Nginang

Josh Chen – Global Citizen


Ujug-ujug, sekonyong-konyong, tiba-tiba ingatan saya melesat ke puluhan tahun lalu di Semarang. Sebenarnya yang membuat ingatan saya melesat adalah buku dengan judul Candi Murca karangan Langit Kresna Hariadi, salah satu penulis favorit saya, setelah ludes saya baca serial Gajah Mada 1-5, sekarang keluar serial baru dengan tokoh utama Ken Arok dengan judul Candi Murca….

Di salah satu bagiannya ada kata “enjet” saya bingung, dan melihat footnote alias catatan kaki, ternyata maksud pak LKH adalah injet (dalam bahasa Semarang)…. dan wuuuusssss…..ingatan saya melayang….

Nginang….apa itu?

Nginang, atau nyirih, atau nyusur, atau apa saja istilah di masing-masing daerah dan masing-masing negara bisa saja berbeda. Tidak jauh-jauh dari kebiasaan saya, ngubek Mang Google untuk mencari referensi tentang nginang ini, dan saya mendapatkan foto emak-emak lagi nginang dari salah satu blog…thanks to thebangsat.multiply.com yang bisa saja memiliki koleksi luar biasa ini.

Emak-emak Nginang

Sudah ingatkah Anda sekalian dengan nginang?
Nah, memeras ingatan saya, mengaduk internet sana sini, akhirnya saya memberanikan diri bercerita mengenai nginang ini. Mari kita kenali dulu terminologi dalam hal nginang menginang ini…..


Dubang

Kependekan dari iDU aBANG, yaitu maksudnya adalah ludah merah, dalam arti harafiah, arti sebenarnya bahwa ludah yang berwarna merah terang. Dubang adalah bisa dibilang produk hasil nginang. Kenapa bisa merah? Nanti akan dibahas di bawah.


Tempolong

Atau tempat ludah, dalam bahasa Jawa disebut wadah idu, dalam bahasa Inggris lebih keren disebut dengan spittoon atau populer disebut dengan cuspidor. Istilah cuspidor lebih banyak digunakan dalam terminologi dokter gigi. Tempolong memiliki sejarah panjang sekali, walaupun kelihatan sepele dan “menjijikkan” tapi begitulah adanya, berkembang seiring dengan peradaban manusia. Dimulai di Asia dan memasuki Amerika dan Eropa sekitar tahun 1840.

Tempolong Tempo Doeloe di Chicago

Sirih

Piper betle nama ilmiahnya. Banyak sekali kegunaan sirih dan banyak sekali digunakan dalam kegunaan tradisional bukan saja di Indonesia tapi dikenal luas dalam dunia pengobatan tradisional di Asia.

Banyak sekali kegunaan dalam khasanah tradisional Indonesia, yang paling terkenal adalah kegunaan untuk “perangkat wanita” mulai dari menyembuhkan keputihan, mencuci vagina, kemudian kegunaan lain seperti obat batuk, sariawan, bau mulut, bau badan, luka bakar, dan masih banyak lagi.


Gambir










Mengutip dari Wikipedia, gambir adalah sejenis getah yang dikeringkan yang berasal dari ekstrak remasan daun dan ranting tumbuhan bernama Uncaria gambir. Kandungan penting gambir adalah catechin satu bahan alami yang bersifat anti-oksidan.

Kegunaan gambir yang utama di Nusantara adalah dikenal luas sebagai salah satu komponen nyirih atau nginang. Dari Sumatera sampai Papua diperkirakan sudah 2.500 tahun lalu mengenal gambir dengan kegunaan untuk menyirih.



Injet/Enjet atau Kapur Sirih

Dalam bahasa kerennya disebut dengan “Slaked Lime” yaitu satu bentuk pasta yang dibuat dari menggiling atau menghancurkan cangkang kerang dan membuatnya menjadi pasta.


Areca Nut atau Betel Nut






Buah mungil dari golongan palem ini biasanya dipotong kecil dan digulung bersama dengan daun sirih, gambir dan injet, kemudian dikunyah bersama sehingga menimbulkan warna merah. Di Taiwan sendiri hanya gulungan daun sirih dan areca nut yang sering salah kaprah menjadi disebut dengan betel nut, karena kegunaan bersama dengan daun sirih tsb.


Ritual Nginang

Cara nginang atau menyirih dari satu tempat ke tempat lain berbeda. Di Taiwan juga dikenal menyirih. Menyirih di Taiwan, bukan hanya sekedar menyirih tapi juga “cuci mata” atau mungkin ada “after sales service” ya kita tidak tahu.

Seingat saya, nginang di Jawa Tengah, lebih spesifik lagi di Semarang dan sekitarnya, waktu saya kecil cukup populer. Yang saya tahu, di mulut para simbah tadi itu tersemat satu gepok susuh yang kelihatan seperti sulur-sulur begitu. Dan kemudian saya ketahui adalah gumpalan rajangan tembakau.

Nginang di Jawa Tengah dan sekitarnya dilakukan dengan mencampurkan semua bahan di atas: dauh sirih, injet/enjet, dan cuilan kecil gambir. Sedulit kapur tadi dioleskan di atas daun sirih, dan di atasnya ditaruh secuil kecil gambir, daun dilipat, dan kemudian dimasukkan mulut dan mulai dikunyah.

Entah reaksi apa yang terjadi, tapi yang pasti makin lama warna di mulut berubah menjadi merah menyala. Sesaat kemudian, ludah berwarna merah terang akan mulai diludahkan. Setelah beberapa saat, akan disambung dengan gumpalan tembakau rajangan tadi untuk membersihkan gigi dan bibir, serta dihisap-hisap. Menurut yang pernah saya tanya dulu kala, rasanya sungguh nikmat.

Kalau kita lihat dan perhatikan, orang-orang tua di pedesaan kebanyakan giginya sangat kuat, jarang yang bolong, dan jarang yang tanggal bahkan sampai tutup usia sekalipun. Mungkin standard kecantikan jaman dulu kala dan mungkin masih ada sekarang di pedesaan bahwa bibir yang merah menyala karena warna nginang merupakan kecantikan tersendiri.

Bisa kita perhatikan bahwa di pedesaan di mana banyak para wanita yang nginang, akan dengan mudah kita jumpai di mana-mana akan ada bekas dubang tadi. Di bagian bawah pepohonan, di akarnya, di bagian bawah pintu rumah, di pelataran depan dan belakang di rumah pedesaan. Tanda-tanda bercak memerah yang mengering menandakan penghuninya nginang.

Nginang setahu saya bukan saja di Asia bahkan di Amerika juga dikenal nginang, walaupun saya tidak tahu apakah sekarang masih ada, tapi yang saya tahu adalah di jaman Wild-Wild West cukup banyak nginang dilakukan. Dalam bentuk kartun salah satu yang paling saya ingat adalah dalam buku Lucky Luke, Calamity Jane, kegemaran meludah sembarangan karena nginang bikin saya ketawa kalau teringat.

Kapur/injet/enjet berperan sebagai bahan yang menahan active ingredient dari campuran gambir, betel nut dan daun sirih. Reaksi kimiawi dan enzymatis dari kesemua campuran ditambah dengan ludah manusia, yang menyebabkan warna merah. Bahan aktif dan anti-oksidan dari kesemua bahan itulah yang diserap ke dalam darah.

Banyak kontroversi mengenai bahaya dan manfaat dari nginang ini, tapi setahu saya belum ada yang melakukan penelitian mendalam mengenai “ramuan ajaib” ini. Alangkah hebatnya jika ada ilmuwan yang dapat meneliti dan kemudian mengisolasi bahan-bahan aktif ingredient dari kesemua bahan tsb dan dimanfaatkan dalam bidang kesehatan.

Dengan demikian dapat meminimalisasi efek merusak dan warna yang mengerikan untuk standard sekarang ini serta bau khas yang saya yakin sebagian besar dari kita tidak menyukainya sekarang ini. Efek merusak yang dapat dihindari adalah kanker mulut untuk sebagian para penginang ini. Kebenarannya bagaimana? Walahualam…..

Kegunaan yang dikenal kalangan praktisi biofarmaka adalah menyembuhkan cacingan, mengatasi nafas berbau, sakit kepala, linu atau nyeri sendi, arthritis, sakit gigi, gangguan pencernaan, decongestan ampuh, dan dipercaya juga salah satu fungsinya adalah afrodisiak.

Ada yang nginang kah di antara Anda sekalian? Yang pasti saya tidak…..hehehe….


Referensi:

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

2 Comments to "Nginang"

  1. Sumijan  3 February, 2018 at 09:08

    I like it, because I have idea for research about ” Javanese Culture of Nginang “

  2. Dian Nugraheni  6 November, 2011 at 23:24

    Kok aku pernah nginang, sudah nahan2 pahit gitu, terakhirnya bibirku nyonyor alias njedir, perih juga sih…apanya ya nyang bikin nyonyor..? he2..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.