Sembahyang Ronde

JC – Global Citizen

 

satu lagi tentang Budaya Tionghoa Peranakan

 

Malam ini ingatanku melayang ke masa kecil…

Sejak sore hari kami sekeluarga biasa mulai menyiapkan perlengkapan membuat ronde…ada nampan untuk ronde yang sudah dibulatkan, ada tumpukan tepung dalam plastik, ada botol-botol kecil pewarna makanan untuk mewarnai ronde, ada jahe tua yang sudah dicuci bersih dan gula pasir dalam tempatnya…

Ketika malam menjelang, suara bantingan adonan tepung ke meja dapur yang terbuat dari batu terdengar menggema di seluruh rumah…

glindingan rondeMenguleni dan membanting adonan sampai gempi (nguleni dan gempi apa ya bahasa Indonesia’nya?). Setelah itu, ditaruh di wadah-wadah terpisah antara satu warna dengan warna lain dan ditutup lap basah untuk didiamkan beberapa saat. Ketika malam tiba, kami sekeluarga duduk berkeliling, membuat bulatan-bulatan ronde warna warni…

Asimilasi budaya kembali berperan, karena adanya ronde rasa coklat asli yang warna coklat gelap mengundang selera, karena dicampur dengan bubuk coklat van Houten asli. Kami anak-anak sangat menikmati pembuatan ronde yang jumlahnya mencapai ratusan butir. Sisa-sisa adonan biasa kami acak dan obar abir warnanya sehingga menghasilkan ronde-ronde warna aneh dan cantik seperti kelereng.

Hijau, merah-jambu, coklat, putih, dan campuran semua warna itu menghiasi nampan. Setelah selesai, serbet lembab ditutupkan ke hamparan ronde di atas nampan.

Potongan-potongan besar jahe yang sudah dikupas bersih, dicuci dan dibakar di atas api sebentar, kemudian dimemarkan alias digecek, direbus bersama air dan gula pasir banyak-banyak. Hasilnya adalah kuah kental jahe yang sangat pedas dan manis.

Pagi-pagi sudah menguar bau harum rebusan jahe dijerang di atas kompor. Semerbak gula cair hangat juga tercium di dapur kami. Sembahyang ronde segera dimulai…dilanjutkan dengan menyeruput ronde hangat-pedas di pagi hari…aaahhh…sungguh nikmat…

Pagi hari tanggal 22 Desember, sembahyang ronde dimulai, sembahyangan biasa dengan hio dan menyajikan ronde di meja sembahyangan. Saat yang dinantikan tiba, setelah disajikan untuk sembahyangan, ronde yang demikian banyak diambil sesuai keinginan berapa banyak ingin memakan, direbus dalam air mendidih sampai ronde-ronde tsb mengapung yang menandakan sudah matang, kemudian ditambahkan kuah kental tadi sesuai selera dan diencerkan dengan air panas. Bagi yang senang lebih pedas dan hangat serta manis, kuah kentalnya lebih banyak, buat yang senang yang lebih light, kuah kentalnya lebih sedikit.

plain rondeDongzhi Festival alias Winter Solstice Festival adalah salah satu perayaan terpenting dalam sepanjang tahun Lunar Calendar, alias penanggalan bulan yang biasa disebut dengan Chinese Calendar. Kemiripan perayaan ini adalah perayaan Thanksgiving Day yang baru lewat dan sudah banyak sekali dibahas lengkap dengan fotonya oleh banyak Baltyrans.

Thanksgiving timing’nya lebih di akhir musim gugur awal musim dingin, sementara Dongzhi Festival tidak jauh dari itu, yaitu adalah hari terpendek sepanjang tahun, yang biasanya jatuh di 22 Desember. Dongzhi Festival adalah perayaan terakhir dari seluruh rangkaian perayaan di penanggalan Chinese. Tepat di hari ini, matahari berada di Tropic of Capricorn sehingga hari itu adalah malam terpanjang dalam setahun.

Di Tiongkok kuno, perayaan ini dirayakan dengan berkumpulnya seluruh keluarga besar, dan mereka akan membuat satu makanan yang disebut dengan tang yuan (汤圆, pinyin: tang yuan, baca dang yuen), yang artinya kurang lebih adalah kuah ronde. Dalam bentuk aslinya di Tiongkok, pembuatan ronde ini adalah dengan tepung ketan yang kemudian dibulat-bulat, dan diberi warna. Tentu saja warna-warna cerah mendominasi bulatan ketan itu. Putih, merah, hijau cerah, kuning banyak mendominasi bulatan-bulatan ronde. Ronde ini disajikan dalam kuah manis dan kadang kaldu daging. Seiring berjalannya waktu, modifikasi ronde juga berkembang, dengan diisi kacang tanah cincang, wijen, tau sa alias kacang hitam, dsb.

Ronde dibuat dengan tepung ketan dan air saja, tidak menggunakan gula sama sekali dan tanpa ragi/baking soda sekalipun. Makna dari ronde yang terbuat dari tepung ketan yang lengket adalah untuk merekatkan kekerabatan serta mempererat hubungan antar keluarga. Dari kata tang yang mirip bunyinya dengan tuan (, pinyin: tuan, baca duan) yang artinya berkumpul atau lebih tepatnya dalam bahasa Jawa RAGEM, sementara yuan artinya bulat. Secara keseluruhan tang yuan menyiratkan tuan yuan (团圆, baca family reunion, alias kerageman keluarga).

rondeRonde yang kami buat adalah ronde yang plain alias tanpa apapun juga, rasanya tawar dan tanpa bahan isian apapun juga. Tahun-tahun belakangan sebelum anak-anak merantau ke luar kota semua, kami di Semarang memilih praktisnya saja membeli ronde jadi dengan ukuran yang cukup besar, dengan bahan isian yang mak nyus, yang kami beli jadi di Pasar Gg. Baru Semarang.

Sekali lagi silang budaya di sini menunjukkan perannya. Di tempat asal di Tiongkok ronde yang dihidangkan dengan kuah manis atau kaldu daging, di Indonesia kebanyakan keluarga membuat kuah ronde dengan jahe, rempah (kayu manis, terkadang sereh) dan gula (atau gula merah, gula jawa, gula aren), sehingga lebih tepat disebut dengan wedang ronde, gabungan kompak dan harmonis antara rasa manis gula, pedas dan hangat dari jahe, serta kekenyalan ronde dan isinya yang mak nyus. Wedang ronde Indonesia tidak akan dijumpai di belahan bumi manapun juga, karena asimilasi budaya Chinese dengan budaya Nusantara tepatnya budaya Jawa yang kental.

Kata ronde berasal dari bahasa Belanda ‘rond’ yang berarti bulat. Dalam bahasa Belanda, jamak digunakan akhiran/sufiks pengecil ‘je’, seperti misalnya: toetje (dessert, pencuci mulut), patatje (kentang goreng), schuitje (jadi sekoci), bakje (jadi baki), petje (topi, yang kemudian jadi peci), boontjes (buncis), kaartjes (karcis), dua belakangan dalam bentuk jamak. Bahkan untuk nama orang seperti Antje, Heintje (penyanyi Belanda yang populer juga di Indonesia). Tidak mengherankan orang-orang Belanda yang melihat sajian ini menamakannya ‘rondje’ – lebih mudah untuk lidah daripada ‘tang yuan’. ‘Rondje’ sendiri tidak begitu mudah untuk lidah lokal, sehingga lama-lama menjadi ronde sampai sekarang.

Membahas sembahyangan ronde ini menjadikan ingatan melayang ke sekitar 25 tahun lalu. Masih banyak tukang ronde pikulan keliling di jalan-jalan kota Semarang. Pikulan kecil dengan stoples-stoples kaca berisi kuah kental jahe dan gula beserta ronde-ronde yang ukurannya lebih besar dari ronde bikinan rumahan. Ronde-ronde itu ada yang bersaput wijen, ada yang isinya kacang tanah cincang, ada yang isinya gula jawa, atau tau sa (kacang hitam).

Variasi cara menghidangkannya juga banyak modifkasi. Favorit saya adalah wedang ronde dengan isi kacang tanah cincang, wedang jahe yang super pedas tapi manis yang kurang, plus taburan kacang tanah goreng dalam wedangnya plus beberapa potong sekoteng. Kadang kala tukang ronde keliling tsb membawa camilan untuk teman wedangan.

Masih jelas dalam ingatan suara tukang ronde pikulan dengan tabuhannya yang khas, seperti gembreng kecil yang digantung di pikulan serta pemukul kecil dari bambu atau kayu dengan suaranya: “teng, teng, teng, teng”, tanpa suara penjualnya, tapi suara tsb sanggup memanggil penikmatnya keluar dari rumah mencari si bapak tukang ronde, berteriak memanggilnya sambil melambaikan tangan. Apalagi dinikmati di malam-malam panjang yang dingin…ddduuuhhh…nikmatnya…..

 

Sumber:

pinodita – 2008

http://www.geocities.com/Paris/Parc/1486/festival/cny.html

http://www.siutao.com/id/ibd/ibd_yuanxiao.shtml

http://www.discoverhongkong.com/eng/heritage/festivals/he_fest_wint.jhtml

http://www.museum.org.sg/discover_heritage/heritagekids/feature_articles/feature_festival_chinese.shtml

http://spkmandarin.cbn.com.sg/spkmandarin/festival/dongzhi.htm

http://www.eguidelifestyle.com.my/attractions/festivals/festival_dongzhi.asp

http://www.huayinet.org/culture/culture_festivals_dongzhi.htm

 

 

About J C

I’m just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

5 Comments to "Sembahyang Ronde"

  1. Lani  23 December, 2016 at 00:37

    Al: aku minum ronde bbrp kali ktk di Indonesia………..mmg enak jd adus kringet………..coba klu minumnya ditempatmu pasti mak nyossssssssss…………enak dibadan jd anget

  2. Budi Margomuljo  22 December, 2016 at 13:23

    Ronde… enak…

  3. Lani  21 December, 2016 at 12:35

    Mana rondeku???? Hikkkkks……….ora ono wong dodol ronde nang Kona

  4. Alvina VB  21 December, 2016 at 12:26

    Dah lama gak makan ronde euy…..
    Para khentirs doyan ronde gak?

  5. J C  21 December, 2016 at 08:57

    Testing komentar artikel lama diaktifkan kembali khusus hari ini Winter Solstice Festival atau Dongzhi Festival atau Sembahyang Ronde/Onde…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *