Dumoli lebih hepi dari Datuk K…

Alexa – Jakarta

Catatan:
Datuk K disini adalah Bossku yang ceritanya ada di : http://baltyra.com/209/07/29/bossku-berpoligami-aku-berpoliandri/

Cerita di bawah berasal Monday Meeting yang disampaikan oleh Datuk K:

Dumoli adalah seorang pengemudi Metro Mini – pagi ini dia akan memulai aktivitasnya pada pk.05.00 setelah menikmati secangkir kopi tubruk panas dan sebungkus nasi uduk dengan lauk bihun dan bakwan goreng yang dipersiapkan isteri tercinta. Dari bilangan Tanjung Barat akan menyusuri Pasar Minggu trus ke Pancoran dan berakhir di Tanah Abang – dari Tanah Abang selanjutnya akan kembali menuju Pasar Minggu.

Kemarin dia mendapat rit sore dan cilakanya menjelang Maghrib turun hujan hingga jalanan macet – masih untung dia bisa memenuhi setoran tapi uang yang dibawa pulang sedikit berkurang.

Pagi ini dia bersumpah dalam hati supaya bisa membawa pulang uang yang lebih banyak, maka mulailah dia mengemudikan si Oranye Metro Mini dengan semangat. Kendaraan meliuk-liuk dengan lincah mengisi celah-celah kosong yang kelihatan – time is money dan Dumoli mengemudi seperti kesetanan.

metromini

Apalagi keneknya juga lincah dan galak, tiap ada mobil yang memepet di kiri – si kenek akan segera menggebrak-gebrak tubuh Metro Mini dan bikin panik pemilik mobil. Bagian kanan adalah jatah Dumoli – jangan coba-coba menantang Dumoli. Dengan segera dia akan memepet atau bahkan menghalangi si Alphard, si Fortuner atau si Innova….pokoknya Dumoli is the Best lah. Di Gatsu, jalur paling cepat adalah sebelah kanan – si Oranye akan berada di kanan hingga si kenek mengomandoi kalau ada penumpang di halte yang ada di kiri dan Dumoli akan dengan tangkas memotong ke kiri. Jeritan klakson mobil-mobil tidak diperdulikannya…pokoknya hari ini harus lebih baik dari kemarin.

Bolak-balik satu rit akhirnya Dumoli menyelesaikan tugasnya pk.2.00 siang – setelah dipotong setoran dan uang untuk kenek, Dumoli masih punya Rp.100.000.- dia bergegas pulang – kali ini dia bisa membawa pulang hasil yang lumayan; seperti biasa isterinya akan mendapat Rp.80.000.- sementara Dumoli mengantongi Rp.20.000.- untuk pegangannya ( namanya uang lanang ).

Isterinya bersama anaknya sudah menanti dan dengan bangga Dumoli menyerahkan Rp.80.000.- itu, isterinya bergegas ke dapur menyiapkan kopi panas dan makanan bagi Dumoli. Dumoli melepas kaos yang dikenakannya seharian dan sudah basah oleh keringat – bertelanjang dada, kaos cukup dikalungkan di lehernya.

Isteri dan anaknya yang masih kecil menemani dia makan dan Dumoli bahagia sekali bisa memastikan bahwa besok keluarga mereka bisa makan. Begitulah hari-hari yang dilalui Dumoli tiap hari – kepergiannya tiap hari merupakan harapan bagi keluarganya karena mereka benar-benar hidup dari hasil hari per hari.

Sementara hari itu pk.09.00 malam Datuk K baru bisa meninggalkan The Crowne – suatu tempat hiburan daerah Kota usai mengentertain relasi. Dia cuman bisa menyelonjorkan tubuhnya yang panjang di bangku sebelah pengemudi mobil empuknya Harrier, via mBanking dia masih sempat mentransfer uang sebesar Rp.22,5 juta ke rekening isterinya.

Perjalanan masih jauh menuju rumahnya di Cibubur, sepanjang jalan dia tertidur dan tepat sampai rumah dia dibangunkan supirnya -untung besok Sabtu. Semua penghuni rumah sudah tidur, dia menyempatkan untuk mandi, menjenguk anak-anaknya dari yang bayi hingga yang mahasiswi di kamar masing-masing sebelum akhirnya ke kamarnya sendiri.

Biology clocknya yang sudah teratur membuat dia tetap terbangun keesokan harinya jam 4.30. Jam 06.00 pagi dia membawa si bayi keliling kompleksnya dan bertemu dengan sesama bapak-bapak penghuni kompleks- momen yang tak pernah dilewatkannya sebab tetangganya ada yang direktur BUMN, Kapolda dari daerah yang cuman sesekali pulang ke Cibubur.

