56 Etnis Suku di China: Etnis Zhuang

Josh Chen – Global Citizen
 
Etnis Zhuang (壮族, pinyin: Zhuang Zu, baca: Cuang Cu), adalah kelompok etnis minoritas terbesar di China, dengan jumlah sekitar 16juta, tepatnya 16.178.811 jiwa. Mereka kebanyakan tinggal di Guangxi Zhuang Autonomous Region, yang besarnya mendekati ukuran New Zealand. Etnis Zhuang juga banyak tersebar di Yunnan, Guangdong, Guizhou dan Hunan Province.
 
Membentang di pegunungan di Guangxi, daerah bentangan Zhuang ini dari dataran tinggi di barat laut, menurun di tengahnya dan dataran rendah di tenggara. Tanah daerah ini banyak mengandung batu kapur dan dikenal juga sebagai daerah yang bertopografi yang disebut dengan karst.
 
 
Banyak sekali puncak-puncak pegunungan kapur ini seakan tumbuh begitu saja dari permukaan tanah, membuat pemandangan indah menakjubkan. Guilin yang mendunia adalah salah satu contoh pariwisata dari daerah Guangxi ini.
 
Banyaknya sungai yang berkelok di sepanjang area Zhuang ini adalah salah satu berkah lain dari alam, yang bermanfaat untuk irigasi, pelayaran, pariwisata dan juga pembangkit listrik. Pesisir di sepanjang Guangxi bagian selatan menghasilkan produk alam yang luar biasa. Mutiara yang dihasilkan dari daerah ini adalah yang terbaik di China.
 
Temperatur yang bersahabat sepanjang tahun merupakan keunggulan daerah ini. Berkisar di 20°C rata-rata sepanjang tahun, musim dingin yang tidak ganas sama sekali dan musim panas yang tidak menyengat membuat daerah ini menjadi sangat bersahabat dengan usaha pertanian rakyatnya. Crops seperti padi, yam, jagung, tebu, pisang, kelengkeng, lychee, nenas, dan mangga banyak dijumpai di daerah ini.
 
 
 
 
 
 
Kekayaan alam lain yang banyak dijumpai di daerah ini di antaranya adalah pepohonan cemara yang lebat dan pohon kamper. Mineral antara lain: iron, batubara, wolfram, emas, tembaga, timah, manganese, aluminium, stibium, zinc dan minyak bumi. Yang lainnya adalah: tung oil (yang berguna untuk penyamakan kulit), teh, tea oil, jamur-jamuran, cinnamon, ginseng, tokek (digunakan untuk Chinese medicine), dan juga fennel.
 
Sejarah
Sebelum sebutan Zhuang diseragamkan oleh Pemerintah China di tahun 1965, ada banyak sebutan untuk etnis ini. Nama lain untuk Zhuang: Buzhuang, Butu, Buliao, Buyayi, sementara di daerah Yunnan disebut juga Nongren, Sharen, Tuliao dsb. Total sebutan untuk Zhuang ada sekitar 20 nama.
 
Etnis Zhuang awalnya banyak tinggal di daerah Lingnan. Di masa primitif, di daerah Lingnan ini sudah ada awal kehidupan manusia. Masa pre-Qin (220 SM) nenek moyang Etnis Zhuang yang berasal dari orang-orang Luoyue dan Xiou di daerah Baiyue, selatan China.
 
Di masa-masa akhir Paleolithic Age, di area yang sekarang dikenal sebagai Guangzi Zhuang Autonomous Region, tinggal orang-orang Liujiang dan Ganqian di tempat yang sekarang dikenal sebagai Liujiang County, orang-orang Qilin Mountain di yang sekarang dikenal dengan Laibin City, orang-orang Bailiandong dan Dule di yang sekarang dikenal dengan Liuzhou City, orang Baojiyan di Guilin City, Dongmodong di Tindong County, orang Lingshan di Lingshan County dan masih banyak lagi yang hidup di daerah Lingnan.
 
 
Berdasarkan semua fakta sejarah ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa Etnis Zhuang sekarang ini adalah campuran dari kesemua etnis-etnis kuno di atas yang kesemuanya terangkum dalam Luoyue Kingdom di masa pre-Qin. Seperti diketahui bahwa di masa Qin Shi Huang Di inilah yang dikenal dengan China modern sekarang ini disatukan untuk pertama kalinya.
 
