My Spiritual Journey, menjadi tamu Allah (Part 7)

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

Dear sobat Baltyrans….kali ini aku akan berkisah tentang kota Madinah Al-Munawaroh, Masjid Nabawi dan kisah-kisah lainnya…….

Madinah Selayang Pandang

Seandainya mau kutuliskan tentang bagaimana situasi kota Madinah, bagi yang sudah pernah mendatanginya, tentu akan punya pandangan yang agak mirip. Kota ini terasa begitu adeeem…. Apa karena ada rumah dan makam Baginda Rasulullah di sini, makanya jadi begitu tenang dan bikin betah.

Jika kita memandang langit di atas Masjid Nabawi di waktu subuh, pagi, siang, sore dan malam hari akan mendapat kesan yang tidak akan hilang dari ingatan. Saat Subuh…warna lembayung menyeruak lembut menampilkan ucapan selamat pagi buat para Jama’ah yang memandangnya, di saat siang yang terik, akan terlihat warna biru muda yang sangat bersih dan jernih…tiada awan yang menggumpal, rasanya tenaaaang banget hanya memandang langit biru ini, asliii….jadi romantis hati ini dibuatnya, tiba-tiba lisan ini bisa mengeluarkan kata-kata puitis merdu merayu….uhuy! hehehe….

Langit biru di atas Nabawi

Saking indahnya menyaksikan ciptaan-NYA.  Pada malam hari, langit akan menebarkan warna violet yang merasuk sukma…lebay.com niih jadinya! Aku paling suka memandang langit di atas Masjid Nabawi. Mungkin nggak semua jama’ah suka memperhatikan ini, bagiku di sinilah Indahnya Madinah, buat saudara-saudaraku yang belum sampai ke Madinah, InsyaAllah… jika tercapai menjejakkan kaki ke kota ini, maka janganlah lupa untuk memandang langitnya ya…..

Nabawi jantung kota Madinah Al-Munnawaroh

Kota ini menurutku sangat cantik, center pointnya ada di Masjid Nabawi, hotel-hotel bertingkat banyak yang dibangun mengitari Masjid, tapi ada batas tertentu yang sudah ditetapkan oleh Pihak Kerajaan, bahwa bangunan hotel tidak boleh melebihi ketinggian menara Masjid. Ini setahuku duluu lho… nggak tau kalau sudah berubah. Penduduk kota Madinah terkesan ramah, jarang terlihat mereka berteriak, ini aku perhatikan pada saat para pedagang kota ini menjajakan barang dagangannya. Agak sedikit berbeda dengan kota Mekkah yang lebih meriah dan ramai. Bangunan-bangunan yang mengelilingi masjid, baik itu hotel maupun pertokoan, ornament yang menghiasi tampilan bangunannya sedikit banyak meniru ornament yang ada di Masjid Nabawi. Jadi seperti satu kesatuan dengan Masjid yang menjadi focus utama, jantung kota Madinah. Lengkungan-lengkungan indah diatas pilar-pilar bangunan mempertegas kesamaan motif dengan Masjid Nabawi.


Hotel & Pertokoan; ornament dindingnya sedikit meniru Masjid Nabawi, ssstt…itu ada spanduk Rumah Makan 'Bakso Solo', hehehe…..hebat…nih wong Solo ! hanya spanduk ini aja yang berani bertengger di sini.

Jalan-jalan di kota ini relative lebih lengang dan bersih, aku nggak pernah naik transportasi umum di sini, karena kalau mau ziarah ke tempat-tempat yang bersejarah, selalu naik bus yang disiapkan oleh Tour Agent. Aku lebih banyak berjalan kaki di kota ini, karena hotel-hotel dan pertokoan letaknya relative dekat dengan masjid. Paling jauh radius 3 km, kalau yang biasa jalan kaki hal ini nggak jadi masalah. Berbeda dengan Mekkah, yang radius penginapan/maktab jama’ah haji bisa mencapai 10 km lebih. Selain jalanan yang beraspal, banyak juga ditemui jalan yang dibuat dari paving block. Berjalan sendirian di kota ini menurutku pribadi cukup aman, aku pernah jalan sendirian pukul 10 malam gara-gara mau beli jilbab Turkey yang asli rendanya dirajut pakai tangan, aku harus berjalan cukup jauh ke maktab jama’ah haji Turkey, tapi harap jangan jalan sendirian ya… ini saran yang terbaik, kalau aku emang kadang sedikit nekad, hehehe…

Mengenai suhu udara, antara Oktober sampai Januari, udara di kota Madinah relative sejuk dan cenderung ke dingin, apalagi subuh hari…beeerrrr, kisaran suhu antara 15o – 18oC, angin yang bertiup terasa dingin. Kami aja nggak berani menghidupkan AC di kamar. Hal ini berbeda kalau kita datang di bulan Juni – Agustus, hmm….puanasss rek…bisa mencapai 40oC. Soal suhu udara ini kadang bisa berubah-ubah, jadi sebaiknya kita menyiapkan 1-2 baju hangat, jangan lupa bawa kacamata hitam yang cengdem (seceng adem) juga gak apa-apa. Karena jika siang hari, di saat sinar matahari sedang terik-teriknya, pantulan sinar di halaman masjid yang memakai marmer warna putih akan membuat  matamu, silauuu man…judulnya! Jika ada jama’ah yang punya kecendrungan sakit migraine atau vertigo harap jangan lupa ya…dengan kacamata cengdem ini, kalau mau bawa payung juga boleh…tapi biasanya jama’ah suka malas bawa payung, repot pikirnya, paling sering kepalanya ditutupin sama sajadah.

Cukup segitu aja ya…selintas pandang kota Madinah, kalau mau lebih jelas…datang aja langsung hehehe….

Masjid Nabawi

Masjid Nabi begitulah namanya disebut, di dalam masjid ini ada rumah dan makam Rasulullah yang dipisahkan oleh sebuah taman, namanya ‘Raudhah’ yang artinya taman surga, konon ada sebagian tanah dari ‘Raudhah’ ini yang diambil dari tanah di surga. Tapi yang namanya taman, jangan membayangkan ada tanaman di dalamnya. Kalau jaman Rasulullah dulu, aku yakin taman ini ada tanamannya. Kini karena sudah dalam areal Masjid, taman ini ditandai dengan symbol pilar-pilar yang sedikit berbeda dengan pilar-pilar yang ada di bagian lain dari masjid.

Sistem pendingin udara benar-benar nyaman di dalam masjid ini, setiap kaki pilar masjid dipasang lubang-lubang yang berfungsi sebagai Air conditioner, yang selalu mengeluarkan udara sejuk setiap saat. Selain makam Rasulullah, ada juga makam Sayidina Abubakar As-Siddiq RA dan Sayidina Umar bin Khattab RA, di dalam masjid Nabawi. Kalau melihat jama’ah dari Negara-negara timur tengah, waah..pada heboh menempelkan selendang , sejadah atau kain apa aja ke dinding makam, yang mungkin aja biar dianggap keramat. Padahal para askar akan berusaha keras membuang kain-kain tersebut, maksudnya melarang jama’ah haji untuk berbuat syirik.

Untuk bagian lantai dalam masjid dilengkapi permadani yang indah, dijamin selalu dibersihkan setiap saat, oleh regu cleaning services yang ready all the time pokok nya. Ada banyak rak-rak berisi kitab suci Al-Qur’an yang tersebar di seantero dalam masjid, Al Qur’an ini memang disediakan oleh pihak Kerajaan, juga ada sebagian hadiah dari para jama’ah haji, yang sengaja membeli Al Qur’an untuk dihadiahkan kepada masjid Nabawi, nah….beli deh Al Qur’an yang suka dijual di depan masjid oleh pedagang kaki lima, harganya jauh lebih murah daripada yang di toko, hanya 20 Real/ Al Qur’an, lalu wakafkan untuk masjid Nabawi, InsyaAllah Al Qur’an itu akan dibaca oleh siapa saja yang sholat di dalam masjid, semoga apa yang telah kita wakafkan untuk Masjid Rasulullah tercinta karena Lillahi Ta’ala (semata-mata karena ALLAH) mudah-mudahan akan mendapat berkah-NYA dan syafa’at dari Rasulullah tercinta, amieen.

Lantai bagian dalam maupun luar semuanya dibuat dari marmer dan granit, khusus marmer yang dibagian luar, walau udara panas sekalipun lantai yang kita injak tidak terasa panas, hmm…. Teknologi tingkat tinggi untuk kenyamanan suatu masjid buat para jama’ahnya. Untuk bagian luar masjid, disediakan juga karpet-karpet untuk sholat, tapi hanya sebagian saja, ini juga sudah bagus… karena halaman masjid sangat luas.

Tiang lampu hias

Selain pilar-pilar yang indah, masjid ini dipenuhi relief, ukiran dan ornament dinding yang indah gabungan warna putih, kuning keemasan, hijau, abu-abu dan coklat. Hiasan kaligrafi bertebaran di seantero masjid, selain itu pantulan sinar warna-warni dari kaca-kaca mosaic yang terpasang di dinding dan jendela masjid makin menambah indahnya masjid ini. Lampu-lampu Kristal checko yang gemerlap dalam berbagai bentuk dan rupa baik di dalam maupun di luar masjid rasanya nggak akan habis decak kekaguman atas masjid ini. Jika kita menatap ke atas Ceiling/langit-langit masjid, pada jam-jam tertentu, secara otomatis kubah/dome yang berlukis kaligrafi dan motif-motif antic akan bergeser secara pelan-pelan. Sehingga udara sejuk dari luar akan masuk secara bebas ke dalam masjid. Wah..keren deeh…makanya kalo sholat di dalam masjid, aku akan cari posisi yang di atasnya ada kubah dome, seneng aja melihat kubah tersebut bergeser secara otomatis, tapi tidak setiap waktu kubah ini bergeser lho. Kalau kuperhatikan pergeseran ini terjadi saat menjelang ashar, dan saat malam hari, jika dirasa udara di dalam terlalu pengap maka udara yang ada harus diganti.

Di seputar Raudhah ada payung-payung raksasa, yang lagi-lagi otomatis akan terbuka jika sinar matahari bersinar cukup terik. Dulu payung-payung raksasa ini hanya ditemui diseputar Raudhah, kini diteras-teras luar bagian masjid juga sudah terpasang payung-payung raksasa, sehingga para jama’ah yang tidak kebagian sholat didalam masjid, tidak perlu kepanasan jika harus sholat dibawah teriknya matahari. Aku jadi ingat dulu pernah sholat dzuhur pakai kaca mata hitam, saking gak kuat sama sinar dan panas matahari di luar masjid Nabawi.

Payung raksasa otomatis

Pintu-pintu kayu yang super besar dilapisi besi tembaga yang solid, benar-benar membuat masjid ini tampak terlihat gagah. Setiap pintu memiliki nomor dan nama, misalnya pintu masjid nomor 1 namanya King Abdul Aziz Gate. Jika kita akan masuk ke dalam masjid, di depan pintu disediakan  rak-rak kayu tempat menyimpan sepatu atau sandal kita, nah…biar nggak salah ingat meletakkan sandal atau sepatu, caranya…perhatikan baik-baik nomor gate di mana kita masuk, dan nomor yang tercantum di rak sepatu, biasanya huruf Arabic, tapi teman-teman pasti taukan, huruf arab 0-9, agar kita gak kesasar saat keluar gate dan bingung dimana ya rak tempat meletakkan sandal atau sepatu tadi? Soalnya bentuk pintu dan rak-raknya mirip, jadi ya harus ingat nomer nya saja.

Trus kalau di Masjid Nabawi, ada pemisahan tempat sholat yang jelas, bagian perempuan terletak di belakang masjid. Laki-laki tidak boleh masuk ke bagian sholat perempuan, ada penjaga khusus yang mengawasi tempat ini. Jadi kalo selesai waktu sholat, banyak ditemui bapak-bapak yang jemputin istrinya di depan garis yang menjadi pembatas areal sholat buat ibu-ibu. Kalau aku sama papaku, berpesan agar beliau menunggu tidak jauh dari tempatnya sholat, contohnya beliau berdiri dekat pilar lampu hias yang ada di luar masjid.

Toilet dan tempat wudhu disediakan di basement masjid, pakai tangga escalator buat naik dan turun. Gede dan bersih…pokoke nyaman deh…kalo repot ngantri mandi di hotel, bisa numpang mandi di toilet masjid Nabawi (hehe…seperti yang pernah dilakukan oleh salah seorang kerabatku). Pasokan air benar-benar nggak ada matinya…begitu juga dengan pasokan listrik, kabarnya untuk listrik dan air di Saudi Arabia ini gratis lho! Waaah….enak banget ya… khusus untuk minum air zam-zam, disediakan oleh pihak Kerajaan, baik di dalam maupun di luar masjid, dalam bentuk gentong-gentong plastic, banyak yang disediakan dalam rasa yang dingin, kalau mau yang netral/tidak dingin, biasanya ada tulisan ‘Not Cold’ dengan huruf bewarna hijau. Selain dalam bentuk gentong, ada juga air zam-zam yang disediakan melalui kran-kran air yang terletak di halaman masjid. Kadang kalau jama’ah malas berwudhu ke toilet di basement karena alasan waktu sholat udah mepet, suka wudhu di kran air zam-zam ini (termasuk aku, hehehe).

Lantai marmer Masjid Nabawi

Pemeriksaan oleh askar laki-laki maupun yang perempuan di masjid Nabawi, terbilang cukup ketat, jangan coba-coba bawa hp bercamera, pasti akan di tahan sama askar, disarankan diletakkan di locker, biasanya ada uang sewa lockernya, perjamnya kalo nggak salah 1 Real. Khusus untuk askar perempuan mereka akan memeriksa tas bawaan kita, juga memegang badan kita kalau dianggap perlu. Jadi kalo kita punya hp bercamera, jangan kuatir ada solusi tepat meletakkan hp tersebut, sisipkan saja dalam kaus kakimu….InsyaAllah para askar nggak pernah menyentuh bagian kakimu, jadi cukup aman simpan hp di balik kaus kaki. Cuma kalo sudah sampe dalam masjid, itu hp bisa dikeluarkan kembali. Jadi pemeriksaan barang itu dilakukan jika mau masuk masjid saja, kalo sudah dalam masjid mah bebas merdeka.

Pada musim haji, ada sunnah Rasulullah buat para jama’ah haji untuk menunaikan sholat Arbain artinya sholat wajib berjama’ah selama 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi, jadi kalau sehari ada 5 x sholat wajib, berarti harus dilakukan selama 8 hari berturut-turut, tanpa boleh ada waktu sholat yang terlangkahi. Bagi jama’ah perempuan yang masih haid/menstruasi, jika diprediksi siklus bulanannya bertepatan dengan waktu sholat Arbain, bisa memakan obat pil KB atau yang sejenis (Primolut atau Gynera) agar bisa menahan siklus bulanan tidak keluar untuk sementara waktu. Pada dasarnya memakan atau meminum obat penahan siklus bulanan ini tidak dilarang, apalagi di saat kita sedang melakukan prosesi haji.  Tapi ini kembali lagi ke keyakinan masing-masing, karena ada sebagian pendapat yang menganggap tidak perlu minum pil penahan haid, karena yang namanya siklus bulanan itu sudah takdir buat perempuan dari Tuhan. Silahkan lakukan yang terbaik sesuai keyakinan, asal tidak melanggar ibadah yang wajib, iya kan…

Ada fasilitas baru, yang aku temui didalam komplek Masjid Nabawi, th 2005 dulu seingatku belum ada, yaitu bangunan yang berfungsi layaknya Puskesmas. Bangunan ini berdampingan dengan Makam Baqi, puskesmas ini berisi 3-4 ranjang besi yang disekat dengan tirai-tirai putih dan berdinding kaca, makanya aku jadi faham bagaimana keadaan didalamnya. Puskesmas ini khusus buat jama'ah laki-laki. Aku tidak menemui adanya jama'ah perempuan yang mampir kesini. Puskesmas ini selalu dipenuhi antrian jama'ah laki-laki yang berbaris rapih menunggu giliran dipanggil satu-satu. Semua petugas medisnya juga laki-laki. Aku tidak menemukan puskesmas untuk jama'ah haji perempuan atau mungkin aku saja yang tidak tahu lokasinya.

Raudhah

Aku sengaja memisahkan tulisan tentang Raudhah di bagian tersendiri, karena ini ‘Master Piece’  dari Masjid Nabawi, karena di tempat inilah yang namanya do’a bisa makbul diterima oleh Ilahi Rabb. Seperti yang sudah sedikit aku jelaskan di atas, di areal Raudhah ini, ada rumah, makam, taman dan mihrab Rasulullah, jadi untuk beribadah sholat di sini tidak bisa sembarangan waktu, ini khusus buat jama’ah haji perempuan. Kalau bagi jama’ah haji laki-laki terbuka sepanjang waktu. Khusus untuk jama’ah haji perempuan, waktu untuk beribadah di Raudhah dimulai sejak pukul 07.00 pagi – 11.00 siang (waktu Sholat Sunnah Dhuha), lalu dibuka lagi antara waktu ba’da Sholat Dzuhur – menjelang Sholat Ashar.

Raudhah bi bawah kubah hijau…

Saranku..sebaiknya memilih waktu di pagi hari, selain waktunya lebih panjang juga tidak terlalu berdesakan. Tapi karena space/tempat sholat di Raudhah untuk jama’ah haji perempuan dibatasi tidak terlalu luas, tetap saja terjadi rebutan dan kehebohan selama sholat di sini, pokoke seru dah…! Semua jama’ah berebut untuk sholat di bagian shaf paling depan, katanya sih lebih afdol sholat di bagian paling depan ini, tapi mau jalan ke bagian depan ini perlu perjuangan yang tidak mudah belum lagi kita susah mau nyempil dikittt aja…di antara jama’ah haji Negara lain yang belum mau berpindah tempat sholat, padahal sholatnya udah lumayan lama.

Hanya sekedar berbagi saran aja ya…jika kita diberi ALLAH kesempatan untuk sholat di Raudhah, ingatlah…beribadah itu jangan egois, masih banyak jama’ah lain yang juga ingin sholat, berilah mereka juga kesempatan yang sama. ALLAH Maha Mengetahui apa yang hamba-Nya ingin sampaikan. Sebelum mencapai Raudhah yang diberi tanda berupa pilar yang berornament khusus serta warna karpet hijau muda pupus, kita para jama’ah akan diberi kesempatan/waktu tersendiri, misalnya jama’ah dari Negara Timur Tengah yang badannya relative lebih besar, waktu sholatnya akan dipisahkan dari Jama’ah haji Asia tenggara termasuk Indonesia yang badannya relative lebih kecil.

Payung raksasa

Kita akan beranjak step by step untuk mendekati Raudhah, ingat jangan coba-coba nyelonong sendirian tanpa mengikuti rombongan yang sudah ditentukan, bakal disuruh mundur oleh Askar-askar perempuan yang bercadar. Rata-rata mereka akan berteriak ‘Sabar hajjah’..hihihi…abis banyak jama’ah yang terlihat tidak sabar untuk segera menerobos masuk ke Raudhah. Bagi jama’ah yang sudah sepuh yang tidak mampu berjalan, maka akan diberi akses khusus dengan kursi roda mereka bisa melalui jalan yang sudah disediakan untuk langsung sholat di Raudhah. Dulu saat aku haji regular, aku paling demen menemani jama’ah haji nenek-nenek yang sudah sepuh, yang pakai kursi roda, karena aku bisa mendorong kursi roda mereka, nanti pas sampai Raudhah, aku bisa ikut nebeng sholat di sana dengan mudah, hahaha….jalur by pass gitu lho! Tanpa harus antri dan berdesakan. Alhamdulillah… aku bisa sholat berkali-kali di Raudhah.

Khusus untuk mamaku dan nenek Juhe, mereka berdua masih sanggup berjalan tanpa kursi roda, jadi mereka melalui jalur seperti biasa. Alhamdulillah…yang penting kesampaian sholat di Raudhah. Biasanya para jama’ah haji, mendapat titipan do’a yang banyak dari keluarga, kerabat, sobat dan handai taulan, baik yang dibaca dalam hati maupun yang baca melalui kertas catatan do’a-do’a yang dititipkan oleh keluarga, waah…buanyak banget pesannya, hehehe… bahkan ada nenek-nenek yang mungkin pusing baca kertas titipan do’a-do’a dari keluarganya, dengan santai si nenek memintaku untuk menyelipkannya di bawah karpet Raudhah, mungkin dipikir beliau, udah bakal sampai deh itu do’a-do’a, hehehe…padahal setelah para jama’ah selesai sholat, itu karpet akan dibersihkan, dan semua kertas-kertas yang terselip di antara karpet-karpet itu akan segera dibuang.

Peraturan Raudhah

Sedikit Tips untuk berdo’a di Raudhah, biasanya di buku panduan manasik haji, ada do’a yang khusus dibaca jika kita sampai di Raudhah, biar effisien…bacalah do’a ini di saat kita bergerak step by step mendekati  Raudhah, begitu juga semua do’a-do’a titipan. Khusus buatku, aku sudah menyampaikan do’a-do’a pesanan melaui hatiku sambil membayangkan wajah-wajah dari sobat dan kerabat yang menitipkan do’a di saat aku bergerak dan bergeser mendekati Raudhah, karena sudah masuk kawasan Raudhah aku pikir InsyaAllah… di ijabah-NYA, amieen. Butuh waktu kurang lebih 15-20 menit menunggu giliran sholat di Raudhah.

Saat mendapat kesempatan Sholat, aku hanya khusus sholat dan berdo’a secukupnya, karena aku tahu….banyak jama’ah juga yang mengantri untuk sholat di belakangku. Begitu selesai sholat sebaiknya kita segera bergeser untuk keluar dari lokasi sholat yang ditandai dengan karpet bewarna hijau muda pupus, kalau karpet bewarna merah berarti itu sudah di luar Raudhah. Jika kamu mau sholat agak lama di Raudhah, sedikit tips lagi…sholat sunnah 2 raka’at bisa Dhuha (jika waktu Dhuha) bisa juga sholat Hajat, lalu jika sudah selesai 2 raka’at, segeralah berpindah tempat seolah-olah kamu mau keluar dari Raudhah, padahal kamu hanya bergeser tempat ke bagian Raudhah yang lain, hehehe…dengan cara ini aku bisa sholat 6 raka’at, yang aku bagi dengan 2 raka’at, jadi 3x sholat sunnah.

CCTV & Ornamen di dalamnya

Biasanya aku sholat sunnah Dhuha dan sholat Hajat. Karena aku paling suka ke Raudhah diwaktu Dhuha. Kita bisa setiap hari ke Raudhah kalau mau lho…tapi bagiku, beribadah itu semampu yang bisa kita lakukan saja, nggak usah ngoyo… walau ada yang berpendapat mumpung di tanah suci ibadahnya harus Puooll… sebenarnya ibadah yang baik itu bukan hanya sholat, tapi bertingkah laku, berbicara dan bekerja itu juga ibadah. Kadang geli kalau lihat orang yang ibadah sholat dan mengajinya grade A, tapi kalau ngomongin orang juga nomor 1, malah masih ditambah hobby ke dukun pula! Ola…la… pusiing deh!!!!

Haji kali ini aku mendapat kesempatan mengabadikan Raudhah melalui camera ponselku, syukurlah ALLAH meridhoinya gambarnya jadi. Kenapa aku bilang seperti ini, karena aku sempat dapat cerita, ada jama’ah haji yang sengaja motret sumur Jamarat di saat waktu melontar, eh…tiba-tiba cameranya mati dan rusak secara mendadak, padahal sebelumnya itu camera baik-baik saja. Nggak tau ya…mungkin niat yang bersangkutan apa ya…sampai nggak mendapat Rridho-NYA.

Balik lagi ke camera ponselku, sebenarnya aku bawa hape berkamera ini, karena semata-mata kalau ada informasi penting aku masih bisa dihubungi, aku selalu membuat silent mode on, di saat sholat. Biasanya aku suka sholat di luar, jadi membawa hp camera, tidak jadi masalah, berhubung mau ke Raudhah kusimpan hpku dalam kaus kaki. Setelah mendekati Raudhah aku keluarkan dan memasukkan dalam tas, nggak enak kalo ganjel di kaki. Tiba-tiba aku ingin mengabadikan Raudhah, tiada maksud apa-apa selain ingin berbagi sudut pandang Raudhah dari lensa camera hp ku. Jika ingin melihat gambar Raudhah yang sempurna, bisa click aja ‘Google Image’, nah…bisa terlihat tuh Raudhah. Tapi versi hpku kan sedikit berbeda angel nya, lebih personal sifatnya dan diambil dalam keadaan setengah deg-dega an.. Hahaha….takut ketahuan aja, abisss deh bisa disita hp ku. Padahal aku justru memotret pilar-pilar yang ada didekat Raudhah yang dipasangi camera CCTV, hehehe…. Dasaaarrrr, kalo lagi kumat nekat, ya seperti ini… tapi temen-temen jadi bisa lihat gambar Raudhah kan…walau versi sederhana dariku.

Makam Baqi

Baqi, adalah areal pemakaman dimana terdapat kurang lebih 10.000 sahabat Rasulullah berikut keluarga dan para tabi'in yang dimakamkan di sini, letaknya berada di sisi sebelah selatan dari Masjid Nabawi, semoga aja tidak salah sebut mengenai posisi arah mata anginya. Selain itu para jama'ah haji yang wafat di Madinah biasanya dimakamkan di Baqi, pemakaman ini tidak boleh berdiri kubah di atas makamnya, hal ini dilarang oleh Rasulullah, jadi sebagai penanda hanya diberi tumpukan batu yang menandakan di situ ada kuburan. Setiap jama'ah haji akan berziarah ke Baqi dan berdo'a di depannya, tidak boleh masuk, bagi jama'ah haji perempuan.

Makam Baqi

Bagi jama'ah laki-laki diperbolehkan masuk, tapi ada waktunya biasanya pagi hari. Khusus untuk jama'ah perempuan dari faham tertentu ada kebijakan boleh masuk ke Baqi, tapi hanya sebatas pagar bagian dalam saja, tidak lebih. Itupun sudah pada heboh, pagar pemakaman sampai diciumi, dan mereka meratap-ratap sambil berdo'a tentunya. Aku melihat kejadian ini saat selesai sholat Ashar. Kebanyakan jama'ah dari negara Timur Tengah, Afrika dan seputaran India. Tidak terlihat jama'ah perempuan dari Asia tenggara yang ikut-ikutan masuk ke pagar bagian dalam dari Baqi. Keistimewaan Baqi, menurut riwayat, Rasulullah berziarah di Baqi dan beristighfar untuk para penghuninya, Rasulullah juga akan memberi syafa'at bagi siapa yang meninggal di Madinah dan dimakamkan di sana. (sedikit kutipan dari buku 'Sejarah Masjid Nabawi' karya Dr.Muhammad Ilyas Abdul Ghani).

Kurma

Salah satu karomah (keutamaan) kota Madinah ini adalah Kebun Kurma, karena tanahnya yang subur, sehingga korma yang paling enak hanya dari kota ini. Jadi kalau mau beli kurma sebaiknya di Madinah jangan di Mekkah ya…walaupun di Mekkah banyak juga yang menjual kurma. Macam-macam jenis kurma ada disini, ada kurma muda yang warnanya hijau ke kuning-kuningan yang rasanya asem manis seger, lalu ada kurma rottob yang gurih, kering, dagingnya tebel, ada kurma Ajwa yang paling mahal nih karena ini disebut juga Kurma Nabi, bagi siapa yang memakannya akan mendapat karomah Rasulullah, ehem…..katanya lho, tapi kita amien kan saja, toh ini kan hal yang baik. Makan buah kurma itu juga bagus buat kesehatan. Apalagi kalau makan kurma di campur madu, katanya bisa menambah vitalitas.

Saat kita bertandang ke Madinah, kita akan dibawa mengunjungi kebun kurma, plus toko kurma yang ada di sana. Macam-macam jenis kurma tersedia disini, termasuk beraneka ragam chocolate kurma, bahkan bubuk kurma yang berfungsi sebagai obat penyubur keturunan juga disediakan di sini. Soal harga perlu aku jelaskan disini, harga memang agak sedikit lebih mahal, tapi soal kesegaran kurma disini lebih terjaga. Ibarat kata ‘Ada Rupa Ada Harga’. Aku sarankan belilah kurma secukupnya jangan terlalu heboh, karena bakal repot sendiri jika timbangan koper overweigh, jatah berat yang diijinkan oleh maskapai penerbangan average 25 – 30 Kg. Jika mau beli buat oleh-oleh kurma dengan harga agak sedikit miring, bisa beli di toko-toko kurma yang ada diseputaran masjid Nabawi. Beda harganya bisa sampai 2-5 Real / Kilo kurma, lumejen kan…

Part 7…sampai sini dulu ya…sambungan berikutnya aku akan tulis tentang hebohnya berbelanja di Madinah dan Fashion on the street para jama’ah haji, hehehehe…..seruuu kan….makanya sabarrr…lha wong aku nulisnya aja sambil kerja…okay, aku mau lanjut kerja dulu yaaaa…..

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

5 Comments to "My Spiritual Journey, menjadi tamu Allah (Part 7)"

  1. Farida Mahardika  29 July, 2015 at 09:37

    Ulasan pengalaman yang menarik, senang ya bisa beribadah di Rumah Allah.
    Pasti sangat bersyukur. Saya jadi semakin ingin, semoga cita-cita beribadah disana terwujud. Aamiin.

  2. rabiatul adawiah  8 November, 2012 at 12:25

    best giler.sy arap dpt gie sana sblm menutup mata

  3. Adhe  24 July, 2012 at 07:14

    @Mamir Arazz, Uly and Jogjakurma trimakasih yaa…sudah meluangkan waktu membaca Baltyra, khususnya Jurnal Hajiku ini. Selamat menunaikan ibadah shaum di Ramadhan 1433 H, jangan lupa berbuka dengan buah Kurma ya hehe…

  4. jogjakurma  15 July, 2012 at 05:28

    Subhanallah… cerita luar biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.