56 Etnis Suku di China : The Jinos

Sophie Mou

Suku Etnis The Jinos berjumlah 20.899 tinggal di Jinoluoke Township di Jinghong County, Prefektur Otonomi Dai Xishuangbanna, Provinsi Yunnan.

Bahasa etnis minoritas ini berasal dari sub Myanmese Tibet – termasuk dalam kelompok bahasa China-Tibet. Struktur dan kosa kata memiliki banyak persamaan dengan Yi dan Myanmese.

Jinoluoke adalah daerah pegunungan yang membentang sepanjang 70 kilometer dari timur ke barat dan 50 kilometer dari utara ke selatan. Dengan iklim subtropical, banyak curah hujan, suhu berkisar rata-rata 18 sampai 20 derajat. Musim hujan berlangsung dari Mei hingga September dengan bulan Juli dan Agustus mempunyai curah hujan yang terbesar. Sisanya adalah musim kemarau.

Tanah The Jinos banyak dilalui oleh persilangan sungai, yang terpanjang adalah Pani dan yang terkecil adalah Sungai Hitam kecil. Tanaman utama adalah tanaman yang hidup di dataran tinggi dan sawah serta jagung.

Salah satu teh yang terkenal di dunia yaitu Pu’er tumbuh di Pegunungan Jino. Jinoluoke juga terkenal dalam penanaman kapas yang tumbuh dan berlimpah, serta buah2an tropis seperti pisang dan pepaya. Jinoluoke juga kaya akan sumber daya mineral. Hutan yang lebat merupakan rumah bagi Gajah dan Kerbau liar purba dan habitat bagi burung enggang dan monyet.

Sejarah

The Jinos diketahui berimigarsi ke Jinoluoke dari daerah Pu’er dan Mojiang, ada yang lebih jauh dari utara. Mereka masih hidup dalam masyarakat matriarkal ketika mereka pertama kali menetap di sekitar Gunung Jino.

Legenda mengatakan bahwa pemukim pertama di lereng gunung adalah seorang janda dengan nama Jiezhuo. Dia melahirkan tujuh anak laki-laki dan tujuh perempuan yang kemudian menikah satu sama lain.  Ketika populasi berkembang, keluarga besar dibagi menjadi dua kelompok hidup dalam beberapa desa, atau lebih tepatnya dua klan. Salah satunya disebut Citong, patriarkal desa, dan yang lain Manfeng, matriarkal desa. Dengan berlalunya waktu, penduduk Jino berkembang berlipat dan The Jinos membentuk lebih banyak desa-desa.

Kebanyakan Jinos adalah petani. Pada tahun 1949 mereka masih bertani dan membuka lahan tanah pertanian dengan metode tebang dan bakar, tidak tahu bagaimana cara yang baik untuk bertani dan membuat irigasi untuk mengairi tanaman mereka.

The Jinos adalah pemburu yang tangguh. Ketika kaum pria pergi berburu, mereka membawa di bahu busur dengan panah beracun atau senapan tembak. Mereka juga ahli dalam penggunaan perangkap untuk menangkap binatang liar. Mereka berburu dalam kelompok dan berbagi secara merata hasil buruan di antara para peserta. Sementara laki-laki berburu, kaum wanita mengumpulkan buah-buahan liar di hutan. Juga tanaman obat2an yang digunakan untuk membuat sup.

Nenek moyang awal dari Jinos, dipersatukan oleh ikatan kerabat di dalam keluarga besar, mereka telah ada sejak jaman kuno dan berdiam di Pegunungan Jizhuo. Tetapi struktur sosial Jinos telah berubah pada 1949.

Kehidupan sosial masyarakat tidak lagi dihubungkan oleh klan yang sedarah setelah munculnya desa komunal di mana orang-orang dari klan yang berbeda hidup bersama. Batas-batas desa ditandai dengan kayu atau batu di mana pedang dan tombak diukir.

Tanah-tanah adalah properti milik komunal desa, dan masing-masing desa itu dihuni oleh sekurang-kurangnya dua klan yang anggota-anggotanya boleh menikah satu sama lain. Dua tetua dipilih untuk mengurus sistem administrasi desa serta ritus kurban dan produksi pangan. Setiap desa mempunyai kehidupan mandiri dan dunia tersendiri.

The Jinos sangat mementingkan arti persatuan dan berbagi. Para pemburu biasanya akan membawa daging binatang liar dan dibagi sama rata di antara semua orang dewasa dan anak kecil di dalam desa. Walaupun hanya sepotong daging rusa kecil, tetap mereka potong kecil2 dan dibagi di antara semua penduduk desa, termasuk yang baru lahir. The Jinos menyimpan bahan pangan dan biji2an di gudang jerami tanpa pernah khawatir akan dicuri. 

Zhuoba (ayah desa) dan Zhuose (ibu desa) adalah pemimpin di sebuah desa komunal. Menjadi orang tertua di desa, mereka dihormati oleh semua. Mereka menjadi pemimpin desa berdasarkan senioritas mereka, bukan karena mereka berani dalam perang atau fasih dalam berbicara. Tak peduli bagaimana mereka yang mungkin hanya biasa-biasa saja, tidak perduli apakah mereka buta atau tuli, mereka tetap harus bertindak sebagai tetua desa selama mereka adalah orang-orang tertua di masyarakat. Setelah kematian mereka, keesokan harinya adalah tugas orang tertua dalam klan yang sama akan dipilih sebagai penerusnya.

Para tetua itu fungsinya sebagai yang dipilih dalam menjalankan ritual keagamaan dan upacara2 tradisi Suku Jino. Sebagai contoh, upacara menabur tahunan hanya bisa dimulai setelah para tetua memotong hewan yang dikorbankan dan dipersembahkan kepada roh-roh, dan pada suatu upacara di mana para tua-tua adalah yang pertama menaruh beberapa benih di tanah, setelah itu warga desa baru bisa mulai menabur dalam skala besar. Para tetua juga menetapkan tanggal untuk hari libur. Pemukulan gendang yang besar dan gong di tua-tua 'rumah sebagai pengantar dimulainya tahun baru, dan semua penduduk desa, muda dan tua, akan bergegas mengunjungi rumah para penatua' untuk menyanyi dan menari.

Budaya

The Jinos tinggal di rumah-rumah bambu yang dibangun di atas panggung di puncak bukit datar. Para pria biasanya memakai baju putih dengan kerah putih atau biru dan celana terbuat dari rami atau katun. Sebelum masa kemerdekaan China, kebanyakan rambut pria mereka dibagi menjadi tiga bagian. 

Kaum wanita, sesuai dengan peraturan, lebih suka memakai pakaian multi-warna dan dihias dengan bordir di kerah gaun dan rok pendek hitam. Ada juga yang memakai rok panjang. Mereka juga membuat kumparan rambut di atas dahi, dan meyelempangkan dibahu mereka topi rami dengan bentuk kerucut.

Baik pria maupun wanita berjalan bertelanjang kaki, dan mempunyai batang bambu atau kayu yang dicolokkan ke dalam lubang telinganya. Mereka yang memiliki lubang besar di telinga mereka dianggap paling indah. Jinos membawa barang-barang di keranjang yang diikatkan di punggung dengan tali terikat pada dahi mereka.

The Jinos menganut aliran monogami. Kehidupan mereka lebih terbuka dibanding suku lainnya. Sebelum menikah calon mempelai wanita dan calon pengantin pria diperbolehkan untuk berhubungan badan. Di beberapa desa, dibangun rumah-rumah khusus laki-laki dan wanita muda yang belum menikah untuk melewatkan malam bersama. Tapi begitu menikah, seorang wanita harus tetap setia pada suami sepanjang hidup. Perceraian sangat jarang terjadi.

Setiap desa umumnya mempunyai pemakaman tersendiri, mayat akan di letakkan di dalam peti mati yang dipahat dari kayu. Barang-barang pribadi seperti pakaian kerja , peralatan dan pakaian sehari hari, dan panci tembaga perak untuk beberapa orang kaya, akan ikut dimakamkan. Di atas kuburan, dibuat pondok kecil beratap jerami dengan meja-meja dari bambu untuk tempat bagi para keluarga yang mati, untuk menyediakan makanan kepada jiwa pergi selama satu sampai tiga tahun.

The Jinos adalah penganut aliran animisme, yang percaya bahwa segala sesuatu di bumi menpunyai jiwa. Penyembahan leluhur adalah yang terpenting. Ketika terjadi kekeringan atau sesuatu yang tak diinginkan terjadi, seorang dukun dikirim untuk berdoa dan membunuh korban lembu, babi atau anjing untuk dipersembahkan kepada roh. Dukun juga mengobati penyakit dengan obat-obatan herbal.

The Jinos belajar menyanyi ketika masih sangat muda. Mereka pandai membuat improvisasi puisi dan menjadikannya ke melodi yang menyenangkan. Ada banyak festival dalam Suku Jino. Yang terbesar adalah pada Hari Tahun Baru pada bulan Maret dan dirayakan pada tanggal yang berbeda di desa yang berbeda.

Mereka memuja "Naga Besar" dan "Naga Kecil", yang dimaksudkan untuk menyingkirkan bencana dan berdoa menghasilkan panen yang baik. Setiap Festival ini diadakan setiap tahun di pasca panen, di mana semua Jinos berkumpul .

The Iron Forging Festival, adalah festival Jinos paling penting, diadakan selama tiga hari dalam bulan kedua belas penanggalan lunar. Pada hari pertama mereka menari dengan diiringi drum yang dibuat dari kulit  lembu jantan, yang disebut Sun Drum. Orang-orang mengharapkan Dewa akan memberkati mereka dengan nasib baik dan membawa panen yang baik.

Pada usia 15 tahun, pemuda pemudi Jinos menghadiri Upacara Dewasa. Orangtua memberikan anak-anak mereka pakaian, dekorasi dan alat-alat untuk orang dewasa, gadis mengubah gaya rambut mereka,  para tetua memimpin orang-orang dalam menyanyikan epos,  mengajarkan tata krama. Sejak saat itu, mereka melakukan kewajiban yang sama seperti orangtua mereka dan diperbolehkan menikah.

Makanan

Makanan khas The Jinos  adalah Duosheng yang dimasak  pada perayaan atau festival, yaitu campuran daging mentah dengan garam, cabai, jahe, mint, daun bawang dan bumbu lainnya, diremas dengan tangan sampai daging menjadi putih seperti dimasak, dan siap untuk dimakan.

The Jinos biasanya menggantung daging dekat perapian di rumah, di mana daging diasap sehingga menjadi semacam ham yang dapat disimpan dalam waktu lama. Irisan daging mereka dipotong untuk memasak sup yang lezat.

Hidangan yang paling favorit dari Jinos adalah ikan asin. Ikan segar dibuang tulangnya dan dibersihkan, dicampur dengan cabai, garam , dan dimasukkan ke dalam tabung bambu, yang tertutup rapat oleh daun pisang.

Telur semut juga merupakan makanan bergizi favorit dari Jinos. Pada bulan Maret, April dan Mei, mereka memotong sarang semut. Dari yang besar, mereka mungkin mendapat 7 atau 8 Jin (1 jin = 500 g) telur semut. Kemudian mereka memasukan dalam sebuah keranjang bambu. Telur semut  kaya nutrisi, dan dapat direbus, digoreng, dikukus, dipanggang di atas perapian, atau dimasak menjadi sup dengan garam dan cabai.

The Jinos sering mengkonsumsi ubi cina, rebung, dan berbagai jamur. Makanan yang umum dimakan biasanya juga jenis sayuran yang ditanam di kebun, dan binatang liar serta unggas.

Makanan Jinos umumnya ditumbuk, hingga ada yang mengatakan The Hans menggoreng makanan, The Dais mencelupkan makanan ke dalam bumbu, sementara The Jinos menumbuk makanan. Setiap keluarga umumnya memiliki dua tumbukan kayu, satu untuk garam dan cabe, satu lagi untuk menumbuk makanan.

The Jinos kebanyakan suka minum minuman keras. Ada pepatah yang mengatakan bahwa The Jinos tidak dapat bertahan hidup setiap hari tanpa minuman keras. Minuman keras ini kebanyakan buatan rumah yang dibuat dari beras atau jagung. Dalam proses pembuatan minuman keras, beberapa tanaman, seperti daun plum, biasanya ditambahkan, yang membuat minuman menjadi berwarna hijau muda, dengan bau yang menyenangkan seperti bau tanaman alami. Minuman ini dikatakan bermanfaat bagi limpa dan tubuh.

Beberapa kaum perempuan The Jinos dari desa Mao’e dan Jiama memiliki kebiasaan memakan sejenis tanah liat lokal. Beberapa wanita tua bahkan mempunyai unsur kecanduan, dan akan merasa sakit tanpa makan tanah setiap hari. Penelitian menunjukkan bahwa ada jenis tanah liat yang mengandung sejumlah kecil unsur-unsur yang diperlukan tubuh manusia, seperti tembaga, besi, kalsium dan seng.

Pasca China bersatu

Perubahan mulai terjadi dalam kehidupan Jinos pada 1954 ketika tim yang dikirim oleh pemerintah tiba untuk pertama kalinya. Mereka membawa persediaan makanan dan membantu masyarakat setempat untuk meningkatkan produksi. Setelah mendapatkan izin dari tetua desa, mereka membantu Jinos melakukan reformasi demokrasi untuk mengakhiri ketinggalan, yang telah membuat kehidupan mereka mundur selama berabad-abad.

Sebelumnya, untuk menanam beras di dataran tinggi, pohon2 ditebang dan dibakar untuk membuka lahan pertanian. Saat ini tanaman ditanam di pematang sawah, dan hasil yang didapatkan lebih dari berlipat lipat . Padi diairi oleh air dengan mengunakan pompa listrik. Pelayanan dukun dalam doa tidak lagi dibutuhkan, juga  menyembelih binatang, untuk menenangkan roh-roh jahat di masa kekeringan.

Waduk kecil dan instalasi pembangkit tenaga listrik telah dibangun, dan lampu listrik telah menggantikan minyak kerlap-kerlip lampu-lampu yang digunakan The Jinos. Peralatan tumbuk kayu yang sebelumnya digunakan untuk menumbuk padi tidak diperlukan lagi dengan adanya peralatan penggilingan modern yang mengunakan listrik.

Pada tahun 1981 ada 14 sekolah dasar dan sekolah menengah, dan telah terdaftar murid sebanyak 1.600 di daerah pegunungan di mana kebanyakan orang dulu buta huruf. Sekarang The Jinos banyak yang sudah menjadi mahasiswa, memiliki penguruan tinggi dan tenaga pengajar dari Suku Jino.

Hal lain yang paling disukai The Jinos adalah munculnya jaringan perdagangan toko yang menawarkan alat pertanian, pakaian, makanan, garam. Kehidupan modern telah menjadi bagian dari The Jinos.

Reference :

travelguidechina.com

china.org.shaosuminchu

Sumber-sumber lain Etnis Minoritas di China

Picture of Jinos by Chen Hai Wen

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.