Bye Bli…

Wahyumine – Jakarta

Jakarta, 17 Juli 2009

Sejak kejadian di bandara Ngurai Rai Denpasar Juni 2009, aku tidak mengharapkannya lagi. Aku mulai mengambil jarak sedikit demi sedikit dengannya. Aku tidak lagi menghubunginya. SMS terakhir yang aku kirim hanya mengabarkan kalau terjadi bom di Marriott dan Ritz Carlton Hotel Jakarta. Itu saja.
 
Dua hari sebelum masuk sekolah pada bulan Juli 2009, dia datang ke kosku dengan tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya. Waaaa…gubrak!!! Aku kaget sekali. Dia telpon ketika sudah sampai di depan pagar. Lebih kaget lagi setelah aku tahu ternyata dia naik bis dari Bali ke Jakarta, 30 jam. Dia masih dalam tahap penyembuhan setelah operasi telinga jadi tidak boleh naik pesawat karena tekanan udara yang besar dan berada di ketinggian.
 
Akhirnya dia di sini, di Jakarta, melanjutkan sekolah perwiranya. Bliku sayang ada di Jakarta…
 
Sejak saat itu, aku semakin dekat dengannya. Setiap akhir pekan kami selalu menghabiskan waktu bersama-sama. Entah nonton, atau sekadar jalan-jalan ke mall. Aku semakin sayang padanya. Andaikan dia hadir lebih awal di hidupku mungkin ceritanya akan lain… Tapi semua kebersamaan dengannya harus berakhir. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu.
 
Jakarta, 21-22 November 2009
Ini weekend terakhir bersamanya.

Sabtu
Brunch dan nonton 3D Xmas Carol. Menu Jawa yang aku pilih dan tidak lupa teh poci. Dan diapun mengiyakannya. Sepertinya untuk menyenangkan hatiku. Setelah nonton dia harus segera kembali ke asrama karena ada acara pelepasan selesai pendidikan.
 
”Pesen hotel donk sayang. Aku pengen tidur di hotel. Ntar malam selesai acara, aku langsung ke hotel,” pesan Bli padaku.
 
”Iya, ntar tak booking in by phone…”
 
Malam itu dia tiba di hotel sekitar jam 12 malam.
 
“Karaoke yuk…” ajaknya.
 
Aku menanggapi dengan agak malas karena sudah mengantuk dan terlalu malam, “Bli ga capek, kan udah malam, lagipula kan bli banyak kegiatan seharian ini?”
 
Tapi dia memaksa ingin karaoke karena setelah sekian lama bersamaku belum pernah kami karaokean bersama.
 
“Ya udah yuk, tapi cari karaoke di hotel aja ya, kalau keluar hotel aku ga mau.”
 
Dia pun setuju.
 
Ternyata karaoke di hotel sudah tutup dan pilihan selanjutnya adalah kembali ke kamar.
 
Tapi bliku tidak terlalu kecewa karena malam itu MU main. Dia lanjut menonton bola di tv, aku tidur.
 
Entah jam berapa dia memelukku dan aku tidur di peluknya malam itu sampai pagi…
 
Minggu
Breakfast bersama dan nonton lagi, kali ini film Ghost of My Girlfriends Past menjadi pilihan. Sore hari dia harus kembali ke asrama karena akan beres-beres dan mengirim semua buku lewat paket. Tapi dia berjanji besok akan datang lagi.
 
Jakarta, 23 November 2009
Malam terakhir sebelum dia kembali pulang kampung, dia datang ke kosku sore hari, setelah aku pulang kantor. Dia datang naik motor. Kubukakan pintu pagar untuknya setelah dia menelponku kalau sudah dekat di kos.
 
”Baru pulang ya?” tanya Bli padaku.
 
”Iya… ini belum ganti baju.”
 
Dia mengeluarkan semua isi tas ranselnya dan mengembalikan semua barangku yang dia pinjam selama tinggal di asrama.
 
“Mau minum apa Bli?”
 
“Ga usah, ntar aja.”
 