Kelompok Luoyue dan Xiou inilah yang menurunkan banyak hal kepada yang sekarang disebut Etnis Zhuang, seperti Rice-planting Civilization, Big Stone Shovel Culture, Dragon Culture, Bronze Culture, Bronze Drum Culture, Huashan Culture (lukis batu atau lukis karang) dan masih banyak lagi. Sumbangan ini sangat berharga untuk bangsa China modern sekarang ini.
 
Luoyue dan Xiou bekerja sama dengan orang Cangwu menemukan cara bercocok tanam padi yang canggih, dikenal dan diadaptasi sampai sekarang di seluruh dunia. Bukti teknologi tinggi yang mereka gunakan ditemukan di Nanning City, dalam satu penggalian purbakala, 14 relic ditemukan dan di antaranya adalah peralatan dari 10.000 tahun lalu, gilingan batu yang digerakkan manual dengan tangan, alu batu, dan penggilingan beras sederhana. Ditilik dari bentuk dan fungsi penggunaannya diduga kuat untuk meluruh dan mengolah padi menjadi beras.
 
Banyak lagi ditemukan peninggalan purbakala dari berbagai tempat di sekitar itu. Temuan di Wannian County di Jiangxi Province malah menunjukkan usia 1000 tahun lebih awal dari temuan sebelumnya, peralatan pertanian padi yang sama.
 
Di jaman lebih modern, Etnis Zhuang juga berperan penting dalam sejarah. Tahun 1847-1864 meletus Taiping Revolution, kebangkitan besar-besaran para petani di seluruh China untuk menentang Qing Dynasty yang berkuasa. Banyak petani Zhuang yang bergabung dalam Taiping Army dan banyak petani dari Etnis Zhuang yang memegang posisi penting dalam Heavenly Kingdom of Taiping (太平天国).
 
Pemimpin pemberontak ini adalah Hong Xiuquan yang memercayai dirinya sendiri adalah adik bungsu Yesus Kristus. Heavenly Kingdom of Taiping/Peace dia deklarasikan pada tanggal 11 Januari 1851. Pemberontakan ini ditumpas habis oleh Pemerintah Qing ketika itu di tahun 1864, dan menyebabkan larangan besar-besaran penyebaran agama Katholik/Protestan di seluruh China setelahnya. Resistensi besar dari dinasti yang berkuasa karena pemberontakan Hong yang berkepanjangan dan menghabiskan banyak sumber daya Pemerintah Qing ketika itu.
 
Semua kisah ini dituangkan dengan apik dalam epik sejarah yang dibungkus dengan fiksi oleh Linda Ching Sledge dalam bukunya Empire of Heaven, yang diterbitkan juga oleh Gramedia ISBN 979-605-067-8 (kebetulan penulis punya).

Budaya dan Bahasa
Bahasa Zhuang berasal dari rumpun bahasa Chinese-Tibetan. Aksara Zhuang kuno sungguh unik dan bunyinya juga khas dan tak ada padanan atau kemiripan dengan bahasa manapun di dunia. Huruf tulis Zhuang kuno disebut juga logogram Zhuang. Salah satu contoh yang ditemukan dalam satu penggalian arkeologi adalah:
 
Literally berarti:
These three Zhuang logograms from the Sawndip Sawdenj, and the first two of which are presently not in unicode, are formed thus: the components , and respectively indicate the sound, and the components , and indicate the meaning. "Lwg roegbit", literally "child bird-duck", means "wild duckling".
 
Huashan Culture (terjemahan harafiah: Budaya Melukis Gunung) adalah salah satu peninggalan budaya Etnis Zhuang kuno yang masih ada dan menjadi salah satu penarik pariwisata China saat ini. Mural painting di karang dan tebing tersebar merata di kedua sisi sungai Zuojiang dan Mingjiang, membentang sepanjang 200km. Total lukisan karang dan tebing yang tercatat terdiri dari 287 group lukisan fresco, tersebar di 183 tempat. Thema utama lukisan mereka ini adalah Dewa Kodok, yang digambarkan sebagai manusia tapi berbentuk seperti kodok, berwarna merah dan dilukis dalam gambaran hantu.
 
Huashan Cliff Painting yang ditemukan di Ningming County Guangxi adalah yang terbesar dari seluruh Huashan Culture yang pernah ada. Ini disebut dengan Zhuang Byaraiz oleh penduduk setempat, yang berarti gunung dan pola bunga. Dibandingkan dengan lukisan tebing dan batu di bagian lain dunia, Huashan Cliff Painting memiliki fitur dan karakteristik yang luar biasa. Tidak hanya Dewa Kodok yang selalu ditemukan dalam semua lukisan, tetapi juga konsisten dan berkelanjutan selama lebih dari 700 tahun tanpa perubahan apapun, hal mana sangat jarang dijumpai di manapun. Huashan Cliff Painting di Ningming County berukuran lebih dari 40 meter dan lebar 170 meter, terbesar di seluruh dunia. Pada lukisan terdapat lebih dari 1.300 gambar dari berbagai orang dan hewan yang dapat dikenali satu per satu bentuknya. Ada lagi yang terdiri lebih dari 40.000 gambar, yang benar-benar unik di dunia.
 
Bronze Drum, genderang perunggu merupakan peninggalan budaya yang luar biasa dari kelompok-kelompok minoritas di selatan dan barat daya China, berusia lebih dari dua milenia. Di Guangxi saja telah ditemukan lebih dari 500 drum dalam berbagai desain dan ukuran. Terbesar melebihi satu meter dengan diameter dan beratnya mencapai lebih dari setengah ton, sementara yang paling ringan puluhan kilogram. Bagian atas dan sisi drum dihiasi dengan ukiran dan relief yang luar biasa.

Namun, penggunaan drum ini masih menjadi perdebatan. Beberapa percaya bahwa genderang-genderang tsb digunakan untuk keperluan militer, yang lain berpendapat untuk musik rakyat, dan yang lain berpikir untuk kepentingan ritual keagamaan atau untuk melambangkan kekuasaan dan kekayaan.

Bulutuo Scriptures adalah kitab suci agama primitif dari kelompok Etnis Zhuang sekaligus merupakan epik kreatif dan karya sastra rakyat Etnis Zhuang. Scriptures itu adalah kata lima gaya puisi yang mengambil bahasa dan bentuk puisi untuk menyanyi dan memuji penciptaan langit dan bumi, bermulanya kehidupan dan pengaturan alam semesta.
 
Dalam Scriptures disebutkan tentang pembentukan alam semesta, asal usul manusia dan berbagai tanaman pertanian dan hewan serta kebiasaan hidup orang di masa itu. Mereka juga mengajarkan orang untuk berdoa, membasmi kejahatan dan mencapai kehidupan yang bahagia. Sejak dahulu kala, Buluotuo Scriptures telah diturunkan secara lisan secara turun temurun. Penyebarannya adalah ketika Scriptures itu dituturkan dengan cara bernyanyi.
Bulutuo Scriptures adalah gabungan dari mitos, agama, etika dan adat istiadat masyarakat Etnis Zhuang. Karena dinyanyikan dan menjalani perjalanan panjang selama ratusan tahun, bahasa ini ringkas, padat, teratur mudah dibaca dan mudah dipelajari. Buluotuo Scriptures mencerminkan sejarah manusia untuk berevolusi dari masa ketika manusia masih makan hewan mentah dan minum darah menuju ke era pertanian yang lebih maju.
 
Makanan
Sebagian besar Etnis Zhuang makan tiga kali sehari, sementara di beberapa tempat Etnis Zhuang makan empat kali sehari. Dengan snack di antara makan siang dan malam, menjadikannya 4 kali makan dalam sehari. Sarapan dan makan siang mereka sangat sederhana, yaitu bubur. Makan besar mereka adalah di waktu makan malam. Beras dan jagung yang melimpah merupakan makanan utama bagi mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari mereka makan berbagai jenis sayuran dan buah, termasuk sayuran hijau, melon, kubis, kubis kecil, tanaman lobak, mustard, selada, seledri, bayam, lobak dsb. Juga daun kedelai, daun ubi jalar, tanaman muda labu, bunga labu, dan kacang-kacangan. Sayuran rebus adalah cara memasak paling umum untuk Etnis Zhuang. Biasanya kaldu, garam, dan daun bawang juga dimasukkan ke dalam rebusan itu sebelum dihidangkan.

Mereka juga memiliki kebiasaan membuat acar-acaran sayuran. Etnis Zhuang makan daging dari semua unggas dan ternak, seperti babi, sapi, kambing, ayam, bebek, angsa, dsb. Namun di beberapa tempat daging anjing tidak boleh dimakan. Ketika memasak daging babi, pertama mereka akan mendidihkannya, kemudian membuatnya menjadi potongan-potongan kecil dan dicampur dengan bumbu.


Etnis Zhuang juga suka memasak binatang liar dan serangga. Mereka juga cukup berpengalaman dalam menyembuhkan penyakit dengan terapi dari ramuan mereka ini. Mereka biasanya membuat hidangan menggunakan bunga, daun dan akar bunga Sanqi yang merupakan tanaman herbal yang digunakan secara luas dalam ilmu kedokteran tradisional China.
Mereka mencintai alkohol serta makanan yang pedas dan asam. Masakan pedas sangat disukai dan sering menjadi menu utama.
Etnis Zhuang juga membuat minuman beralkohol mereka dengan cara fermentasi beras dan jenis ubi-ubi’an. Hasil fermentasi ini biasanya rendah alkohol. Arak beras menjadi minuman utama jika ada tamu (kehormatan) yang datang.
 
Ada juga campuran arak beras dengan ampela, terkadang dengan jeroan ayam selain ampela atau jeroan bebek, atau bahkan hati babi untuk membuat arak obat. Arak obat ini bermacam-macam jenis dan fungsinya. Ketika minum arak dengan jeroan ayam, bebek, atau hati babi, orang harus minum itu pada satu tegukan dan kemudian mengunyah jeroan yang direndam itu pelahan-lahan.
 
Kudapan khas Etnis Zhuang di antaranya adalah: irisan kuku kuda, ikan, babi panggang, ketan warna-warni, rice dumpling di Ningming County, irisan daging anjing, ayam pedas, usus kecil dan darah babi.
 
Arsitektural
Etnis Zhuang yang tinggal dekat sungai dan daerah perkotaan biasanya memiliki rumah-rumah bata atau kayu, dinding-dinding yang putih dan atap yang dihiasi dengan berbagai pola gambar. Adapun orang-orang yang tinggal di pedesaan atau daerah pegunungan terpencil dan pedusunan, mereka biasanya tinggal di rumah-rumah kayu sederhana, malah beberapa masih tinggal di rumah-rumah jerami.
 
Ada dua gaya bangunan, yaitu gaya dan Ganlan dan gaya Quanju. Gaya Ganlan dibangun dengan di atas pilar untuk menjaga jarak dengan tanah, sementara gaya Quanju dibangun seluruhnya di atas permukaan tanah.
 
Rumah panggung bergaya Ganlan ini juga dikenal sebagai Diaojiaolou. Banyak kelompok etnis di selatan China, termasuk Etnis Zhuang, Miao, Dong, dan Yao tinggal di rumah semacam ini. Rumah semacam ini biasanya terdiri dari 2 lantai. Di lantai dua biasanya ada 3-5 ruang, di mana anggota keluarga tinggal. Lantai pertama dapat digunakan untuk menyimpan alat-alat produksi, kayu bakar serta bermacam-macam barang. Terkadang di sela-sela tiang penyangga di lantai satu dibuat dinding bambu atau kayu, biasanya digunakan untuk memelihara hewan ternak mereka.
Sebagian struktur Ganlan dibangun di tempat-tempat khusus yang dikelilingi oleh perbukitan di satu sisi dan perairan di sisi lain juga menghadap ke lahan pertanian mereka sehingga orang-orang bisa memiliki pandangan yang luas dan cukup menerima sinar matahari di sini.
 
Satu desa adalah seperti satu kelompok dari beberapa keluarga. Jika diamati dari kejauhan akan terlihat sangat indah dan megah. Di beberapa daerah, desa yang berbeda terhubung dan setiap keluarga juga terhubung dengan yang lain, yang menjadikannya satu kelompok yang besar, sehingga seluruh mirip dengan satu keluarga besar.
 
Untuk dekorasi dan desain kamar mereka, tiap etnis yang berbeda memiliki gaya mereka sendiri yang unik. Di desa-desa Etnis Zhuag di Longji, Longsheng County, Guangxi, seluruh arsitektur ini dibangun dengan sebuah tempat pemujaan di tengah-tengahnya.
 
Di belakang tempat pemujaan adalah kamar kakek dan sisi kiri adalah kamar nenek, dan ada pintu kecil di ruangan yang menghubungkan kamar kakek. Ruangan untuk nyonya rumah adalah di sisi kanan sementara suaminya berada di sisi kanan lorong. Kamar tamu ada di sisi kiri ruang depan. Gadis-gadis tinggal di dekat tangga, yang membuat mereka dapat berkencan dengan lebih mudah.
 
Ciri utama dari desain ini adalah bahwa suami istri tinggal di ruangan yang berbeda, dan sudah merupakan adat istiadat dengan sejarah yang panjang. Sekarang ini, struktur dan desain bangunan bergaya Ganlan ini berbeda dari jaman dulu, namun struktur dan falsafah utama belum banyak berubah.

Gaya berpakaian
Pakaian dari Etnis Zhuang memiliki 3 warna utama, yaitu biru, hitam dan cokelat. Para wanita Zhuang perempuan menanam, memintal dan menenun sendiri pakaian mereka. Industri tekstil dan teknik pencelupan untuk mewarnai tekstil sudah menjadi industri kerajinan keluarga turun temurun. Teknik pewarnaan kain ini menggunakan Daqing, sejenis semak lokal yang dapat digunakan untuk mewarnai kain dengan warna biru atau warna hijau. Sementara beberapa tanaman dari dasar kolam ikan dapat digunakan untuk mewarnai kain menjadi warna hitam dan ubi pewarna digunakan untuk membuat kain menjadi warna cokelat
 
 
 
Cabang yang berbeda dari Etnis Zhuang memiliki gaya berpakaian yang berbeda. Pria dan wanita mengenakan pakaian yang berbeda dan yang membedakan laki-laki adalah penutup kepalanya. Wanita dan gadis yang belum menikah berbeda satu sama lain dan masing-masing memiliki ciri khas sendiri.
 
 
 
Hanya sedikit perbedaan bagi laki-laki dibandingkan dengan gaya orang Han. Namun para wanita Zhuang, memiliki banyak gaya. Sebagai contoh, para wanita yang tinggal di Guangxi barat laut biasanya memakai kerah, bordir jaket berkancing ke kiri bersama dengan celana panjang longgar dan lebar, atau lipit rok dan ikat pinggang bersulam. Para wanita dari barat daya Guangxi lebih suka kerah jaket berkancing ke kiri dengan ikat kepala persegi hitam di kepala dan celana panjang longgar. Sebagian besar dari mereka melengkapi pakaian mereka dengan perhiasan perak.
 
 
 
 
 
 
Di masa sekarang ini, kebanyakan Etnis Zhuang sudah mengenakan busana modern. Untuk yang terutama tinggal di perkotaan, sudah hampir tidak mungkin didapati etnis Zhuang yang mengenakan pakaian daerah mereka. Berbeda dengan di pedesaan, masih banyak didapati pakaian tradisional mereka yang dikenakan sehari-hari. Lebih spesifik lagi, para usia lanjut tetap bertahan dengan warna-warna standard mereka yaitu warna biru atau hitam.
 
Etiket dan Tabu Etnis Zhuang
Etnis Zhuang pada umumnya ramah dan bersahabat dengan tamu asing. Di masa lalu, jika seorang tamu berkunjung ke satu keluarga Zhuang, kunjungan itu berarti kunjungan untuk seluruh desa dan diperlakukan dengan penuh hormat oleh seluruh desa. Keluarga yang berbeda selalu mengundang tamu ke rumah mereka untuk makan malam satu demi satu. Terkadang tamu tsb harus memenuhi undangan makan 5-6 keluarga.
 
Kebiasaan "Union of Wine Cups", yang berarti tuan rumah dan tamu minum dengan tangan mereka bersilang satu sama lain; sebenarnya mereka tidak menggunakan gelas, tapi semacam sendok sup berukuran besar. Ketika tamu berkunjung, keluarga tuan rumah harus menghidangkan yang terbaik kepada tamu mereka.
 
 
 
 
Untuk acara makan malam, semua orang harus menunggu sampai orang tertua datang dan duduk di meja. Sebelum yang dituakan atau yang senior mencicipi atau mengambil hidangan, yang lebih muda tidak diperkenankan menyentuh hidangan tsb. Ketika menyajikan teh atau makanan untuk para tetua atau para tamu, orang harus menggunakan kedua tangannya. Orang yang pertama selesai makan harus memberitahu para tamu atau senior untuk melanjutkan acara santap malam mereka sebelum beranjak meninggalkan meja.
 
Ketika bertemu orang tua di jalan yang lebih muda harus datang dan menyapa segera, dan pada saat yang sama memberi jalan kepada orang tua. Sangat
tidak sopan untuk duduk bersila di depan orang tua. Juga melompat-lompat di depan orang tua juga ditabukan. Saat menyembelih dan memasak ayam, kepala dan sayap harus ditawarkan kepada para orang tua lebih dulu.
 
Etnis Zhuang tabu untuk menyembelih binatang pada hari pertama di tahun baru Imlek. Di beberapa tempat wanita muda ditabukan menyantap daging sapi atau daging anjing. Ketika seorang bayi lahir, dalam tiga hari pertama – di beberapa tempat tujuh hari pertama, orang asing tabu masuk ke pekarangan keluarga tsb. Seorang wanita yang baru saja melahirkan bayi dan berusia kurang dari satu bulan, wanita ini ini tidak boleh mengunjungi keluarga lain.
 
Ketika orang-orang muda dalam keluarga Zhuang menikah, wanita hamil tidak diterima untuk menghadiri upacara pernikahan. Dan juga tidak diperkenankan untuk memasukkan wanita hamil lain ke dalam rumah. Jika ada wanita hamil dalam satu keluarga, ia harus menggantung cabang pohon atau pisau di pintu depan sebagai penanda untuk memberitahu orang lain bahwa ada seorang wanita hamil dalam keluarga ini.
 
Etnis Zhuang memiliki sejarah yang sangat panjang budi daya bertanam padi. Seiring dengan itu Etnis Zhuang juga menghormati katak. Di beberapa tempat mereka bahkan memiliki ritual penyembahan katak. Setiap kali ada banjir atau bencana lainnya, Etnis Zhuang akan mengadakan kegiatan menyembah naga dan leluhur; berdoa kepada Yang Mahakuasa untuk panen yang baik serta akhir dari bencana.

Teknik cor
Etnis Zhuang diperkirakan sudah mengenal teknik logam tuang (metal casting) sejak dulu kala, sekitar 2.000 tahun lalu. Bukti awal adalah Bronze Drum yang sudah disebutkan di atas.
 
Permukaan genderang bulat dan datar, permukaan samping dihiasi dengan pola yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Dalam sejarah Etnis Zhuang, genderang perunggu tidak hanya berfungsi sebagai alat musik, tetapi juga melambangkan kekuasaan dan kekayaan. Dilihat dari teknik casting dan moulding, genderang perunggu yang ditemukan di sekitar Guogailing, Tiandong County, Guangxi ini dibuat pada Masa Sam Kok. Sementara genderang perunggu yang ditemukan di Gui County dan Guangxi Xilin County diperkirakan dari Dinasti Han Barat. Kedua temuan purbakala ini dibuat dengan teknik tuang/cor tingkat tinggi.
 
Brokat
Brokat buatan Etnis Zhuang adalah kerajinan tangan yang sangat terkenal di dunia. Tenun menenun tingkat tinggi dengan benang katun dan teknik celup warna yang luar biasa menjadikan Brokat Zhuang kerajinan tangan yang ‘state of the art’. Pola gambar brokat ini sangat unik.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Brokat Zhuang tahan lama dan biasanya tidak akan rusak untuk waktu yang panjang. Catatan awal Brokat Zhuang didapati dari Dinasti Tang dan Song lebih dari seribu tahun yang lalu. Baru di masa Dinasti Qing, produksi brokat Zhuang telah menyebar luas dan dikenal di seluruh China.

 Pernikahan adat
 
Ada dua bentuk perkawinan dalam Etnis Zhuang. Bentuk pertama adalah terserah kepada pria/wanita menentukan pasangannya sendiri, sementara yang satu lagi adalah bentuk yang diatur oleh orangtua kedua belah pihak. Secara umum muda-mudi Zhuang memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan pasangan hidupnya sendiri. Etnis Zhuang menganut monogami. Hanya laki-laki memiliki hak untuk mewarisi harta keluarga.
 
Dalam sistem perkawinan, mereka memiliki kebiasaan “Menginap di Rumah” atau “Tak Hidup Dengan Suami”. Itu berarti setelah menikah, istri tetap kembali ke keluarganya sendiri. Sampai sekarang di beberapa tempat masih saja ada yang menerapkan kebiasaan semacam ini
 
Setelah menikah, si wanita hanya datang dan tinggal bersama suaminya untuk masa yang pendek atau dalam hari-hari penting/festival dalam setahun. Hanya setelah hamil, si istri diperkenankan tinggal bersama suami atau keluarga suami selamanya. Di jaman dulu, perpisahan ini bisa terjadi dalam kurun waktu 3-5 tahun. Dan dalam masa berpisah ini, masing-masing diperkenankan mencari kepuasan seksual mereka sendiri. Tapi karena batasan-batasan norma yang bergeser dan menguatnya ajaran Confucius, kehidupan seks bebas seperti ini tidak diterima lagi. Muda-mudi Zhuang masa kini tidak lagi terikat dengan adat perpisahan seperti itu lagi.

Upacara pemakaman
Orang meninggal akan diletakkan di ruang utama dalam rumah keluarga besar, dan dimandikan dengan air yang direbus dengan daun pomelos, persik atau jahe. Ketika jenazah dimasukkan ke peti matu, semua anggota keluarga harus menangis keras meratapi si mati.
 
Semua kerabat dan teman-teman akan datang, menuangkan anggur dan mempersembahkan sesuatu kepada keluarga yang meninggal. Semua barang-barang favorit yang meninggal diletakkan di sekitar mayat, koin perunggu yang digunakan untuk menutup mata dan mulut, makanan atau beras ketan terkadang daun teh juga dimasukkan ke dalam mulut.
 
Harapan yang ditinggalkan adalah supaya almarhum memiliki cukup makanan dan uang dalam perjalanan ke akhirat. Di beberapa tempat orang menggunakan warna merah terang untuk menutup lima indra dari wajah. Mayat ditutupi dengan sehelai kain putih. Keluarga almarhum menyulut petasan dan kembang api atau memukul genderang untuk mengekspresikan kesedihan mereka.
 
Jika orang yang meninggal adalah wanita, keluarga telah memberitahukan orangtuanya keluarga, dan mereka tidak dapat memasukkan mayat ke dalam peti mati sebelum anggota keluarga wanita datang menemuinya untuk terakhir kalinya.

Biasanya setelah tiga tahun pemakaman, peti mati dibuka dan peninggalan orang yang meninggal dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam pot keramik, yang kemudian ditempatkan ke dalam gua.
Kemudian setelah dipilih tempat yang layak dan dianggap bagus hong shui’nya, orang yang meninggal akan dikuburkan untuk kedua kalinya. Setelah ini dilakukan, almarhum memiliki kualifikasi sebagai salah satu nenek moyang keluarga.
 
Orang-orang yang mati tak wajar dipercaya untuk menjadi hantu jahat setelah kematian; oleh karena itu jenazah harus dikremasi. Seorang ahli nujum harus diundang untuk membacakan doa pengantar ke akhirat dan penangkal gangguan untuk yang ditinggalkan. Hanya dengan cara ini jiwa dari orang yang meninggal tidak wajar dapat diterima dan menikmati status yang setara dengan jiwa-jiwa leluhur lainnya.
 
Perayaan-perayaan
Etnis Zhuang memiliki banyak festival dan ada festival hampir di setiap bulan sepanjang tahun. Perayaan Tahun Baru Imlek atau sering disebut dengan Festival Musim Semi merupakan perayaan terpenting bagi Etnis Zhuang.

Festival Musim Semi

Festival Musim Semi dirayakan dengan meriah mulai dari tanggal 30 bulan terakhir sampai tanggal 2 bulan pertama penanggalan China/Imlek. Persiapan menyambut Tahun Baru Imlek sudah dimulai sejak tanggal 23 bulan terakhir. Semua keluarga harus membersihkan rumah mereka, membuat baju baru, membuat kue, menyembelih babi, membuat kue beras, dan masih banyak persiapan lainnya.
 
 
 
Festival Musim Semi juga merupakan waktu untuk semua keluarga untuk berkumpul bersama-sama. Semua keluarga yang bekerja di rantau akan kembali ke kampung halaman untuk makan malam bersama keluarga besar di Malam Tahun Baru.
Pada Malam Tahun Baru, semua anggota keluarga harus menyambut datangnya tahun baru. Ketika mereka mendengar kokok ayam pertama, semua keluarga membakar kembang api untuk mengucapkan selamat tinggal kepada tahun lalu dan menyambut tahun baru.
 
Hari Pertama dan Kedua Tahun Baru Imlek
Pada dua hari ini, ketika ada tamu datang, kue yang terbuat dari beras dan ketan disajikan untuk tamu-tamu terhormat keluarga Zhuang. Ada berbagai ukuran kue beras, yang besar dapat mencapai berat sekitar 1kg, dan yang lebih kecil sekitar 100 gram. Jenis lain kue yang bernama Fengmo, yang sangat besar dapat mencapai berat 10 kg. Rice dumpling dengan berbagai isian dan cita rasa disajikan sebagai sajian istimewa di tahun baru.
 
 
 
Referensi & foto:
chinatravel.com
china.org.cn
chinadaily.com
chinaculture.org
wikipedia
Catatan pribadi, buku, risalah, majalah
Chen Hai Wen

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

40 Comments to "56 Etnis Suku di China: Etnis Zhuang"

  1. rahman  9 December, 2010 at 09:53

    senang bisa membaca kekayaan budaya dunia dari blok anda. terima kasih. tukaran link yuk..

  2. Frankie Azizchan Alisyam  17 November, 2010 at 03:38

    senang dapat pengetahuan tentang ini semua, semoga ada perkembangan yg lebih specific lagi, thankyou!

  3. J C  16 November, 2010 at 16:06

    xiaobai, Evy: terima kasih sudah mampir. Evy, silakan sharing seluas mungkin. Senang dapat berbagi.

  4. Evy Nizhamul  16 November, 2010 at 10:13

    Wah… bagus sekali artikel ini… Ijin share ya untuk saya Infokan ke komunitas minangkabau/bundokanduang ya…
    Salam…

  5. xiaobai  15 November, 2010 at 13:15

    sangat menarik perhatiaan dunia dan termasuk kita yang punya budaya ,lanjutkan terus perjuanganya ,good luck

  6. J C  13 April, 2010 at 09:43

    Monggo Mas, silakan…saya seneng bisa berbagi dan memperkaya khasanah silang budaya…

  7. Abyadi Zohri  13 April, 2010 at 09:31

    Mas ijin translate ke Bahasa Inggris, saya buat artikel tentang persamaan Suku Minang dan Suku Zhuang.
    Terima kasih.

  8. HN  11 January, 2010 at 16:21

    mari..mari….kita berdoa untuk six packs nya Ilham….

  9. nevergiveupyo  11 January, 2010 at 16:19

    wuih..jgn salah…. ilham segera jd 6 packs koq…
    mari mari..mari pulang….

  10. GC  11 January, 2010 at 16:12

    BUTO, makan besarnya pas malam hari yo..tapi gambar’e kok langsing2 yo sawah’e apik tenan..aku suka!

Terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)