Mati itu Dukanya Siapa?

Alexa – Jakarta
Saat sebagian umat Islam menunaikan ibadah Haji di Arab kemarin termasuk bossku dan keluarganya, kabar datang ke kantor bahwa Ibunda dari bossku (berusia >80 tahun) meninggal dunia saat beribadah di Mekah. Teman-teman mengingatkan untuk mengirim SMS duka cita ke Boss. Ini membuatku sedikit bingung sebab konon hitungan pahala jika meninggal dunia saat sedang menunaikan ibadah Haji layaknya mati syahid yakni pejuang yang meninggal dunia karena sedang menegakkan Islam. Makanya orang-orang era kakek nenek kita sering beribadah Haji di usia lanjut selain karena perjalanan panjang menabung ongkos pergi ke sana juga karena ngarep.com untuk meninggal di sana.
Akhirnya kuputuskan untuk tidak mengirim SMS tapi mengirim doa saja, tentunya juga tidak layak jika aku mengirim SMS berbunyi , “turut bangga/ bahagia atas meninggalnya Ibunda Bapak.”
kabah
Nah pagi-pagi Sabtu ( 28 November 2009 lalu) ada kabar mengejutkan dari tetangga – teman Ibuku bernama tante Theresia meninggal dunia di usia 75 tahun, beliau hanya tinggal berdua dengan pembantu setianya Endah sementara 3 putrinya dan 2 putranya yang semua sudah berumah tangga tinggal di rumah masing-masing di bilangan Jakarta juga.
Tante Theresia meninggal di Purwokerto saat bersama rombongan parokinya berziarah ke suatu tempat yang ada patung Bunda Maria terletak sedikit diatas bukit. Beliau langsung tersengal-sengal saat mendaki beberapa anak tangga menuju patung Bunda Maria itu… dan saat dilarikan ke Rumah Sakit terdekat, beliau menghembuskan nafas terakhir. Tante Threes seorang yang Katolik yang taat tapi juga merupakan insan yang penuh toleransi beragama, misalnya saat aku Lebaran pasti beliau mengantar satu Loyang Lasagna atau Makaroni Schotel masakannya yang lazis dan tidak usah menunggu Lebaran – di malam Takbiran pasti antarannya itu sudah tandas.
Sebaliknya saat Natal – biasanya aku ganti mengantar sekeranjang buah-buahan atau Cake Roll Pandan keluaran Bread Talk kesukaan beliau, kulihat di rumah beliau ada patung Bunda Maria yang tingginya melebihi diriku terletak di sudut ruang makannya. Dua putra tante Threes berpindah keyakinan by marriage dan kebetulan saat aku liburan ke Bali sempat berkenalan dengan teman satu gereja tante Threes yang menceritakan betapa hebohnya paroki mereka atas kejadian ini. Hal ini tidak pernah nampak di permukaan karena yang aku lihat tante Threes selalu menyodorkan senyum lembut keibuannya saat putra-putrinya datang mengunjungi pada saat ulangtahun mendiang atau saat perayaan Natal.
Kadang-kadang kalau pulang malam aku lihat tante Threes ditemani Endah menunggu taksi atau kadang-kadang berjalan kaki keluar kompleks (jika tak ada taksi yang melintas) untuk kontrol kesehatannya ke dokter. Tante Thress kelihatannya sayang banget sama pembantunya bahkan sampai tidurpun mereka satu tempat tidur dan saat Endah menyampaikan rencananya untuk menikah – tante Threes menangis dan minta Endah supaya tidak meninggalkannya usai menikah kelak.
Saat pagi itu ke rumah tante , putri-putrinya yang sudah berdatangan menangis tersedu-sedu dan masih sempat mengeluh mengapa Ibunya pergi ke tempat itu bersama Endah dan bukannya mengajak salah seorang putrinya ( Endah sendiri sebenarnya seorang Muslim ). Dalam hati aku sebenarnya ingin menjawab ..”Lah kok Endah yang disalahkan, dia hanya menemani –  ke mana aja anak-anaknya selama ini?”
motherhood
Sebagai seorang anak – aku sedikit heran dengan perlakuan mereka ke ibunya habis ingat banget waktu Ibuku masih ada, kami anak-anaknya selalu bergiliran mengantar dan mengawal Ibu ke manapun beliau mau pergi. Dan setauku itu tidak terjadi pada keluarga kami saja, pada teman-temanku yang mayoritas bersaudara perempuan mau suku apa saja Cina, Batak, Padang dan so pasti Jawa – pasti seorang Ibu dipepet terus deh ama anak-anak perempuannya makanya sempet saat Ibuku dirawat di RS dan ditunggui secara bergiliran oleh kami putri-putri dan menantunya, teman satu kamar mendiang yang anaknya laki semua dan nengokin mamanya seperti tamu secara terus terang menyatakan rasa irinya.
Dalam satu sisi aku melihat bahwa waktu meninggal itu mungkin tante Threes dalam rasa bahagia karena bisa berdoa pada tempat yang disucikan. Pernahkah kita berpikir saat seorang terkasih meninggal dunia, dia pergi dengan bahagia menyambut dunia barunya?
Iwan Fals saat akan menunaikan ibadah Haji tahun ini juga ditanyai para wartawan apakah dia tidak merasa takut mati saat sedang menunaikan ibadah Haji? Dengan santai bang Iwan menjawab, “Semua orang pasti mati jadi jangan takut mati, yang ada sekarang malah banyak orang takut hidup.”
Apakah ini yang menyebabkan dalam satu minggu di Jakarta ada tiga orang bunuh diri di Mall? Takut hidup: jenuh menghadapi masalah, tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah?
Tiap agama punya ajaran mengenai hidup dan dunia sesudah hidup berakhir dan untuk yang terakhir ini kita baru tahu benar tidaknya ajaran itu jika kita benar-benar sudah bertemu dengan maut. Tapi jangan lupa kita saat ini punya hidup – hidup yang harus diisi dengan hal-hal yang bisa dipertanggung jawabkan di hari Perhitungan dengan Sang Khalik kelak. Jangan sampai kita mati nanti baru menyesal pada saat hari Perhitungan kelak ternyata Raport kita MERAH dan jangan harap ada kisah Superman mengitari bumi untuk mengembalikan hidup dan memperbaiki kesalahan.
 Aku ingat banget saat di rumah tetangga ada seorang anak SMA yang bunuh diri – beberapa waktu kemudian arwah si anak SMA itu mendatangi kembali keluarga itu dan mengucapkan penyesalannya telah melakukan bunuh diri…
Sebuah puisi dari WS Rendra kiranya bisa menggambarkan bagaimana seharusnya menghadapi kematian itu: 
Seringkali aku berkata, ketika orang memujiku milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipanNya, bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,
tetapi mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu petaka,
Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita,
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas,
Dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku,
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika,
Aku rajin beribadah maka selayaknya derita menjauh dariku dan nikmat dunia kerap menghampiriku,
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan KEKASIH
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusanNya yang tak sesuai dengan keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah,
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.
Dying leaf
 

Picture:

coastalartsleague

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *