Mesin Ketik

Dewi Aichi – Brazil
Photos by: JC
 

Ide menulis tentang mesin ketik ini tiba-tiba saja muncul ketika aku beberapa kali datang ke kantor Policia Federal untuk urusan beberapa dokumen. Di seberang kantor, ada trotoar yang selain dipenuhi para pejalan kaki, di trotoar ada beberapa meja berukuran kecil, dan di atas meja terdapat sebuah mesin ketik.

Masing-masing meja ditunggui oleh 1 atau 2 orang juru ketik yang tampak sangat sibuk melayani orang-orang yang akan mengisi form dari kantor polisi. Para juru ketik yang sudah tidak muda lagi itu sangat lincah menggerakkan mesin ketiknya. Dan rupanya paham benar dengan form-form yang akan diketiknya.

Masih berbatasan dengan trotoar, ada sebuah gedung megah dengan halaman yang luas, yang merupakan tempat untuk fotocopy, maupun online di internet. Karena memang jaman sudah canggih benar, apapun mudah diselesaikan dengan online, entah itu pembayaran, maupun print dokument-dokument dan form-form yang dibutuhkan.Namun demikian, meskipun berdekatan dengan fasilitas online dan fotocopy dengan tempat yang nyaman, para juru ketik tetap ramai dengan melayani orang-orang yang akan mengisikan formnya.

Dengan adanya komputer, notebook, telah menenggelamkan mesin ketik. Masyarakat luas termasuk sayapun telah lama meninggalkan mesin ketik. Padahal dari mesin ketik inilah saya bisa mengetik dengan lincah. Setelah melihat kesibukan para juru ketik di kantor polisi itu, rasanya jadi kangen dengan mesin ketik, dan ingin sekali menggunakannya lagi. Bunyi mesin ketik yang thek thek thek grekkkk berulang-ulang terdengar….hari gini masih pake mesin ketik? He he…tapi bener..saya jadi kangen untuk menggunakannya lagi.

Ada yang masih ingat dengan beberapa alat fungsi yang terdapat di mesin ketik? Untuk mengganti baris, spasi, dan tombol bentuk bulat di samping mesin ketik sebelah kanan, dengan memutarnya, maka kertas akan bergerak ke atas. Berfungsi juga untuk melepas kertas dari jepitannya.

Angkatan saya dulu masih jarang yang punya komputer, warnetpun belum ada. Pertama kali membuat laporan praktikum saya pakai word (chiwriter). Jadi ngga ada istilah copy paste, input data dan print he he, warnanyapun masih two color , black and red. Mesin ketik, tidak perlu install macam-macam, tidak usah pakai anti virus segala.

Dulu, ketika melewati ruang TU, atau kantor sekolah, selalu terdengar suara mesin ketik. Di jaman komputerisasi sekarang ini, sudah jarang sekali terdengar suara mesin ketik. Sekarang yang terdengar justru suara musik dari playlist yang berada di komputer, atau suara mesin printer yang halus. Tapi, masih ada kelurahan yang masih setia menggunakan mesin ketik sampai sekarang, seperti beberapa bulan yang lalu ketika saya ada keperluan ke kantor kepala desa.

Mari kita mengenang sejenak tentang mesin ketik. Mesin ketik pertama kali diciptakan oleh Christopher L. Sholes(1714). Kemudian Sholes bersama kedua rekannya yaitu Carlos Clidden dan Samuel W Soule menyempurnakannya. Pada tahun 1868 mendapatkan hak paten. Tahun 1874, mesin ketik mulai dipasarkan. Namun mesin ketiknya masih kasar dan hurufnyapun capital semua.3 Tahun kemudian(1877), barulah diubah menjadi huruf capital dan huruf kecil.Tahun 1890, perusahaan Remington menciptakan mesin ketik yang sudah memenuhi syarat, yang bisa digunakan oleh perntoran-perkantoran. Akhirnya, semua perkantoran tidak lagi menggunakan tulisan tangan untuk semua urusan laporan dan surat menyurat.

Pertama kali diciptakan, mesin ketik menggunakan urutan ABCD, tapi karena seringnya pemakaian huruf yang berdekatan, ini menimbulkan masalah pada mesin. Lama kelamaan hurufnya diacak-acak, dan seperti yang sekarang ini yaitu QWERTY.

Sekarang mesin ketik menjadi barang klasik, dan pantas untuk dikenang, dengan sistem 10 jari buta, setiap jari mempunyai fungsinya sendiri-sendiri untuk menekan tombol-tombol huruf. Ada istilah homekey untuk jari kita ketika mengawali belajar mengetik yaitu ASDF-JKL .,(titik koma). Jadi setiap jari mempunyai tugasnya sendiri untuk menekan huruf-huruf yang berdekatan dengan letak jari.

Sekian tulisan saya untuk mengenang kembali mesin ketik.

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *