I Can’t Stop Loving You

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

PERCINTAAN ISLAM DAN KRISTEN (4)

“I Can‘t Stop Loving You”

SUNGGUH menyenangkan bila masih tersisa kesamaan di tengah perbedaan. Meski kita tahu ada kalanya dalam kesamaan sangat sulit mencari perbedaan. Selalu amat menyedihkan, bila ada dua saudara menghiasi hubungan antar keduanya dengan perselisihan dan permusuhan. Rasa itu muncul terpicu oleh rasa iri atau bisa juga cemburu karena merasa terabaikan.

Ketika sebuah kepercayaan baru lahir membentuk komunitas baru, bukan disambut dengan suka cita bagai bayi merah lahir melihat dunia. Dia justru dijauhi, diberi jarak, dijuluki negatif, diperlakukan dengan hujatan, atau mungkin disakiti oleh kepercayaan yang sudah ada. Keberadaan agama baru memang bukan seperti kehadiran bayi mungil.

Bagai sebuah produk, agama agak mirip seperti sebuah persaingan pasar. Berlomba mencari peluang baru menjual ajarannya untuk dinikmati calon konsumen. Kalau suka akan dipakai dan dibanggakan. Sebaliknya bisa dibuang, kalau akhirnya mendapat kekecewaan. Tak ada ruang untuk saling menyayangi antar sesama produk dengan baju yang bernama merek. Satu produk baru lahir, pasti membanggakan kelebihannya. Kalau mungkin merendahkan saingannya yang sudah ada. Tak ada cinta di antara kita.

I Can't Stop Loving YouLalu apakah seseorang bisa hidup selamanya hanya dengan kebencian? Bisakah Islam dan Kristen, juga dengan agama-agama lain hidup dalam dunia tanpa cinta? Pertanyaan ini bisa dijawab oleh sang waktu. Oleh sejarah yang jauh mundur silam ke belakang. Ternyata memang ada tempat disediakan untuk menyejukkan antara Islam dan Kristen, serta agama lainnya. Pertanyaannya, apakah tempat itu mau ditempati oleh mereka yang memang berbeda pandangan?

Jauh sebelum Islam lahir, Kristen sudah memiliki perasaan kasih dan sayang kepada siapapun, meski orang itu jauh berseberangan. Ajaran yang dibawa Yesus sangat kental dengan corak kasih sayang, yang memang menjadi aset kebanggaan pemeluk dan pengikutnya. Perasaan itu tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata…

Ketika Islam lahir, agama baru itu membawa karakter melekat yang sangat khas. Sebuah konsep atau cara berpikir baru yang bisa dilihat sebagai rasa cinta kepada agama lain. Mereka menamakann perasaan cinta itu dengan julukkan ‘Ahl al Kitab‘, dalam bahasa Arab. Bila diindonesiakan disebut ahli kitab.

Apakah ahli kitab itu? Yang jelas bukan arti denotatif untuk menyebut orang-orang yang bekerja dalam penerbitan, yang berkarya mencetak buku atau kitab untuk dibaca. Ahli kitab adalah pengakuan pada kebenaran ajaran-ajaran kitab suci sebelum Islam lahir. Pengakuan ini lebih ditujukan kepada ajaran pemeluk agama Kristen dan Yahudi. Dua agama sebelum Islam yang memiliki banyak kesamaan pada pertalian teologi dan sejarah dengan Islam.

Konsep ahli kitab sangat menakjubkan bagi semua orang, termasuk bagi pengikut Kristen sendiri. “Waah, ini sih keren banget sebuah agama memberi label wahyu-wahyu lain sebagai absah dan benar. Ruaarr biasa!”, kata Cyril Glasse, penulis ensiklopedia Islam, seperti yang dikutip oleh Nurcholis Majid.

Inilah bentuk rasa cinta Islam kepada Kristen (juga Yahudi), yang juga mempunyai rasa cinta kepada siapapun dalam ajarannya. Bentuk nyata dari ini terbukti dikenang indah dalam sejarah manusia. Ketika pemeluk Islam menguasai semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) selama 500 tahun, tercipta sebuah tatanan sosial cantik yang kosmopolitan, terbuka dan penuh toleran. Islam, Kristen dan Yahudi masing-masing memberikan rasa cintanya untuk saling memberi, menerima dan mengalah sebagai bayaran untuk peradaban paling toleran dalam sejarah manusia.

Kisah cinta yang kini menjadi kenangan manis belaka itu, juga merasuk sampai pada hubungan darah, karena dalam ajaran Islam, seorang pria dibolehkan (bukan dianjurkan atau diperintahkan) menikahi wanita-wanita dari ahli kitab, yaitu Kristen dan Yahudi. Percampuran itu harus menghadirkan keserasian tanpa boleh mencampuri urusan masing-masing.

Kelahiran Islam sebagai sebuah ajaran baru, telah ditaburi rasa cinta, yang membuat para pengikutnya bias merasakan manisnya bermesraan dengan pengikut Kristen, dalam kehidupan sosial.

Pemeluk ajaran kristiani (dan Yahudi), memilikii tempat dan kedudukan yang khusus dalam pandangan kaum Islam. Mereka adalah jejak pertama perjalanan teologis ajaran Islam yang mengagungkan untuk menuju sebuah kesamaan sebagai umat yang satu.
Akibat dari itulah, pemeluk Islam diwajibkan untuk mempercayai kitab-kitab suci terdahulu, juga harus beriman kepada nabi dan rasul terdahulu sebelum Islam muncul.

Kisah ketokohan Ibrahim adalah contoh titik temu kecintaan antara Islam dan Kristen (juga Yahudi). Ibrahim atau Abraham atau Ephraim adalah bapak teologis ketika pemeluk ajaran agama tersebut. Namanya begitu indah untuk disebut, diingat, didengar, dipikirkan, dirasakan dan diambil untuk mengisi kantong spiritual bagi siapapun.

Sangat mengejutkan tentunya, kalau bagi pemeluk agama lain, ada rasa disayangi, dihormati dan diakui kebenarannya oleh sebuah agama baru. Ini sebuah ilustrasi yang diperlihatkan Islam bagi “saudara tua”nya sebagai jawaban rasa cinta yang dibawa pemeluk kristiani. Dan rasa cinta itu akan terus ada sepanjang masa, karena sudah di tempat pada sebuah ruang sakral yang tak boleh ada yang menggugat. Cinta itu tak akan pernah berhenti sampai kapanpun sepanjang waktu. (*)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.