Pengalaman pertama naik pesawat

Osa Kurniawan Ilham

Sebagai pemuda dari keluarga miskin, terbang dengan pesawat adalah sebuah kemewahan yang hanya ada di dalam mimpi. Pengalaman terbang pertama kali saya adalah di tahun 1997, beberapa bulan setelah saya mulai bekerja setelah lulus kuliah. Jadi, saya harus menunggu 23 tahun sejak lahir untuk bisa naik pesawat. Bandingkan dengan anak saya yang pertama yang pada usianya ke 2 sudah terbang, atau anak saya yang kedua yang pada usia 6 bulan sudah mulai terbang.

Pada tahun 1997, penerbangan belumlah menjamur seperti sekarang ini. Yang ada saat itu paling Garuda, Merpati dan Bouraq. Juga Sempati kalau tidak salah, Anda tahulah pemiliknya siapa he..he…Kalau saya tidak salah ingat, saya terbang perdana dalam hidup saya menggunakan Garuda Indonesia rute Surabaya – Jakarta dengan harga tiket saat itu sekitar Rp 250 ribuan. Bagi Anda saat ini mungkin itu harga yang sangat murah sekali, tapi saat itu (dengan kurs dollar setara Rp 2 ribuan) sudah terhitung mahal. Kalau dikonversikan dengan sekarang kira-kira sudah Rp 1.250.000,-. Mahal kan ?!

Mungkin Anda bertanya-tanya kenapa saya memaksa untuk naik pesawat saat itu, toh masih ada kereta api Surabaya – Jakarta, yang KA eksekutif Argo Bromo harga tiketnya Rp 100 ribu ? Jawabannya sepele saja, karena cinta he..he… (kayak sinetron aja ya). Saat itu saya sudah bekerja di Cilegon, dan sedang menaksir adik kelas di kampus Surabaya. Ada sebuah acara yang kayaknya akan mempertemukan kami pada suatu hari Sabtu. Sayangnya pertemuan gagal (karena dia tidak datang di acara tersebut. Sialan, agen intelijen saya tidak cukup bagus kayaknya he..he..) Akhirnya minggu sore saya harus segera balik ke Jakarta. Sayang seribu sayang, tiket kereta api sudah habis. Anda bisa tebak cerita selanjutnya. Itulah jawabannya kenapa saya memaksakan diri naik pesawat untuk pertama kalinya saat itu.

Setahun kemudian, adik kelas itu benar-benar menjadi pacar saya, pacaran jarak jauh dipisahkan oleh jarak 900 km yang membentang antara Cilegon dan Surabaya. Nah ini cerita mengenai memanfaatkan hari long weekend nasional karena hari Jumatnya adalah hari libur Idul Adha. Saya dan seorang teman kerja merencanakan pulang ke Surabaya dengan naik kereta api eksekutif, lumayanlah dapat 3 hari bertemu sang pacar . Tapi sampai menjelang hari H, tiket sudah habis. Kami pun nekat tetap ke stasiun Gambir, siapa tahu ada tiket di saat injury time. Ternyata, sampai kereta berangkat kami tetap nggak dapat tiket. Hik…hik..

Bingung, kami memutuskan pergi ke Terminal Pulogadung, naik bis malam saja. Tapi malang tak dapat ditolak, kami tunggu sampai jam 3 pagi tidak ada bis malam yang berangkat, karena bis dari Surabaya ke Jakarta terjebak kemacetan di pantura. Akhirnya kembalilah kami ke Stasiun Gambir dengan menaiki taksi, siapa tahu ada kereta api pagi yang berangkat ke Surabaya. Sampai di Gambir, loyolah kami saat mengetahui bahwa tidak ada kereta api pagi yang berangkat ke Surabaya. Kami pun terduduk lesu di lantai Stasiun Gambir yang lengang. Pikiran saya melayang ke Surabaya, membayangkan sang pacar yang tampaknya nggak jadi saya temui dalam long weekend ini.

Jam berdetak pelan menunjuk angka jam 4 pagi. Terlihatlah di mata saya ada bis airport yang akan menuju ke Bandara Soekarno Hatta. Saya tawarkan kepada teman saya bagaimana kalau kita naik pesawat saja. Teman saya mau-mau saja, tapi dia bilang harus pinjam uang dulu ke saya untuk beli tiket pesawat. Karena pikiran saya sudah dikuasai keinginan bertemu sang pacar, saya katakan berapa pun harga tiketnya akan saya bayar dulu.

Singkat cerita akhirnya pagi itu kami sampai ke Bandara Soekarno Hatta lalu beli tiket pesawat Mandala untuk penerbangan pertama ke Surabaya. Harga tiketnya saat itu kalau tidak salah Rp 400 ribu-an. Nggak masalah, yang penting ketemu pujaan hati he..he..

Selama penerbangan, saya menyesal kenapa kalau ujung-ujungnya naik pesawat Jumat pagi kami kok tidak sekalian saja naik pesawat di hari Kamis malamnya he..he…Kenapa harus melewati malam dengan menggelandang di terminal Pulogadung dan Stasiun gambir. Tapi nggak masalah. Penyesalan pun berakhir karena saya tertidur selama penerbangan di pagi itu setelah melewati malam tanpa tidur. Lalu setelah turun di Surabaya bertemulah dengan gadis pujaan hati. Puas sudah, hilang semua rasa lelah semalaman. Masalah dompet yang menipis ? Nggak masalah he..he..bisa dicari lagi.

Akhir cerita, sang gadis pujaan hati itu akhirnya menjadi isteri saya ehm…ehm…Tapi ini yang menyedihkan saya, teman kerja dalam malam yang melelahkan itu ternyata tidak diberi umur panjang. Dia meninggal tahun 2006 yang lalu setelah beberapa bulan sebelumnya menikah. Semoga Tuhan memberikan tempat yang baik baginya.

Balikpapan, 28 Nov 2009

35 Comments to "Pengalaman pertama naik pesawat"

  1. Iron Maiden  7 March, 2014 at 17:40

    ngapain naik pesawat kalau masih ada ABA? (niru)
    Ngapain naik ABA kalau masih ada Ekspress malam Bima yang lebih bagus dan jarang telat?(ini baru orisinil)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.