Menjelang jam 07.00 dia kembali ke rumah – pembantu sudah menghidangkan sarapan nasi goreng komplit di meja makan, isterinya sudah nyantel di telpon. “Mah, sarapan yuk,” ajaknya. “I am on my diet Papa..”, jawab isterinya singkat. Dia menghampiri kamar anak gadisnya – sudah terbangun dan sibuk ber BB, “Nak temani Papa sarapan yuk,” Cape akh Pa – kakak sarapan ntar aja. Oh iya Pa, Jum’at minggu depan tanggalan merah lho – kita ke Bali atau Spore nih. Dalam hati Datuk K….”Bujubune tuntutanmu itu Nak”.

Akhirnya Datuk K sarapan sendiri – setelah itu dia siap-siap untuk lobbying di suatu lapangan golf pk.11.00an. Dia bertanya-tanya dalam hati – udah gue transfer 22.5 juta (ini jatah dua mingguan lho) aja seperti ini responsenya – gimana kalau gue kayak Dumoli ya?

Di mana kehangatan keluargaku?

Pak Paul menimpali – iya dulu kalau wiken anak-anak nanya kita kemana Pah? Trus karena enggak ada duit –kita bilang di rumah aja Nak nonton TV sambil makan Indomie. Sekarang rezeki dah berlimpah tiap wiken ke Mall – tapi malah misah. Isteri ke salon n ke departemen store, anak-anak main atau nonton, lha kita bingung mau ngapain di Mall.

Kami yang mendengar cuman berpandangan, lha kok leader pada curhat di hari Senin gini. Biasa deh aku gak tahan kalau gak mencuap – “Maksud Bapak-Bapak nih money doesn’t mean or what?”

Oh tidak sama sekali, gimana kalau pakai cara berpikir gini…Udah dikasih duit puluhan juta aja nasib seperti gini trus gimana kalau sampai gak bisa ngasih duit segede gini ya? Bisa dinista sampai ke ujung neraka kali….yang penting kita sudah bisa menyediakan pendidikan terbaik (termahal?) buat anak, masing-masing anak dan isteri punya mobil, rumah dan tabungan de el el.

Di lain pihak manusia itu memang kadang-kadang sering kurang bersyukur ya – semua yang dimiliki dianggap sudah given/ selayaknya emang harus ada. Terbukti dalam rating manusia paling bahagia di muka bumi yang dikeluarkan Reader Digest malah ditempati rakyat Bangladesh yang berasal dari negara termiskin di dunia.

Ada dua negara kaya dengan income/ kapita tertinggi yakni Swiss dan Jepang menunjukkan dua sisi mata uang yang berbeda. Di Jepang tingkat bunuh diri juga tinggi sementara rakyat Swiss termasuk dalam jajaran manusia paling bahagia di dunia.

karirpuncak

Apa maksudnya? Waktu saya menghadiri workshopnya Anthony Robbins (motivator terkenal dunia itu) – dia juga sudah mengingatkan hal itu. Selama ini orang berpikir bahwa sasaran tertinggi yang harus dicapai adalah Uang dan Mr. Robbins meyakinkan bahwa untuk mencapai sasaran itu bukan hal sulit karena God creates us Equal apalagi dengan terlahirnya kita ke dunia berarti kita terbukti sebagat Winner karena sperm yang itu (diantara jutaan) yang membuahi sel telur Ibu kita dan jadilah diri kita.

Harus diingat bahwa manusia itu terdiri dari body and soul dan harus sadar bahwa God create us based on Purpose – kehadiran kita di muka bumi ini ada kepentingannya  maka isilah body and soul. Punya uang banyak sudah pasti supaya bisa digunakan untuk yang lain selain keperluan pribadi dan keluarga. Semakin kita banyak memberi semakin banyak kita menerima. Melihat kemajuan anak-anak lain yang pendidikannya kita support, memastikan bahwa keluarga miskin itu bisa makan karena bantuan kita bisa mendatangkan rasa bahagia dan adem di hati yang tidak kalah dengan bahagia melihat senyum manis anak, isteri.

Disclaimer:

Cerita Dumoli di atas sebenarnya dikutip dari cerita yang disampaikan oleh seorang petinggi Bapepam kepada manajemen kantorku saat menemui beliau. Beliau menertawakan nasibnya sendiri – bertransaksi sophisticated yang memerlukan tingkat pendidikan tertentu, menghasilkan income yang tinggi tapi sampai di rumah enggak dianggep. Somehow para bossku juga merasakan perasaan yang sama.

 

Ilustrasi: cbn.net.id

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *