Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Lesson for Life in My Family

Wednesday, 30 December 2009

Viewed 2042 times, 1 times today | 114 Comments |
Alexa – Jakarta
Ibu Kuliah Lagi
Saat aku memasuki bangku kelas 3 SMP, Ibu memutuskan untuk mengambil kuliah S1 ilmu Perpustakaan di Fakultas Sastra UI – Bapak sih mendukung aja. Dampaknya bagi kami anak-anaknya adalah semangat belajar makin membumbung tinggi, aku dan mbak selalu menempati ranking 3 besar di sekolah. Entah kenapa waktu itu saking besarnya ambisiku untuk selalu berada pada Top 3 maka aku suka nangis jika ada nilaiku yang kurang dari 8 dan itu kulakukan didepan umum lho, dari SD sampai SMA begitu.
Teman-teman kuliah Ibu ya orang-orang tua juga (biasanya mereka dikirim kantor), sering mereka belajar bareng di rumah (bergantian rumah) selain itu jika liburan maka mbak dan aku juga diajak ke kampus beliau. Di antara 5 bersaudara memang yang paling sering dibawa-bawa tuh kami berdua, sedangkan 3 adik kami lebih sering di rumah saja dengan dua mbak pembantu. Kedua pembantu itu dibawa langsung dari Jawa. Si Mbak Preh adalah janda yang anaknya meninggal karena busung lapar, di Jogja mbak Preh bekerja sebagai pembantu di rumah Mucikari, Ibu mengambil Mbak Preh tepat saat Mbak Preh-pun akan dikaryakan oleh si Mami. Pembantu yang lain bernama Mbak Nem diambil Bapak dari kampungnya yang berada di kaki Gunung, masih sangat lugu bahkan saat datangpun Mbak Nem tidak pakai celana dalam – jadi Ibu langsung membelikan CD.
Konco Wingking juga Belajar
Mbak Nem orangnya mau belajar dan cerdas jadi Ibu mengirim Mbak Nem kursus menjahit di Singer yang ada di perempatan Harmoni. Setelah kursusnya khatam, Mbak Nem terima jahitan dari ibu-ibu kompleks dan dikerjakannya tiap malam. Mbak Nem kelak menjadi entrepreneur yang berhasil, ketiga anaknya bersekolah di Trisakti dan mengambil jurusan Disain Grafis serta Ekonomi (anaknya bahkan se-angkatan dengan putra klienku yang seorang jenderal ternama). Sebenarnya Mbak Preh juga dikirim kursus ke Singer tapi kapasitas berpikirnya enggak sampai sehingga akhirnya drop out.
Sebagai wanita muda – para pembantuku itu jadi kembang di kompleks. Suatu hari Mbak Nem pulang dari acara Malmingnya menangis menghadap ortu-ku. Dia diajak ketemu dengan keluarga pacarnya dan disana terkuak fakta bahwa pacarnya yang supir di Bulog ternyata duda cerai, lha Bapak heran kenapa juga pakai nangis. Mbak Nem berkilah dirinya adalah perawan tingting yang gak pernah mimpi menikah dengan duda – cerai pula. Bapa dan Ibu menasehati bahwa dapat duda juga gak papa toh sudah resmi cerai. Akhirnya setelah 9 tahun bekerja pada keluarga kami, Mbak Nem menikah dengan duda Bulog itu.
Mbak Preh sendiri bener-bener janda centil, gonta-ganti pacar terus mana dia agresif banget sama lelaki. Akibatnya malah gak ada pria yang serius memacarinya, everything just for fun. Sampai suatu hari dia punya pacar seorang pekerja di pangkalan bus malam yang ada dekat kompleks rumah kami, kelihatannya nih lelaki serius karena hubungan mereka sudah berjalan berbulan-bulan. Suatu Sabtu mereka pergi untuk malam mingguan n guess what sodara-sodara, dia pulang jam 5.00 pagi!!! Aku yang masih ABG waktu itu dengan takjub melapor pada Ibu dan yang lebih menakjubkan lagi adalah reaksi Ibu-ku, “Ben wae, ben meteng sekalian-mengko rak dikawin tho.”…..Bujubune, ibuku begitu progresif? Tapi mbak Preh ternyata tidak hamil sesuai harapan Ibu dan malah dia putus dengan pacarnya itu.
Aku Mulai Kuliah
Tahun berlalu dan tibalah saatnya aku masuk Perguruan Tinggi – sebagai anak yang ngefans dengan Bapaknya aku dari dulu menaruh minat pada jurusan Tehnik Kimia. Maka untuk pilihan IPA teknik kimia menjadi pilihanku sedangkan pilihan IPS aku hanya memilih jurusan Hukum UI. Ibu dan Bapak sibuk bikin perhitungan dan berdasarkan saran mereka aku juga mendaftar ke Perguruan Tinggi Swasta – di Jakarta bahkan hingga Tehnik Kimia di UPN Jogja diantar Bapak.
Penerimaan di PTS lebih cepat dan ortu-pun sudah membayar Uang Pangkal, saat keluar pengumuman kalau aku diterima di FHUI dan kuputuskan untuk mengambil pilihan itu. Bapak langsung mengajakku ke kantornya dan menanyakan keseriusan minatku ke FHUI seraya menegaskan bahwa bagi Bapak tidak penting UI-nya asal anaknya belajar sesuai minatnya.  Akupun menjawab bahwa aku akan menekuni studiku di FHUI. Ya udah, kata Bapak- sekarang urus tuh uang pangkal yang sudah dibayar di PTS, ntar semua boleh buat kamu. Jhiah, bakalan kaya dong aku sebab waktu itu PTS masih mau mengembalikan uang yang sudah kita bayar sepanjang kita pindahnya ke PTN – dengan dipotong sebesar 10%.
Di antara Dung-Dung dan Rok Mini
Masuk UI benar-benar menyenangkan-selain diajar oleh dosen-dosen yang namanya bertebaran di surat kabar, pilihan kegiatannya ekskul-nya banyak banget. Aku bersama dua sahabat memutuskan untuk ambil Marching Band (namanya Madah Bahana UI) dan secara insidental ikut kegiatan Masjid. Di Marching Band aku main saxophone, lama-lama gak kalah sama Dave Koz deh. Habis latihan MB biasanya kita masih ngeriung di taman kampus main orkes kamar (beberapa alat tiup saja), beberapa teman saking addicted bermain musik malah jadi sering ngamen dari café ke café. Gara-gara MB juga aku bisa melanglang buana – Singapore, Eropa dan Pasadena. Semua tanpa passport cuman berbekal selembar surat perjalanan laksana paspor yang diteken langsung Pak Harto (Presiden RI waktu itu).
Di lain pihak aku juga mulai belajar agama dengan lebih serius, nah beberapa kegiatan keagamaan mengharuskan aku memakai kerudung …ya kupakai lha si Dung-Dung itu. Kadang-kadang pada hari yang sama, aku punya dua kegiatan yakni menghadiri acara di mesjid tapi berikutnya ada pentas Marching Band dengan baju kebesarannya yang kadang-kadang merupakan rok mini. Nah dengan cueknya kami bisa lho berganti di mesjid dari dung-dung terus pakai seragam pentas MB yang ber-rok mini. Demikian juga sebaliknya, abis pakai rok mini ganti berdung-dung. Buat kakak-kakak MB, kelakuan kami ini dianggap angin lalu saja tapi kakak-kakak di Mesjid cuman bisa geleng-geleng kepala sembari bernyanyi, “Ingin kerudung silahkan, ingin mini silahkan…asal jangan kau habiskan nasiku, oooo ye. Aku sabar menunggu, sampe hilang sesatmu”…hahaha.
Di kampus pula aku sudah mulai bisa cari duit dengan menjadi petugas jaga untuk beberapa lomba nasional seperti panahan, atletik bahkan PON…belum lagi jaga UMPTN -gak tau deh banyak banget kakak-kakak yang memiliki link ke dunia itu.
Bayangan yang Jadi kenyataan
Sebagai imbalannya yah kita kudu bantu-bantu kegiatan kampus seperti kalau ada ceramah umum, walaupun kita sebenarnya enggak ikutan organisasi kampus gitu. Sampai suatu hari akan ada kuliah umum yang disampaikan seorang politikus ternama. Pagi itu seperti biasa aku berangkat ke kampus naik bus kota dan bus cukup kosong sehingga aku mendapat tempat duduk tepat di belakang Pengemudi.
Entah kenapa tiba-tiba tampil di depan mataku gambar-gambar seperti menonton film dengan adegan Bapak-ku meninggal dunia dan prosesi pemakaman yang berjalan. Gambar itu begitu nyata sehingga menyentuh ke lubuk hati terdalam dan membuatku mencucurkan airmata. Airmata terus mengalir tanpa henti hingga Pak Supir beberapa kali mencuri pandang menatapku…entah apa yang dipikirkannya. Akhirnya begitu sampai kampus, aku menelpon ke kantor Bapak….beliau baik-baik aja.
Selama beraktifitas itu aku rasanya tidak tenang – kegiatan berjalan hingga sore hari dan di telpon umum pada pk.15.30 kutelpon ke rumah. Bapak sudah pulang dan masih tidur siang, kusuruh Mbak Preh masuk kamarnya dan memastikan beliau masih bernafas. Setelah Mbak Preh memastikan baru kututup telpon. Kata Mbak Preh – Bapak mendusin dan saat tahu telponku itu beliau cuman mesem sambil bilang anak yang aneh.
Tepat masuk Maghrib aku sampai di depan pagar rumah, kulihat tetangga sibuk mengeluarkan kursi dari dalam rumah dan seorang bapak bahkan memegang bendera kuning….aku langsung pingsan. Ternyata benar, Bapak dipanggil menghadap Yang Kuasa.

Share This Post

Posted by Wednesday, 30 December 2009 on 00:06.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

114 Responses to “Lesson for Life in My Family”

Pages: [12] 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 … 1 »

  1. 114
    alexa Says:

    Wah gara2 sibuk ngurusin Suami Baru sampe gak ndelok sing iki:
    Lani: lha iyo tho kuwi foto q…kinyis2 tho. Saiki konyos2? Halah JC…lambe abang mangar2 kuwi zonder Nginang lho, nguawor tenan.

  2. 113
    Lani Says:

    JC : wah, kowe malah lbh ahli dlm dunia perkeliran yo……nek kakehan nginang jare nggarahi bengoren???? XA, bener to dugaan buto???? kowe kakehan nginang xixix

  3. 112
    J C Says:

    Kelir DIOR gak segitu mangar-mangarnya…aku curiga itu akibat NGINANG…

  4. 111
    Lani Says:

    XA : jd itu fotomu to yg pakai jaket kuning di artikel ini????????? wah, imutzzzzzzzzz………rak kethok blassssss saiki wes iso dandan sampai lambene abang menger2…..HOT banget, pakai lipstick DIOR kkkkkkkk….

    dl innocent saiki pastine konyos2…….saking panase heheheh

Pages: [12] 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 … 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)