Ironi Negara Laut Pengimpor Garam (2)

Osa Kurniawan Ilham – Balikpapan

Saya berterima kasih kepada forum pembaca yang sudah menanggapi tulisan pertama saya di Baltyra.com mengenai “Ironi Negara Laut Pengimpor Garam”. Banyaknya komentar yang saya terima sungguh membesarkan hati bahwa masih banyak di antara kita yang memiliki kebanggaan berindonesia bahkan memiliki perhatian kepada masalah-masalah dalam negeri yang terkadang dianggap remeh dan terluput dari perhatian kita. Terima kasih juga untuk mbak HN atas tulisannya mengenai kerjasama perusahaan asing dengan petani garam di Madura untuk meningkatkan kualitas garam produksinya.

 

Cargill-Dampier Salt at Port Herdland

Ada sebuah pertanyaan dari mas Ilhampst mengenai sebuah kalimat di tulisan pertama saya tersebut yaitu pada bagian “….Kalau mau dijual dalam bentuk garam industri yang minim mineral, cukup dialirkan ke tangki-tangki air secara terus menerus sampai kotoran dan mineralnya berkurang….” Pertanyaannya kurang lebih adalah apakah dengan cara di atas garam tidak akan terlarut dan bagaimana sebenarnya kotoran dan mineral bisa dihilangkan dari larutan garam ?

Sekali lagi saya sampaikan bahwa saya bukan ahli garam, juga bukan ahli kimia. Saya adalah seorang insinyur instrumentasi dan control system yang kebetulan dalam 9 tahun pertama masa karier dihabiskan di sebuah perusahaan petrokimia yang menggunakan bahan baku garam. Jadi jawaban dalam tulisan ini adalah semata-mata berdasarkan pengalaman sebagai process instrumentation engineer di perusahaan tersebut. Mungkin Mbak HN bisa melengkapi tulisan ini lebih lanjut.

Untuk mengejar kualitas garam industri sebenarnya tidak harus 100% bebas dari mineral, cukup dengan di atas 95% NaCl saja sebenarnya garam sudah bisa digunakan sebagai bahan baku industri caustic soda karena toh di pabrik juga akan mengalami pemurnian lagi. Yang paling penting adalah menghilangkan zat-zat pengotor (biasanya akan berakibat garam berwarna kecoklat-coklatan, seharusnya putih bersih). Sebagai catatan, mineral pengotor di garam kebanyakan adalah zat-zat golongan IIA, yaitu Ca+2 (Kalsium), Mg+2 (Magnesium) dan Sr+2 (Strontium).

Sebagai gambaran, di sebuah pabrik kimia bahan baku garam tetap harus melalui proses pemurnian (Brine purification process) berulangkali untuk mencapai kualitas kemurnian air garam yang tidak merusak membran dalam sel elektrolisa. Proses pemurnian yang dilakukan ada 2 cara yaitu secara fisika dan secara kimia.

Salt_mine_0096

Pemisahan secara fisika dilakukan dengan cara (seperti dalam kalimat yang dipertanyakan) memasukkan garam ke sebuah tangki terbuka yang terus menerus dimasukkan air bahkan sampai melimpah. Dengan cara sederhana seperti ini, kristal garam memang sengaja dilarutkan lalu secara fisika di dalam tangki akan terbentuk 3 lapisan. Di dasar tangki biasanya akan terbentuk endapan garam (kadang bentuknya adalah bongkahan yang keras dan padat) karena temperatur di dasar lebih rendah. Di bagian tengah adalah larutan garam encer yang relatif sudah lebih murni.

Di bagian atas, di permukaan air akan melayanglah zat-zat pengotor yang berwarna coklat (bayangkan busa coklat di atas permukaan kopi ekspresso, seperti itulah bentuknya). Melalui air yang dimasukkan terus menerus, akan mengakibatkan zat-zat pengotor dan busanya meluap keluar tanki untuk dibuang dan diproses kembali. Sedangkan larutan encer garam di bagian tengah akan dipompa ke tangki berikutnya untuk dimurnikan secara kimia.

Pemisahan secara kimia dilakukan dengan beberapa kali proses. Proses pertama adalah dengan mencampurkan Soda Ash (Na2CO3) ke larutan garam, tujuannya untuk mengikat Ca+2 (kalsium) dalam bentuk endapan CaCO3. Lalu mencampurkan Caustic Soda (NaOH) ke larutan garam untuk mengikat Mg+2 (Magnesium) yang akan keluar dalam bentuk endapan Mg(OH)2. Sedangkan Sr+2 (Strontium) dan logam berat lainnya secara otomatis akan ikut mengendap bersama CaCO3 dan Mg(OH)2. Untuk mempercepat reaksi, di dalam reaktor juga dipasangi mixer untuk pengaduk.

Berikutnya adalah membersihkan larutan garam dengan memasukkannya ke dalam filter berisi karbon aktif dan menambahkan HCl untuk menyaring partikel CaCO3 dan Mg(OH)2 yang mungkin masih terikut. Proses pemurnian yang terakhir adalah dengan menggunakan resin khusus (kami menggunakan produk Mitsubishi Chemical) untuk menangkap ion-ion Ca+2, Mg+2 dan Sr+2.

Mengacu pada proses di pabrik kimia, yang memungkinkan layak diaplikasikan di industri garam rakyat adalah proses pemurnian garam secara fisika karena ringan biaya dan bebas dari bahan kimia. Caranya adalah dengan menyaring air laut terlebih dulu sebelum dimasukkan ke tambak. Sebelum benar-benar ke tambak, lebih baik air laut yang sudah disaring tersebut didiamkan dulu ke sebuah kolam pemisahan sehingga zat-zat pengotornya akan mengambang di permukaan kolam sehingga memudahkan untuk dibuang. Setelah beberapa lama barulah bagian tengah air laut tersebut dipompakan ke tambak garam untuk mengalami proses penguapan.

Jadi prinsipnya adalah kalau bahan baku air lautnya sudah bersih, garam yang dihasilkannya juga akan lebih murni. Begitu juga saat pemanenan, proses pengambilan kristal garam haruslah yang bagian atas saja, menghindari terikutnya tanah tambak ke dalam garam yang diproduksi.

Semoga tulisan ini berguna.

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 17 Desember 2009)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *