My Spiritual Journey, menjadi Tamu Allah (Part 3)

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

Bersamaan dengan suasana Hari Ibu, aku ucapkan:

Selamat Hari Ibu, tulisan ini aku dedikasikan buat semua ibu-ibu di Indonesia, khusus buat Mamaku, I Luv U full Mom!"

Foto yang indah dari satu sisi Masjid Quba'

Kembali ke kisah hajiku yang masih terasa lekat di dalam benakku, bukan hanya kejadiannya tapi capeknya juga dink, karena memang niat untuk menemani ortu, jadi capek itu sudah ada dalam kesiapan fisik yang sudah dipersiapkan dalam diri. Kalau gak mau capek ngapain juga repot-repot, toh bisa aja ortu dilepaskan ke tour agent, hanya hati nuraniku gak bisa melepas ortuku semudah itu. Ternyata nuraniku tidak salah, bisa kebayang seandainya aku tidak ikut, Mama dan Papa ku yang sakit selama di Tanah Suci, tentu akan merepotkan jama’ah haji yang lain. Kalau mereka ikhlas, nggak masalah, tapi kalau menolong tapi sambil menggerendeng, waah….bisa sedih deh.

Nenek Titipan
Harus kujelaskan juga, bahwa selama berhaji ini, aku bukan hanya mengurus kedua ortuku tapi juga menerima amanat untuk mengurus seorang nenek yang usianya sama dengan Papaku. Sudah sepuh juga, apalagi anak dan cucu nenek ini yang tinggal di Lampung, berharap banyak padaku untuk ngebantuin nenek mereka selama di Tanah Suci. Padahal sebenernya dari pihak travel, nenek ini dititipkan ke orang lain, jama’ah laki-laki yang usianya sekitar 50 th-an asal Lampung juga.

Tetapi pada kenyataannya nenek ini malah memilih aku untuk membantu dia selama di Tanah Suci. Jujur mengurus orang tua bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi aku sempat kena complain ortuku, karena perhatianku jadi terpecah dan harus berbagi, tapi ini sudah resikoku, satu caraku adalah berdo’a semoga ALLAH memberi jalan keluar dan melapangkan hati ortuku, untuk merelakan anaknya membantu nenek titipan ini. Tiada ikatan keluarga antara aku dan nenek ini, kami hanya sama-sama Jama’ah haji dari satu travel dan satu daerah yaitu, Bandar Lampung. Aku juga mengenal nenek ini saat manasik haji di kotaku. Lucunya….si nenek ini mengaku nggak mengenaliku selama beberapa kali pertemuan manasik haji, kata beliau…”Nenek baru kenal Adhe ya di Mekkah ini!”, hehehe….yasud apa kata nenek aja deh.

Tiada pekerjaan yang sempurna dan memuaskan semua pihak, begitu juga dengan diriku, aku hanya berusaha melaksanakan semampuku.

Aku memanggil Nenek Titipan ini dengan nama Nenek Juhe…sebenarnya ini nama si nenek yg asli cuma aku modif dikit, biar mudah menyebutnya. Ukuran tubuhnya termasuk kecil tapi matanya masih cukup awas untuk melihat, jadi aku nggak perlu repot harus menuntunnya berjalan, dia bisa jalan sendiri, hanya yang jadi masalah, langkah Nenek Juhe yang pendek dan lambat, membuat dia sering tertinggal di belakangku, akhirnya aku selalu mengatur langkah untuk menyesuaikan dengan langkahnya. Hal ini suka jadi masalah, karena langkah kaki kedua ortuku juga termasuk cepat.

Jadi kalau sedang jalan berempat ke Masjid, aku yang menuntun Papaku, harus bersabar menoleh ke belakang, memastikan Nenek Juhe tidak tertinggal. Pernah saat tawaf …aku menggandeng Papaku, Mama dan Nenek Juhe bergandengan di belakangku, sambil memegang jilbabku, alhasil….selesai tawaf jilbabku hampir aja melorot, hehehehe…..Jadi geli kalau ingat saat itu, inginnya mereka cukup memegang tali tasku, kalo memegang tangan memang tidak mungkin, tawaf bergandengan tangan berempat bisa ditabrak orang, tapi tampaknya mereka nyaman memegang jilbabku yang panjang, yah…gak apa-apa deh, buat orang tua berikan apa yang paling nyaman buat mereka.

Anak dan cucu Nenek Juhe sering menelpon dan sms ke hpku untuk memantau keadaan kesehatan nenek, selalu kujawab…bahwa nenek baik-baik saja, agar keluarga di tanah air tidak kuatir. Ku akui bahwa Nenek Juhe sakit batuk dan panas, tapi masih bisa diatasi dengan obat batuk dan turun panas. Selain itu nenek menitipkan uangnya padaku, untuk membeli oleh-oleh, katanya. Mama mengingatkan aku agar amanat dan berhati-hati mengatur uang Nenek Juhe, harus dicatat apa yang dibeli berikut harganya, kalau ada kelebihan uang harus dilaporkan. Subhanallah…jangan sampai aku termakan yang bukan hak-ku walau se-cent real pun!

Begitu juga dengan urusan koper-koper nenek dan barang-barang bawaannya, selalu kupantau keberadaannya, intinya…apapun yang bisa aku bantu, aku akan usahakan. Walau kadang aku suka ngomel kalo lihat nenek lupa makan obat, hehehe…duh..namanya juga nenek, penyakit lupa makan obat kan biasa….maafin aku ya nek!
Cukup segitu aja sekilas pandang tentang Nenek Juhe.

Mina
Syukurlah kondisi Mama dan Papaku cukup stabil untuk menghadapi prosesi haji pada tanggal 25, 26 dan 27 Nov ’09. Walau dibilang sehat 100% nggak juga, soalnya kondisi fisik Mama masih cukup lemah walau sudah bisa jalan, kalau Papaku malah kena flu batuk dan pilek, walau fisiknya masih lumayan kuat buat jalan, hanya matanya saja yang cukup rawan kalau mau dilepas jalan sendiri. Sedang kondisi Nenek Juhe cukup sehat. Malah dia cukup mandiri bisa berkemas sendiri tanpa harus aku bantu.

Para jama’ah haji sudah diberitahu oleh pengurus travel masing-masing bahwa keberangkatan ke Mina akan dilaksanakan hari Selasa malam tgl 24 Nov, aku memperhatikan Mama yang kondisi kesehatannya sudah mulai membaik setelah sehari sebelumnya sempat masuk hospital selama 1 jam. Alhamdulillah obat yang diberi dari hospital cukup manjur, walau Mama sempat merasa ada effek samping dari obat yang diminum, katanya beliau merasa jadi batuk-batuk sesaat setelah meminum obatnya, aku hanya bisa menghibur Mama dan mengingatkan beliau untuk tetap minum obat, agar tubuhnya kuat kembali, syukurlah Mama mau mendengar saranku, toh belakangan hari batuknya Mama sembuh, malah bisa makan kripik Pringles dan Ice Cream, hehehe….

Armada Bus yang akan membawa kami ke Mina sudah bersiap sesuai jadwal keberangkatan, yaitu sekitar jam 23.00 malam, padahal para jama’ah sudah pada siap sejak sore hari, hihihi….bener-bener itu para orang tua, baik nenek dan kakek juga bapak dan ibu, semua sudah rapih menata tas yang akan dibawa, bahkan sudah siap dengan pakaian ihram masing-masing. Sedang aku sendiri masih aja sibuk mondar mandir dari kamar Mama ke kamar Papaku, buat sekadar ngecek apa beliau-beliau sudah makan dan minum obat, lalu membereskan koper-koper mereka buat dibawa ke Mina, sedang untuk aku sendiri, malah gak terlalu berat mikirnya, lha….yang dipikir hanya diri seorang, focus ibadahku memang harus memperhatikan ortu.

Sebenarnya ini haji yang ke2 bagi ortuku, mereka berdua pernah berhaji di tahun 1973, saat itu mereka sudah naik pesawat, pemerintah RI menyewa pesawat KLM kala itu. Keadaan kota Mekkah dan Madinah,saat mereka berhaji dulu tentu sudah sangat jauh berbeda kini. Th.2005 kedua ortuku sempat berumroh, karena suasana ibadah umroh yang nyaman dan enak, mereka berdua memutuskan mau mengulangi haji lagi. Ternyata haji itu berat…bukan hanya berharap yang mudah dan nyaman, tapi ada ujian-ujian yang tak terduga yang harus dilalui, seperti aku yang harus berangkat dengan pesawat yang berbeda, belum lagi pimpinan rombongan haji kami beserta keluarga dan jama’ah yang lainnya tidak bisa berangkat gara-gara terganjal visa haji yang tidak keluar. Lantas aku dan kedua ortuku harus berbesar hati menerima fasilitas yg menurutku kesannya kami numpang ikut ke travel lain. Bener-bener nggak punya leader, kami berempat (aku, kedua ortuku dan Nenek Juhe) harus jalan sendiri mengurus semua keperluan yang seharusnya di handle oleh tour leader.

Alhamdulillah….selalu ada kemudahan di balik kesulitan, ALLAH selalu memberi rakhmat yang tiada putus-putusnya buat kita jika kita faham bahwa semua ini adalah ujian dan sudah tercatat dalam ‘buku catatan hidup kita’ masing-masing. Ampuni hambaMu ya ALLAH, jika tanpa sadar aku berpikir atau mengucap keluh kesah tanpa kusadari atau sengaja aku ucapkan.

Bus-bus yang menuju Mina sudah diberi nomer di mana para Jama’ah akan naik sesuai dengan list nama yang sesuai dengan nomer bus masing-masing, seperti aku dan kedua ortuku yang masuk ke dalam bus nomer 3, sedang Nenek Juhe masuk dalam bus nomer 1, tapi pada kenyataannya banyak para jama’ah yang tidak membaca list nama ini, jadi main naik ke sembarang bus. Aku yang sudah membimbing Mama dan Papa ke bus nomer 3 menemui bus sudah penuh terisi, lalu aku bertanya pada salah satu petugas coordinator dari tour agent, “Pak jadi kami harus masuk ke bus mana? Sedang nama kami sudah tercantum di bus nomer 3?” tanyaku, tapi pertanyaanku malah dijawab dengan ketus “Ibu jangan mempersulit urusan, bisa naik bus mana aja!”, aku yang mendapat jawaban itu lantas menyahut “Pak, siapa yang mau mempersulit urusan? Saya kan hanya bertanya, karena kami melihat nama kami tercantum dalam list bus nomer 3!” aku jadi sempat jengkel…lha ditanya baik-baik, eh…disangkain mau complain!

Aku kan mengikuti aturan yang sudah ada, malah disangka mau cari gara-gara, Astaghfirullah…., akhirnya ada mutawwif yang menenangkan aku, “Sudahlah bu, naik bus yang mana aja, gak apa-apa cari aja yang kosong”. Akhirnya aku naik ke bus nomer 1 yang ternyata masih kosong, sambil mendudukkan Papaku di sana. Sedang Mamaku terlanjur sudah masuk kedalam bus nomer 3, sedang Nenek Juhe dari awal sudah naik di bus nomer 1. Lalu koper dan barang tentenganku malah masuk ke bagasi bus nomer 2, yang kusangka bus nomer 1, hahahaha….kacauuu deh!!! Tapi Thamrin bilang “Tenang bu, ntar aku bantuin urus barang-barang bawaan ibu”, Alhamdulillah…..selalu ada jalan keluar yang baik.

Kenapa aku tuliskan kejadian seperti di atas, ini hanya ingin memperlihatkan bagaimana suasana di lapangan kadang tidak sama dengan apa yang tertera di atas kertas!

