Melayang di Palembang

Seni Jalanan: Melayang di Palembang
Bagong Julianto, Sekayu-Sumsel

1. Menggambar. Senikah Ini?

Menggambar adalah satu kemampuan alami yang dimiliki oleh seluruh umat manusia. Lelaki perempuan, kaya miskin baik negara maju, negara mundur maupun bangsa jalan di tempat, sejak balita jika mendapat sarana dan kondisi yang memungkinkan, pasti suka-senang mencoret menggambar sesuatu. Dengan makin bertambahnya usia, makin terlihat: siapa berbakat menggambar dan melukis, siapa gak punya bakat menggambar sama sekali. Bakat dan kesempatan yang mendukung, akan memunculkan pelukis handal. Bakat dan kurangnya kesempatan mewujudnyatakan bakat itu, akan memunculkan sekedar tukang atau juru gambar.

Waktu ke Palembang beearapa saat kemaren, sejumlah deretan lukisan menyita perhatian dan memaksa pandangan saya untuk mengikuti dan memburunya.

Sebuah lukisan menggambarkan sosok wanita telanjang dan satu kata: SALJU sementara retakan salju putih berserakan mengelilinginya. Sungguh, kerinduan wanita yang kepanasan dan membutuhkan salju untuk membasuh seluruh siluete tubuh yang telanjang diungkapkannya secara menangkupkan kedua telapak tangannya. Memohon dan mengharap. Bagi lelaki sepi dingin beku salju dan butuh kehangatan, kepanasan pasti tidak menunggu kesempatan lain. Inilah kesempatan itu. Betapa salju akan dilumatkan panas. Betapa panas membutuhkan salju dingin untuk membagikan kehangatannya. Aku, nasibku. Akulah lelaki itu. Lelaki beku. Biarlah kuterima permohonanmu. Ijinkan aku memasukimu, marilah berbagi kehangatan. Segera saya bergegas masuk ke bis kota itu…….

2. Mengapa Melayang di Palembang?

Senikah ini? Menggambari hampir seluruh kaca depan bis kota dan juga pick up angkutan kota dengan aneka lukisan, mural, simbol dan logo entah mencontoh tiru jiplak apalagi menjadi kebiasaan yang sepertinya diterima begitu saja oleh banyak kalangan di Palembang. Benarkah? Saat bertegur sapa dengan seorang Petugas Dinas Perhubungan di Terminal Alang-Alang Lebar KM 12 Palembang, disebutkan bahwa para sopir bus kota dan angkutan kota lainnya bakal menghindar jalur secara memutar saat ada razia lukisan kaca oleh petugas.

Jadi? Jelas bahwa yang dilakukan para sopir ini sesuatu yang dirazia! Sesuatu yang dilarang untuk dilakukan. Tapi mengapa masih tetap ada? Jawabnya mudah saja! Mudah-mudahan mudah! Selama patron nasional, tuan-tuan penguasa di Jakarta belum memberikan contoh menghormati Hukum dan Tatanan (Law and Order) yang ada maka di manapun di Indonesia akan mudah dilihat pemandangan/kejadian: menyerobot antrian, tawuran SMP–SMA-mahasiswa-kampung-kaum-partisan, penggusuran semena-mena, pendudukan lahan trotoar secara serampangan oleh PKL, menyeberang bukan di tempat penyeberangan, melompati pagar pembatas jalan satu arah, buang sampah sembarangan, merokok sembarangan dst dsb.

Sepanjang masih ada peluang untuk menelikung peraturan, dan menawar hukum: lakukan saja. Kenapa rupanya?! Bukankah para petugas juga suka angop saja saat bertugas?! Nantilah, kalau ada razia, bagaimana bagusnya saja! Alhasil, lukisan kaca bis kota Palembang ini muncul-tenggelam seirama gairah dan kegigihan petugas. Dan itu, berapapun kadarnya adalah cermin sikap mental budaya kita semua, suka atau tidak suka mengakuinya!

3. Bendera dan Lagu

Seni adalah keindahan. Keindahan dan keteraturan adalah dua hal berbeda. Tapi menghadirkan keindahan secara semena-mena dengan apapun alasan ekspresi diri di tempat yang seharusnya tidak boleh/bisa tampil tentu mengurangi, bahkan meniadakan makna dasar seni. Hal itu akan menjadikan seni lukis atau seni gambar sekedar ekspresi bebas diri secara liar semena-mena. Menarik untuk mengamati, apa yang menjadi pilihan banyak sopir dan atau pemilik bis kota dalam menyuarakan hasrat tersembunyinya dan membingkainya dengan ornamen yang bebas sebebas-bebasnya! Tematis bendera dan lagu ataupun group band ditampilkan secara seronok berdampingan dengan gambar aneka rupa, aneka wajah, aneka profil. Pelintiran Union Jack.bendera Inggris dan modifikasi bendera Amerika ditampilkan sebisa dan sekenanya.

.

Jadi, bersegeralah ke Palembang untuk merasakan meriah hangatnya bus kota, sebentar lagi ada razia………….


Sampunnnnnn. Suwunnnnnnn… (BGJ 1209)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.