Note dari pembantu kos

Nia – Somewhere

“Mbak maaf ya? aku tadi ambil coklat 2 jgn blg sama antil (ama) tolong nanti aku dimarah!”

Kata-kata di atas adalah note dari mbak Endang pembantu kos yang ditulis di atas tissue dan diletakkan di atas lemari kecil tempat saya biasa meletakkan kunci. Saya merasa ada yang aneh ketika membaca note itu. Cuma ambil 2 coklat kenapa harus tulis note segala?Dia pasti tau kalau saya tidak akan sadar kalau coklat saya berkurang 2 karena jumlahnya banyak dan jenisnya pun beragam. Selain itu dilihat dari penampilannya dia bukan tipe penggemar coklat. Jangan-jangan dia lagi stress sampai ambil coklat saya.

note

Ternyata benar lho… waktu saya kasih coklat lebih banyak dia bilang: “sebenernya nggak terlalu suka coklat mbak, tapi saya lagi stress”. saya cuma menjawab “oohhh… stress ya…” sambil tengak-tengok kalau ada ibu kos. Saya memang tidak suka ngobrol sama pembantu kalau ada ibu kos karena habis ngobrol pasti pembantunya diinterogasi.

Waktu itu kebetulan ibu kos tidak ada jadi saya tanya-tanya mbak Endang tentang pekerjaannya disini. Mbak Endang sebenarnya adalah pembantu anaknya ibu kos tapi hampir setiap hari dia datang ke kos saya untuk bersih-bersih. Kadang-kadang dia datang ke kos sendiri tapi lebih sering dia datang bareng ibu kos. Jadi pagi-pagi ibu kos ke rumah anaknya untuk masak dll lalu sore dia bawa mbak Endang ke kos selain untuk di suruh bersih-bersih juga untuk DIMARAHI. Saya heran kok mau marah-marah harus bawa pembantunya ke kos? Marah-marah di rumah anaknya juga kan bisa. Kata mbak Endang: “Kan ada cucunya yang paling kecil mbak, jadi dia nggak berani marahin saya di rumah Madam.” Madam adalah panggilan untuk anaknya ibu kos, sedangkan ibu kos dipanggil Ama.

Menurut mbak Endang dia sering dimarahi bukan karena pekerjaan tapi karena dia memberi Pati makanan. Pati adalah ibunya ibu kos yang juga tinggal di rumah anaknya ibu kos. Ruwet ya? aduh maaf saya tidak pintar menulis sih (“,).

Pati sudah tua sekali mungkin umurnya sekitar 80 tahun lebih. Baru sekali saya melihat Pati waktu saya ambil kunci di rumah anaknya ibu kos. Orangnya pendek dan kurus sekali. Saya tidak pernah mengira kalau orang setua itu diperlakukan dengan tidak baik di rumah cucunya sendiri. Kata mbak Endang dari awal kerja disini dia dilarang membantu Pati termasuk memberi makanan. Tapi dia sering sembunyi-sembunyi ngumpetin makanan dan malamnya dia berikan ke Pati. Kata mbak Endang: “Aku ini dah nggak punya orang tua mbak. Apa tega aku liat Pati nggak diurus gitu? Aku kan tidurnya sama Pati to… masa jam 2 malem Pati mau pipis trus aku bantuin kan… besoknya aku dimarahi habis-habisan sama Ama.” Saya tanya mbak Endang kok Ama bisa tahu dia bantuin Pati, katanya: “Ya Madam sama anaknya yang kembar itu yang lapor. Mereka itu sama aja sama Ama. Jahat kalo sama Pati. Kalo yang ragil enggak mbak. Baik dia anaknya. Kalo punya makanan pasti dikasiin aku sama Pati.”

Sebenarnya mbak Endang sudah sering dimarahi karena mengurus Pati dan biasanya dia hanya menjawab: “I am sorry Ama… I am sorry…” tapi hari itu dia sudah tidak tahan lagi. Dia cerita kalau dari pagi dia disuruh ngerjain ini itu jadi dia tidak sempat ambil makanan untuk Pati. Jam 2 siang pekerjaannya masih belum selesai tapi dia tidak tega melihat Pati belum makan dari pagi. Lalu dia tanya Pati mau makan apa dan Pati jawab mau makan Tose (sejenis bubur India). Waktu itu Ama sedang belanja jadi dia tidak tahu kalau mbak Endang membuatkan Tose untuk Pati.

Tapi mbak Endang terlalu jujur jadi waktu Ama pulang dia bilang: “Ama maaf tadi saya masak Tose untuk Pati”. Ama langsung marah besar dengar hal itu apalagi makan siang untuk cucu-cucunya masih belum siap. Mbak Endang dibentak-bentak, dibilang STUPID, BODOH dan kata kasar lainnya. Yang membuat mbak Endang tidak terima Ama juga memarahi Pati. Sambil menunjuk Pati dia bilang: “Dia itu bukan ibu yang baik! Dia tak pernah urus aku dan anak-anakku! Jangan you urus dia!.” Pati hanya bisa menangis. Mbak Endang lalu bilang ke Ama: “Ama marahi saya saja… pukul saya Ama… tapi jangan marahi Pati.” Ama semakin kalap mendengar kata-kata mbak Endang. Setelah puas marah-marah dia lalu menyuruh mbak Endang pergi ke kos. Sampai di kos mbak Endang langsung bersih-bersih. Katanya: “kalo nggak kerja aku kepikiran Pati terus mbak… dirumah nggak ada cucunya yang ragil jadi pasti Pati dijahati sama Ama.”