Perjalanan menuju Mina berjalan lancar, rombongan kami baru bergerak menuju Mina saat jam mendekati tengah malam, bisa kebayang gimana itu ibu-ibu, bapak-bapak, nenek-nenek dan kakek-kakek, menunggu berangkat ke Mina dari sore hari, ada yang gelisah gak bisa tidur tapi banyak juga yang malah tertidur sangking kecapekan lama menunggu. Aku yang sebelum ini pernah mengalami hal yang sama saat mengikuti haji regular 4 tahun yang lalu, lebih bersikap santai. Lha….sudah jelas pasti tengah malam kalau pengumuman dibuat sore hari, dulu aku mendapat pengumuman pagi hari, nyatanya berangkat menjelang sore hari, hehehe….ini namanya jam gelang karet tenanan! Tapi kan dilarang protes, kudu sabar dan ikhlas, namanya juga haji! Coba kalo bukan haji, waaah…pasti ngegerendeng gak habis-habis gara-gara jam karet.

Maktab 72 di Mina

Kami tiba di Mina, menjelang subuh, kami dapat maktab nomor 72 yang berdampingan dengan jama'ah haji dari Malaysia. Tenda-tenda di maktab 72, sama seperti tenda-tenda di haji regular, hanya bedanya di sini ada AC, trus ada kasur-kasur dan selimut. Hanya aku cukup kedinginan gara-gara blower AC nya pas ada di hadapan kasur yang kami tempati, mau milih tempat lain sudah ada yang punya. Yah….mudah-mudahan gak sakit deh. Aku sudah menempatkan Mama dan Papa di tempat, lantas Nenek Juhe kuperhatikan sudah menempati kasurnya agak bersebrangan denganku, masih dalam satu tenda yang sama. Bagian ibu-ibu berada di belakang, dipisah dengan lapis terpal yang tebal, sedang bagian depan diisi oleh bapak-bapak. Jadi kalau sholat berjama’ah yang perempuan bisa jadi makmum di belakang.

Setelah urusan penempatan ortu beres, tinggal urus koper dan barang tentengan yang masuk ke bus nomer 2, jadi inget potter terminal, hehehe…tapi inikan milik ortu sendiri jadi nggak beratlah melakoninya. Urusan koper beres, aku mulai inspeksi keliling lokasi tenda, aku harus tau dimana letak toilet dan lokasi dapur, hehehe…ternyata tenda kami dekat tenda logistic, tapi teteup kalau mau makan harus ikut antriii. Aku perhatikan di depan tenda-tenda dari tiap rombongan jama’ah, disediakan tangki air panas, berikut gula, kopi, creamer dalam bentuk sachetan dan teh celup. Lalu ada gelas-gelas kertas berikut sendok-sendok plastic kecil.

Saat masih awal kedatangan semua serba tertib dan teratur, tapi kebelakang hari semua jadi acak adut, hehehe….muter-muter cari air panas susah banget, gimana nggak teratur, ntar ada jama’ah yang ambil air setermos, padahal kan seharusnya kita bisa berbagi bersama cukup satu gelas kertas itu. Sebaiknya saranku bawalah termos elektrik yang kecil yang portable, disetiap tenda ada colokan listrik koq. Sttt….sebenernya aku bawa sih termos elektrik ini, Cuma aku mau colokin stop kontaknya agak merepotkan karena jauh dari posisi tidurku. Jadi yah….aku simpan saja.


ANTRI

Ini lagi antri makan, huhuhu….panjannngggg!!!

Satu ciri khas suasana di Mina, semua serba Antriiiiiiii……mau makan antriii, mau minum antri, mau wudhu antri, mau mandi atau buang hajat antriii juga. Jadi apa dunk yang gak antri di Mina??? Mungkin jawabnya satu….tidur!!! hehehe….tapi kalau tidur nya sambil menahan pipis atau sambil nahan lapar apa bisa???

Jika telat antri makan, resiko paling kehabisan nasi dan lauk pauk, tapi asal mau nunggu bentar biasanya akan disiapkan kembali oleh panitia haji. Yang justru rada dikit heboh itu kalau antri di toilet, karena jumlah jama'ah haji perempuan lebih banyak dari yang laki-laki, kadang jama'ah haji perempuan mengekspansi toilet laki-laki, alhasil sempat dijumpai jama'ah haji laki-laki dari negeri jiran, yang ngomel-ngomel sama jama'ah haji wanita karena berebut antri, hehehehe….ya ampuuun jadi lucu, jama'ah perempuan cuek aja, nggak mau dengerin omelan itu bapak, aneh aja…toh bapak-bapak yang lain tenang-tenang aja, koq ini ada satu yang 'sewot' sendiri.

Kembali ke soal antri makan, aku sebelumnya sempat ‘malesss’ banget mau antri untuk mengambil jatah makan. Tapi ustazah Nurma mengingatkan aku “Bu Adhe, kalau nggak mau ngantri ntar nggak makan lho…kan semua harus diusahakan, kalau caranya harus antri ya dijalani!” okay…Bunda Nurma, aku harus siap antri di medan Mina, baik itu makan, minum, wudhu bahkan ke toilet pun….huhuhuhu….kalo urusan antri mah nggak mandang siapa yang bayar besar atau kecil, semua samimawon. Hanya saja budaya antri ini kadang menimbulkan keributan di saat ada jama'ah yang tidak sabar ingin menyerobot ke bagian depan tanpa mikir kalau orang dibelakangnya bakal ngamuk, asli..orang-orang type kek gini kalau aku perhatikan suka pasang tampang cuek bebek!

Di toilet, antriiii yaaaa!

Ada kisah lucu saat antrii makan, siang itu hujan turun cukup deras, menunggu hujan reda kek nya lama juga, kepikir ortu dan Nenek Juhe, pasti mereka sudah merasa lapar. Akhirnya aku nekat keluar tenda, gak bawa payung, soalnya nyari payungku sendiri juga sedang dipinjam jama’ah lain yang satu tenda. Sambil berlari melalui hujan, aku ke tenda catering yang gak jauh dari tenda kami. Hmm….lumayan sepi nih pikirku, mungkin hujan kaleee….ternyata aku salah tebak! Sepi bukan karena hujan, tapi karena nasi nya sudah Habissss…bisss..bisss! wah….ternyata untuk urusan makan para jama’ah nggak peduli hujan ! Aku yang bengong melihat pinggan nasi yang kosong, sambil membawa tiga piring plastic, yang memang sudah kusiapkan buat kedua ortuku dan Nenek Juhe hanya bisa menatap lesu, tapi aku memutuskan untuk tetap mengambil lauk-lauk yang masih tersisa, soal nasi ntar aja deh….urusan belakang pikirku.

Ini lagi mau ngantri makan, dibelain pake payung ambil nasi plus lauk pauk…kalo aku emang sengaja mau motret

Saat aku menyorongkan piring untuk diisi petugas catering dengan lauk pauk, aku melihat sosok yang berdiri gak jauh dariku, yang sama-sama antri makan, rasanya koq aku kenal ya…? Hihihihi….ternyata yang aku lihat itu “Bung Iwan Fals”, beliau bernasib sama denganku, sama-sama nggak kebagian nasi, ku perhatikan ekspresi wajah bung Iwan saat tahu nasi sudah habis, dan hanya tinggal lauknya saja, dia sama bengongnya kek aku, hehehehehe…..tapi dia hanya diam, nggak komen apa-apa, tapi rada nelongso juga sih….

Duuh…tenang bung Iwan, kita ambil lauk nya saja disini, ntar nasinya kita cari ditenda catering yang ada di blok lain. Ada beberapa tenda catering yang disiapkan oleh panitia haji. Bener aja…aku akhirnya dapat nasi di tenda catering lainnya. Nggak tau deh apa bung Iwan, nyari nasi juga, soalnya aku langsung kabur begitu piring-piringku terisi lauk pauk. Aku cerita ke temanku sudah melihat Iwan Fals di tenda catering, eh…temenku malah bilang “Kenapa nggak minta foto bareng?”…haiyaaaaa…ini haji bukan jumpa fans! Hehehe, bisa-bisa ngamuk bung Iwan, sudah nggak dapat nasi, eh..malah minta diajak foto bareng, untung nggak minta tanda tangan sekalian, hehehe…., aku juga nggak bawa hp cameraku, jadi nggak bisa mengabadikan wajah bung Iwan secara candid. Duh…hujan-hujanan mau ambil makan siang malah ketemu seleb.

