All About Dog

ANJING: TENTANG CINTA, PERSAHABATAN DAN KEKELUARGAAN
Bagong Julianto, Sekayu-Sumsel

Mungkin ini hanya satu kebetulan. Atau mungkinkah kesejarahan pribadi yang berulang ini karena derita dan harapan masa lalu dipantulkan kembali sehingga duka nestapa menjadi penguat rasa? Lhah, masalah anjing ternyata bisa diseriusi juga. Atau, minimal dibuat seolah-olah serius. Agustus 2007, Nopember 2007, Januari 2008, Juni 2008, Agustus 2008, Nopember 2008, Januari 2009 adalah hari dan bulan kehadiran para anjing sahabat, di mana saya boleh berbagi cinta dan perhatian.

Tidak! Bahkan mereka adalah keluarga sambung saya. Anak-anak saya! Nero, Montok, Bruang, Brondi dan Belang adalah para anjing ini.

1. Persamaan dan Perbedaan

Ada persamaan pun sekaligus perbedaan di antara para anjing ini. Beberapa persamaan adalah: Nero dan Bruang adalah: jantan, hitam, pendiam-kalem, anjing kampung tanpa silsilah dan sertifikat asal-usul. Montok dan Brondi adalah betina lebih muda, lebih lincah-genit, anjing kampung juga.

Beberapa perbedaan adalah: Nero dan Montok anjing Teluk Siak Riau, Bruang dan Brondi anjing Sekayu Sumsel, Nero hadir sejak Agustus 2007, Bruang Agustus 2008, Montok Nopember 2007, Brondi Nopember 2008. Sama bulan beda tahun. Nero hadir ke rumah dinas karena menguntit si Sul, tukang kebon. Bruang saya jemput ke pemiliknya, keluarga pringgan kebon yang tinggal di Talang yaitu rumah panggung sementara ditinggali sambil mengolah kebun karet dan buah-buahan. Montok diberi oleh Sinaga satpam, Brondi saya tangkap saat istirahat di bawah mobil hi-line yang parkir di garasi samping Kantor Besar.

Satu hal pasti adalah Nero dan Montok sudah menjadi kenangan, sementara Bruang dan Brondi adalah kisah kehidupan keseharian terkini. Nasib Nero bahkan berakhir tragis, patut diduga menjadi tambul atau hidangan penyerta para tuakers tenggen pemabuk kampungan.

Sesekali saya masih bisa merasakan lidah kasarnya yang suka menjelajah telinga saat kami rebahan bertiga rehat tengah hari menggelar tikar di ruang tamu. Sekarang perangai itu masih juga dilakukan Bruang dan Brondi, tapi bukan telinga, yang saya sorongkan adalah kaki saya.

Persamaan lain adalah bahwa saya menjadi saksi saat Nero maupun Bruang melepas keperjakaannya. Nero beruntung karena memerawani Montok, adik tirinya sendiri sementara Bruang diperjakai oleh seekor betina liar yang sehari sebelumnya dikenaljumpainya di lapangan. Si Belang. Saya gak mau menebak-nebak, masih perawankah si Belang lawan ihik-ihik si Bruang. Biar si Bruang sendiri yang merasainya.

2. Let Them Wild. Biarkan mereka dalam keliarannya

Perangai ke empat anjing kampung ini mirip. Semua suka bermain-main kejar mengejar, gigit menggigit, tempo-tempo yang gede mengalah secara rebahan. Nero dan Montok jika siang hari saya kandangkan. Itu setelah saya lihat suatu sore Nero pulang menjinjing-gigit seekor anak ayam. Ayam tetangga. Bukan perangai yang boleh saya banggakan. Sementara Bruang dan Brondi gak saya beri fasilitas kandang. Toh halaman dan teras rumah dinas di Sekayu jauh lebih luas dibanding Teluk Siak.

