Love, Laugh n Learn

Alexa – Jakarta

Gambar mesra sepasang anak manusia ini adalah gambar Ibu dan Bapak ku sewaktu masih pacaran. Ibu dipacari Bapak sejak berusia 15 tahun dan duduk di bangku SMP  sementara Bapak merupakan mahasiswa Tehnik Kimia UGM berusia 24 tahun. Dengan sabar Bapa menunggu Ibu hingga menyelesaikan kuliah di Fak. Sastra UGM jurusan Sastra Inggris. Nah selama masa pacaran dan tunangan itu Bapak sering banget membelikan buku cerita silat dan petualangan Karl May buat Ibu.

Bapak bekerja di Departemen Perindustrian – menangani bidang Kimia Dasar. Sehabis menikah mereka masih mukim di Jogja hingga lahirlah mbakku. Bapak kemudian ditugaskan ke Makassar untuk set-up suatu pabrik hibah dari Pemerintah Jepang sehingga di Makassar teman-temannya banyak orang Jepang.

Mbakku dititipkan ke MJ di Jogja, di Makassar Ibu hamil aku.  Mungkin karena kondisi daerah di sana yang kurang bagus (saat itu pasti masih jadul)  mengakibatkan Bapa sakit paru-paru dan harus dirawat di RS berbulan-bulan. Kelihatannya hal itu mengakibatkan Ibu stress sehingga memasuki bulan ke 10 – belum juga ada tanda-tanda aku bakalan lahir ke muka bumi.

Teman-teman beliau di sana akhirnya menggelar ritual sapi melahirkan – sapi tuh masa kehamilannya sepuluh bulan; Ibuku dimasukkan ke kandang sapi trus teman-temannya bergiliran memecuti sekitar kandang sapi seraya berujar hayo anak sapi cepetan keluar kamu. Ritual ini terbukti mujarab karena kemudian terlahirlah aku….makanya di antara mereka aku sering dipanggil Anak Sapi.

Begitu aku lahir Bapak langsung sembuh dan belum lagi aku menginjak usia 2 tahun, beliau dialih tugaskan ke Pematang Siantar – hampir dua tahun kami menetap di sana sebelum akhirnya beliau ditarik ke Jakarta. Berhubung tidak langsung mendapat jatah rumah dinas – kami sempat numpang di rumah seorang kerabat yang menjadi Kapolsek Mangga Besar. Menurut Ibu – keluarga Kapolsek itu tidak pernah masak karena tiap hari selalu ada “upeti” Chinese Food dari resto sekitar…baru nyadar lho waktu nulis ini – tidak diragukan lagi di tubuhku mengalir juga lemak babi ya?

Akhirnya Bapa mendapat jatah rumah dan begitu menempati rumah tersebut mulai lahirlah satu persatu tiga adikku – semua perempuan. Ibuku juga meminta kembali mbakku – bukan hal yang mudah ternyata karena MJ nenekku sudah terlanjur sayang ama mbak dan perlu waktu bertahun membujuk, berantem, nangis bareng antara Ibu dan MJ sampai mbak direlakan tuk dibawa ke Jakarta.

Nah selama mbak belum kumpul dengan kami, jadilah aku si sulung dengan dua adik yang masih kecil. Masih ingat banget waktu itu lokasi perumahan yang terletak di daerah Pancoran masih sepi banget dan bergaullah Ibuku dengan sesama Ibu di kompleks. Biasanya sambil ngerumpi atau arisan aku dibawa serta, aku kelihatannya sIbuk bermain sendiri – entah boneka atau lilin yang bisa dibentuk-bentuk tapi ternyata aku selalu menyimak pembicaraan mereka dan merekam dalam memori seorang bocah.

Akibatnya terjadilah kekacauan-kekacauan di kemudian hari- misalnya saat mereka bergosip tentang seorang teman yang tentunya tidak hadir disitu – pas suatu saat kami bertemu dengan tante itu, lha aku langsung tembak …”Ibu, ini tante yang bla-ble-blu itu ya? Yang tempo hari diomongin di arisan?”…jhiah apa enggak merah-biru muka semua orang. Alexa kecil juga punya tante favorite dan kadang berdampak parah – misalnya suatu saat Ibu menyuruhku mengantar kue ke temannya, tapi kue itu kubawa ke rumah tante favoriteku. Ibuku menanti-nanti ucapan terimakasih dari temannya, eh gak taunya waktu ke pasar malah yang mengucapkan terimakasih tante favoriteku…hahaha.

Ini fotoku bersama si ketiga yang sewaktu kecil benar-benar mirip Buto Cilik, dia juga concern dengan penampilannya yang beda maka pernah dia bertanya kepada Ibu kenapa tampangnya beda dengan saudara-saudaranya. Dengan enteng Ibu menjawab kalau sewaktu di Rumah Sakit itu sempat RS mau kebakaran dan semua buru-buru menyelamatkan diri dan bayinya sehingga bayi Ibu ketukar dengan bayi orang lain tapi kata Ibu- si Ketiga tidak perlu khawatir sebab dia tetap disayang seperti yang lainnya. Lucunya kami semua percaya itu dan si ketiga malah bangga dengan cerita asal-usulnya.

Kembali ke soal mbakku- akhirnya setelah dua tahun lebih memohon, mbakku dikembalikan MJ kepada orangtuaku. Di Jakarta si mbak perlu penyesuaian diri karena dia terbiasa memanggil Bapa dan Ibu – Mas dan Mbak sebab menganggap MJ dan kakekku sebagai Ibu dan Bapa.

Dalam usia belia saat aku dan mbak yang berdekatan duduk di bangku SD – Ibuku mendatangkan  buku-buku bacaan koleksinya dari Jogja, ada beberapa peti besar. Bujubune edisi hardcover, kertas dalamnya glossy dan tebal-tebal gitu – kami yang masih SD diwajibkan membaca buku tersebut. Mula pertama kami harus dipaksa baca. Lama-lama ketagihan, jadi addicted. Petualangan Winnetou – kepala suku Indian Apache yang kesatria sangat berpengaruh besar dalam jiwaku demikian juga petualangan Kara ben Nemsi (Karl May) di pelosok Asia Timur sanggup membawa imajinasiku kesana juga.

Cersil yang ada malah jarang yang karangan Kho Ping Hoo kebanyakan karangan OKT dan Gan KL – bentuknya bukunya bagus bukan model sekarang yang stensilan gitu…gambar cover pasti lukisan klasik Cina full colour dan tiap malam kerjaanku menggambar ulang cover-cover itu, Bapa akan menungguiku dengan bangga.

Seingatku, sempat aku memvisualkan diriku sebagai Soh Sim Lian (si Kang Lam Lihiap) yang jagoan, cantik dan cool sementara mbak menganggap dirinya Ang I Niocu (Si Merah yang jagoan dan galak ).

Ibu sangat addicted dengan cerita-cerita silat sehingga sering mengajak aku dan mbak untuk nonton film silat di bioskop-bioskop di…Senen, Glodok hingga THR Lokasari. Film-film silat sudah habis ditonton – tontonan kami meningkat hingga ke film-film drakula dan horror dan semua sudah dikhatamkan saat bangku SD. Mungkin kalau terjadi saat ini Ibuku sudah kena tuntutan dari KPAI ya, dan kalau anak jaman sekarang yang nonton-nonton film seperti itu bisa-bisa jadi psycho.

Berhubung kami perempuan semua, Bapa sudah wanti-wanti kalau beliau pasti tidak bisa menjaga kami semua jadi kami harus bisa jaga diri – akhirnya kami dimasukkan ke kelas Yudo di GOR Senen. Aku baru berhenti ber Yudo saat mau dikirim sebagai atlet PON – syerem ikut tanding gitu. Selain itu kami juga diajari mengemudi mobil padahal satu-satunya mobil kami saat itu adalah Jeep CJ7, latihan sebentar di parkir timur Senayan, langsung disuruh praktik  ke jalan raya. Hasilnya bagus banget sebab kami mulai mengemudi dengan mobil besar dan berat itu, aku perhatikan kami bersaudara tuh kalau parkir mundur enggak pernah memutar kepala segala. Cukup lirik spion langsung blass masuk dengan mulus, itu yang jalannya mundur apalagi yang jalannya maju….jangan ditanya.

Kombinasi antara senang baca Cersil dan kemampuan beladiri  membuat kami menjadi anak perempuan pemberani. Contohnya suatu saat aku sedang jalan sendiri, tiba-tiba ada yang nyolek pinggangku dan serombongan cowo SMA dengan cengengesan meninggalkanku. Secara reflek (gerakan mendahului pikiran) aku berlari menghampiri mereka dan melontarkan tendangan ala Bruce Lee ke salah satu diantara mereka – untungnya mereka kaget dan lari terbirit-birit. Coba kalau mereka mengeroyokku … beh bisa-bisa aku babak belur.

Di lain waktu beberapa tahun yang lalu, aku dan adik-adik sempat mudik ke Jogja dengan mobil yang disupiri oleh supir kami yang kecil dan tua. Di suatu jalan raya di daerah Cirebon, sebuah mobil box tiba-tiba memalangi depan kami karena pengemudinya tersinggung saat supir kami mendahuluinya padahal sudah memberi tanda dengan lampu sebelumnya. Si pengemudi mobil box memaki-maki supir kami, bahkan saat adikku turun dan bermaksud bicara baik-baik eh malah dicaci maki juga. Akhirnya aku dan adikku yang satu lagi turun, tanpa berpanjang kata  kukeluarkan lagi tendangan Bruce Lee dan diarahkan ke box mobilnya, abis itu kami bertiga pasang kuda-kuda ala Charlie Angels…eh mereka langsung kaboor juga. Itu juga masih kami kejar…jadi kebutan-kebutan gitu sebelum mereka benar-benar menghilang karena supir kami tidak menggeber mobil dengan sepenuh hati.

Demikianlah sekelumit cerita mengenai “premanisme” Alexa, gak setaon sekali berkelakuan preman gitu lho. Waktu berjalan terus dan kami tumbuh jadi remaja yang paling demen ngawal si Bapa habis dia ganteng seperti Rano Karno masih muda – Ibu tenang tenang aja, para gadisnya Bapa lebih blingsatan dan cemburuan, Bapa sendiri mesem-mesem dan hepi-hepi aja dikawal gadis-gadisnya. Jabatan beliau makin meningkat dan waktu itu ekspertise di bidang Pulp and Paper kelihatannya masih jarang.

Jadi banyak pengusaha yang umumnya keturunan Cina datang ke rumah menimba ilmu – bukan macam sekarang lho Pengusaha mendekati Pejabat untuk dapat proyek. Pengusaha-pengusaha itu kan mau bikin pabrik Pulp and Paper di Indonesia jadi kalau ke rumah mereka sIbuk ngerjain berlembar-lembar kertas penuh hitungan. Nah ada tuh yang coba entertain Bapa ke Night Club dengan alasan pijat, di sana sih Bapa emang di pijat beneran sama pemijat bukan yang plus-plus ( katanya – udah STW matanya juga juling). Dan Bapa selalu cerita semua ke Ibu – maka waktu si Oom itu main ke rumah lagi, Ibu langsung nodong…”Pak, saya juga mau dunkz dipijat di Night Club seperti suami saya.” Si Oom itu langsung merah mukanya dan mohon-mohon maaf ke Ibu.

Begitulah sedikit cerita semasa masih kecil dan ABG – rasanya kami dibesarkan dengan santai penuh canda tapi juga sarat kegiatan pembelajaran. Konfusius said: Learn without Doing is Not Yet to Learn

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.