Hujan di MINA

Kejadian hujan di Mina merupakan salah satu peristiwa langka yang sempat aku alami, kata ustazah Nurma, hujan terakhir kali di Mina itu pada tahun 1995, haiya….14 tahun yang lampau baru hujan lagi tahun ini. Aku sebenarnya sudah curiga sejak subuh, melihat langit koq mendung gak ada bintang, saat pagi hari tanggal 25 Nov ’09, matahari tampak tidak mau keluar dari peraduannya, sesekali terdengar suara guruh menggelegar di kejauhan. Aku membayangkan, orang-orang di Mekkah yang jarang tersiram hujan bakal keluar rumah berlarian menyambut datangnya sang Hujan. Tetapi ternyata dugaanku salah kembali, di bagian lain dari Saudi Arabia, tepatnya di kota Jeddah, hujan yang datang di tahun ini, memakan korban sampai ratusan jiwa manusia, belum lagi kerugian materi. Yah…turut berduka dan berbela sungkawa atas musibah ini. Syukurlah nggak ada jama’ah haji dari Indonesia meninggal dunia karena hujan.

Peristiwa hujan ini, cukup menarik hatiku untuk mengabadikannya melalui lensa digital camera, karena kita nggak bisa menebak berapa tahun lagi hujan ini akan turun kembali?

Kalau dipikir-pikir koq iseng banget ya….para jama’ah pada meringkuk tidur di bawah selimut mereka, atau mengobrol dalam tenda, aku malah keluyuran di luar tenda, mencari angel yang pantas untuk diabadikan, walau masih skala amatiran, hehehe…. Satu hal yang membuat aku agak bergidik, saat melihat air hujan yang deras menghanyutkan timbunan sampah piring-piring plastic dan gelas-gelas kertas bekas limbah makan siang para jama’ah yang diletakkan secara sembarangan di tepi tenda-tenda mereka padahal di depan pintu tenda sudah disiapkan ember-ember besar yang fungsinya sebagai tempat sampah.

Aku berjalan sambil berjingkat-jingkat sangking ‘geli geleuh’ sama sampah-sampah makanan itu. Omong-omong soal sampah makanan, aku sering menemukan nasi dan potongan ayam yang masih utuh teronggok di tempat sampah, nge-ness lihatnya, bayangkan jama'ah yang nggak kebagian nasi dan lauk pauk yang harus nelongso, sedang yang ambil makan duluan malah membuang nasi dan lauk seenaknya. Ini gambaran yang 'real' tentang sifat manusia.

Di bagian toilet banyak ditemui sampah pembalut wanita yang menumpuk di dalam toilet perempuan, ampuuuun tuan! Asli bisa bikin muntah dan mabok! Asal jangan pingsan ntar repot gotongnya, hehehe….hanya bisa prihatin.Jadi buat para jama'ah haji harus siap mental jika melihat keadaan sejorok apapun ! Yang penting kita jangan ikut-ikutan menambah beban petugas kebersihan. Ingat kan apabila kita meringankan tugas orang lain, maka kelak tugas kita juga akan dimudahkan oleh orang lain.

Sampah oh sampah!!! sudah ada tempatnya tapi koq ya ra mudeng…

Kesimpulan yang bisa dipetik dari timbunan sampah selama aku berada di Mina, intinya hanya satu ‘sikap tidak disiplin dan malas’ dari sebagian jama’ah untuk membuang sampah pada tempatnya. Aku membayangkan, seandainya acara manasik haji yang disiapkan oleh penyelenggara haji baik regular ataupun plus, disisipkan materi kepada semua jama’ah untuk menjaga kebersihan dari lingkungan mereka, bukankah bersih itu sebagian dari iman? Jangan beralasan bahwa mentang-mentang ini bukan Negara Gue, jadi buang sampah suka-suka toh ada yang bakal membersihkan ini. Lagi-lagi aku menghela nafas panjang, andai saja di setiap pojok tenda dan toilet ada laskar penjaga kebersihan yang siap menjatuhkan ‘dam/denda’ pada jama’ah haji yang ketahuan membuang sampah sembarangan, hehehehe…pasti nggak ada yang berani nyampah tuh.

Sudah cukup panjang ya…masih banyak kisah yang akan ditulis diseputar MINA, ntar aja ya…di Part 4, harap sabar….okay!

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.