Dibanding Nero dan Montok, Bruang dan Brondi relatif lebih mendapat fasilitas ekstra: beberapa kali secara bergilir mereka saya mandikan. Nero dan Montok gak pernah sekalipun saya mandikan. Agak diskriminatif, apa boleh buat, irama dinas berbeda antara Teluk Siak dan Sekayu berdampak pula pada anak-anak ini. Pun begitu aroma prengus atau harum ke empat anjing gak beda-beda jauh. Khas, gak menyengat.

Jika Nero dan Montok saya lepas-buka kandang sore hari supaya segera dinas malam maka Bruang dan Brondi saya lepas siang-malam. Biarlah suka-suka mereka, mau datang mau jalan-jalan, mau istirahat mau apapun, yang penting jangan nyerang-gigit ayam tetangga. Kelebihan Bruang adalah dia sering mengawal saya saat ke lapangan. Hal itu tidak dilakukan Nero karena begitu dekatnya jarak rumah-kantor dan kunjungan lapangan gak seintensif sekarang.

Sementara Montok dan Brondi benar-benar menunjukkan sisi kebetinaannya: sama-sama anjing rumahan, beredar sekitar rumah gak pernah ngeluyur gak karuan macam si Nero dan Bruang yang memang suka menjelajah mengasah kejantanannya. Ini sifat alamiah liarnya, bukan mencontoh Bapaknya lhoh.

Jika si Nero pernah mengendus keberadaan seekor kobra di saluran drainase tepat di samping belakang tempat saya biasa duduk malam hari ngerjai bonsai, maka si Bruang berhasil mengendus, membongkar kais sarang tikus di lahan sambil menangkap tikus itu dengan muncungnya. Sesekali ikut ke lapangan, justru si Belang lebih ligat mengendus dan memburu si babi kebun!

3. Ada Yang Pergi, Ada Yang Datang: Jadi Kakek!

Akhir Januari 2009, adalah hari-hari yang menyedihkan sekaligus menggembirakan. Tanggal 20 Januari 2009, saya mengurus jasad seekor anjing betina di jalan utama kebun tetangga. Tanggal 22 Januari 2009, si Brondi mangkat. Dilindas sopir saya.

Pagi hari, ada panggilan mendadak untuk ke Kantor GM. Posisi mobil atret, mundur ngebut. Si Brondi yang lagi santai menghangatkan badan pagi hari tak bisa menghindar. Si sopir tetap melaju ke workshop untuk isi minyak, tanpa tahu apa yang terjadi. Ketika saya dipanggil, saya masih sempat tutupkan mata si Brondi, sementara air mata dan ingus saya ikut mengantar doa baginya.

Saya gak mau dibantu siapapun! Sendirian saya kafani si Brondi dengan sapu tangan. Sendirian saya angkat si Brondi. Sendirian saya gali lubang di bukit galian kolam angsa samping rumah. Sendirian saya kuburkan si Brondi. Sendirian saya tanamkan sepokok beringin preh di pusaranya. Sendirian saya angkat batu kali untuk beri tanda batu nisannya. Saya gak peduli beberapa karyawan menjadi saksi air mata dan ingus saya yang ngucur pelan……

Tanggal 28-01-09, pulang kerja menjelang jam 23.00, Bibi lapor. Si Belang melahirkan! Dipilihnya sendiri kandang angsa untuk proses partus itu. Kandang itu sebenarnya untuk penetasan angsa. Gagal dapat cucu angsa, saya jadi Kakek 3 ekor anjing lucu: Jacko, Jacky dan Jenny! Jacko jantan persis warna tantenya/Brondi, dominan putih coklat ada totol O coklat. Jacky jantan dominan coklat putih ada I panjang di punggungnya. Jenny betina total coklat.

Bagaimanapun, saya cinta keluarga ini. Anak-anak saya si Bruang dan si Belang telah menobatkan saya menjadi Opa, menjadi kakek. Saya adalah Kakek anjing yang berbahagia.

Sampunnnnn. Suwunnnnnn. (BGJ edit 1209)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.