Mengapa Tuhan Menciptakan Tembakau?

Osa Kurniawan Ilham

Saya bukan perokok, tapi saya berasal dari Kediri, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang menjadi pusat dari pabrik rokok Gudang Garam. Karena itu tidak aneh kalau setiap hari kami berteman dengan bau tembakau, apalagi di waktu sore sehabis turun hujan, biasanya bau khas tembakau akan semerbak di seluruh penjuru kota.

Dari dahulu sampai sekarang orang ramai berbicara tentang rokok, bahkan sampai keluar fatwa haram segala. Saya sampai berpikir, sebenarnya mengapa sih Tuhan menciptakan tembakau ? Kalau memang tanaman itu hanya bersifat merusak dan membuat orang berdosa, mengapa Tuhan capek-capek menciptakan tembakau. Sekedar memuaskan rasa penasaran saya menjelajahi google untuk mencari tahu jawabannya.

Belum tuntas sih jawaban yang saya dapatkan dari internet tapi paling tidak ada beberapa hal yang mungkin akan membuat kita berpikir ulang tentang tembakau.

Yang pertama tidak perlu berpikir panjang. Saat kecil saya diajari bahwa kalau ada lintah yang menempel dan mengisap darah di kaki saya, maka gunakanlah air tembakau untuk melepaskan gigitan lintah tersebut.

Yang kedua adalah berdasarkan penelitian oleh Prof. Dr. Drh. Surung Karo Karo Ms dari Universitas Hasanudin Makasar. Berdasarkan penelitian yang dibuatnya pada tahun 2006 berjudul Manfaat Ekstrak Tembakau Terhadap Penurunan Jumlah Cacing H. Contortus, ditemukanlah fakta bahwa ekstrak tembakau dengan dosis tertentu (sesuai dengan berat badan kambing) mampu membasmi cacing Haemonchus Contortus yang biasanya bersemayam dalam tubuh kambing. Dengan demikian tembakau bermanfaat untuk menjaga kesehatan kambing yang pada akhirnya bisa membantu kesejahteraan para peternak kambing.

Yang ketiga adalah berdasarkan penelitian Dr. Arief B. Witarto, peneliti bioteknologi LIPI. Peneliti ini meraih penghargaan Fraunhofer-DAAD-Award 2007 dari Jerman untuk riset tentang tembakau molecular farming. Menurut penelitiannya, tembakau bisa digunakan sebagai reaktor penghasil protein Growth Colony Stimulating Factor (GCSF), hormon yang sangat penting dalam menstimulasi produksi darah. Hormon ini berfungsi sebagai protein anti kanker, juga unutk merangsang perbanyakan sel tunas (steam celll) yang bisa digunakan untuk memulihkan jaringan tubuh yang sudah rusak.

Saya bukan ahli bioteknologi, tapi secara sederhana idenya yang dapat saya mengerti adalah seperti berikut. Sekarang ini banyak obat maupun vaksin yang berbentuk protein. Protein dibuat oleh DNA dalam tubuh. Lalu DNA tersebut dipindahkan ke tembakau melalui bakteri. Begitu masuk, tembakau akan mampu membuat protein sesuai DNA yang dimasukkan tersebut. Jika tembakau sudah bisa dipanen maka berarti kita juga akan mendapatkan proteinnya yang kemudian bisa digunakan sebagai obat anti kanker. Tentu saja daun tembakau harus diesktrak dulu supaya mendapatkan protein yang murni, bebas dari zat berbahaya seperti nikotin. Jadi daun tembakau digunakan sebagai media produksi protein.

Selama penelitian di Jerman varietas tembakau yang banyak digunakan sebagai reaktor adalah tembakau Havana, tapi di negeri sendiri Dr. Arief menggunakan 20 jenis tembakau lokal yang salah satu di antaranya adalah tembakau Temanggung. Dari hasil penelitiannya ternyata tingkat produksi proteinnya lebih banyak 2 hingga 3 kali lipat dari tembakau Havana. Karena berat daun tembakau lokal lebih berat 2 – 3 kali lipat dibanding tembakau Havana maka praktis produksi protein tembakau lokal 4 hingga 6 kali tembakau Havana.

Karena tembakau bukanlah tanaman pangan, dan dia menghasilkan produk bio massa yang cukup besar (daunnya yang sangat lebar) maka sangat tepatlah ide untuk menghasilkan protein melalui tembakau ini.

Saya jadi ingat saat acara debat calon wakil presiden yang baru lalu. Saat ada pertanyaan dari Ketua IDI tentang tembakau Prabowo mengusulkan untuk tidak secara serampangan melarang petani menanam tembakau tapi juga mencari terobosan iptek untuk memanfaatkan tembakau selain menjadi produk rokok. Dengan demikian menurut Prabowo ekonomi si petani tembakau tidak dimatikan. Kalau Prabowo tahu mengenai penelitian ini tentu dia bisa menjawab lebih tegas bahwa produksi tembakau akan diarahkan untuk menjadi pabrik protein obat anti kanker.

Semoga hasil penelitian otak Indonesia ini bisa segera digunakan di dalam negeri dengan memanfaatkan produksi tembakau yang melimpah di sini. Apakah pemerintah sudah tahu belum ya dengan penelitian ini ?!

Balikpapan, 2 Desember 2009

 

 

Sumber pustaka:

1. http://www.unhas.ac.id/lemlit/researches/view/322.html

2. http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1221953354&&2008

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.