Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

My Spiritual Journey, menjadi tamu Allah (part 5)

Tuesday, 29 December 2009

Viewed 1568 times, 1 times today | 10 Comments |

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

 

MINA – Jamarat
Setelah tiba kembali di Mina dari Musdalifah, kami istirahat dulu di tenda, waah….capek rasanya kalau mau langsung melempar batu ‘Jumratul Aqobah’ di Jamarat. Mama dan Nenek Juhe, nggak sanggup untuk melontar, jadi aku dan Papa berbagi tugas. Ketentuan yang diperbolehkan bahwa satu jama’ah bisa melontar untuk dirinya sendiri dan mewakili satu jama’ah lainnya dengan alasan yang bersangkutan berhalangan melontar karena uzur atau sakit. Papa mewakili Mama, sedang aku mewakili Nenek Juhe.

Saat subuh hari menjelang jumratul aqobah di Mina

Kami bersama rombongan berangkat ke Jamarat ba’da sholat subuh, suasana di jalan sudah cukup ramai, karena semua orang ingin segera melepas kain/pakaian ihramnya jika sudah melempar batu pada jumratul aqobah di Jamarat, bisa langsung Tahalul (memotong sedikit rambut di kepala, bagi bapak-bapak kebanyakan minta dibotakin sekalian, kalau yang perempuan hanya potong sedikit ujung rambut sebagai syarat Tahalul, sembari digunting rambutnya, ada do’a yang mengiringinya).

Kami berjalan cukup cepat, karena semakin siang nanti jama’ah haji dari Negara-negara lainnya juga pada turun ke Jamarat, kuatir jalanan bisa padat merayap…hehehe kek istilah info lalu lintas di RCTI. Aku membimbing Papa berjalan, beliau terlihat bersemangat, padahal ke Jamarat, kami harus berjalan sekitar 2 KM, cukup jauh kan? Tapi Papa biasa jalan santai tiap pagi kalau di Tanah Air, sehingga jalan di subuh hari malah membuat dia makin bersemangat. Kini Jamarat sudah 4 lantai, wah…enak kelihatannya, tidak crowded dan rusuh seperti saat masih satu lantai. Bagaimana aku ingat dulu, kepala Hubby-ku sempat berdarah ‘terkena’ sambitan batu jama’ah yang tidak sengaja malah melayang ke kepala hubby ku..hiks…kasihan.

Tiba di Jamarat, Papa langsung mau melontar mendekati Jumratul Aqobah, aku cepat-cepat tarik Papa, yang ada Papa malah ngomel sama aku, tapi aku ngotot menahan Papaku, “Papa, lihat itu ada rombongan jama’ah haji dari China, banyak banget lagi. Aku ngeri kalau Papa berdiri di dekat mereka bisa segera ditabrak tanpa ampun, syukur Papa berhasil aku tahan, walau beliau masih ngedumel “lihat itu jama’ah yang lain sudah pada melontar” protes Papa padaku, “Pa…sabar, kita juga bisa melontar setelah rombongan haji dari China itu berlalu, kita juga nggak akan ditinggal rombongan, lihat aja nanti” jawabku menenangkan beliau.

Kenapa aku meminta Papa bersabar menunggu, karena aku nggak ingin kepala Papa terkena sambitan batu dari jama’ah yang pada ‘heboh’ melempari ‘setan’ di Jamarat, hiii…pokoke ngeri deh kalo melihat ekspresi muka jama’ah yang sedang melontar, jika yang biasa ‘kalem’ biasanya lebih santai gayanya, beda kalau yang ‘ekspresif’ waah…gayanya kek ‘Wartawan Irak nimpuk G.Bush pake sepatu’ hihihihi….

Kami berdua kan harus 2x melontar, lontaran yang pertama kita niatkan untuk diri kita sendiri (bagi yang hajinya untuk ba’dal haji ‘seseorang tertentu’ harus memakai niat atas nama yang bersangkutan) sebanyak 7x berturut-turut melontar batunya sambil mengucap bisa pelan bisa juga teriak “Bismillahi Allahu’akbar”…mati-mati deh itu setan! Semoga bisa meminimalisir ‘setan’ yang ada dalam diri manusia, amien. Lontaran kedua kami niatkan untuk jama’ah yang berhalangan karena ‘uzur’ , makanya melontarnya nggak boleh buru-buru harus ‘tenang’.

Untuk lontaran kedua ini, kami sedikit mundur 1-2 langkah ke belakang, lalu baru melontar sebanyak 7x berturut-turut, mundurnya langkah kaki ini sekedar untuk membedakan bahwa kami sedang mewakili jama’ah yang berhalangan. Satu orang hanya bisa mewakili satu jama’ah. Kalau jama’ah yang nggak bawa keluarga, bisa minta tolong jama’ah lain mewakilinya, kalau yang ikhlas mah…syukur banget, tapi bisa juga dengan ‘membayar’ uang sekitar 20 Real untuk 1x melontar (tentu dengan 7x lemparan batu). Sssttt….kalau aku nggak pasang tariff lho…hehehe cukuplah ALLAH yang selalu ‘menyayangiku’. Melontar di Jamarat, dilakukan 3 hari berturut-turut, Mamaku hanya sempat 1x ikut melontar, yang 2x nya diwakili oleh Papa dan aku. Sedang Nenek Juhe, 2x melontar, 1x diwakili olehku.

Ada beberapa jama'ah Indonesia, yang sempat-sempatnya berfoto dan mengabadikan dengan handycam saat batu-batuan pada berterbangan di Jamarat, aku tersenyum geli…hebat pikirku. Aku aja nggak berani ambil resiko digital camera dan handycam ku pecah karena tersambit batu, hehehe….sayang sama gadget ku judulnya.

Papa bersama Ustazah Nurma dan Ustad Nugraha dari Yayasan An-Nurmania – Jakarta

Ba’da melontar jumratul Aqobah, kami langsung Tahalul. Aku dan Papa sempat kehilangan jejak dan sedikit salah arah, saat mau keluar dari Jamarat, sebelumnya aku dan Papa nebeng tahalul sama jama’ah haji Indonesia dari kelompok yang berbeda, nggak tau darimana, pokoke dari Indonesia, kebetulan mereka bawa gunting rambut. Hehehe…jadi numpang sedikit aja minta dipotong rambut kami, kalau Papaku sama jama’ah laki-laki sedang aku di gunting sama jama’ah perempuan. Setelah tahalul, baru ketemu sama rombongan kami yang sebenarnya, lalu langsung ikut berdo’a, sebelum meninggalkan Jamarat. Kini kami semua bebas dari Ihram, bisa mandi pakai sabun deh…

Perjalanan pulang pergi antara Jamarat dan maktab 72, lumayan melelahkan, untuk itu sebaiknya kita menyiapkan air mineral, biar bisa membasahi kerongkongan yang kering, walaupun di sepanjang jalan ada kran-kran air yang bisa airnya bisa langsung di minum, hanya….koq nggak ‘mampu’ mau menenggaknya, abis kebanyakan jama’ah haji langsung menyorongkan mulutnya ke arah kran, hiiii…. Mau??? (gayanya kek ‘iklan provider selular 3’ hehehe).

Terowongan Mina

Terowongan di Mina

Kami melalui ‘Terowongan Mina’ yang duluuuu banget (kalo nggak salah tahun 1989) sempat ‘makan korban ratusan jiwa’ jama’ah haji Indonesia, karena meninggal terinjak-injak, gara-gara bertabrakan arah dengan jama’ah haji negeri Timur Tengah yang badannya gede-gede. Sejak kejadian itu, dibuatlah 2 terowongan untuk 2 jalur yang terpisah, arus masuk dan arus keluar, Alhamdulillah…sejak itu ‘jama’ah haji’ yang meninggal karena melontar bisa dikurangi.

Masalah terowongan selesai, timbul masalah lain lagi, pada tahun 2005, saat hubby dan aku berhaji, ada kejadian ratusan jama’ah haji meninggal terinjak-injak juga gara-gara rebutan melontar di Jamarat pada waktu yang bersamaan (mau mengambil waktu afdol, katanya), waah…jujur aja, kami yang sedang di Mina malah nggak tau kalau ada kejadian ini, baru tahu nya saat baca sms dari keluarga yang di tanah air, menanyakan nasib kami apakah baik-baik saja, sewaktu aku telpon ke Papa yang ada aku malah diomelin karena nggak nelpon ke rumah ortuku segera, lha…aku kan nggak tahu…saat itu aku kan nggak punya ‘PDA atau BB’ yang bisa connect internet kek sekarang, gimana mau tahu berita…semua TV dan Koran, tulisannya arab gundul semua!!! Hehehe….. Papa bilang “Dhe…gara-gara berita banyak jama’ah haji meninggal di Jamarat, Mamamu nggak bisa tidur seharian karena mikirin nasib kamu berdua!” Oalah…..gitu ya…aku minta maaf sama Mama dan Papaku, habis…ra mudeng je!

Mau masuk ke Terowongan Mina, diambil saat mau pulang ke maktab

Terowongan Mina panjangnya ada sekitar 500m, menembus gunung batu yang keras, dengan diameter seluas kurang lebih 10m, lagi-lagi ini perkiraanku lho…(kalo mau detail tanya mang Google aja deh!).

Lampu-lampu menerangi sepanjang terowongan berikut dengan ‘blower exhaust’ (penyaring udara yang mirip kipas angin raksasa) yang bunyinya bergemuruh….kalau bicara di sini harus rada teriak dikit, kalo pelan alamat…..nyaris tak terdengar! Kek iklan mobil Panther…hehehe…. Berjalan dalam terowongan ini gak boleh ‘alon-alon asal kelakon’ harus rada pasang ‘speed kenceng’ dikit, kalo jalan alon-alon bisa keinjak orang kakimu, paling banyak ditemukan sandal yang tercecer hanya sebelah, pasti ini lagi jalan kaki satunya keinjak…hehehe….saranku saat melontar “Pakailah sepatu sandal, jangan sandal ya…! ntar pulang bisa nyeker…gara-gara pakai sandal Cuma sebelah!

Gubuk-gubuk diatas bukit…pakai zoom masih nggak jelas, hehehe

Ada pemandangan yang menarik mataku juga, di atas bukit yang dibawahnya dibelah untuk terowongan, bermukim warga setempat yang membuat bangunan seadanya, jadi inget rumah-rumah triplek para pemulung yang biasa berdiri di bantaran kali Ciliwung, bedanya di sini bukan di tepi sungai tapi di tepi jurang bukit berbatu…hiiii bener-bener ngeri dan butuh nyali untuk bermukim di atas sana.


Don’t Block the Roads

Don't block the roads, tinggal semboyan aja, nyatanya masih banyak tenda-tenda yang mem-block jalan, halah….

Inilah semboyan yang paling banyak ditemui di Mina, “Jangan menghalangi jalan !!!” tapi yang ada justru masih aja banyak jama’ah haji dari berbagai suku bangsa yang cuek bebek ‘Pasang tenda-tenda’ di tengah jalan maupun di pinggir jalan, sepertinya ini jama’ah haji ‘Mandiri’ dari berbagai Negara, yang nggak ikut rombongan besar, hanya perorangan atau satu keluarga, yang berhaji dengan caranya sendiri, maksudnya nggak pakai biaya yang besar. Biasanya mereka ini juga nyambi sebagai pedagang ‘Kagetan’ selama 3 hari berturut-turut, berhaji sambil cari uang judulnya, sah-sah aja sih…yang nggak sah dan haram itu kalo “MALING” !

Kartun2 haji

Aku juga sekedar mengingatkan bahwa harus berhati-hati membawa tas tangan atau dompet, karena ‘Pencopet’ ada juga yang berkeliaran di seputar Jamarat, yang nggak terduga mereka ini berpakaian sama seperti jama’ah haji juga, bahkan ada yang perempuan cantik pula! Nenek Juhe..hampir aja jadi korban saat beliau ditempel oleh seorang perempuan berwajah Timur Tengah yang cantik, tapi perempuan cantik ini tampak mau meraih tas yang dipegang Nenek Juhe, karena aku sedang memegang Mamaku, Nenek Juhe aku titipkan ke temanku, nah..temanku inilah “Uni Upik” yang langsung menepis perempuan pencopet itu…haiyaaa cakep-cakep koq nyopet seeh…!

Pengemis yang banyak ditemui di Mina

Trus kalau mau kasih uang sedekah buat para pengemis yang banyak ditemui di jalan, harus…sudah menyiapkan uang satu real-an di kantong jangan mengeluarkan dompet! Karena ada seorang jama’ah muda usia yang berniat sedekah dengan mengeluarkan dompet dari tasnya yang ada dompetnya langsung diambil secepat kilat langsung dibawa kabur, huuuuaaaaaaa……nangis Bombay deh!!!

Aku sempat merasa heran dan sedikit jengkel saat kami harus berjalan sedikit memutar karena di tengah-tengah jalan dipasang tenda, yang orang-orang di dalamnya pada tidur dan duduk dengan cueknya seakan gak peduli sama pedestrian, EGP…. Mungkin dalam pikirannya, mereka malah ada yang asyik ngopi, ngeteh dan makan, ada juga yang sedang sholat.

Ini dia nih….tenda2 yang mem-block jalan, mana pada cuek bebek lagi, sebodo teuing pikir mereka, alih2 kita yg jadi pada ngalah! jalan sambil mepet2.

Wah…nggak kebayang deh gimana sibuknya pemerintah Saudi mengurus jama’ah haji yang berjuta orang ini dengan beragam cara dan kebiasaan yang berbeda satu sama lain! Hanya satu kata buat pemerintah Saudi, HEBAT…!!! Walau ada plus minus menurutku ini mah…biasa banget…! Tapi Raja Saudi, King Abdullah…bener-bener aware sama para jama’ah haji, banyak fasilitas-fasilitas baru dibuat semata-mata untuk mempermudah dan memberi kenyamanan buat para jama’ah haji dari seluruh dunia untuk melaksanakan ibadah haji, ya…jama’ah haji ini kan Tamu ALLAH, sedang Raja Saudi sebagai pemegang ‘Amanat’ 2 kunci Rumah ALLAH, harus memberikan pelayanan yang terbaik buat semua Tamu ALLAH ini…istilahnya “Khadimat Haramain”, (Jadi Raja adalah pelayan ALLAH untuk melayani semua Tamu ALLAH)…Subhanallah…Maha Suci ALLAH…dengan segala sabda-NYA.

Pasar Kaget Mina

Dibeli2….hayo mampir, murah2 hamsa real!!! hehehe….5 real maksudnya!

Jangan heran kalau selama kita berada di Mina, akan menemukan jalan-jalan di penuhi dengan para pedagang dari beragam suku bangsa yang tumplek blek di sini bahkan Onta hias juga ikut-ikutan mojok deket jalan buat teman berfoto dengan tarif 5 real sekali foto.

Sudah kujelaskan di atas, bahwa para pedagang ini ada sebagian juga sekalian ikut berhaji, tapi ada juga sih yang memang pedagang tulen, yang jelas-jelas mencari keuntungan dari para jama’ah haji yang hobby berbelanja, nomor satu tentu Jama’ah haji dari Indonesia ya…hahahaha….bener lho! Aku sampai geleng-geleng kepala, saat melihat beberapa ibu-ibu yang setenda denganku sudah pada berbelanja di hari pertama saat kami tiba di Mina, bahkan sampai beli tas-tas tambahan buat menampung barang belanjaannya.

Onta Hias yang ikut menuh-menuhin jalan!

Perlu aku informasikan, barang-barang yang dijual di sini memang kadang lebih murah dari di Mekkah dan Madinah, maklum yang berjualan sebagian juga para jama’ah haji yang mau dapat uang tambahan buat pulang kembali ke kampung halamannya, jadi mereka nggak terlalu ambil untung besar, untung sedikit tapi barang dagangan habis terjual sudah senang hati.

Bagiku belanja di Mina saat ini sangat tidak mungkin, lha…masa’ aku mau bawa tas tambahan sedang aku sendiri harus bawa-bawa tas ortuku! Tapi…hihihi…teteup belanja seeh walooo sedikit! Yiaaaah ngaku juga akhirnya! Gimana nggak terpengaruh jalan-jalan di hari terakhir di Mina, melihat yang lain sudah beli ini itu, jadi ‘tergoda’ deh… akhirnya aku membeli beberapa potong jilbab turkey …cukup itu aja, kan bisa disisipkan dalam tasku.

Barang-barang yang dijual disini aneka macam rupa, dari pakaian, obat-obatan (termasuk obat ‘kuat’ dan penambah kesuburan hihihi), tasbih, kaligrafi, batu cincin dan aneka perhiasan imitasi (untuk yang satu ini jadi ingat sentra batu akik dekat Pasar Jatinegara..yang jualannya juga bagus-bagus ) dan beragam cindera mata bisa ditemui di sini.

Khusus di Mina ini, sepertinya pihak Trantib (Polisi trantib ada juga lho di Mekkah dan Madinah) lebih memberi kelonggaran buat para pedagang menggelar dagangannya sesuka mereka. Baik para pedagang dan pembelinya sama hebooh nya, hehehehe…. Saling tawar menawar itu biasa terdengar di sini, apalagi para ibu-ibu, rasanya nggak afdol banget belanja kalo nggak nawar, kalo beli banyak sih nggak apa-apa bisa enak nawarnya dan biasanya dikasih oleh si pedagang harga yang kita tawar ini, yang repot kalo beli cuma satu trus nawarnya nyelimet pula bisa di katain “Indonesia Pelit !” hahahaha….

Giliran aku yang suka ‘sebel’ saat sudah ambil banyak tapi masih nggak dikasih discount ujung-ujungnya aku suka ngomong “Ente bakhil !” hahahaha….. biasanya mereka ketawa..akhirnya mereka bilang “Halas…halas…” artinya sudah..sudah…ambil deh sono! Nah…aku biasanya suka tanya “Ikhlas ???” , kalau mereka bilang Ya…atau mengangguk kan kepalanya, berarti dia sudah setuju dan ikhlas, kan transaksi jual beli itu harus ikhlas lho.., langsung aku ucapkan “Syukron…” sambil menyerahkan lembaran Real ku.

Aku perhatikan ibu-ibu banyak yang belanja ‘baju-baju abaya/ghamis’ selama di Mina, warnanya banyak yang hitam, jarang banget yang putih…atau bisa juga bermotif bunga-bunga kecil, kalau dilihat dari kualitas bahan dan jahitan, sebenarnya ‘kalah jauh’ dari buatan ‘Tasik’ apalagi sulaman ‘Bukit Tinggi’, hanya ini kan belinya di Mina, Mekkah gitu lho….dalam suasana haji pula, jadi ngambil berkah ‘haji’nya. Aku nggak yakin apa kalau sudah sampai di Indonesia baju itu akan terus dipakai, hehehe….pengalaman pribadi 4 tahun yang lalu, baju-baju yang dibeli di Mekkah, akhirnya hanya terlipat rapih dalam lemari.

Rasanya aneh aja pakai baju abaya warna hitam di Indonesia yang cuacanya terik, tambah gerah rasanya, hehehe… saranku mending nggak usah belanja baju banyak-banyak, kalau teteup mau beli cukup satu aja koq, baju-baju buatan Tanah Abang teteup is the best dalam pandanganku, baik dari segi kualitas maupun harga yang terjangkau. Orang-orang Afrika aja banyak yang belanja di Tanah Abang trus buat dijual lagi barang belanjaannya di Negara masing-masing. Kata orang, apa sih yang ‘nggak ada di Tanah Abang, semuanya ada…bahkan model-model sajadah yang katanya di jual di Mall dan Toko yang bergengsi di Mekkah dan Madinah, ada juga di T.A. dengan harga yang gak jauh berbeda, malah lebih murah koq, hehehe….tapi semua kembali ke like or dislike…tergantung saku masing-masing judulnya!

Ketemu Teman SMP
Musim haji kali ini, ada satu kejadian lucu…dimana aku sempat bertemu dengan salah satu teman SMP 14, yaitu Winda…, pertemuan pertama terjadi saat aku sedang berjalan di antara tenda-tenda di Mina, sebelum wukuf di Arafah, Winda saat itu sedang antri mengambil makan siang, “Winda..” “Adhe..” hihihihi…kami sedikit hebooh nyebut nama masing-masing…padahal di Tanah air susah banget ketemunya, tapi kami nggak sempat ngomong banyak. Karena aku tau Winda harus segera mengambil makan siangnya.

Ber2 Winda

Pertemuan kedua terjadi saat aku sedang antri Toilet ,di Arafah, teteup hanya tegur sapa selintas, Winda memberi tahu posisi letak tendanya agar aku mudah menemuinya, sorry ya Winda aku nggak sempat main ke tendamu, soalnya aku nggak sempat…kamu tahu kan sebabnya. Sayangnya dari dua pertemuan ini aku dan Winda nggak sempat foto bareng, ntar kalau cerita ke teman disangkain guyon ato becanda hehehe….tapi pada pertemuan ketiga, lagi-lagi saat antri toilet di Mina, kebetulan aku membawa pocket camera…Jadilah bisa foto berdua Winda.

Pop Mie
Kalau mau ditanya makanan apa yang jadi idola selama berada di Mina, salah satu jawabnya adalah Pop Mie, yuup….rasanya enak banget makan Pop Mie di sini, padahal kalo di Tanah Air…lha boro-boro mau makan Pop Mie, mau belinya aja malas…padahal harganya separoh dari harga di Mekkah. Di Mina, Pop Mie dibagikan secara gratis ke para jama’ah. Tapi herannya aku koq merasa nggak kebagian, aku muter-muter cari Pop Mie gratisan tapi teteup gak nemu, giliran bertanya sama jama’ah yang lagi bawa Pop Mie untuk diseduh dengan air panas, dapat darimana Pop Mie nya, jawabnya..”Beli di toko hanya 5 real!” yeee….orang mau yang gratisan koq disuruh beli!

Aku hanya ngebathin kapan yaaa nemu Pop Mie gratisan??? Jawabnya ternyata nggak lama, di hari terakhir di Mina, sore itu…saat aku berjalan menuju tendaku, aku melihat sekardus Pop Mie yang sudah terbuka teronggok di depan tenda, hmm….kalau sudah terbuka kardus ini berarti “halal” untuk diambil dunk! Hehehe….aku ambil 4 Pop Mie, buat aku, ortu dan nenek.

Alhamdulillah…dapat juga, aku langsung kembali masuk ke tenda, sejurus kemudian aku keluar tenda lagi, aku menemukan kardus pop mie itu sudah kosong melompong! Hehehehehe……untung cepet ngambil kalo telat…alamat gak kebagian judulnya!
Malamnya…di tenda kami, baru ada pembagian Pop Mie. Yaah….udah mau pulang ke Mekkah baru dibagi…hehehe…

Alhamdulillah…selalu bersyukur! Dari pada nggak dibagi sama sekali hayooo…

Share This Post

Posted by Tuesday, 29 December 2009 on 00:07.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

10 Responses to “My Spiritual Journey, menjadi tamu Allah (part 5)”

  1. 10
    Bagong Julianto Says:

    Adhe>>>

    Selalu bersyukur….. kebagian bersyukur, gak kebagianpun bersyukur juga……. Adhem tenan!….. Semoga Mabrur……

  2. 9
    Gandalf the Grey Says:

    mbak Adhe, malah saya yg harus berterima kasih lho, sekalian pengakuan dari part 1 sampe 5 ini yg upload selalu si JC atau mbak Sopsapi, saya tinggal duduk manis menikmati tulisan luar biasa ini…

  3. 8
    Adhe Says:

    @Pak Gunawan, trimakasih atas apresiasinya terhadap liputan sederhana ini, mudah-mudahan tidak membosankan ya…kalau mau membaca part-part selanjutnya.

    @De Nevergiveup, amieen….trims do’a mu, Alhamdulillah…syukur yang tak putus terucap dan hanya satu yang membuat aku yakin semua bisa diraih termasuk pergi ke Tanah Suci ini, ‘ALLAH sangat menyayangiku’, Camkan 1 hal ini selalu…karena ALLAH akan selalu sesuai dengan persangkaan umatNYA.

    @Mba Alexa, thanks ya….seneng dengar mba bisa merasa mengikuti perjalanan haji ini, aku juga suka dengan tulisan mba yang seru dan inspiratif, semoga mba dan hubby bisa berhaji secepatnya, amien….

    @JC……bro matur nuwun saget juga…lha panjenengan telaten bantu posting tulisanku ini, seandainya ada hikmah yang bisa dipetik, syukur Alhamdulillah…

    @Mba Tammy, thanks ya….masih ada part2 lainnya, sabar aja ya….teteup stay in Baltyra ya.. Hehehe.

    @Mba Dewi, thanks ya….tulisan ini hanya berkisah hal2 sederhana yg aku lalui selama berhaji, syukurlah…ternyata cukup menarik ya..hehehe.

    @Den Mas Kemplu, hehehehe…..kek na aku cocok jadi model Pop Mie khusus adegannya lagi makan Pop Mie di Tanah Suci….hehehe ada2 aja!

    @Khusus buat My dear Sophie……maafkan aku ya…hiks…ntar janji aku ketemuan sama kamu. Makasih selalu buatmu.

    @Gandalf….thanks bro… hanya itu yg bisa kusampaikan.

  4. 7
    Sumonggo Says:

    Serasa ikut dengan journey-nya Mbak Adhe, lho kok jadi promosi Pop Mie, ha ha ……

  5. 6
    Dewi Aichi Says:

    mba Adhe memang canggih menuturkan kalimat demi kalimat seakan-akan kita benar-benar di Mekah. Makasih mba.., eh ada pengemis juga ya ternyata..

  6. 5
    Tammy Says:

    Adhe: ceritanya detail banget. Asyik dibaca, jadinya kita tau gimana sih pengalaman naik haji.

  7. 4
    J C Says:

    Senada dengan Pak Gun, sungguh banyak pelajaran hidup yang dapat dipetik dari mengikuti spiritual journey Mbak Adhe ini…matur nuwun!

  8. 3
    alexa Says:

    Baca tulisannya Adhe seperti aku berjalan sendiri kesana…ngerasa seru. Saat ini baru bisa Umroh aja dan jelas enggak pake acara berdesakan gitu. Semoga menjadi Haji yang Mabrur, De

  9. 2
    nevergiveupyo Says:

    mengikuti perjalanan uni adhe (ini gmn uni koq adhe??..hehe..) rasa2nya sy cukup mendapat banyak pengetahuan dan pemahaman baru..
    semoga ibadahnya mabrur ya..

    yg tetap ga terbayang sih gmn perasaannya krn telah berhasil menuntaskan salah satu rukun itu.. bisa berulang pula.. waow!

  10. 1
    Gunawan Says:

    Dear Adhe, terima kasih atas liputannya. Saya sendiri bukan Islam tapi banyak hal belajar dari artikel ini mengenai perjalanan mengunjungi tanah suci Mekah dan tata caranya beribadah, serta suka dukanya bersama dengan jutaan orang dari negara lain.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)