The Real Art of Tarot

Rina S – Bogor

Penulis : Hisyam A. Fachri
Judul : The Real Art of Tarot
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : I, tahun 2009
Tebal : xi+229 hal

WACANA TAROT

Alasan saya membaca buku ini sekedar mencari tahu apa itu Tarot. Ya, sekedar mencari tahu karena dalam kepercayaan agama yang saya yakini, saya tidak boleh mempercayai pada selain-Nya. Walaupun sejujurnya, saya selalu tergoda untuk membaca ramalan bintang jika mata saya menangkap kolom itu di sebuah majalah atau Koran.

fortune teller

Bicara soal tarot, kebanyakan orang menganggap termasuk saya adalah suatu cara meramal dengan menggunakan media kartu. Ramalan akan terbaca berdasarkan gambar-gambar kartu tarot yang muncul. Pada perkembangannya tarot mulai dimanfaatkan sebagai media konseling untuk mencari akar suatu masalah seseorang. Ehm, ini pengetahuan baru untuk saya. Hal ini terkait dengan gambar-gambar pada kartu tarot yang diasosiasikan menunjukkan pola kehidupan manusia berdasarkan dorongan alam bawah sadar dan karakter dasar manusia. 

Sebut saja misalnya gambar Si Dungu (the fool), Sang Pecinta (the lovers) dst. Namun begitu tetap ada praktisi tarot yang menggunakan ‘ilmu’ untuk meramal klien-nya. Yang jelas dari sini saya jadi tahu kartu Tarot atau permainan kartu Tarot bukan sesuatu yang magis.

Ada berbagai pendapat mengenai asal muasal permainan kartu Tarot. Ada pendapat yang mengatakan permainan ini berasal dari India yang bernama kabala. Ada juga yang berpendapat permainan ini berasal dari Mesir, dengan mengidentikkan tarot dengan kitab Toth. Toth adalah nama dewa ilmu pengetahuan Mesir kuno. Jenis kartu tarot yang popular dan umum digunakan adalah jenis Rider Waite seperti yang menjadi acuan di buku ini.

rider waite tarotKartu Tarot memiliki dua komponen utama, arcana mayor dan arcana minor. Arcana mayor terdiri dari 22 kartu. Di dalamnya termasuk gambar-gambar bersifat pribadi seperti pecinta, pendeta dan kematian. Sedangkan konsep hukum karma ditunjukkan dengan kartu pengadilan akhir. Arcana minor terdiri dari 56 kartu. Gambar pada arcana ini menunjukkan sifat dan kondisi manusia. Seperti kartu pedang (sword) piala (cups) dsb. Masing-masing kartu memiliki urutan, dari as (1) sampai sepuluh (10).

Buku ini berisi penjelasan setiap gambar di kartu tarot, interpretasinya dan beberapa teknik pembacaan tarot. Misal, kartu Sang Raja atau Kaisar. Kartu ini mewakili para ayah. Mahkota diatas kepalanya merupakan symbol proses pendakian dan pengembanagn logika, kepempimpinan dan otoritas. Interpretasinya; kartu ini menunjukkan kekuasaan yang dimiliki dan kemampuan menyelesaikan semua persoalan untuk menjadi lebih baik dan teratur.

Sementara piala (cups) dihugungkan dengan emosi, perasaan, dan pengalaman spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa klien akan sibuk dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan interaksi dan pengalaman tak terduga. Jika kartu yang keluar menunjukkan gambar berisi tujuh buah piala berisi benda-benda duniawi dengan seorang lelaki. Kartu ini memberi gambaran imajinasi klien ketika membayangkan suatu keinginan. Kartu ini mengingatkan bahwa kebahagian/keinginan dapat diraih dengan ketegasan serta mau berusaha mewujudkannya.

Singkatnya buku ini merupakan sebuah buku praktis untuk mereka yang ingin mempelajari tarot secara otodidak. Buku ini pun dilengkapi dengan satu set kartu tarot berthema nusantara artinya gambar pada kartu tarot ini bernuansa etnik nusantara, dengan tetap mengacu pada jenis kartu tarot Rider Waite. Kemasan buku ini cukup menarik, bernuansa etnik dengan perpanduan warna kuning dengan kemasan kartu berwarna coklat. Sejujurnya, bagi saya ini yang menjadi daya tarik. Kemasan dan cover yang matching.

Menurut saya akan lebih lengkap dengan jika penulis menyertakan satu bab khusus mengenai adanya keterkaitan penafsiran gambar kartu tarot dan analisa psikologi seperti di singgung pada prakata. Sekaligus untuk menguatkan argument penulis bahwa, tarot dapat merangsang intuisi dan membantu pikiran untuk meloloskan diri dari situasi yang membelenggu.

Pada hal 10 dan 11 dijelaskan, bahwa mempraktikkan kartu tarot tidak diperlukan bakat khusus. Karena kartu ini bukan sebuah ilmu gaib atau mistik. Yang dibutuhkan hanya kemampuan membaca pikiran bawah sadar seseorang untuk mengetahui apa yang dirasakan dan dipikirkan serta mampu memberikan solusi. Jadi lebih bersifat konseling ketimbang meramal. Bukankah kemampuan membaca pikiran bawah sadar seseorang merupakan bakat khusus? Jika itu bukan merupakan bakat khusus akan lebih lengkap jika penulis menuliskan juga kiat-kiat menumbuhkannya .

Setiap pembaca adalah hakim terhadap buku yang dibacanya. Dan yang paling berhak mengendalikan pikiran adalah diri sendiri.

Salam,
www.momsbooksclub.blogspot.com

CoverTheRealArtofTarot

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.