Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
PERCINTAAN ISLAM DAN KRISTEN (5)
“And I Love Him”
ADA suguhan kurang menarik, yang kala di masa lalu, tak pernah atau mungkin sedikit dicicipi oleh sebagian pemeluk Islam di Indonesia. Suguhan itu dihidangkan bak makanan yang tidak cocok dikonsumsi. Pemeluk Islam disajikan kenyataan tak mengenakan yang harus ditelan.
Umat Islam tak boleh lagi, atau terlalu keras untuk menyebut haram (dikerjakan sebagai sebuah dosa), mengungkapkan ekspresi pada pengikut Kristen atas perayaan hari lahir Nabi Isa AS atau Yesus. Pokoknya tidak boleh mengucapkan selamat hari Natal!
Bagaimana hal ini bisa terjadi di sebuah negeri majemuk yang kaya dengan campur aduk latar budaya dan agama yang membaur indah? Padahal dalam Islam diajarkan untuk mengimani Nabi Isa AS atau yang popular dengan sebutan Yesus Kristus. Tokoh ini memang memiliki tempat khusus dalam Islam.
Begitu cintanya ajaran Islam kepada Yesus, pada siapapun yang mengikuti ajaran Muhammad, digariskan harus beriman kepadanya. Dan jangan coba-coba untuk mengelak mencintainya. Satu kata untuk pembangkang: kafir.
Tak cukup itu saja, kaum muslim wajib mencintai lebih dari itu. Bagaimana dia lahir, hidup dan mati, harus diimani dengan segala konsekuensi, meski berbenturan dengan banyak hal.
Kelahiran suci (virgin birth) Isa atau Yesus, harus diimani oleh setiap individual muslim. Pengikut ajaran Muhammad tak hanya harus mempercayai hal kematiannya, namun akan mengejutkan bagi pengikut Yesus bila mereka tahu, bahwa kaum muslim percaya sepenuhnya Nabi Isa atau Yesus tidak mati. Apakah di kayu salib atau bukan, masih kabur dengan ragam penafsiran yang tak akan menggoyahkan rasa cinta yang sesungguhnya.
Masih ada banyak sederetan ungkapan rasa cinta yang harus diekspresikan kaum pengikut Muhammad, untuk mencintai Isa atau Yesus. Maryam atau Maria, wanita yang melahirkan Isa, diberi tahta suci dalam kitab suci umat Islam. Dialah wanita paling suci sejagat raya. Namanya yang diagungkan menjadi nama sebuah surat (dari 114 surat) dalam Quran. Setiap alunan kata di dalamnya ditulis penuh dengan cinta dan himne pujian yang membungkus diri Maria sebagai sosok perawan suci bak parfum mewangi.
Tidak berlebihan juga tidak bisa disangkal, bila ada ungkapan “pemeluk Islam lebih kristiani dari pada pemeluk Kristen” dalam hal mencintai Maria juga Yesus. Meski mereka dengan tegas dibatasi garis hijau untuk tidak memujanya. Hanya sebatas mengimani dengan ungkapan cinta.
Betapa terpukulnya segelintir umat Islam yang menyadari rasa cintanya kepada Isa, ketika mereka menyaksikan keliaran budaya barat, yang sangat beda mengekspresikan diri mereka kepada Isa. Tak ada tata krama sosial yang merajut sebuah etika dalam menghormati Yesus atau Isa.
Atas nama kebebasan ekspresi dalam budaya barat, pengikut Muhammad amat pilu melihat sosok Yesus digambarkan secara liar sesukanya tanpa batas. Banyak karya seni dan intelektual hasil produk budaya barat, yang seenaknya bebas menggambarkan karakternya tanpa batas. Kadang penuh cemooh. Sebuah sikap aneh bila terjadi bagi orang muslim. Impossible!
Bagi pemeluk Islam, tak hanya Yesus yang mereka wajib cintai dan imani sebagai pilar kepercayaannya. Ada 25 rasul (yang ada namanya ada dalam Quran), bahkan 113 rasul yang tak tercantum, serta lebih 10 ribu nabi yang bertebaran di seluruh dunia, harus dipercaya, diimani dan dicintai. Tak ada label buruk apapun boleh melekat pada rasul dan nabi sebelum Muhammad. Mereka bebas negatif dari dosa tanpa menghilangkan sisi miring kemanusiaannya yang natural.
Rasa cinta kepada rasul dan nabi sebelum Muhammad sebagai sebuah keimanan kaum pemeluk Islam, agak menghebohkan banyak orang bila mereka menyadarinya. Kalau direnungkan secara rasional historis penuh keimanan, nama-nama Ezekiel, Jusak, Daniel, Enoch, Zarathustra, Lao Tze, Kong Hu Tsu, dan ribuan nama orang bijak lainnya, juga adalah sosok yang harus diimani kaum muslim, seperti yang diulas oleh cendikiawan Nurcholis Madjd.
Lalu bila umat Islam wajib mengimani Isa atau Yesus, mengapa hanya memberi ekspresi saat kelahirannya dilarang? Sikap ini sangat melukai sebagian pemeluk Kristen yang tak pernah ragu mengucapkan sesuatu kepada kaum muslim saat mereka suka cita. Mengapa ini bisa terjadi? Inilah adalah hasil kreatifitas buruk dari cara menafsirkan sesuatu ketentuan kitab suci oleh sebagian orang yang tak punya cinta di hatinya. Di situ tidak ada tempat untuk kasih sayang. Lalu bagaimana umat Islam mencari cinta untuk mengimani Isa atau Yesus? Padahal Muhammad memberi contoh untuk menyintainya. Mencarinya hanya ada di hati masing-masing. (*)
May 19th, 2010 at 12:08
Mas Iwan, sorry ya baru ngeh sekarang atas salam Natal Mas. Terima kasih banyak, Selalu menanti tulisan2 mas Iwan……walaupun sy sekarang mo beneran anteng dipojokan aja
God bless you and your family ya Mas.
December 29th, 2009 at 19:04
Terima kasih Esti. Damai itu Indah, kata spanduk yang sering dipasang oleh militer di sudut2 jalan.
December 29th, 2009 at 17:34
hhhmmmm…Damai itu memang Indah kok mas ISK….Sy bersyukur hingga saat ini punya keluarga besar yg majemuk.Eyang kami, pd saat saya & kakak nikah dgn sukarela masuk Gereja u/ liat cucunya Nikah…Juga sebaliknya,pd saat bulik a/ oom saya nikah, kami jg duduk(bersila) rapih dimesjid mendampingi mbah serta keluarga dekat yg lain.Wkt Lebaran,rmh mbah bakal penuh dgn anak cucu dan cicitnya…Kmrn wkt Natal rmh ortu sy jg rame dgn sodara2 yg sbnrnya non Kristiani.Senang bisa berbaur tanpa ada paksaan dan hasutan….
Salam Damai u/ mas ISK & temen2 Baltyra…..
December 29th, 2009 at 17:01
hhhmmmm…Damai itu memang Indah kok mas ISK….Sy bersyukur hingga saat ini punya keluarga besar yg majemuk.Eyang kami, pd saat saya & kakak nikah dgn sukarela masuk Gereja u/ liat cucunya Nikah…Juga sebaliknya,pd saat bulik a/ oom saya nikah, kami jg duduk(bersila) rapih dimesjid mendampingi mbah serta keluarga dekat yg lain.Salam Damai u/ mas ISK & temen2 Baltyra…..
December 29th, 2009 at 16:21
Makasih Pampaspres. Pengalaman pribadi seseorang yang indah, tidak bisa dikalahkan oleh hukum apapun. Selama pengalaman itu menarik, positf dan tidak merugikan siapapun. Sayapun banyak pengalaman seperti itu, dan saya tak mau tunduk pada apapun yang melarangnya, selama itu baik. Salam… (bukan Rudy Salam).
December 29th, 2009 at 14:29
hmmm… artikel yang menarik, dan komentar2 yang menarik.
tapi secara logika dasar, selama kita bisa saling menghormati dan mencintai sesama dan berbuat baik adalah yang terpenting.
hihihi, lucu jd inget dulu waktu kecil (tiga sekawan) saya dan 2 tetangga selalu ikut acara2 keagamaan, kalo natal tuh 2 anak ngekor mami papi saya, lebaran saya ngekor salah satu dari mereka,pernah jg sampe mudik ikut mereka
(kerjaannya main2 dan makan2 dikampung dia) hingga kami berpisah jarak dan waktu pas SMA… khehehe… pokoknya kalo ada acara2 pasti ngikut x) *apalagi ada acara makan2 dan jalan2*
December 29th, 2009 at 14:13
Ooooh… Alexa gak Natalan toh?! Nggak apa-apa koq, yang penting selalu baik sama orang. Salam.
December 29th, 2009 at 13:32
nevertheles berarti garing pak…
hehehe