All You Need is Love…

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

PERCINTAAN ISLAM DAN KRISTEN (1)

“All You Need Is Love”

APAKAH pantas ada sebuah kata cinta yang diperlukan antara Kristen dan Islam? Dia sulit hadir untuk berada di antara keduanya. Bila pun dia ada, sering tak terlihat atau memang tak ada sama sekali bagi siapa yang tak mempercayainya.

Kehadiran cinta antara Kristen dan Islam, terlihat seperti definisi cinta yang diberikan oleh François duc de La Rochefoucauld, seorang cendikia dari negeri Napoleon yang hidup di waktu abad 16.

“Cinta sejati bagaikan hantu. Saat banyak orang membicarakannya, tapi sedikit yang pernah melihatnya”. Mungkin seperti itu kehadiran cinta antara Kristen dan Islam. Hampir semua orang mengeluarkan luapan isi hatinya, yang mendambakan kehadiran cinta antara dua agama besar itu. Namun begitu menyedihkan, hanya segelintir saja yang merasakannya getaran cinta sejati antara dua kubu tersebut.

kawin-beda agamaMembicarakan cinta antara Kristen dan Islam, memang serupa membincangkan hantu. Banyak yang mengatakan cinta itu memang ada, tapi sedikit saja yang pernah melihatnya. Lalu kemana yang lain? Apakah memang mereka tak memiliki mata untuk merasakannya? Kemampuan untuk melihatnya memang ada, namun telah terhalang oleh tabir tebal. Bagaikan kabut yang menutup penglihatan hati masing-masing kubu, selama berabad-abad. Kabut itu bukan makin menghilang, tapi menebal dan melemahkan mata hati di kedua pemeluk agama besar itu.

Ketidaktahuan, ketidakmengertian, ketidakharmonisan, ketidaktoleransian atau lebih menyedihkan adalah sebuah pertikaian. Atau bisa jadi perperangan, sebuah istilah menyeramkan yang tak disukai untuk dipakai dalam menggambarkan menghubungkan Kristen dan Islam. Perang Salib adalah contoh nista sebuah peristiwa yang pernah terjadi menghiasi hubungan dua agama samawi itu. Sama-sama agama dari langit (monotheistic religions).

Mengapa hal-hal yang menghalangi kehadiran cinta antara Kristen dan Islam bisa kokoh berdiri menutupi pandangan antara kedua pemeluk? Jawabannya ada di masing-masing sang pemeluknya. Banyak sisa-sisa pandangan serba negatif yang masih melekat erat dalam diri pemeluk Kristen dan Islam. Pandangan buram itu sulit lenyap hingga mengalami perubahan wujud menjadi prasangka.

Prasangka itu, tentunya yang sangat negatif, hadir bagai benda yang saling memantul antara kedua pihak pemeluk. Dan sedihnya, prasangka tersebut dirawat dengan baik dalam berbagai ulasan kosong, tulisan tak bermutu, komentar sumbang, argumentasi semu, debat kusir, pertikaian tanpa jeda dan, ini paling yang diratapi, pertengkaran dan perkelahian primitif.

Mengapa itu bisa terpelihara dan tumbuh dengan baik bagai didalam inkubator? Jawabannya sangat historis dan kronologis. Sang waktu yang merinci mengapa itu bisa tumbuh subur.

Cendikiawan Nurcholis Madjid pernah memberikan lukisan indah, untuk menggambarkan mengapa pemeluk Kristen dan Islam senang hidup dalam prasangka yang negatif. Ada tiga masalah yang membuat mereka selalu berang bila memandang wajah masing-masing.

Pertama, kaum pemeluk Islam menganggap kehadiran agama baru mereka sebagai kelanjutan dan perkembangan ajaran Kristen. No way! Kata pemeluk Kristen. Islam adalah sesuatu hal yang baru dan juga dikategorikan sebagai lawan. Bukan kelanjutan atau sesuatu yang korektif.

beda agamaLalu, ada perasaan ketidaksukaan yang menjelma tumbuh pada kaum pemeluk Kristen, yang melihat dampak spiral meluas dari perkembangan Islam. Mengapa tidak senang? Islam membiak tak terelakan di kawasan yang dulunya pernah menjadi lahan subur kejayaan agama Kristen. Daerah semenanjung Arab, sebagian besar wilayah Timur Tengah, Eropa Timur dan Spanyol adalah ladang subur kepercayaan Kristen yang kemudian dikuasai Islam berabad-abad hingga kini (kecuali semenanjung Spanyol yang dikembalikan statusnya). Contohnya, kota Constantinople yang dulunya menjadi sebuah sentral kota kristiani, disulap menjadi kota terbesar Islam, yang kini menjelma bernama Istanbul.

Dan terakhir yang memperparah hubungan kedua pemeluk agama ini adalah masalah sosial budaya. Bagi kebanyakan kaum Islam yang hidup di dunia timur, agama Kristen yang berkembang pesat di dunia barat, adalah hasil olah bentuk dari budaya barat yang diwariskan dari budaya Romawi-Yunani. Di sini sudah terjadi perbedaan jelas secara kultural. Makanya kaum Islam menyebutnya sebagai “Kristen Barat”. Memangnya ada Kristen yang timur? Oh ada!

Nah, “Kristen Timur” itu adalah pemeluk agama pengikut Nabi Isa (Jesus) yang berdiam di sebelah timur Laut Tengah. Ada Kristen Maronit, Nestorian, Koptik, dan lain-lain yang jumlah sektenya memerlukan dua tangan dan dua kaki untuk menghitungnya.

Sepanjang sejarah berjalan, hubungan umat Islam dengan pemeluk Kristen Timur, baik-baik saja dan penuh toleransi. Bila ada pertikaian antara dua kubu, lebih terpicu karena masalah kepentingan, seperti politik, sosial (perang saudara di Libanon), bukan masalah budaya, apalagi masalah teologis (akidah). Secara kultur kedua kubu sama dan sejalan. Berbeda dengan pertalian antara pemeluk Islam dan Kristen Barat, yang selalu penuh prasangka negatif, karena adanya perbedaan budaya dan bahasa.

Pemeluk Islam banyak tidak tahu tentang akar budaya Kristen Barat dan begitupun sebaliknya. Kenyataan ini terbawa dan terawat rapi hingga kini dan sulit dirinci dan dirunut bagai benang kusut atau seperti mencari sebuah jarum di tumpukan jerami di kegelapan malam.

Mungkin saatnya kita perlu secercah cahaya untuk menerangi kegelapan hubungan antara Kristen dan Islam. Dan cahaya itu hanya cinta. Cinta memang menerangi segalanya, tapi juga bisa membutakan. (*)

Ilustrasi: politikana.com

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

3 Comments to "All You Need is Love…"

  1. Linda Cheang  16 July, 2017 at 17:28

    Memangnya ada Kristen yang timur? Oh ada! -> Iya, ada. Timur dan Oriental.

  2. Itsmi  12 April, 2011 at 14:08

    Wibisona, karena Tuhan itu ciptaan manusia……………..

  3. wibisono  12 April, 2011 at 13:58

    itulah
    ku pikir Tuhan cuma satu
    Budha Gautama,,Siwa,,Yesus,,Muhammad SAW adalah orang2 besar,nabi yang diberi keprcayaan Tuhan untuk mengenalkan Dia ke umat manusia…
    Tapi kenapa malah orang2 gak bisa bersatu karena “agama”
    ajaran yang datangnya dari Tuhan sendiri

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *