendetanya sana di gereja. Mana enjoy kerja kita kalo harus dengerin keluhan tiap hari? Yang ada kitanya yang jadi stress.”

“Baik Om Bud,” jawab sang grouphead.

Keadaan ternyata ga membaik. Suatu hari, Si Anus ribut lagi sama client service di ruang meeting. Padahal team client service itu udah bener kerjanya. Ngeliat dia terus berkotek ga ada habis-habisnya, kesabaran saya pun sirna.

“Anus! Shut the fuck up! Get out of here and do your job!” Akhirnya saya bentak dia.

Anus kaget bukan main. Kayaknya dia shock berat mendengar bentakan saya yang menggelegar. Mimik wajahnya memperlihatkan paras tidak percaya bahwa saya tega memarahinya seperti itu. Dia berdiri terpaku namun belom juga beranjak dari tempatnya duduk.

“NOW!!!” Bentak saya lagi sambil menunjuk ke arah pintu keluar.

Anus bangkit dari kursinya. Matanya melotot ke arah saya dengan pandangan sangat murka. Dengan langkah perlahan seperti Robocop, dia berjalan menghampiri. Semakin dekat, semakin dekat… akhirnya kami berhadapan dengan jarak tak sampai 10 cm. Dadanya yang kekar dan bidang hampir menyentuh tubuh saya. Kepalanya yang dua kali lipat besarnya dari kepala saya membentuk posisi seperti ayam jago yang siap bertarung. Semua yang berada di ruang meeting menahan napas. Suasana hening semakin menambah ketegangan. Anus mengepalkan tinjunya seakan siap menonjok hidung orang  yang berada di hadapannya. Saya pun bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Bagaikan jeritan beruang kutub yang tengah terluka, tiba-tiba Anus menengadahkan kepalanya lalu memekik dengan nada tinggi, “Aku benciiii sama Om Bud!!!!!”

Saya masih diem menunggu apa lagi yang hendak dilakukan orang ini

“Benci! Benciii!!! Benciii!!!” Kembali dia melolong sambil menghentak-hentakan kakinya ke tanah. Lalu dengan berlinang airmata, Anus membalikkan tubuhnya kemudaan berlari kenceng banget ke ruang creative department sambil masih meneriakkan kata yang sama, “Benciiiiiiiiii…!!!!!”

Sesampainya di kubikelnya dia membanting pantatnya ke kursi. Jidatnya dibenturkan ke permukaan meja. Kedua tangannya yang sangat kekar seperti Ade Rai berusaha menutup mukanya yang lebar. Sayup-sayup terdengar sesunggukannya yang menyayat hati. Di sela-sela sedu-sedannya, orang-orang masih mendengar suara bisikan lirih, “Aku benci sama Om Bud… aku benci sama Om Bud… aku benci sama Om Bud…”

Ketika kembali ke ruangan, saya melihat ada kiriman email lagi di inbox. Tebak dari siapa? Ya siapa lagi? Anuslah pastinya. Kali ini panjangnya 10 halaman A4.

“Dear Om Bud

Saya kecewa sekali melihat sikap Om Bud hari ini. Om Bud adalah seorang creative director. Pemimpin departemen kreatif. Tapi apa yang Om Bud lakukan? Om Bud malahan ngebela orang-orang dari departemen lain. Sungguh tak pantas apa yang Om Bud lakukan. Mempermalukan anak buah di depan umum. Mentang-mentang client service itu cantik-cantik. Apakah hanya karena mereka cantik Om Bud lalu harus membela mereka? Bukankah Om Bud sudah punya istri dan anak? Bagaimana perasaan mereka apabila mereka mengetahui hal ini?”

Ampyuuuun…. Tobaaaat!!!! Karena batin sudah lelah saya gak ngasih tanggapan sama sekali atas email itu. Saya pikir – pikir lagilah nanti, tindakan apa yang harus saya perbuat. Ibu saya selalu menasihati ‘Jangan pernah mengambil keputusan ketika kamu sedang marah.’ Begitu katanya selalu. OK saya cooling down dulu kali ya.

Keesokan harinya saya ke kantor udah agak siang. Di meja ada sebuah amplop warna coklat berukuran besar. Saya robek, ternyata dari Anus. Di dalamnya ada foto-foto Si Anus dalam ukuran besar. Dalam semua foto, anak ini berpose layaknya peragawan. Yang menarik, dari semua foto itu, dia memakai T- Shirt yang berlogo perusahaan kami. Selain itu ada sehelai surat,  lalu saya baca isinya

“Dear Om Bud

Sesuai peraturan perusahaan, saya harus menyerahkan surat pengunduran diri sebulan sebelomnya. Jadi, bulan depan terhitung hari ini, saya sudah tidak di kantor ini lagi. Terima kasih atas kesempatan bekerja di sini. Dan terima kasih juga karena kita pernah bekerja dalam satu team. Semoga perusahaan ini makin sukses ke depannya.

Di dalam amplop ini ada beberapa foto saya, barangkali Om Bud berkenan menyimpannya. Kalau Om Bud merasa kualitas perusahaan lagi menurun, pandanglah foto-foto itu. Foto seorang anak buah yang paling memikirkan kemajuan kantor ini. Bukan seperti staff lain yang maunya kerja seenaknya tanpa memikirkan kualitas. Wassalam.

-Adrianus Mohammad”

Berhubung saya harus meeting dengan salah satu klien, saya ga sempat memanggil anak ini. Bersama team, saya meluncur ke klien yang terletak di daerah Slipi. Sepulangnya dari meeting, saya kembali ke kantor. Iseng-iseng saya ngecek email. Begitu banyak spams hari ini, sampai ratusan banyaknya. Menurut orang IT (Information Technology), block spams di server sementara emang lagi dibuka karena kantor lagi melakukan penggantian server yang mempunyai kapasitas lebih besar.

Tiba-tiba ada satu email yang menarik perhatian saya. Dari siapa hayo? Yak betul. Lagi-lagi dari Si Anus. Tapi kali ini email itu tidak dialamatkan ke saya. Kali ini emailnya ditujukan langsung ke presiden direktur. Email itu di-CC-in ke saya, HRD (human resources director), managing director dan finance director. Isinya lumayan spektakuler.

“Bapak presiden direktur yang terhormat,

Sebelum saya keluar dari kantor ini bulan depan, izinkanlah saya memberi masukan demi kemajuan perusahaan ini. Isi surat saya tidak bermaksud memojokan siapapun. Saya menyampaikan usul ini semata-mata hanya demi kemajuan perusahaan semata.

Saya tau perusahaan kita sedang dalam keadaan rugi. Dan saya juga sering mendengar managing director, HRD dan finance director selalu menekankan efisiensi. Misalnya jangan lupa mematikan komputer, lampu atau apa pun sebelum menginggalkan kantor.

Menurut saya titik permasalahannya bukan itu. Apa yang selama ini membuat perusahaan kita mundur secara kualitas dan rugi secara finansial hanyalah bertumpu pada satu orang saja. Semua itu adalah kesalahan creative director. Creative director kita lemah dan tidak punya kapabilitas menjalankan tugasnya. Saya yakin apabila creative director yang sekarang diganti, perusahaan ini akan segera membaik keadaannya.

Saya juga berpendapat, tidak ada satu pun personal di internal mempunyai kemampuan untuk menggantikan dan memikul beban itu. Semuanya masih lemah, baik dari segi leadership apalagi dari strategic planning. Karena itu saya mengusulkan  untuk menggantikan creative director kita. 1. Paulus Sidharta. 2. Hakim Lubis etc… etc…”

Saya memandang email itu lama sekali. Perasaan saya hambar rasanya. Setelah menghela napas panjang, saya pun menulis memo ke HRD dengan CC ke presdir, finance director dan managing director.

“Dear all

Tolong singkirkan anak ini segera dari kantor kita. Pastikan besok emailnya dicabut, ID cardnya diambil, saya beri deadline sampai jam 6 sore esok semuanya harus sudah beres. Thanks.”

Hhhh…. saya menghela napas panjang lagi…***

Redaksi Note :

titipHello Sobat Baltyra, jika kalian suka dengan tulisan Budiman Hakim, dapat membeli bukunya melalui baltyra. Buku ke 3 ini berjudul Sex after Dugem. Dengan berisi 34 cerita kehidupan yang pahit, manis, lucu dan sedih, buku ini dapat menjadi suatu renungan hidup mengenai makna berteman, kehidupan, komunikasi, beragama, toleransi sesama, sampai tulisan mengenai kehidupan seksual yang tidak vulgar. Dan lebih mengenal tentang kehidupan dan dunia seorang Budiman Hakim.

Buku ini dibandrol dengan harga Rp. 53.000, dan dilengkapi dengan tanda tangan Budiman Hakim. Untuk pemesanan, silahkan kirim email ke [email protected]

41 Comments to "Aku benci Om Bud…."

  1. Heri Murdiyono  18 April, 2014 at 14:10

    menarik skali crita’y

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.