What left from a world-class hypocrisy conference?

Josh Chen – Global Citizen
 
Tak banyak media memberitakan satu konferensi yang baru selesai di Copenhagen kurang lebih 2 minggu yang lalu. Pemberitaan media dalam negeri lebih banyak hiruk pikuk dagelan para badut politik dari Senayan tentang Bank Century dan Luna Maya beserta Twitter’nya, dan sekarang si Aditjondro dengan Cumi-cumi’nya…
 
Mungkin juga tak banyak orang yang tahu mengenai konferensi ini. Mungkin hanya pernah sekedar mendengar atau membaca sekilas mengenainya…
 
United Nations Climate Change Conference, UNCCC baru selesai diselenggarakan di Bella Center, Copenhagen, Denmark, dari tanggal 7 – 18 Desember 2009; sekaligus dalam acara COP-15 (Pertemuan ke 15 Conference of the Parties).
 
C-4 ini (Climate Change Conference Copenhagen, istilah penulis sendiri) berrtujuan membicarakan segenap aspek perubahan iklim yang dipercaya tengah berlangsung saat ini. Penggunaan istilah climate change menggantikan istilah sebelumnya global warming. Ternyata cukup banyak penelitian yang menyatakan bahwa tidak benar terjadi global warming tsb. Salah satu artikel yang menarik untuk dibaca ada di: http://xfile-enigma.blogspot.com/2009/08/konspirasi-pemanasan-global.html
 
Menurut pengamatan sekilas dan amatir penulis, memang kelihatan sekali terjadi climate change. Yang sekarang saja terjadi adalah di seluruh penjuru Eropa dan sebagian Amerika, betul-betul mengalami White Christmas dalam arti yang sesungguhnya, setelah sekian dasawarsa White Christmas hanya ada di lagu Natal yang dinyanyikan Elvis Presley.
 
Sampai dengan hari terakhir konferensi ditutup, tak ada solusi atau kesepakatan yang berarti. Negara-negara maju tetap pada pendiriannya untuk memaksa para negara berkembang menurunkan emisi karbonnya, sementara mereka sendiri boleh dan tetap boleh untuk seperti sekarang ini.
 
Lebih mengherankan lagi adalah bahwa Indonesia di’cap dan diberi “gelar” sebagai negara yang menghasilkan GHG (Green House Gas) atau GRK (Gas Rumah Kaca) – istilah untuk karbondioksida CO2 – nomer 3 di dunia, di bawah Amerika dan China
 
Ditinjau dari segi manapun juga, Indonesia tak akan bisa menyamai tingkat emisi Amerika, Canada, Australia, Jepang ataupun China.
 
Berikut paparan beberapa fakta mengenai emisi karbon dunia:
 
 
Carbon Emission by Country
 
 
Carbon Emission per Capita
Source: NationMaster.com
 
Carbon Emission by Country (Wikipedia)
 
Carbon Emission World Map (Wikipedia)
 
Carbon Emission per Capita World Map (Wikipedia)
 
Sementara itu perkiraan emisi karbon di masa mendatang:
 
Source: mongabay.com (EIA 2009 data)
 
Penghasil utama CO2 adalah sektor energy (pembangkit listrik, pemanas ruangan) sebesar 24.6%, diikuti alih fungsi lahan 18.2%, kemudian transportasi dan pertanian masing-masing sebesar 13.5% dan industri 10.4%.
 
Source: World Resources Institutes
 
Ditinjau dari segi manapun juga Indonesia tidak akan mungkin melebihi tingkat emisi karbon Big 5 dunia: Amerika, China, Russia, Jepang dan India. Hal yang sangat jelas adalah Amerika, China, dan Jepang, tenaga listrik yang dihasilkan 3 negara ini sangat tinggi dibandingkan misalnya seluruh negara-negara ASEAN dijadikan satu.
 
Beberapa indikator dan fakta yang dapat disebutkan:
  • Jumlah ketersediaan listrik di rumah-rumah penduduknya
  • Ketergantungan penduduk akan tenaga listrik yang tinggi
  • Kepemilikan peralatan elektronik dan tidak bisa hidup tanpanya (microwave, kulkas, coffee-maker, AC, TV, vacuum cleaner, dsb)
  • Kebutuhan akan pemanas ruangan, terutama adalah negara-negara 4 musim
Lihat saja di negara-negara maju. Ketersediaan listrik di setiap rumah penduduk adalah mutlak. Kepemilikan sekaligus ketergantungan akan peralatan elektronik yang memudahkan dan memanjakan hidup juga mutlak. Sebut saja di Amerika dan Eropa, rumah tangga mana yang tidak memiliki microwave, yang tidak memiliki kulkas minimal setinggi 2m dan kapasitas raksasa dengan minimal 2 pintu.
 
Dibilang iri? Tidak juga…
 
Bagaimana bisa iri jika ketersediaan listrik untuk setiap rumah penduduk dan kecukupannya masih patut “disyukuri” masih untung nyala dan minimal setahun sekali pasti terjadi kisruh listrik. Itulah gambaran kelistrikan di Indonesia. Apalagi di luar Pulau Jawa, jauh lebih menggetarkan sukma, menyala atau tidak masih merupakan misteri besar.
 
Daya beli sebagian kecil golongan masyarakat di Indonesia rasanya cukup mampu untuk membeli peralatan elektronik seperti itu, namun ketersediaan listrik inilah yang menjadi kendala.
 
Bagaimana dengan transportasi?
 
Indonesia jelas tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan Amerika, dan negara-negara di Eropa di mana kepemilikan mobil adalah jamak dan wajib di setiap rumah tangga. Malah di banyak tempat kepemilikan mobil di Amerika lebih dari satu unit di satu keluarga sudah biasa.
 
Bukan itu saja, rata-rata mobil di Amerika dan Canada memiliki kapasitas mesin yang besar dan boros konsumsi BBM. Memang berbeda dengan Eropa yang lebih menyukai mobil dengan kapasitas mesin yang sepantasnya.
 
Menyusul Amerika dan Eropa, sekarang China makin melambung produksi dan kepemilikan mobilnya. Baik pabrikan asing ataupun pabrikan dalam negeri China yang sedang mengalami booming produksi. Hampir semua merek kelas dunia ada di sana, dan bahkan sebagian besar pabrikan kelas wahid sudah memiliki pusat produksi di China. Sebut saja VW yang dikenal dengan Santana, memiliki ceruk pasar terbesar. Tak usah disebut lagi Toyota, Honda, Mazda, Nissan, Benz, BMW dan yang lainnya.
 
Dari 2 aspek ini saja – energy dan transportasi, sudah jelas bahwa ditinjau dari sisi manapun, Indonesia tidak akan pernah dan tidak akan mungkin menempati urutan ketiga pengemisi karbon di dunia.
 
Kalau ditinjau dari aspek alih fungsi lahan, bisa jadi Indonesia merupakan tertuduh untuk itu, tapi itupun masih diragukan keabsahan dan akurasi data yang digembar-gemborkan banyak lembaga atau institusi dunia (misalnya Green Peace, WWF, dsb).
 
Tak menampik kenyataan masih adanya illegal logging di hutan-hutan Indonesia, dan harus diakui juga menurunnya illegal logging dalam 2-3 tahun belakangan ini dibandingkan dengan 5-10 tahun lalu.  Tapi dengan angka fantastis 2 juta hektar per tahun, berarti sekarang tak akan ada lagi yang tersisa hutan di Indonesia sama sekali. Angka yang digembar-gemborkan oleh banyak lembaga atau institusi atau organisasi lingkungan di luar sana sungguh menakjubkan sekaligus menobatkan Indonesia sebagai perambah hutan terbesar di dunia.
 
Kalau memang benar kecepatan penebangan hutan di Indonesia 2 juta hektar per tahun, dan ditambah lagi bahwa perluasan perkebunan kelapa sawit – yang kerap dituding sebagai penyumbang karbon terbesar – adalah sebesar 5-6 juta hektar, berarti sekarang lahan kelapa sawit di Indonesia ada sekitar 10-12 juta hektar dan hutan Indonesia seluruhnya sudah habis dibabat.
 
Pada kenyataannya adalah sampai dengan saat ini, luasan perkebunan kelapa sawit adalah sekitar 7-7.5juta hektar dan hutan Indonesia masih berkisar sebanyak sekitar 20-30% hutan tropis dunia.
 
Semua pemaparan dan penjelasan ini semua pernah saya turunkan di tulisan berseri:
Prinsipnya adalah negara-negara maju boleh membabat hutan mereka dan berbuat apa saja demi dan atas nama ekonomi, kemajuan ekonomi atau sekarang lebih sering kita dengar ‘food security’, ‘energy security’ dan apa saja seputar itu. Sementara negara-negara berkembang harus menurut aturan dan standard yang negara-negara maju tentukan untuk masalah pembangunan dan masalah-masalah domestik lainnya.
 
Tidak perlu adanya konferensi semacam ini, Indonesia dan China dengan kesadaran sendiri sudah berusaha dan menjadi yang terdepan dalam komitmen menurunkan emisi karbon.
 
Indonesia dan China dalam diamnya sudah banyak melakukan konversi energi terbarukan. Biodiesel di Indonesia dari minyak sawit dan di China dari minyak sisa pengolahan makanan. Itupun masih dihadang lagi-lagi oleh aturan negara-negara maju yang mengedepankan istilah keren ‘sustainability’. China sudah banyak sekali membangun kincir angin di sekitar Beijing dan banyak lagi tempat di seluruh penjuru China untuk pembangkit listrik. Walaupun belum seefisien teknologi Belanda, tapi kerja nyata mereka sudah ditunjukkan.
 
Perusahaan Huitengxile di pedalaman padang rumput Mongolia, 321 km dari Beijing berdiri tegak 550 turbin pembangkit listrik tenaga angin, tanpa hiruk pikuk dan ekspos pemberitaan heboh media mana saja.
 
Untuk mobil listrik, bisa jadi dalam satu dekade ke depan, China akan menjadi yang terdepan untuk masalah mobil listrik atau mobil hibrida (hybrid car) – campuran antara tenaga listrik dan BBM.
 
Indonesia dengan kesadaran sendiri, SBY mengumumkan penurunan emisi karbon sebanyak 26% atas usaha sendiri dan diharapkan akan mencapai 41% jika ada bantuan negara-negara maju. Level emisi karbon ini adalah diukur dari level di tahun 90’an untuk dicapai pada tahun 2020.
 
Kembali ke judul tulisan ini: “What left from a world-class hypocrisy conference?”
 
Jawabannya jelas, konferensi semacam COP-15 Copenhagen, atau UNFCCC atau Kyoto dsb, adalah legalisasi negara-negara maju untuk menekan negara berkembang untuk menurut aturan yang ditentukan sepihak sesuai dengan standard negara-negara maju untuk kepentingan negara-negara maju tsb.
 
Double standard terlihat jelas sekali. Para penggiat dan dikenal sebagai motor-motor lingkungan hidup justru tidak menunjukkan sama sekali teladan mereka. Sebut saja Al Gore, Pangeran Charles, Presiden Obama dan yang lainnya.
 
Gaya hidup Al Gore? Silakan check beberapa sumber ini:
Ke mana pun Al Gore pergi menghadiri acara, berbicara dalam satu seminar, konferensi atau apapun, dia selalu terbang dengan pesawat jet pribadi dan mengendarai SUV yang konsumsi BBM’nya 1liter:5km (atau bahkan mungkin lebih boros dari itu).
 
 
 
Kunjungan sehari Presiden Obama ke Copenhagen, menghasilkan 3.850 ton karbon yang dihasilkan dari: Air Force One, 2 pesawat pengangkut helikopter dan limusin kepresidenan, 3 pesawat pengangkut kendaraan pengawal dan Secret Service, iring-iringan yang terdiri dari 19 kendaraan. Jumlah 3.850 ton karbon ini kurang lebih setara dengan yang dihasilkan oleh 450 warga Denmark selama setahun.
 
Sebanyak 17.000 orang yang hadir di konferensi itu selama 12 hari menghasilkan 40.500 ton karbon, dan ini setara dengan jumlah emisi dari negara Kiribati di Kepulauan Pasifik berpenduduk 110.000 jiwa selama setahun.
 
So, apa yang dapat diharapkan? Jawabnya: hampir tidak ada…
 
Selama negara-negara maju tetap bersikukuh life to the fullest dan memiliki standard ganda dalam memandang situasi secara global dan memangkas drastis emisi karbon mereka sendiri (dari life to the fullest tadi), ya tetap saja akan seperti sekarang ini, ada pergerakan ke arah perbaikan, tapi sangat pelahan dan justru bukan dari negara-negara maju, melainkan dari negara-negara berkembang.

Hipocrisy remains…

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.