Sinar Bunda

Sumonggo – Sleman

Sinar untuk bunda, sinar untuk dunia

Para pembaca Baltyra yang berbahagia, sebelumnya saya ucapkan selamat merayakan Hari Natal bagi para pembaca yang merayakannya, semoga kedamaian menyelimuti kita semua. Masih dalam suasana ini, saya ingin menulis yang adem-adem saja. Monggo.

Mungkin ada dari kita yang sudah jenuh dengan sinetron, sebal dengan infotainment, dan malas dengan berita hiruk pikuk antar pengurus negeri. Sinetron airmata kejar tayang yang dipenuhi wajah bengong dan latihan melotot mungkin membuat kita sudah lama malas melirik televisi. Begitu pula infotainment, yang embuh apa kontribusinya pada akal sehat kita. Tapi mohon jangan lewatkan berita ini.

Bisa jadi di antara anda ada yang sudah melihat liputan ini, tapi silakan menyimaknya sekali lagi:

Dapat pula dilihat lengkapnya pada situs berita liputan enam:

http://berita.liputan6.com/sosbud/200911/252923/Penuh.Kasih.Bocah.Itu.Mengurus.Ibunya

Seusai melihatnya, tak apa bila terasa tenggorokan serak dan mata mulai berkaca-kaca, itu tandanya nurani masih bekerja.

Anak sekecil itu, sudah menjadi pelindung dan perawat ibunya. Jangan ditanya waktu untuk bermain layaknya teman-teman seusianya, untuk belajar dan ke sekolah pun kadang mesti dikorbankan. Tak ada kesempatan untuk merengek minta dibelikan mainan ini itu. Tak bisa merajuk untuk minta dibelikan tas bergambar Naruto atau boneka SpongeBob. Hanya kasih di antara anak dan bunda yang menerangi rumah itu.

Ada iba dan ada geram. Timbul pertanyaan, kemana sang ayah berada. Mungkin belitan kemiskinan akut yang memaksanya merantau. Ada sebuah potret ironi, saat terlihat poster-poster parpol sisa kampanye lalu masih tertempel di dinding rumah Sinar. Kemana gerangan mereka para pemilik poster tersebut? Begitu sudah diliput media, semua datang berombongan.

Baiklah, kita kembali saja ke Sinar. Sinar bukan hanya sinar untuk bunda tapi juga untuk dunia. Baktinya pada ibunda, telah menerangi hati kita, menyadarkan kita betapa bersukurnya kita seharusnya. Pelajaran bagi yang dianugerahi hidup berkecukupan
untuk tak abai merawat orang tua.

Terakhir, ada kabar baik karena mengalirnya perhatian untuk keluarga Sinar, dan juga kabar buruk:

http://berita.liputan6.com/daerah/200912/256122/Berkah.Natal.untuk.Keluarga.Sinar

Prihatin, karena diduga masih ada saja yang beritikad untuk menyelewengkan bantuan. Seperti kerap disebut, masyarakat kita cenderung pelupa. Banjir bantuan sesaat, kemudian paceklik bantuan bulan berikutnya. Semoga niat baik para dermawan ini bisa berkelanjutan, dan tentunya disampaikan dengan lebih bijak. Dan tidak sampai menimbulkan kecemburuan dengan lingkungan sekitar yang selama ini telah membantu. Semoga tidak pula menghilangkan kepedulian dan inisiatif lokal yang telah ada.

Mungkin ada baiknya disalurkan lewat lembaga sosial yang kredibel, akuntabel, dan memiliki akses langsung, sehingga bantuan tetap tepat sasaran dan tepat bentuk. Sempat terpikir, adakah Sinar Sinar lain di sekitar kita, bagaimanakah keadaan mereka?

Sebagai penutup, saya mengajak untuk mengingat lagu yang mungkin dulu pernah diajarkan kepada kita waktu kecil? Perkenankan saya mengubah sedikit syairnya.

Kasih ibu sepanjang jalan, bakti Sinar juga sepanjang jalan
Bagai sang surya menerangi dunia

Nuwun.

23 Comments to "Sinar Bunda"

  1. reagia  28 October, 2012 at 15:40

    sinar terang menyinari wajah malaikat kecil yang bgitu cinta kpd ibunya, mngkin bnyak dari kita yg memiliki kecukupn berlbih, bhkan tdk prnah menyakan kbar orang tuanya.,.
    smga allah swt membrikan sinar yang cerah untk sinar-sinar d luar sna.
    dan smga para anggota politik terhormat sadar akan ini

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.