Yang Semakin Redup

Dewi Aichi – Brazil

Hari ini aku sengaja ke kantor pos untuk mengirim beberapa surat ke Indonesia. Lumayan banyak, ada 23 amplop surat dengan nama dan alamat yang berbeda-beda. Khusus ada 8 amplop dengan alamat yang sama yaitu alamat sekolah dimana dulu anak saya belajar di Indonesia. Karena lingkup sekolah yang tidak terlalu besar, maka antara orang tua murid dan guru menjadi akrab. Komunikasi di antara kami tidak pernah putus, saling tukar cerita tentang perkembangan anak-anak kami.

Biasanya komunikasi kami lakukan dengan saling mengirim email, perbedaan waktu yang menghambat apabila berkomunikasi dengan online bersama. Tapi, diakhir tahun ini, saya merasa bahwa saya ingin mengirim surat kepada mereka, juga kepada keluarga. Hal mana, telah bertahun-tahun ini tidak saya lakukan. Berharap menjelang tahun baru mereka menerima suratku. Lumayan banyak juga saya selesaikan satu surat /hari. Ini saya lakukan dengan niat dan tekad.

Rasanya ada sensasi tersendiri dengan mengirim surat kepada mereka. Dengan segala kemudahan yang bisa kita dapatkan sekarang, maka dengan sekejab saja kita sudah bisa keliling dunia, bisa memberi dan menerima kabar dari keluarga dan teman-teman yang saling berjauhan, tinggal sms, mms, email, dan tilpon yang murah meriah. Mau bayar apapun, meski kita tinggal di luar negeri, tidak masalah, ada internet banking.Tapi, untuk mengakhiri tahun 2009, pengen sekali bernostalgia dengan mengirim surat kepada orang tua, adik-adik, maupun sahabat . Yah…surat dengan tulisan tangan, dan dibubuhi tanda tangan.

Setelah surat-surat saya kirimkan ke kantor pos, sambil berjalan kaki menuju rumah, sayapun merenung. Betapa canggihnya jaman sekarang. Seolah-olah dunia berada digenggaman tangan. Internet sungguh luar biasa, memudahkan banyak hal, tapi juga menenggelamkan banyak hal.

Hanya saja masih ada yang tidak bisa digantikan dengan adanya internet, misalnya pengiriman barang. terbukti masih bermunculan perusahaan-perusahaan jasa pengiriman barang. Untuk PT Pos Indonesia sendiri tidak akan terhempas dengan adanya internet, terletak pada masalah manajemen dan SDM mungkin masih harus ditingkatkan kualitasnya. Pada kenyataannya hanya surat menyurat yang sekarang tidak semeriah dulu.

Banyak contoh ya dengan adanya internet ini, selalu ada yang baru dan selalu ada yang jatuh. SLI sekarang sudah mulai redup dengan adanya teknologi VoIP. Teman saya waktu sekolah di SMP, awal tahun 2000 mempunyai usaha wartel, hanya bertahan 2 tahun, akhirnya wartel tersebut selalu tertutup pintunya karena tidak ada lagi pengunjung.Fasilitas SLJJ sekarang kurang diminati. Karena itulah maka akan tumbuh mata rantai pasar pengganti seperti maraknya counter-counter penjualan pulsa.

Perubahan mata rantai pasar yang terjadi sekarang ini akan sangat tergantung pada tahap penerimaan masyarakat akan perkembangan teknologi. Saya pernah membaca bahwa semenjak tahun 2000, 75% penggunaan internet ada dibidang bisnis.com, dan edu.com. Dan terjadi pula perkembangan dibidang lain marketing online, i-banking,digital libray,e-commerce,long distance edu dan sebagainya.

Secara keseluruhan, semua perubahan ini terjadi secara bertahap. Ada yang sangat menyolok seperti fungsi kartu pos dan SLJJ. Tetapi ada juga yang perlahan seperti metoda penelitian online dsb.

Internet telah terbukti sangat mempengaruhi dunia telekomunikasi maupun bisnis.Karena dengan adanya internet,tidak saja mendorong kecepatan, ketepatan dan efisiensi, tapi juga memperluas jangkauan. Internet memang memberikan wacana, pemikiran yang lebih luas, bagi masyarakat. Berbagai berita dan liputan menarik, bisa didapatkan hanya dengan duduk, semua ada di depan mata.

Masih suka surat menyurat ala dulu sebelum kalian mempunyai email? Atau sudah tidak sama sekali, sehingga mau menulis tangan saja sudah tidak seindah dulu. Tulisan kita jadi kaku karena terbiasa mengetik. Kalau dulu jaman berkenalan dengan seseorang, kita selalu meminta alamat rumah, sekarang, kalau ngga alamat email ya no. hp. Memang, jaman semakin canggih saja.

Apa yang akan kita tinggalkan setelah surat menyurat, kartu pos? Dan apa yang akan kita dapatkan sesuatu yang baru kelak? Kita tunggu saja!
 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *