My Spiritual Journey, menjadi tamu Allah (part 6)

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

Selamat Tahun Baru 2010, semoga berkah-NYA selalu mendampingi kita sepanjang tahun ini, amien….

Lanjut ke kisah ku….

Pulang ke Mekkah

Setelah melontar di hari ke 3, pada tanggal 29 Nov ’09, rombongan kami memutuskan untuk segera pulang ke Mekkah, para jama’ah juga sudah pada nggak sabar mau pulang, karena rukun hajinya sudah terpenuhi, yaitu melontar di Jamarat. Alasan lainnya, kalau ditanya pasti jawaban para jama’ah sama, “Mandi !” , untuk urusan yang satu ini, mungkin nggak semua jama’ah bisa mandi dengan tenang dan nyaman di antara gedoran pintu dan ocehan jama’ah yang tidak sabar karena jadi lama mengantri karena tandas nya dipakai buat mandi. Aku sempat mandi satu kali, itupun asal ‘mandi bebek’, gimana mau mandi dengan tenang, kuatir ada jama’ah kalap…lagi mandi tau-tau pintu tandas didobrak, waaah…bisa kacau. Mengapa hal ini aku kuatirkan, karena aku pernah melihat kejadian nyata saat temanku lagi mandi, tiba-tiba ada jama’ah yang sudah kebelet mendobrak pintu tandas.

Bukan hanya urusan mandi, mencuci pakaian yang melekat di badan juga jadi hal penting, rasanya gerah aja kalau lihat banyak pakaian kotor yang tidak tercuci. Tapi bagi sebagian jama’ah yang lain, mencuci pakaian selama di Mina merupakan hal yang biasa, dengan santai mereka menggantung ‘underwear’ nya di tali plastic yang dililitkan di tiang atau paku yang tertancap didinding tandas, malah ada yang berani menggantung cucian baju dan underwear  di besi penyangga ‘Pondok Minuman’. Aku hanya senyam senyum melihatnya, aku dan ortuku asli nggak nyuci baju selama di Mina. Nanti aja kalau sudah tiba di Mekkah.

Kepulangan ke Mekkah, membuat semua jama’ah jadi kembali sibuk berkemas-kemas. Termasuk aku, rasanya ingin nggak ada tentengan, misalnya punya porter yang siap membawakan semua barang-barang kita, hehehe…ketahuan kalo selama ini aku biasa dilayani, kini aku yang harus melayani. Jadi aku merapikan semua barang-barang bawaan, aku susun rapih di pintu keluar dekat tempat mengantri bus. Aku nggak khawatir kehilangan, lha…siapa lagi yang mau iseng ambil barang-barang nggak penting milik jama’ah, kecuali tas/dompet uang ya… Urusan beres-beresin tas koper dan tas tentengan akan menjadi  hal yang cukup memerlukan ‘kesigapan dan kecekatan’ selama berhaji ini, nanti aku akan tulis khusus di part terakhir.

Panitia haji menyampaikan pengumuman bahwa bus-bus akan menjemput kami pada pukul 11.00 siang, yang ada para jama’ah sudah rapih berdiri dalam posisi berjajar dengan tas tentengan masing-masing sejak pukul 9.00 pagi, bener-bener semua terkondisi ‘siaga satu’, …. Mungkin sudah terpola dalam memory pikiran, untuk selalu antri dan kalau tidak cepat antri alamat ‘tidak kebagian’ ! Padahal tidak ada yang ‘tidak kebagian’, mungkin ada jama’ah merasa kuatir ‘tidak mendapat yang layak’ jika tidak cepat-cepat mengantri. Wajar siih….jika melihat yang antri begitu banyak mau nggak mau membuat kita jadi ikut-ikutan antri juga. Jama’ah haji yang sudah sepuh tampak kepanasan berdiri, tapi teteup sabar mengantri. Hebaaat…. Kalau semua pada hobby antri kek gini, bakal aman deh…pembagian paket sembako gratis atau zakat maal, bisa berjalan lancar tidak perlu sampai makan korban, seperti kejadian yang pernah muncul di TV dan Koran.

Saat pulang ini, lagi-lagi…aku sempat terpisah bus dengan papaku, aku sibuk ngurusin tas-tas serta Mama dan nenek Juhe. Sedang papaku sempat tidak terlihat, waah…jadi kepikiran kalau papa tertinggal di Mina, aku sibuk menelfon ke teman-teman sesama jama’ah haji juga mutawwif untuk memastikan papaku tidak kersesat.  Aku merasa tenang saat menelfon Mba Geni,  tahu papaku satu bus dengan dia dan suaminya, Pak Wahono, pasangan yang baik hati ini, benar-benar sudah sering bantuin Papa dan Mama. Terimakasih ya..Mba  Geny dan mas Wahono sudah banyak membantu kami.

Perjalanan ke Mekkah cukup lancar, kami bisa terhindar dari macet, kalau mau tahu kenapa kami harus keluar dari Mina sebelum pukul 12 siang, karena lewat dari pukul 12, dikhawatirkan jalanan akan macet, semua jama’ah haji akan berbondong-bondong ke Mekkah, untuk segera melaksanakan tawwaf Ifadah, salah satu rukun haji yang terakhir dilaksanakan. Pernah ada kejadian rombongan jama’ah, terjebak macet sampai 10 jam, untuk menghindari kejadian serupa terulang kembali, diupayakan melontar ke jamarat di hari terakhir  ba’da subuh, walau ada sebagian jama’ah memilih melontar yang ke 3 ini di waktu afdol (mengikuti waktunya Rasulullah) yaitu pada pukul 11 siang, nah….jadi tahu kan alasannya, kenapa harus keluar dari Mina, sebelum pukul 12, karena sebagian besar jama’ah dari berbagai Negara, pada siap keluar bersamaan pada waktu ini.

Masalah waktu afdol atau tidak, janganlah dipermasalahkan, yang penting kita telah memenuhi rukun haji.  ALLAH selalu memberi kemudahan buat umatNYA untuk melaksanakan ibadah, yang salah itu kalau nggak memenuhi rukun haji.  Jangan kuatir soal waktu melontar ini, karena sudah disepakati antar Majelis Ulama dari seluruh dunia dengan Majelis Ulama Saudi Arabia, agar semua jama’ah haji bisa beribadah sesuai rukun haji, tertib, lancar dan selamat. Perlu diingat, salah satu factor kerusuhan saat melontar di Mina ini, karena banyak ditemui jama’ah haji yang berkeras untuk melontar pada waktu afdol….yah itu hak dan keyakinan masing-masing deh…tapi resiko ditanggung sendiri!

Kalau sampai nyawa melayang jangan menyalahkan siapapun….,syukurlah kini jumlah korban meninggal selama prosesi haji di Mina ini, semakin hari sudah jauh berkurang, tetapi tetaplah selalu…waspadalah…waspadalah!!! Maksudku, walau jamarat sudah 4 lantai dan waktu melontar sudah diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi bentrokan waktu dengan para jama’ah antar manca Negara, tetap saja kemungkinan  kecelakaan bisa terjadi. Jadilah jama’ah yang patuh dengan anjuran dari ketua rombongan, biar tidak bikin repot diri sendiri dan orang banyak.

Kami tiba di Mekkah, menjelang waktu Dzuhur,  belum semua jama’ah tiba dalam waktu yang bersamaan, karena bus-bus yang mengangkut jama’ah harus antri untuk masuk ke Mina. Bersyukur  perjalanan kami sangat lancar. Setelah memastikan Papa dan Mama serta Nenek Juhe sudah turun semua, baru aku beresin itu barang tentengan, yang kebanyakan berisi baju-baju mambu keringat, hehehe…. Waah…jadi pengen segera mandi dan mencuci baju….rasanya seneng banget mandi tanpa harus di gedor-gedor pintunya.

Jemuran

Mungkin terdengar aneh kalau aku menulis kisah jemuran ini, justru di sini aku mau menceritakan satu ke khas-an selama berhaji, baik itu regular maupun plus, yang namanya ‘jemuran’ tetap akan abadi menemani di manapun jama’ah itu berada.

Awalnya aku pikir habitual jemuran ini tidak begitu terlihat pada jama’ah plus, jika dibanding dengan regular, ternyata….sami mawon! aku sempat kaget saat di hari pertama aku menginap di maktab, masuk ke kamar mandi, yang di dalamnya sudah dipenuhi jemuran underwear serta daster tidur dari ibu-ibu yang sekamar denganku, waduuh…aku yang mau mandi dan wudhu, harus hati-hati banget biar nggak kesenggol atau memercikkan air ke jemuran mereka. Antara rasa rikuh dan mau ketawa jadi satu… ini pengalaman yang harus di terima dan dimaklumi selama berhaji, kita harus bertoleransi dengan kebiasaan dan cara para jama’ah lainnya. Sejauh masih bisa beraktifitas ya…lalui saja, kadang setelah mencuci baju-baju ini, tempat jemuran juga bisa bertebaran di mana saja.

Jangan heran kalau banyak jama’ah haji dari tanah air sudah membekali diri dengan tali plastic, paku dan palu kecil, tujuannya apalagi kalo bukan buat tali jemuran pakaian, hehehe…., kadang suka bikin sewot pengelola maktab setempat, karena jama’ah kita paling hobi buat ‘tanda’ di dinding-dinding’ maktab. Lha….gimana mau ngejemur kalo gak ada tali jemuran, iyaaa kan! Tapi ada juga pengelola maktab yang baik hati, menyiapkan mesin cuci di tiap lantai plus setrikaan dan mejanya, agar memudahkan para jama’ah untuk mencuci baju, untung-untungan deh buat para jama’ah kalau nemuin maktab seperti ini (aku sempat mendapat maktab yang menyediakan mesin cuci saat haji regular).

Melaundry pakaian melalui pihak laundry, baik yang kita datangi maupun pihak laundry yang meletakkan agentnya di tiap maktab, tampaknya tidak mengurangi animo jama’ah untuk mencuci pakaiannya sendiri. Tarif laundry di musim haji sangat jauh melambung, apalagi laundry yang posisinya dekat dengan maktab-maktab haji dan diseputaran Masjidil Harom (info pasang tarif aji mumpung ini, aku dapat dari mbak Thia dan kualami sendiri).

Aku sempat mengalami kejadian yang rada menyebalkan dengan Laundry ini, sudah mahal tarifnya, untuk sepasang kain ihram, dan 4 potong pakaian, mereka memasang tariff 72 Real (kalau kurs 1 real = Rp. 2500, berarti ongkosnya sebesar Rp.180.000,-) tuuuh kan…pasti mikir-mikir dulu deh itu para jama’ah untuk mencuci di Laundry, selain itu janji selesai besok taunya molor jadi lusa, bayangin aja bikin bête..kan harus mondar mandir  buat ke laundry, kalau letaknya dekat sih nggak apa, lha..ini antara maktab ku dan lokasi laundry jauhnya hampir 10 KM, karena laundry ini posisinya di daerah Sheeb Amir, dekat Masjidil Harom. Ongkos mondar mandirnya aja bisa lebih dari ongkos laundrynya, huhuhu…., kenapa aku nggak kasih ke agent laundry yang di maktab? Waah….kalau itu agent laundry mau terima cucian bajuku tentu aku mau banget…yang jadi masalah, agent laundry yang di maktab, sudah overload terima orderan cucian ! Makanya…back to basic ajalah….hayoo kembali mencuci dengan tanganmu..!!!

Pulang dari Mina, aku menemukan kamar mandi masih kosong melompong, karena sebagian teman-teman kamarku ada yang belum sampai ke maktab, wuuahh…rasanya aku bebas merdeka mandi dan mencuci baju-bajuku serta ortuku, yang kalau aku hitung dengan kiloan bisa mencapai 5 kilo, itu di luar kain ihram papa, khusus yang satu ini aku tetap memilih mencuci di Laundry, karena kalau dicuci sendiri akan repot merendamnya, juga menjemurnya akan makan waktu lama untuk keringnya.

Selesai mencuci aku mulai mencari tempat menjemur yang strategis, cailah….lantai kamarku letaknya di lantai 3, sedang lokasi jemuran ada di samping maktab di lantai dasar, aku turun bawa sekantong besar cucian basah melalui lift, cuek aja…toh banyak juga jama’ah bapak-bapak yang melakukan hal yang sama, ibunya mencuci bapaknya yang menjemur, siip kan! Team work gitu lho…, kalau aku..sebagian baju dibantuin mamaku untuk mencucinya, tapi urusan naik turun lift buat jemurin pakaian-pakaian itu bagian aku, sambil jemurin baju-baju, aku iseng motretin lokasi jemuran, hihihi…isengnya kumat! ada bapak dan ibu yang melihat aku sedang motretin jemuran tampak heran, cuma mereka diam saja sambil sedikit senyum…pikir mereka…nih bocah kurang kerjaan kaleee…koq motretin jemuran! Hehehe….