“Mangga mau Bli? Tak kupasin ya?”
 
”Boleh.”
Satu buah mangga habis dimakannya.
 
”Lapar ya Bli…? Hheheh… ”
 
“Sini sayang…” panggil bli padaku.
 
Aku pun mendekat dan rebah di sampingnya.
 
Muachhh… “Aku suka baumu sebelum mandi.” Ciuman berganti ke bagian leher dan tengkuk dan membuatku kegelian.
 
“Ehmm… Udah ah Bli aku mau mandi dulu, keringetan ini.”
 
Tapi tangan dan bahunya yang kekar mendekapku sampai aku tidak bisa bergerak.
“Aku besok pulang ya sayang,” lanjutnya.
 
“Iya… trus kapan Bli berangkat tugas ke Kalimantan Barat?”
“Siapa yang ke Kalimantan?”
“Katanya tadi Bli akan tugas di Kalimantan.
”Ndak… aku ngerjain kamu kok. Aku tetap tugas di Bali karena kompetensiku masih dibutuhkan di Bali.”
 
“Jahatnya ngerjain. Udah ah aku mandi dulu.”
 
Dilepasnya lengannya dari tubuhku.
 
Segar sekali rasanya setelah mandi.
 
”Udah mandi bli?” tanyaku.
 
”Udah tadi sebelum ke sini.”
Kujatuhkan lagi tubuhku di sisinya. Kupeluk dan kucium dia. 
Anganku, ah… dia sudah akan pergi.
 
”Kamu ke Bali ya sayang…” bisiknya lembut di telingaku.
”Iya Bli…” janjiku.
 
Tapi sempat-sempatnya di bercanda, ”Kapan lagi yach dapat ciuman hot kayak gini?”
 
”Ihhh… Bli gitu dech…”
 
Dipeluknya aku lebih erat. Tenang rasanya ada di pelukan hangatnya. Pelukan sayang yang selalu kurasakan setiap akhir pekan selama 4 bulan ini.
 
”Makan yuk sayang…” ajaknya beberapa saat kemudian.
Aku iyakan ajakannya meskipun perut tidak terasa lapar. Entah kenapa padahal sudah waktu makan malam.
 
Semangkok mie ayam tidak sanggup aku habiskan begitupun dia. Adakah hal sama yang kita pikirkan sehingga membuat tidak ada nafsu makan? Hmmm…
Waktupun bergerak dengan cepat tanpa kusadari. Dia masukkan semua barangnya yang sempat ada di kosku di tas ranselnya. Dan dia pamit.
 
gooodbye 1
 
Kucium pungung tangannya. Dan kucoba sekuat tenaga untuk tidak menangis di pelukannya karena dia tidak suka melihatku menangis. Tapi aku tidak bisa. Air mata ini akhirnya jatuh juga. Aku tidak kuat berkata lagi. Entah kapan lagi aku bisa bersama dengannya lagi. 4 bulan sudah aku selalu bersamanya dan menemaninya setiap akhir pekan sejak 17 Juli, tepat satu hari setelah ultahku.
 
Besok siang dia pulang, kembali ke tempat seharusnya dia berada, bekerja dan berkumpul bersama keluarganya.
 
Beberapa kali aku menangis karena dia, tapi ini mungkin yang terparah bagiku. Serasa tidak rela melepasnya pergi tapi aku harus melepasnya pergi.
 
Thanks for everything. Sudah istirahat aja, nanti malam aku telpon ya…”
 
Aku mengangguk.
 
Kubuka pintu pagar karena dia akan pulang ke asrama, hanya kata-kata ini yang sanggup kuucapkan, “Hati-hati ya Bli…”
 
Aku sayang bli… Hati-hati ya bli, doaku selalu menyertaimu. Tapi kata-kata ini hanya sanggup aku ucapkan dalam hati saja.
 
Bau parfumnya masih tertinggal di sini dan aku masih menangis. Besok sudah tidak ada dia lagi di Jakarta…
 
goodbye

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *