Memotret kembang api

Gandalf the Grey

Biasanya menjelang pergantian tahun ada banyak pertunjukan kembang api dan tentu banyak yang mencoba mengabadikannya dalam lensa / foto. Secara prinsip sih sebenarnya gampang caranya: ambil kamera, arahkan ke kembang api dan jepret, selesai, gampang kan? tapi kalau mau mencoba mengatur setting kamera agar mendapat foto yang (moga-moga) bagus silakan mencoba beberapa petunjuk di bawah ini.

Sedikit kabur tanpa tripod… (ISO 400, f16, 2s)

Untuk kamera saku sederhana:
1. Gunakan tripod, yang murahpun bisa atau gunakan apa saja yang bisa jadi penahan kamera agar tidak ada getaran sedikitpun, jika tidak ada tripod bisa juga kamera ditaruh di tembok, pagar, kotak surat, bahkan tempat sampah (paling kamera anda sedikit bau… tapi kan tidak mempengaruhi hasil jepretan). Bisa juga dipegang tangan tapi lengan bersandar ke tembok dan tahan napas agar tidak goyang. Sebenarnya jika hanya dipegang tangan begitu saja hasilnya masih mungkin lumayan bagus seperti beberapa contoh terlampir dimana kembang api terlihat cukup bagus tapi latar belakang kabur karena getaran.

Goyang parah tanpa tripod tapi kembang api masih lumayan… (ISO 400, f22, 2.5s)

2. Set mode pemotretan ke Night Scene atau jika ada mode Fireworks lebih baik lagi (tergantung jenis kamera anda). Jika ada mode Manual silahkan lihat cara untuk kamera semi pro dan DSLR.

3. Matikan flash karena jelas tidak berguna dan hanya menghabiskan batere saja. Kalau ada mode Night Scene atau Fireworks biasanya flash otomatis sudah tidak bekerja.

4. Matikan fasilitas preview hasil foto setiap selesai satu jepretan, karena hal ini bisa mengganggu dan mengurangi kecepatan memotret kembang api berikutnya. Tidak perlu tiap kali sehabis menjepret lalu mengamati hasilnya karena akan menyebabkan ketinggalan kembang api berikutnya, karena biasanya pertunjukan kembang api terbatas sangat waktunya.

5. Tekan tombol shutter dengan lembut
dan tanpa menimbulkan getaran pada kamera, untuk mengurangi resiko getaran bisa juga menggunakan self timer, tapi biasanya menunggu self timer malah beresiko terlambat dan keburu habis kembang apinya.

6. Arahkan ke posisi di mana kembang api kira-kira akan meledak dan jepretlah sebanyak mungkin dan secepat mungkin selama memory card mampu menerima (toh hasil foto yang tidak bagus tinggal dihapus saja). Lalu berharaplah semoga beruntung karena biasanya timing kapan kembang api tepat mulai meledak dan kapan saat tepat untuk menekan shutter kamera susah ditentukan. Petunjuk : kalau menunggu terdengar suara ledakan baru menekan shutter itu pasti sudah terlambat karena kecepatan suara jauh lebih lambat dari kecepatan cahaya, jadi saat suara ledakan terdengar pasti kembang apinya sudah selesai meledak, jadi jangan menunggu terdengar suara ledakan tapi pelototin saja langitnya.

Bola api berbintang… (ISO 400, f16, 2.5s)

7. Perhatikan juga faktor-faktor lainnya, misalnya posisi dan arah angin karena asap sisa ledakan bisa menutupi kembang api berikutnya, juga kalau ada kabut atau awan mendung.

Awas asap… (ISO 100, f8, 2.5s)

Untuk kamera semi pro dan DSLR silakan di-set ke mode manual:

1. Set fokus secara manual ke jarak terjauh (infinity), karena biasanya pada kondisi gelap sistem auto fokus kamera akan kesulitan menemukan fokus yang tepat jadi lebih gampang di-set pada fokus terjauh. Dan lagi lebih baik memotret kembang api dari jauh karena pada jarak terlalu dekat sudut pengambilan jadi kurang bagus, terlalu mendongak ke atas.

2. Set ISO serendah mungkin untuk menghindari noise, untuk kamera saku biasanya ISO 200 sudah mulai ada noise jadi usahakan ISO 100 atau malah kurang. Beberapa kamera pada mode night scene malah otomatis memilih ISO tinggi untuk mendapat pencahayaan yang lebih baik tapi hasilnya noise tinggi. Untuk kamera DSLR tentu bisa menggunakan ISO berapa saja yang noisenya tidak mengganggu.

3. Set shutter speed untuk beberapa detik (2 – 10) tergantung besar kecilnya kembang api atau kalau ada mode B (Bulb) juga boleh ber-eksperiment, coba-coba saja disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat itu.

4. Set bukaan apperture sekecil mungkin untuk mengurangi over exposure karena dengan shutter speed beberapa detik biasanya cahaya kembang api akan terlalu terang. Untuk kamera saku biasanya apperture minimum di f8 sedang untuk DSLR bisa lebih kecil lagi misalnya f11 atau bahkan f22.

5. Jika ada, gunakan remote release
untuk mengurangi goyangan pada kamera, biarpun kamera sudah dipasang di atas tripod tapi tetap saja ada resiko terjadi goyang pada saat tombol shutter ditekan.

6. Jika hasil foto masih terlalu terang / over exposure coba di-edit untuk membuat agak gelap dengan mengatur level/brightness/contrast.

Selamat mencoba…

Bintang kembar… (ISO 100, f8, 3.2s)

 

Multi bintang… (ISO 100, f8, 4s)


Ruaaame… (ISO 100, f8, 3.2s)

.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.