My Spiritual Journey, menjadi tamu Allah (part 4)

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

 

Bertepatan dengan Hari Natal 25 Desember 2009, saya mengucapkan “Salam damai sejahtera selalu buat teman-temanku yang merayakannya.”

Masih diseputar Armina, aku akan melanjutkan catatanku….

Arafah
Persiapan untuk wukuf di Arafah sudah dilakukan panitia dari tour agent dan panitia haji setempat sejak 3 hari sebelum para jama’ah berada di sana. Wukuf akan berlangsung pada hari yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Saudi, pada Kamis tanggal 26 Nov 2009. Di maktab 72, para jama’ah sudah pada rapih berbaris untuk antri naik bus menuju Arafah, Alhamdulillah….antri naik bus ini cukup tertib, kami beranjak dari Mina ba’da Subuh. Nggak ada yang banyak dibawa, karena kita 1 hari penuh akan khusyuk beribadah dengan bermunajat sebanyak-banyaknya pada Ilahi Rabb.

Seperti yang ditulis dalam Al-Qur’an “Haji itu adalah Arafah”, maksudnya dari semua rukun dan wajib Haji, yang paling penting adalah si Jama’ah haji harus berada di Arafah pada waktu yang telah ditentukan untuk mendengar kotbah di Arafah, sholat dan berdo’a. Jangan salah….posisi berada di Arafah juga harus diperhatikan, jangan sampai pada saat wukuf kita berdiri di tempat yang sudah berada di luar Arafah, padahal kita tahu daerah itu masih berada di sekitar Arafah.

Pemerintah Saudi membuat Papan Petunjuk yang gede banget bertuliskan “Arafah End’s Here”.

Perjalanan dari Mina menuju Arafah makan waktu kurang lebih 30 menit, ini karena bus harus jalan pelan-pelan, tapi banyak bus juga yang pada ngebut menuju ke sana dan akan pulang kembali ke Mina untuk menjemput para jama’ah yang belum terangkut. Padahal kalo pas hari biasa bukan wukuf haji, yang namanya Mina-Arafah itu hanya selemparan batu, ibaratnya lho…hehehe, jadi deket banget. Nomor maktab di Arafah dan Mina sama, jika di Mina kami di maktab 72, maka sama halnya di Arafah, kami turun di Maktab 72 berdampingan dengan Malaysia. Kondisi tenda di Arafah lebih rendah dan kecil dibanding dengan di Mina, walau fasilitasnya tetep sama ada kasur, selimut, bantal, karpet dan AC Window dan Kipas Angin.

Hal ini berbeda dengan tenda jama’ah regular, yang setahuku dulu, saat di Arafah, hanya beralas ambal yang agak tebal, bukan karpet lho, tiada kipas angin dan tiada lampu, pokoke gelep saat kami sempat menginap semalam di Arafah (4 tahun yg lalu), tiada selimut apalagi bantal, hehehe….bagi jama’ah yang lupa bawa kain panjang, bisa kedinginan saat malam hari, trus sebagai bantal kepala ya tas jinjing mereka dijadikan bantal. Kalau aku kebetulan sudah mempersiapkan bantal angin, tikar lipat dan kain panjang, jadi lumayan hangat deh…kenapa harus bawa tikar lipat? Ini buat alas lagi di atas ambal yang sudah ada, karena kalau gak dikasih alas tikar, masih berasa masir…maksudku ada geresek-geresek pasir saat kita tidur, tikar juga penting buat alas kita duduk saat Mabit (bermalam) di Musdalifah untuk mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan saat melontar di Jamarat.

Saat masuk ke dalam tenda, aku merasa semuanya serba lembab, karpet, kasur, bantal, kecuali selimut. Tentu sudah faham kan kemarin tanggal 25 Nov, ada hujan deras di Mekkah, jadi daerah Armina, juga basah semua, walau sudah berangsur mengering tanahnya . Kami meletakkan barang bawaan kami yang hanya berupa sajadah, Al-Qur’an dan buku do’a, sedikit obat kalau perlu dan handuk kecil, karena kita masih dalam suasana ber-ihram Haji, dilarang memakai parfum atau wangi-wangian yang bersifat merangsang (termasuk sabun mandi dan tissue wangi), bahkan ada sebagian pendapat yang melarang memakai minyak gosok seperti minyak kayu putih atau balsam, juga odol/pasta gigi, intinya gak boleh ada yang berbau harum.

Tapi jangan protes dulu ya…percaya nggak…selama di sana di Tanah Suci, kita nggak mandi sehari bahkan sampai 2 hari pun, badan nggak terasa bau! Hehehe…beda dengan kalau kita berada di Tanah Air, nggak mandi sehari, baunya sudah nggak karu-karuan, hehehe. Maaf ya aku nggak perlu menjelaskan secara detail prosesi rukun dan wajib haji, karena bisa dibaca secara khusus di buku-buku petunjuk manasik haji.

Kami berada di Arafah hanya beberapa jam, tapi justru inilah yang paling utama dari ibadah Haji, janganlah sombong dengan ‘meremehkan’ Arafah, alkisah aku pernah mendengar satu cerita, ada seorang ibu yang sangat kaya, yang mau berhaji dengan ‘uang’nya, dia beranggapan segala sesuatu bisa dibeli dengan uang. Dia mau berangkat menuju ke Arafah pada pagi hari, padahal mutawwif sudah mengingatkan bahwa pada pagi hari semua akses jalan ke Arafah sangat padat bahkan ada kemungkinan ditutup. Karena semua jama’ah haji akan berkumpul di Arafah. Ibu itu menganggap semua hal akan mudah jika ada uang, dia memerintahkan si mutawwif untuk menyewa helicopter agar dia bisa sampai ke Arafah dengan cepat dan sekejap waktu, tapi ALLAH berkehendak lain, dari pagi sampai matahari tenggelam, si Nyonya besar tidak berhasil mendapatkan satu helikopterpun yang bisa memberangkatkannya ke Arafah, hasilnya….dia tidak mendapatkan ibadah Hajinya. Jadi untuk urusan haji, ini semua rahasia ALLAH.

Panitia Haji menyiapkan sarapan pagi, makan siang dan makan malam, dan minuman teh, susu, kopi, juice kotak dan air mineral seperti di Mina, ada juga makanan hadiah yang dipaket dalam kemasan kotak dari para dermawan yang dibagikan buat para jama’ah haji, yang isinya ada air mineral, kurma, juice kotak dan biscuit. Lagi-lagi harus antri untuk mengambil sarapan pagi. Aku sempat menemukan Papaku ikut-ikutan antri, ya langsung aku tarik minta duduk manis di tenda aja, toh aku sudah memegang piring berisi sarapan paginya. Hmm…ada-ada aja, mungkin Papaku ingin merasakan gimana antri itu, hehehe. Setelah makan pagi, buat jama’ah yang tua-tua lebih memilih berdiam diri dalam tenda, apabila ingin pergi ke toilet, yang paling diperhatikan adalah tanda-tanda yang berada disekitar tenda kita, karena bentuk tenda yang sama semua, membuat kecenderungan kesasar tenda dan muter-muter di tempat bakal terjadi, hal ini sering kutemui pada jama’ah yang sudah sepuh.

Arafah di pagi hari, sebelum wukuf berlangsung

Sebelum prosesi wukuf dimulai dengan kotbah, masih ada waktu buat aku untuk sekedar mengitari Arafah untuk memantau suasana di sana. Aku berjalan berdua Nisa yang sama-sama suka jalan dan suka dipotret, kami mencoba menyebrang parit yang lumayan lebar agar bisa sedikit naik ke arah bukit, banyak jama’ah haji dari Indonesia yang sibuk berfoto bahkan berfoto dengan onta, hehehe…hamsa real (lima real) untuk berfoto dengan onta dan 10 real kalau menunggangi onta. Ku temui beberapa pedagangan asongan yang menjual nasi uduk, gorengan dan onde-onde, yang wajahnya asli Indonesia, hmm…lagi-lagi orang Madura, kalau dilihat dari logat bicaranya (aku sempat membeli nasi uduk dan onde-onde yang semuanya seharga 20 real, saat ba’da wukuf, karena aku nggak kebagian makan siang alias kehabisan nasi).

Ibu pedagang onde-onde dan nasi uduk di Arafah

Kehabisan makan siangi nggak masalah bagiku, jika dibanding dengan tausiyah/ceramah berupa nasihat dan do’a-do’a yang dibimbing oleh ustazah Nurma dan ustad Nugraha dari Yayasan An-Nurmania, sungguh merasuk di hati. Begitu khusyuk dan hikmat semua jama’ah haji yang mendengarkannya hanyut pada perasaan masing-masing, banyak jama’ah yang menangis tersedu karena begitu menghayati do’a yang dipanjatkan, termasuk aku tentunya, hiks…, gimana nggak terharu biru…ini semua permohonanku 4 tahun yang lalu yang dikabulkan oleh Ilahi Rabb, karena saat wukuf di Arafah 4 tahun yang lalu, aku sempat sedih karena merasa tidak maksimal mendengar kotbah dan tausiyah karena faham dari rombongan kami yang mengisyaratkan bahwa do’a itu tidak perlu dibimbing.

Iya bagi yang faham do’a-do’a nggak masalah, lain kalau kami yang awam dan bukan berasal dari komunitas religious seperti pondok pesantren, hanya bisa berdo’a seadanya. Ditambah saat itu aku sakit flu berat, jadi hanya bisa nangis dan sedih, dalam hati aku hanya berdo’a “Ya ALLAH, yang sangat menyayangiku, ijinkan aku kembali kesini dengan cara yang lebih baik.” That’s it….hanya itu akhir dari segala permohonan do’aku pada-NYA. Kini aku hadir kembali di Arafah bersama kedua orang tuaku yang sangat aku cintai, dengan cara yang indah…bersama do’a-do’a yang sejuk dan menentramkan hati. Alhamdulillah….hanya pada ALLAH segala rasa syukur kami panjatkan dan khusus buat ustazah Nurma dan ustad Nugraha, kami ucapkan terima kasih atas bimbingan do’a-do’a nya, hanya ALLAH saja yang bisa memberi ‘balasan’ dalam Rahasia-NYA. Aku juga memanjatkan do’a kepada Ilahi Rabb, permohonan do’a yang dititipkan oleh keluarga, kerabat dan sahabat, semoga do’a yang dipanjatkan di ijabah-NYA, amien…..

Suasana wukuf dalam tenda tekun mendengar kutbah Iedul Adha

Setelah wukuf berakhir, semua jama’ah saling bersalaman dan bermaaf-maafan termasuk aku dan kedua orang tuaku serta semua jama’ah dalam rombongan kami. Menjelang maghrib, kami sudah harus bersiap menuju ke Musdalifah, salah satu tempat di dekat Arafah juga, di mana kami akan mengumpulkan batu-batu kerikil dalam jumlah tertentu (dicadangkan satu orang sebaiknya mengumpulkan 70 batu kerikil) untuk digunakan melempar di Jamarat selama 3x, pada saat jumratul aqobah, Ula dan wustho. Para jama’ah haji laki-laki tetap dalam pakaian ihram mereka, yang hanya menyelempangkan 2 lembar kain untuk atasan dan bawahan tanpa jahitan. Resiko kedinginan pasti ada, tapi kembali ke niat ya…kalau sudah niat ibadah, apapun yang namanya resiko dan rintangan harus dihadapi. Lagi-lagi kita harus antri berbaris menanti bus-bus yang akan memberangkatkan kami ke Musdalifah.

MUSDALIFAH

Musdalifah penuh dg lautan manusia…

Malam itu Musdalifah ibarat lautan manusia yang serba putih…., suatu lahan kosong yang besarnya kurang lebih, 50 Ha persegi…sorry kalau salah hitung, ini kan hanya estimasi/perkiraan ku secara pribadi, bisa juga lebih, tapi herannya seberapa banyak orang masuk kesini tetap bisa tertampung. Lahan yang penuh dengan batu-batu, tapi fasilitas toilet banyak disediakan untuk para jama’ah haji, tentu tetap dengan kode etik…antri!

Aku membimbing orang tuaku dan Nenek Juhe, untuk menempati tempat yang sudah ditetapkan oleh pihak tour agent. Aku menggelar tikar lipat yang sudah kusiapkan. Setelah beliau-beliau duduk manis di tempatnya, aku mulai mengumpulkan batu kerikil. Aku ada cara sederhana yang diajarkan teman, kalau mau mengumpulkan kerikil yang kecil-kecil kadang nggak bisa cepat, sedang waktunya terbatas, jadi aku mengambil batu yang agak besar lalu aku mulai memukulkan ke arah batu yang lebih kecil agar pecah menjadi kerikil-kerikil kecil, hehehe….. jadi cepat kan! Malam itu aku merasa kek jadi tukang batu, hehehe….aku bertugas memecah batu untuk mengumpulkan 210 kerikil (70 x 3 orang) aku dan kedua ortuku, sedang Nenek Juhe malah bisa mengumpulkan sendiri, beliau bisa mencari sendiri juga dibantu oleh jama’ah yang lain, mungkin beliau berpikir aku sudah cukup sibuk mengumpulkan kerikil untuk diriku sendiri dan ortuku.

Jangan kuatir kehabisan kerikil, rasanya berapapun banyak orang yang mengambil kerikil tetap tidak akan habis. Pilihlah kerikil yang kecil berukuran kurang lebih diameter 5 cm, kalau kebesaran bisa berbahaya, kuatir kalau salah sasaran bisa melukai jama’ah haji yang lain, dan kalau kekecilan juga jangan, ntar batunya nggak sampai kesasaran. Inti dari melempar di Jamarat ini, kita melempari setan yang telah menggoda umat manusia, tapi esensi sebenarnya, kita bukan melempari setan dengan batu melainkan kita melempari ‘hawa nafsu jahat’ yang ada pada diri kita agar keluar dari diri kita, kurang lebih begitulah….sehingga kita akan menjadi umat ALLAH yang semakin bertaqwa.

Selain mencari batu kerikil, yang kita lakukan selama 3-4 jam di Musdalifah adalah berdo’a, ada juga yang sholat, bahkan banyak juga yang tidur. Bagiku sendiri, setelah memecah batu, aku sempatkan sedikit berdo’a dan tidur sebentar untuk memulihkan tenaga, karena ba’da sholat subuh kami harus bersiap untuk jumratul Aqobah (melempar batu yang pertama di Jamarat), setelah kami kembali ke Maktab 72 di Mina.

Aku sempat menjumpai sosok ustazah terkenal di Musdalifah ini, yaitu “Mamah Dede”…aku suka banget sama acara da’wah setiap hari Senin – Jum’at mulai pukul 05-06 pagi yang dibawakan Mamah dan A’a (Abdel) di stasiun TV Indosiar. Rupanya Mamaku juga suka dengan beliau, kami sempat mendengar suara speaker TOA bergema memanggil “Ibu Dede’….ibu Dede’…kita siap kembali ke Mina”, aku pikir siapa sih yang dipanggil ini? Tiba-tiba aku melihat sosok yang begitu aku kenal, Mamah Dede, rupanya yang dipanggil ‘Ibu Dede’ itu ternyata Mamah Dede. Hehehe….lagi-lagi ketemu seleb nih.
Rombongan kami beranjak dari Musdalifah sekitar pukul 02.00 dini hari, setelah semua selesai mengumpulkan batu, tentu dengan bus-bus yang lagi…lagi…harus antri untuk menaikinya.

LOST PILGRIM
Aku sengaja mengisahkan ini dalam paragraph tersendiri, mengenai kisah para jama’ah yang tersesat selama ibadah haji ini berlangsung. Kebanyakan yang tersesat ini para jama’ah haji yang sudah sepuh. Apalagi yang berangkat hajinya tanpa didampingi oleh anak-anaknya. Bisa juga jama’ah ini berangkat berdua sama pasangannya tapi mereka berdua juga sudah sama-sama sepuh. Nah…. Disini aku akan sharing kisah dan sedikit tips untuk semua teman, mengenai ‘Lost Pilgrim’ (Jama’ah haji yg tersesat).

Sore hari saat masih di Arafah sepulang aku dari membeli nasi (ba’da Wukuf), aku sempat melihat kerumunan orang, yang mengerubungi seorang ibu tua, yang Nampak kebingungan, “Hm….pasti ibu itu kesasar,” pikirku, yang hanya bisa memandangi selintas, aku nggak ikut merubung, lha…kan sudah banyak yang ngebantu, lagi..lagi…aku bersikap masah bodoh, selagi banyak yang bisa bantu ngapain juga aku ikutan repot. Rupanya…ini ibarat suatu isyarat dari ALLAH buatku, yang sangat halus, yang sebenarnya bisa aku tangkap, tetapi logika berpikirku yang suka menafikannya.

Sebelumnya aku sempat melihat seorang ibu tua yang tersesat di Bandara Jeddah, ibu tua ini asal Indonesia Timur, yang aku ingat beliau satu pesawat denganku dan duduk nggak jauh dariku selama di pesawat, aku pikir ibu ini berangkat dengan rombongannya yang berasal dari suatu daerah di Sulawesi, karena aku satu pesawat dengan rombongan haji dari Sulawesi. Ada petugas haji Indonesia yang sempat bertanya padaku, dan aku menjelaskan bahwa ibu ini sepertinya berasal dari rombongan Sulawesi, parahnya ibu ini tidak bisa bahasa Indonesia, dia hanya bisa bicara bahasa daerah. Beliau tidak memakai atribut atau tanda-tanda yang bisa menjelaskan berasal dari mana, misalnya gelang haji dan kartu-kartu pengenal yang biasa digantungkan, parahnya dia juga sudah mengganti baju ihramnya dengan baju biasa.

Baju ihram jama’ah haji Indonesia cirinya bewarna putih. Nenek tua ini tampak kebingungan dan saat diajak bicara dia hanya diam dan asli nggak mudeng sama yang ngajak ngomong. Aku yang nggak bisa bicara bahasa daerahnya, hanya bisa memandang prihatin. Karena rombongan harus segera naik bus, aku terpaksa melupakan nenek yang tersesat itu, secara logika aku bisa lupa, tapi hati kecilku menyesal kenapa aku nggak bisa membantu walau sedikit. Inilah satu hal kecil yang dicatat oleh Malaikat-NYA, ‘satu rasa penyesalan’ tidak bisa membantu nenek yang tersesat di Jeddah itu, ibaratnya harus kutebus di kemudian hari.

Kembali pada nenek yang tersesat di Arafah, rupanya nenek ini memakai atribut kartu maktab 72, tapi herannya dia tidak bisa menunjukkan di mana kelompoknya dalam maktab 72. Karena keberangkatan ke Musdalifah sudah mulai berlangsung, si Nenek yang tersesat ini ikut dibawa oleh jama’ah haji yang iba padanya untuk naik ke bus. Aku tadinya nggak tahu kalau nenek yang sesat di Arafah ikut dalam rombongan jama’ah haji kami, baru mudeng saat semua jama’ah diminta untuk segera antri naik ke bus untuk meninggalkan Musdalifah menuju kembali ke Mina. Si Nenek tampak duduk di tempat, sendirian, sedang semua rombongan jama’ah haji yang berada di dekatku bergegas menuju ke tempat antrian bus.

Aku yang tadinya mau bersikap cuek kembali, tiba-tiba teringat akan satu rasa penyesalan yang tidak bisa membantu Nenek yang sesat di Bandara Jeddah, kinilah waktunya untuk menebus. Apalagi Mama ikut mensupport aku untuk membantu nenek ini “Coba kau tanya nenek itu darimana?” pinta Mama, di saat yang sempit itulah aku segera mendekati nenek itu, terjadilah dialoq singkat :

“Nenek, namanya siapa?”, tanyaku, “Hasnah”, jawabnya pelan, “Asal nenek darimana?”, “Sulit Air, Padang”, “Nenek dari Kloter berapa dan apa nama bimbingan hajinya?” tanyaku selanjutnya, mulailah dia terlihat bingung menjawabnya, aku melihat kartu maktab 72 yang tergantung di lehernya, aku punya firasat ini kartu sengaja digantungkan ke nenek ini, agar dia bisa terangkut dalam rombongan maktab 72. Usianya sebaya dengan Mamaku. Saat aku tanya apa pihak tour agent faham dengan nenek ini, mereka juga nggak tau. “Nenek ikut rombongan yang dipimpin oleh ibu Nurlela” jawabnya, “Apa nama bimbingan haji yang dipimpin oleh ibu Nurlela?” tanyaku, “Nenek tidak tahu”, jawabnya, waduh….nenek ini asli bingung, dia hanya bisa menyebut namanya, asal daerah dan nama ibu Nurlela, info ini belum cukup mendukung.

Tiba-tiba aku dapat ide, “Nenek ingatkan dengan nomor telpon rumah anak nenek?” biasanya seorang ibu paling ingat nomer telpon rumahnya atau anaknya. “Ingat, nomor telponnya…(bla..bla…)”, aku langsung memencet nomor itu melalui hp ku. Beberapa saat kemudian sudah tersambung ke anak ibu Hasnah, akhirnya aku bisa juga mendapat informasi yang cukup berarti dari anak ibu Hasnah, termasuk nomor telpon ibu Nurlela yang dipakai selama di Mekkah.

Aku jelaskan pada anaknya ibu Hasnah bahwa ibunya tersesat di Arafah sejak pukul 10 pagi (ini informasi didapat dari salah seorang jama’ah haji yang sempat melihat nenek ini sudah terduduk di sekitar maktab kami sejak pukul 10 pagi). Aku nggak bertanya bagaimana beliau bisa tersesat, karena akan membuat dia semakin bingung. Aku meminta anak ibu Hasnah mencatat nomor hp kartu Zain yang kupakai, dan memberi tahukannya pada ibu Nurlela. Aku sudah cukup tenang, minimal aku bisa hubungi nomor telpon ibu Nurlela, untuk mengkhabarinya bahwa ada salah satu jama’ahnya yang tersesat ke Maktab kami. Sempat aku kehabisan pulsa telepon, tapi ada Nisa yang berbaik hati meminjamkan hp nya padaku, trims yaa sobat!

Akhirnya sebelum dijemput oleh kelompoknya, ibu Hasnah ikut serta dengan kami dahulu. Kembali ke Maktab nomor 72 di Mina. Di atas bus banyak jama’ah haji yang turut prihatin dengan keadaan ibu Hasnah yang sudah cukup sepuh itu. Aku bilang sementara belum dijemput, ibu Hasnah akan ikut kami dulu.

Tiba di Mina, aku sampaikan ke ustazah Nurma tentang ibu Hasnah yang sesat di Arafah sampai Musdalifah, untuk sementara diajak ke tenda kami sebelum dijemput oleh ibu Nurlela, rupanya ustazah Nurma kenal sama ibu Nurlela (maklum sesama pembimbing haji tentu faham apalagi sama-sama dari Jakarta), aku menelpon ibu Nurlela dan meminta ustazah Nurma yang berbicara langsung dengannya. Kata ustazah Nurma nanti ada orang yang akan menjemput ibu Hasnah, aku bernafas lega…

Untuk diketahui sebenarnya ibu Hasnah ini berasal dari jama’ah haji regular yang maktabnya berada jauh dari maktab kami, tapi bagaimana caranya koq dia bisa sampai nyasar ya? sudahlah…yang penting dia akan segera bertemu kembali dengan kelompoknya. Firasatku benar bahwa kartu maktab yang tergantung dilehernya sengaja dipakaikan agar dia bisa terangkut ke Musdalifah melalui maktab 72.

Selama menanti dijemput, nenek Hasnah kami ajak mengantri makan dan minum, dia juga meminjam Al Qur’an ku untuk dibaca. Dia tampak sangat bersyukur akan dijemput oleh kelompoknya, dan memaksa aku untuk menerima uang dari kantongnya , sebesar 16 Real (setelah aku hitung), kata beliau untuk mengganti pulsa telepon yang kupakai untuk menghubungi anaknya. Aku menolak uang itu dan meminta dia memasukkan kembali ke kantongnya, tapi dia tetap memaksa, akhirnya aku terima, dalam hati aku berniat, uang ini akan aku sedekahkan pada orang yang berhak atas nama ibu Hasnah. Saat dijemput oleh salah seorang jama’ah dari kelompoknya pada pukul 16.00 sore, aku sedang tidak berada di tenda, kalau nggak salah saat itu aku sedang antri untuk berwudhu. Alhamdulillah…satu Lost Pilgrim sudah teratasi.

Ibu Hasnah sedang mengaji dalam tenda di Mina, sebelum dijemput oleh jama'ah dalam rombongannya

Malam hari berikutnya (Jum’at 27 Nov) secara tidak sengaja aku kembali berjumpa dengan Lost Pilgrim berikutnya, seorang ibu yang masih agak muda, usia sekitar 40 tahun, saat aku tanya dari maktab berapa dia bilang dari maktab nomor 67, hmm….koq bisa nyasar ke sini ya, ibu ini memakai atribut lengkap sambil membawa tas warna coklat yang kalau aku perhatikan ini sepertinya dari jama’ah regular.

Aku bertanya dari kloter daerah mana ibu itu menjawab dari Surabaya, lantas aku coba bertanya apa nama bimbingan haji yang diikutinya, siapa tahu ustazah Nurma mengenal pimpinannya, lalu si ibu menjawab pertanyaanku dengan bahasa Jawa yang agak asing…kalau dialek jawa timuran mungkin aku masih sedikit faham, tapi koq mirip dialek Madura ya…hehehehe….akhirnya aku cari Mutawwif yang bisa ngomong Madura, barulah jelas ternyata ibu ini terbawa kedalam rombongan bus maktab nomor 72, haiyaaaa….ada-adanya aja.

Sebelumnya aku minta tolong ustazah Nurma untuk bertanya sama panitia haji setempat (orang Saudi) sambil menunjukkan kartu maktab dari ibu yang tersesat ini, ternyata maktabnya cukup jauh dari kami. Selanjutnya Ibu ini diantar oleh mutawwif untuk kembali ke Maktabnya, Alhamdulillah….., sempat ustazah Nurma bicara sambil bercanda “Dhe…sepertinya kamu ditakdirkan ketemu sama jama’ah yang tersesat ya..”, hehehehe…..aku hanya bisa ketawa menanggapinya.

Oya…aku baru ingat, pagi hari jum’at (masih 27 Nov) setelah pulang dari jumratul aqobah, aku yang menuntun Papaku, merasa ada seorang kakek yang berjalan mengiringi Papaku, aku tanya “Papa, kenal dengan bapak yang berjalan di samping Papa?”, “Tidak ‘Dhe…tapi dia sudah mengikuti Papa dari tadi”, jawab Papa. Lantas aku bertanya dengan kakek yang ada di samping Papa “Pak, asal kloter mana?”, “Kloter 60, asal Garut”, kakek ini memakai atribut tas kecil yang berisi data lengkap dari kelompok mana beliau berasal. Rupanya ada jama’ah haji dari kelompok kami yang tahu dimana maktab 60 berada, akhirnya si kakek diantar ke maktabnya. Alhamdulillah…..

Ada sedikit kejadian lucu, ada seorang nenek yang berasal dari Sulawesi yang berangkat haji bareng anak laki-lakinya, tersesat selama 3 jam, muter-muter di antara tenda-tenda di Maktab 72, jadi seperti main petak umpet, anaknya jalan ke arah mana, ibunya muter ke arah mana. Aku sempat melihat nenek itu kebingungan berjalan muter-muter di sekitar tenda kami, aku sempat ingat bahwa nenek ini satu pesawat juga denganku, lantas aku sempat amankan nenek ini sementara dekat tenda kami, tak lama kemudia anak laki-lakinya muncul, sambil agak sedikit ngedumel…gara-gara kebingungan nyari ibunya, hehehehe…..”Makanya jangan ke Toilet sendirian”, terdengar si anak bicara dengan ibunya, aku hanya memandang lega…Alhamdulillah…

Di kemudian hari saat Papaku sempat tersesat 2x sepulang dari Masjid Nabawi, ALLAH mengutus hamba-hambanya yang baik hati untuk mengantarkan Papaku ke maktab kami di Hotel Dayar Taiba. Buat pak dr. Ibrahim dari Surabaya dan seorang bapak dari Bogor (duh Papa lupa namanya!), terimakasih ya…sudah mengantar Papaku kembali dengan selamat. Kenapa Papaku koq bisa nyasar, apa aku nggak mendampingi Papaku? Khusus di Nabawi, tempat sholat laki-laki dan perempuan itu terpisah tempat, aku sudah minta Papa menungguku di tempat yang telah disepakati tapi ternyata Papa salah tangkap maksudku, diminta menunggu dimana eh…Papa menunggu di tempat lain.

Karena pandangan mata Papa yang 30% itulah yang membuat beliau bisa nyasar ke jalan yang berbeda, menurut Papaku, semua yang dilihatnya terlihat putih. Padahal aku minta Papa untuk selalu mengingat nomor pintu masjid Nabawi, yang biasa kami lalui yaitu nomor 34. Hal ini penting diingat, agar kita bisa membuat starting point darimana kita mulai berjalan. Alhamdulillah….hanya ini yang selalu aku ucapkan…

Sedikit tips dariku buat para jama’ah yang sudah sepuh:
1. Jangan pernah meninggalkan maktab tanpa identitas haji yang lengkap (gelang & kartu)
2. Harap mengantongi kartu nama hotel dimana jama’ah menginap
3. Mencatat nomor telpon yang bisa dihubungi kalau bisa ini selalu dikantongi dalam tas
4. Jika nggak bisa berbahasa Indonesia, hanya bahasa daerah, diminta untuk tetap tenang dan menyebut kloter daerah asalnya, sambil menunjukkan kartu identitas hajinya.

Cukup sampai sini dulu yaaa part 4 nya….harap sabaar untuk menunggu part selanjutnya…

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.