Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
PERCINTAAN ISLAM DAN KRISTEN (2)
“First Love Never Dies”
KETIKA sebuah kepercayaan lahir dan tumbuh biak dengan penganut baru, mungkinkah ada rasa cemburu dari orang yang meyakini kebenaran sebelumnya? Gejala itu sangat alamiah. Sejak kapan ada seorang nabi dihormati di negerinya sendiri?
Mencari cinta antara Islam dan Kristen, susah-susah gampang. Dia ada, tapi kadang tidak terlihat. Sama seperti hantu. Banyak yang mempermasalahkan, tetapi segelintir kecil manusia yang menikmatinya. Biasanya, hanya “orang pintar” yang punya kemampuan untuk itu. Jumlahnya pun tak banyak untuk menghitung manusia sejenis itu.
Kapan cinta itu bersemi pertama kali, saat Islam dan Kristen jumpa pertama? Untuk menilik ini, kita harus jauh menengok ke belakang silam, ketika Islam masih berbentuk benih di tanah Arab. Saat itu ada seorang pendeta Kristen yang dekat sekali hubungannya dengan orang yang pertama kali membawa ajaran Islam, Muhammad.
Sang pendeta memberi banyak dukungan kepada Muhammad, yang juga suami kesayangan dari keponakannya, Khadija. Baginya Muhammad bukanlah orang lain. Mereka bersaudara secara genealogis. Sedarah. Rasa cinta penuh hormat Muhammad kepada paman istrinya itu, sangat besar dan sulit disembunyikan dalam sejarah perkembangan hubungan Islam dan Kristen. Di saat-saat sulit ketika mengalami keterkejutan jiwa menjadi utusan Tuhan, Waraqah adalah orang dekat pertama yang mengetahuinya, di samping istri Muhammad.
Sang pendeta itu adalah Waraqah bin Naufal. Ia rahib Kristen dari sekte Ebionites atau Evyoniah. Sebuah sekte kristiani yang tumbuh subur di kawasan jazirah Arab selatan, tempat Muhammad tinggal dan tumbuh, dengan memadukan kaidah kristiani dan Yahudi.
“Quddus…quddus…”, kata Waraqah yang sepuh dan tuna netra itu, bereaksi setelah diceritakan oleh istri Muhammad tentang yang dialami suaminya saat menerima wahyu pertama kali. Quddus berarti suci dalam bahasa Arab. Waraqah berjanji ingin membela Muhammad, yang pasti akin dibenci kaumnya kelak, meski janji itu tak ditepati karena kematiannya lebih awal terjadi.
Kisah antara Muhammad dan Waraqah, paman istrinya adalah cerita indah tentang kisah cinta pertama kali antara Islam dan Kristen. Kejadian ini dikisahkan dengan penuh keharuman pada setiap kata oleh Martin Lings, seorang penulis biografi Muhammad yang handal. Tak berhenti disitu jalinan asmara itu. Kisah cinta itu tak mati ketika Waraqah juga mati.
Namun Muhammad begitu setengah mati membangun keyakinannya diantara kaumnya yang benci dan ingin dia cepat mati. Tak ada payung perlindungan yang bisa diandalkan Muhammad untuk melindungi segelintir orang yang percaya pada keyakinan baru yang dibawanya. Satu-satu tempat yang mungkin menjadi tempat yang teduh adalah Abyssinia, yang kini bernama Ethiopia. Di kampungnya sendiri, Muhammad bagai pulau kecil di tengah lautan kebencian kaumnya.
Hanya Raja Abyssinia yang mau menerima pengikut Muhammad yang dikejar-kejar kaumnya untuk dibunuh, meski sang Negus, penguasa Abyssinia, ragu menerimanya sebelum diyakinkan. Sang Negus yang sangat kristiani itu, begitu terkesima, ketika Jafar, sepupu Muhammad yang maiming utusan, membacakan surat Maria dari Quran dihadapan tuan rumah. Negus pun menangis. “Ini sama yang diajarkan Yesus”, kata Negus spontan yang juga kakek moyang Haile Selassie II, kaisar Ethiopia masa kini, yang menjadi ‘God-living’-nya penyanyi raggae Bob Marley.
Ketika mendengar Negus wafat, Muhammad begitu sedih. Dia melakukan sembahyang gaib untuk menghormati kepergian sang Negus yang kristiani dan banyak membantu pengikut Muhammad, ketika dia dalam kesedihan dan kesendirian tanpa ada yang mau menolong.
Setulusnya, kisah cinta antara dua agama besar ini, tak semata dilihat dari titik-titik waktu tertentu. Perasaan cinta antara keduanya bersemi dan bersemayam sepanjang hidup Muhammad dan sesudah kematiannya. Muhammad menyadari sepenuhnya parfum kasih sayang yang disebarkan Yesus. Ia berdiri di depan membela hak-hak mendasar pengikut Yesus dan juga Taurat yang ada dalam masyarakatnya.
Secara genealogis, Yesus, yang dalam Islam disebut Nabi Isa, dan Muhammad adalah bertalian darah. Sama-sama keturunan Ibrahim. Kenyataan ini disadari sepenuhnya oleh Muhammad. Ketika Kabah dibersihkan di dalamnya dari patung-patung berhala (paganisme), Muhammad memperlakukan ornamen Yesus dan Maria yang menghiasi interior dalam Kabah, dengan penuh rasa hormat sambil menyingkirkannya.
Kisah cinta pertama antara Islam dan Kristen, akan menjadi kenangan manis sepanjang masa. Sedikit saja orang yang mengetahui dan merasakannya. Namun banyak juga yang ingin melupakannya, atau pura-pura tidak tahu atau memang tidak punya kemampuan untuk tahu. Untuk apa juga setengah mati dipaksakan untuk tahu. Semua tahu, cinta pertama memang tak pernah mati.
***
December 27th, 2009 at 23:52
@ ISK : Aku kira Love @ the first bite …. salam hangat .!
December 23rd, 2009 at 12:30
Memang dibutuhkan pergaulan /pengetahuan yg luas untuk saling menerima perbedaan ISlam/Kristen.
December 22nd, 2009 at 08:26
Kornelya, temanmu itu buat saya yah… Susah nyarinya orang kayak gitu. Kasihan sekali, jaman sekarang masih jenis pikiran itu beredar. Kayak Nokia 3230 aja, masih dijual di pasar, sementara semua orang udah pakai Nokia N97 atau sejenisnya.
December 22nd, 2009 at 06:49
Kraeng Iwan all I can say for this article you ” feed the mind, and purify the heart” of you reader. Mba SU, saya pernah diforward artikel-artikel anti Kristian oleh teman saya, yang mengira saya Muslim (karena anak saya senang pakai “ibab”
, setelah tahu beliau malu sendiri gesturnya langsung berubah. Pelajaran yang mahal, namun bermakna!! Salam!!
December 21st, 2009 at 23:44
Alexa, kalau ada yang menganggap tulisan ini sebagai pelajaran, pasti ada juga yang menganggap ini sebagai artikel bejajaran. Nggak bener dan harus dkritik. Biarin aja ah…
December 21st, 2009 at 23:43
Mas Sumonggo, bisa-bisa aja bikin plesetan. Yang betul First Love is not second love. Hihihi…
December 21st, 2009 at 23:42
Mas Han, manusia itu berubah. Bisa baik dan buruk. Itu tandanya alamiah dan manusia. Dunia tak mungkin steril dari orang-orang negatif. Kita benar karena ada yang salah. Kita kaya karena ada yang miskin. Kita pintar karena ada yang bodoh.