Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
PERCINTAAN ISLAM DAN KRISTEN (3)
“Say It With Love”
APA mungkin sebuah kata itu punya kekuatan? Apalagi mengandung makna kuat untuk mengungkapkan rasa cinta? Kata pasti punya cerita di balik kehadirannya. Kata ‘pasangan hidup‘, ‘permaisuri‘, ‘gundik‘, ‘selir‘, ‘istri‘ atau ‘bini’, punya makna yang sama. Tetapi tidak sama untuk menyebutkannya pada seseorang. Ada nilai yang terkandung di dalamnya yang hanya bisa dirasakan oleh hati dan perasaan. Para diplomat, orang yang paling, banyak mengumbar permainan kata, sangat pandai mengungkapkan sebuah perasaan jengkel dengan nada memuji. Diplomatis atau sedikit berkelit.
Berkelit atau diplomatis, tentu beda dan tak punya tempat untuk mengungkap rasa cinta. Perasaan cinta harus dingbat secara jujur dan penuh perasaan, tidak seperti mengungkapkan sesuatu dalam dunia diplomatis yang penuh makna ganda, serta menjadi ruang terbuka untuk diartikan oleh siapapun.
Rasa cinta harus dibuktikan dengan kata dalam mengungkapkan perasaan. Ketika pemeluk Islam diharuskan menghormati tokoh-tokoh agama lain, mereka menciptakan sebuah tatanan aturan yang baku untuk salutation kepada mereka.
Ada sebuah gurauan ringan diantara sebagian kecil orang, bahwa orang Islam “lebih kristiani daripada orang Kristen sendiri”, dalam mempergunakan kata untuk menyebut tokoh atau panutan yang mereka hormati bersama.
Nabi Isa atau Yesus adalah sosok yang sangat dihormati dan wajib diimani oleh pemeluk Islam. Sebagai konsekuensi perasaan cinta itu, pemeluk Islam tak boleh sembarangan menyebut namanya dengan asal-asalan. Apalagi dengan kata-kata yang digunakan seperti untuk orang biasa.
Perkataan atau tulisan seperti “Nabi Isa mati”, akan janggal terdengar di telinga atau tertulis bagi pemeluk Islam. Kata /wafat/ lebih indah dan sebuah keharusan untuk digunakan daripada memakai kata /mati/. “Yesus bilang” atau “Dia bilang” akan aneh diucapkan. Mereka lebih anggun menyebutnya dengan /sabda/ atau kata yang lebih halus dan mengandung makna majestatik. Kata /beliau/ atau /junjungan/ sangat biasa terdengar dalam dunia sintaksis ajaran Islam untuk menyebut tokoh-tokoh agama terdahulu.
Ketika menulis atau mendengar nama Nabi Isa (Yesus), diajarkan untuk menambah kata salut di belakang namanya, yang dalam bahasa Arab berarti ‘Alaihissalam’, kadang disingkat AS. Nabi Isa AS artinya Nabi Isa Alaihissalam (salam damai untuknya). Begitupun dengan Nabi Nuh AS, Nabi Ishak AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Yakub AS dan AS-AS lainnya untuk semua tokoh atau nabi atau rasul sebelum Muhammad lahir.
Penghormatan dalam bentuk penggunaan kata, agak beda dengan eufemisme atau penghalusan kata. Memang tidak ada yang perlu dihaluskan atau berusaha diperhalus dalam mengungkap rasa cinta ini. Ini hanya sebuah bentuk rasa hormat dan cinta, bukan untuk menutupi sebuah kenyataan yang buruk, tapi untuk mengagungkan. Bukan mengagung-agungkan.
Sebuah bentuk kasih cinta itu, bisa disaksikan dengan mata kepala sendiri untuk sekedar contoh, bila kita mengunjungi Masjid Umayah, sebuah mesjid tertua di dunia di ibukota Siria, Damaskus. Dalam interior mesjid besar itu ada makam Nabi Yahya AS, yang dipenggal kepalanya. Pemeluk Kristen menyebut dan menghormatinya dengan nama Johannes Sang Pembaptis. Makam itu terawat rapi dan suci dengan alunan doa-doa jemaah yang bersembahyang di dalamnya.


Begitu uniknya letak makam itu, sampai mengundang Paus Johannes Paulus II mendatanginya ketika berziarah ke sana di waktu tahun 2000. Itulah pertama kali, seorang kaki paus menginjakkan kaki di sebuah masjid dalam sejarah 2000 tahun Gereja Roma Katolik.

Makam Johannes Pembaptis
Memang sepantasnya untuk sebuah ungkapan kasih kepada seseorang atau sesuatu , kita akan selalu mengatakannya dengan cinta. (*)
December 22nd, 2009 at 17:02
semua ada karena cinta. Pak Iwan saya baru tahu, kalau wafatnya Yahya karena dipenggal kepalanya…