“Bisa-bisanya ya Ama sama aku baik tapi sama ibunya dia begitu”, kata mbak Endang. Saya juga heran kok pembantunya bebas makan apa saja tapi ibunya malah tidak diberi makan. Selama saya kos disini ibu kos sudah ganti pembantu 4 kali. Semua pembantunya bilang kalo soal makanan tidak ada masalah karena Ama tidak pelit dan juga tidak membeda-bedakan makanan. Apa yang Ama dan keluarganya makan itulah yg dimakan pembantunya. Tapi baru dari mbak Endang saya dengar cerita tentang Pati. Seandainya Pati dulu jahat sama anak dan cucunya tapi kalau ada orang yang mau kasih sesuatu ya seharusnya jangan dilarang.

Mbak Endang baru 2 bulan kerja disini. Dia bilang sedang tunggu telpon dari agen-nya. Dia mau cerita ke agen kalo dia tidak betah dan mau keluar saja. Saya bilang ke dia lebih baik jangan keluar dulu paling tidak sampai 4 bulan lagi. Nanti bulan ke 7 dia sudah bisa terima gaji jadi mungkin akan terasa lebih enak kerja karena sudah terima gaji. Selain itu saya juga yakin kalo ibu kos akan bersikap lebih lunak ke dia karena ibu kos suka sekali dengan cara kerjanya. Dulu awal-awal mbak Endang kerja disini ibu kos menunjukkan ke saya betapa bersih rumahnya karena ada mbak Endang. Ibu kos juga pernah bilang: “She is very good. I like her.”

Sekitar 15 menit kami ngobrol. Saya tidak mau terlalu lama membuang waktu mbak Endang. Kasihan dia kalau pekerjaannya tidak selesai karena ngobrol dengan saya. Lalu saya masuk kamar dan dia melanjutkan pekerjaannya. Tidak lama ibu kos datang dan dia tahu kalau saya ada di kos lalu dia tanya ke mbak Endang: “cakap apa tadi?” hahaha… mau tauuuu aja nih ibu kos. Saya dengar mbak Endang menjawab tidak cakap apa-apa. Kami memang sudah kompak untuk menjawab “tidak cakap apa-apa” kalau ditanya ibu kos.

Sebelum mbak Endang kembali ke rumah Madam, ibu kos bilang: “sorry ya tadi saya marah. you know itu Pati tak ada urus saya dulu. dia jahat. saya marah you urus dia. sorry ya.” Ama bicara pelan-pelan tapi saya masih bisa dengar. Semoga permintaan maaf Ama membuat mbak Endang tidak stress lagi dan lebih betah kerja disini. Bukan hanya Pati yang senang kalau ada mbak Endang, tapi saya juga karena selama ada mbak Endang, Ama tidak pernah teriak marah-marah. Kos jadi lebih tenang ^_^

Begitulah kisah mbak Endang yg meninggalkan 3 anaknya untuk bekerja di Singapura. Saya yakin dia akan sukses bekerja disini karena dia lakukan tugasnya dengan sangat baik. The Best Maid ever pokoknya ^_^

Kata mbak Endang, Pati sangat sayang padanya. Jelas lah… siapa yang tidak sayang sama orang yang selalu perhatian kayak mbak Endang? Katanya lagi: “tiap mau tidur Pati sujud di deket tempat tidurku trus ndoain aku mbak.”

Oya ada hal lucu waktu pertama saya ketemu mbak Endang.

saya: “asalnya dari mana mbak?”
mbak Endang: “aku iki wong Medan mbak”
saya: “ooooo… wong Medan…” (mikir, kayaknya ada yang salah dengan wong Medan satu ini. hahaha… wong Medan kok ngomong pakai bahasa Jawa)
mbak Endang: “Tapi dulu aku hidup di Palembang”
saya: (diam, sambil mikir-mikir apa orang Palembang berbahasa Jawa)
mbak Endang: “Berangkatnya kesini dulu dari Jakarta, mbak. Tapi kalo aslinya sih saya dari Kulon Progo”

oooo… ternyata orang Kulon Progo hahaha…

About Nia

Don't judge the book by its cover benar-benar berlaku untuk Nia ini. Posturnya sama sekali tidak menggambarkan nyalinya. Blusukan sendirian ke seluruh dunia dilakoninya tanpa gentar. Mungkin hanya North Pole dan South Pole yang belum dirambahnya. Catatan perjalanannya memerkaya wawasan bahwa dunia ini benar-benar luas dan indah!

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.