Keajaiban Cinta

Hariatni Novitasari – Surabaya

Cerita Edo, Di Satu Sore

Pada satu sore, temanku, seorang musisi yang tinggal di Jakarta mengabarkan kalau dia akan menikah awal tahun depan. Sedikit mengejutkan rencananya ini, karena begitu mendadak. Tetapi, aku lebih terkejut lagi ketika mendengar kisah cinta dia dengan calon istrinya. Sebagai seorang bassis grup musik yang terkenal di negeri ini, dia dikelilingi banyak perempuan. Belum lagi, kisah-kisah cintanya di masa lalu. Dengan pacarnya sejak SMA, sampai dengan kisah cinta dengan seorang model di Surabaya.
 
Si teman ini, sebut saja namanya Edo, mengajak menikah perempuan yang hanya dia temui beberapa kali. Tidak kurang dari lima kali (kupikir awalnya taaruf. :D). Dia bertemu dengan perempuan ini, sekitar tiga bulan yang lalu. Biasa saja, tidak ada rasa apa-apa. Seperti orang berkenalan dengan orang baru. Kemudian, tidak bertemu. Lalu bertemu lagi, dua bulan kemudian. Nah, di pertemuan kedua, Edo langsung jatuh cinta dengan perempuan ini. Pertemuan ini terjadi pada Hari Jum’at. Hari Minggunya, mereka nonton bareng. Dan, pada Selasa-nya, Edo mengajak perempuan itu menikah dan perempuan itu tidak menolaknya.
 
Ketika aku bertanya, mengapa dia bisa membuat keputusan secepat itu, dia hanya menjawab “Aku tiba-tiba saja jatuh cinta dengan dia, dan ingin menikah dengan dia” Padahal, di saat yang sama, Edo sedang mengharapkan untuk kembali dengan mantan pacarnya yang model itu.
 
Cerita Edo di satu sore ini, mengingatkan aku pada beberapa kisah keajaiban cinta yang mungkin hanya kita baca di Chicken Soup. Kejadian-kejadian di sekelilingku yang senantiasa membuatku berdecak kagum dengan hidup yang selalu penuh dengan misteri dan keajaiban ini. Cinta, tidak sekedar rasa ada kupu-kupu di dalam perutmu, ataupun kulitmu yang terasa merinding. Tetapi, lebih dari itu. Ada kisah di belakang itu semua.
 
quote_Full
 
 
Adalah Adi, seorang wartawan media online di Jakarta. Adi dan aku bertemu pada tahun 2000 di Jember. Ketika itu, kita menjadi peserta sebuah diklat Jurnalistik. Di tahun berikutnya, Adi “pindah kuliah” dari Unsoed ke Unair. Selepas kuliah, dia pindah ke ibukota tercinta.
 
Ketika Agustus 2007 aku sempat tinggal di Jakarta selama dua minggu untuk sebuah kursus singkat musim panas, dia mengajakku menyusuri banyak tempat-tempat di Jakarta yang bukan mall. Dia tahu, aku kurang suka jalan-jalan di mall, dan mall bisa ditemukan dimana-mana. Di Surabaya saja mall menjamur. Aku ingin pergi ke tempat yang berbeda saja.
 
Hari itu, kami menyusuri hampir separoh Jakarta dengan sepeda motornya. Mulai dari Mampang, kemudian sarapan di warteg depan SMP Fatahillah (belakang rumah dinas Wapres), dan berakhir di Sunda Kelapa. Kami tiba di Sunda Kelapa sudah sore. Aku sudah sangat capek karena kepanasan dan debu. Jadinya, aku tidak mood dengan kameraku. Akhirnya, Adi yang memegang kameraku. Lalu, dia sibuk membuat foto kesana dan kemari. Aku hanya asyik mengamati kuli angkut pelabuhan yang menaikkan gula dan beras ke kapal-kapal tradisional. Beberapa turis Belanda sedang asyik bercengkrama di senja itu.
 
Di tempat itu, ada seorang cewek yang juga sibuk memoto dua orang temannya. Adi bergumam, “Cewek itu menarik ya?”. Dia lalu mengambil foto cewek itu. Snapshot. Cewek itu lumayan manis. Hampir mirip dengan temanku yang kini tinggal di Alkmaar, Belanda. Setelah itu, dia mendekati cewek itu, dan minta tolong untuk mengambil foto kami berdua. Seharian kami keliling, tidak satupun kami membuat foto bersama. Cewek itu mengambil foto kami, dan kami mengucapkan terima kasih kepadanya. Hanya itu. Tidak tukar nama, apalagi nomor telepon.
 
Dua bulan kemudian, Adi mengirim sebuah SMS. Dia akan kencan dengan perempuan Sunda Kelapa itu. Aku tanya kepada dia, bagaimana kamu menemukan perempuan itu. Dia menjawab, via internet (baca milis).
 
Dasar aku seorang nieuwsgierig, aku googling nama temanku itu. Kalau dia bertemu via internet, maka akan ada thread di milis. Google akan merekam peristiwa-peristiwa serius sampai hal-hal sepele yang terjadi di di dunia nyata dan dunia maya. Lalu, aku ketemu sebuah thread di milis fotografi. Dan, aku menemukan jawabannya. Temanku itu, memposting foto perempuan itu, bertanya barangkali ada yang pernah tahu siapa cewek itu, dan mungkin saja cewek itu juga anggota milis yang bisa jadi membaca thread itu. Kalau sebuah thread biasanya hanya beberapa halaman saja sudah selesai, thread si Adi sampai 21. Di halaman terakhir ini, dia menemukan siapa cewek itu.
 
Akhirnya, mereka menikah setelah setahun kencan pertama mereka. Kini, mereka telah punya seorang anak kecil nan lucu.
 
love
 
Keajaiban selanjutnya, kisah temanku yang lainnya. Sebut saja namanya Gina. Pada saat kami kuliah, Gina sedang sibuk membantu temannya untuk mengumpulkan dana bakti sosial. Satu cara fund raising adalah berjualan koran di perempatan jalan. Disanalah Gina berada, di satu hari Jum’at yang panas. Lalu, tiba-tiba saja seorang pengendara mobil membuka kaca mobil, dan membeli koran dia. Si lelaki itu bertanya, “Mengapa kamu jualan koran? Kamu mengumpulkan uang buat sekolah ya?” Kata si lelaki itu dengan iba melihat Gina. Temanku ya cekikikan saja dengan wajah polos cantiknya. Lalu, si lelaki itu minta nomor telepon Gina. Dan, ending-nya sudah bisa ditebak.
 
*****
Serendipity
 
Well, beginilah cerita-cerita ini berakhir. Sebuah happy ending, seperti Sara Thomas dan Jonathan Trager di Serendipity. Tentu saja, jalan hidup mereka ke depan masih sangat panjang. Penuh dengan kelokan, tanjangan dan turunan. Tetapi, kisah-kisah mereka, seperti menjadi sebuah bukti keajaiban cinta itu benar-benar ada. Dan, kalau jodoh itu memang ada di tangan Tuhan.

PS: “Kamu tidak meninggalkan nama, hanya lesung pipit di dalam hati”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.