Lokasi jemuran yang baik adalah yang bisa langsung mendapat akses udara langsung, agar pakaian cepat kering. Karena kelembaban udara yang tinggi di Tanah Suci ini, membuat jemuran pakaian cepat kering. Ada sebagian jama’ah yang menjemur pakaian di jendela-jendela kamar bahkan di jendela di ruangan umum tempat kami sholat, pokoke asal bukan underwear, gak masalah deh kita juga maklum! Untungnya underwear banyak dijemur dalam kamar mandi saja.

Bertolak ke Madinah

Prosesi haji di Mekkah, sudah selesai dengan ditandai tawwaf Ifadah, kami melakukan tawwaf ini pada pukul 12 malam, pada tanggal 29 Nov malam. Papa, Mama dan Nenek Juhe semua ikut bertawwaf, Alhamdulillah…tawwaf berlangsung dengan lancar tanpa hambatan. Aku mendampingi dan menggandeng Papa, sedang mama dan nenek Juhe bergandengan tangan berjalan di belakang aku dan papa. Subhanallah…hanya ALLAH yang bisa menjaga kami berempat, karena jujur aja saat kami tawwaf Ifadah hanya dengan rombongan yang kecil, tidak lebih dari 30 jama’ah. Jadi aku benar-benar berpesan sama beliau-beliau ber 3 ini, jangan sampai terpisah, aku rela kalau jilbabku mau melorot sekalipun gara-gara dipegangin sama mama dan nenek. Aku ikut rombongan haji dari kelompok Jamillah saat tawwaf Ifadah ini. Thanks ya… buat teman-teman dari kelompok Jamillah…enaknya dengan rombongan kecil ini, kita bisa terangkut dalam satu bus saja, yang bisa menunggu di meeting point tertentu, sehingga lebih efisien dari segi waktunya.

Jadwal selanjutnya…kami harus bersiap-siap berangkat ke Madinah Al-Munawaroh, lagi-lagi urusan packing koper-koper, tetap perlu kesigapan untuk mengurusnya. Jangan pernah menyamakan urusan kenyamanan berhaji antar individu, khusus untuk koper-koper, bagi sebagian jama’ah ada yang menganggap urusan koper biarlah para porter dan panitia yang mengurusnya.

Siapkan saja, letakkan di depan pintu kamarmu, dan tunggulah kembali di depan pintu kamar yang lain lagi (maksudku jika kita harus mondar mandir Mekkah-Madinah), bagi coordinator koper yang cekatan tentu akan bikin nyaman para jama’ah, berbeda kalau koper-koper kita pakai acara ‘muter-muter’ dulu. Waduuh…pusying, kita kan harus segera menemukan koper begitu kita masuk ke kamar hotel.

Berbeda jika kita sudah masuk ke kamar hotel dan koper kita baru ditemukan keesokan harinya, bisa bikin bête kan? Masa’ mau pinjam baju teman sekamar? Bahkan ada teman sekamarku, koper besarnya ada 2 milik dia dan suaminya, tidak pernah diterimanya sampai musim haji berakhir, huhuhu…..kabarnya tertinggal di Bandara Suta, Sana’a atau Jeddah, Wallahu’alam…dan temanku ini asli nggak peduli, dia tetep pakai baju seadanya, juga nggak complain sama tour agent, hebat….sabar ato cuek nih judulnya?

Sekali lagi…kisah berhaji berikut pengalaman yang diterima para jama’ah haji berbeda satu sama lain, kembali bagaimana kita mensikapi dan mensiasatinya agar yang namanya ‘kesulitan’ tidak menjadi ‘beban’ buat kita, justru selau ‘bersyukur’ jadi apapun yang dialami selalu ‘nyaman’ terasa. Sorry ya.. bukan sok teu, hanya sedikit sharing buat yang belum berhaji.

Kami sudah menyiapkan dan merapikan koper-koper sejak satu hari sebelum keberangkatan, telah disepakati kami akan berangkat menuju Madinah pada hari Selasa pagi, tanggal 1 Des 2009. Pagi hari menjelang keberangkatan yang dijadwalkan pukul 11 pagi semua jama’ah sudah berjejer rapih bersama tas koper mereka masing-masing. Ternyata…keberangkatan yang di jadwal pada pukul 11 pagi, molor jadi pukul 13.00 siang…. Haiya….disinilah yang namanya sabar menunggu, kalau mau jujur sih, para jama’ah sudah mulai menunggu sejak pukul 09.00 pagi, hihihi….capeee deh! Eit tunggu dulu…ujian kesabaran ini juga punya ‘nilai’ lho!

Bus-bus yang mau mengangkut para jama’ah sudah rapi berjajar di jalan, setiap jama’ah yang masuk ke dalam bus, harus disesuaikan dengan nomor passport yang masuk dalam list satu bus, jadi nggak boleh asal naik bus. Lagi-lagi aku harus terpisah dengan ortu dan nenek juhe, kami terpisah bus, karena daftar passport kami terpencar dalam 3 bus, untungnya papa dan mamaku dalam 1 bus. Aku sempat melihat ada ‘seleb’ dalam bus no 2 yang dinaiki papa dan mamaku, ternyata ada om ‘Dede Yusuf’ sama his wife ‘Sandy’, pantesan aku sempat melihat ada jama’ah ibu-ibu koq cantik banget….taunya jeng Sandy Yusuf.

Perjalanan ke Madinah berjalan lancar….saat di dekat pos pemeriksaan, keluar dari kota Mekkah, mobil bus harus berhenti, ada petugas haji setempat yang membagikan sebotol air zam-zam ukuran 2 liter pada kami, Alhamdulillah….dapat air zam-zam, selain air zam-zam ada juga yang lain dibagikan oleh si petugas, selintas aku perhatikan bentuknya seperti ‘Coklat’…horeee….dapat coklat nih pikirku! Saat itu coklat sampai di tanganku, barulah aku sadar……ternyata!!!…coklat ‘KASET’, hahahaha…..maksudku, itu bukan coklat..tapi kaset tape recorder yang berisi tausiyah dari pemerintah Saudi tentang bahaya ‘Syirik’. 

Aku jadi ingat, duluu juga aku dapat buku-buku gratis dan kaset gratis selama haji, yang isinya semua tentang nasihat dan hukum-hukum dalam agama islam. Soal perasaan ‘tertipu’ coklat kaset ini, bukan hanya aku sendiri, bapak  dan nenek yang duduk di sampingku juga mengira kaset itu coklat, hehehe…. koq bisa sama ya…apa karena bungkus kasetnya yang plastic warna-warni, persis bungkus biscuit wafer coklat!

Bus-bus sempat berhenti di post peristirahatan selama kurang lebih 20 menit, yang mau ke toilet atau mau sholat disediakan tempatnya. Mau makan atau jajan ada cafetaria yang ala kadarnya menurutku. Aku hanya mampir ke toilet aja, nggak ada minat mau jajan, lha di bus tadi juga sudah dikasih makan siang kotakan plus coklat kaset, hehehehe…..

Mendekati kota Madinah, waktu sudah menunjukkan kurang lebih pukul 21 malam. Kami harus stop di pos imigrasi kota Madinah, kali ini kami diberi makanan kotakan yang isinya biscuit, juice jeruk, susu kotak, kurma dan roti, waah…ini baru beneran snack judulnya. Kota Madinah sudah di depan mata, duuuh…indahnya!!! Masjid Nabawi ditaburi lampu-lampu yang gemerlap…pemandangan yang tidak akan pernah terlupakan.

Kami masuk ke hotel nggak lama setelah tiba, kami dipersilahkan makan malam lebih dahulu. Setelah makan aku langsung urus koper-koper, dengan memberi sedikit tips buat porter dari hotel untuk membawakannya, beres deh….kami bisa segera beristirahat. Kami termasuk cukup beruntung bisa segera masuk ke kamar hotel, ada beberapa jama’ah yang sampai pagi hari masih belum dapat kamar, hmmm…jadi ingat kejadian saat aku baru tiba di Mekkah. Alhamdulillah….kini aku lebih bersyukur, orang tuaku dan nenek Juhe, tidak mengalami hal yang pernah kualami.

Cukup ini dulu untuk Bab 6 nya….masih banyak yang akan kutulis seputar Madinah, sabar yaaaa……

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.