Berburu ringtone ajaib

Fire – Yogyakarta

Warning: Seperti biasa, terdapat sebagian materi yang memerlukan ketabahan khusus untuk membacanya. Diprediksikan, bakal memancing komentar dengan intensitas njijiki yang lebih akut lagi. Jadi Waspadalah…. waspadalah ….. njijiki bukan hanya terjadi karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan ….. wakakak …..

Pernah di suatu tempat keramaian, terdengar suara tangisan bayi. Orang-orang pada menoleh ke sekitarnya dicari-cari kemana-mana tak ketemu. Lalu, seseorang mengeluarkan ponsel dari kantongnya untuk menerima telpon, dan ketauanlah kalo itu bunyi ringtone. Jaman sekarang namanya ringtone bisa aneh-aneh, dari yang seru sampe yang saru. Dari yang bikin mesem (senyum), masam (kecut) sampe yang mesum. Memang ringtone berikut ini bisa dibikin dengan efek buatan alat musik, tapi asik juga kayaknya kalo bisa memperoleh yang orisinil. Biasanya kan di ponsel sekarang dan Mp3 player sudah dilengkapi dengan alat perekam. Tentunya setiap kali mendengar ringtone tersebut kenangan akan terbawa dengan "peristiwa bersejarah" yang menyertainya.

1. Ketawa kuntilanak: Nah untuk memperolehnya penuh dengan uji nyali, dan tidak selalu sesuai dengan yang diinginkan, siapa tahu yang nongol justru gendruwo sama suster ngesot? Kemungkinan pertama bisa nggeblak duluan. Bisa juga ketawanya nggak ilang-ilang dari kuping 7 hari 7 malam, tapi gagal ditangkap oleh alat perekam. Yah, itulah resikonya, ringtone-nya cuma berdering di kuping panjenengan sendiri, hihihik …. Bila gejala tersebut berlanjut, silakan mandi dengan sayur tujuh rupa, diantaranya, kol buntet, wortel tanpa daun, dan kentang ukuran abc, pokoknya mesti dibeli dari pasar induk. Hati-hati jika rekaman ringtone yang sudah diperoleh malah berubah menjadi suara ketawa Mak Lampir atau Nini Pelet, berarti panjenengan kebanyakan mendengarkan sandiwara radio.

2. Sound effect dari toilet: Mulai dari prolog semacam brutt brott, diikuti menu utama seperti plung-jlegur, dan epilognya yaitu flush, bila perlu dikompliti dengan suara ngedennya. Jadi begitu perut terasa pathing kruwel segera persiapkan voice recorder anda, awas jangan sampe kecemplung di kloset. Karena banyaknya variasi alunan suara di dalam toilet, maka kita perlu melakukan semacam quick count, yang mana saja yang akan diabadikan.

3. Buang angin: Hampir mirip dengan no 2, begitu muncul gejala aktivitas "tembak-menembak", segera siapkan alat perekam, tentu tidak perlu diajari kan menempatkannya dimana agar memperoleh rekaman suara yang optimal. Jangan khawatir bila menggunakan ponsel sebagai alat rekam, toh hanya suaranya yang terekam bukan baunya …. Sekali lagi saya ingatkan, yang kita perlukan adalah suaranya, bukan baunya …. Dalam prosesnya bukan hanya semacam menu tertentu tapi juga teknik yang mampu menghasilkan lantunan suara yang lebih sustainable. Kurang sip rasanya kalo hanya berupa letupan-letupan kecil yang terputus-putus. Awas, jangan sampai ada "penumpang gelap", yang memaksa mesti ganti celana. Secara umum ada dua genre yang bisa dipilih, yaitu yang eksplosif dan yang introvert (ngampet).

4. Sendawa (bhs Jawanya glegeken): Siapkan alat perekam di meja makan. Biasanya momen glegeken pertama yang paling telak, karena selanjutnya hanya sisanya saja. Ada pula kesempatan lain, yaitu pada saat perut kembung karena masuk angin. Percuma mencoba merekam saat acara semacam table manner, dipastikan tidak ada yang (terdengar) glegeken, paling banter juga glegeken terputus yang berusaha dikamuflase dengan berdehem. Cara lain, minum soda semacam c***c*l* atau s***i*e. Memang kadang rancu antara suara glegeken dengan orang mau muntah. Kalo habis baca-baca komentar dan artikel ini bisa glegeken, nah panjenengan memang luar biasa …

5. Menguap: Saya ingat cerita teman, suatu kali ada siswa yang dimarahi oleh gurunya. Perkaranya ternyata karena siswa tersebut menguap dengan keras di kelas. Karena itulah jangan menguap dengan mulut terbuka, eh maksudnya mulutnya ditutup pake tangan, bukan hanya biar tidak ada lalat yang masuk, tapi bakal kena lempar kapur dari Pak Guru karena suara menguapnya terlalu keras. Untuk mendapatkan suara menguap yang lebih berkelas dan alami, carilah teman-teman yang minimal sudah 3 hari tiga malam tidak tidur. Sebaiknya sebelum menguap, lakukan senam mulut secukupnya supaya tidak kram, repot kan kalo mangap terus?

6. Menyedot ingus di hidung: Kalo dalam bahasa Jawanya senggrak-senggrok atau slentrap-slentrup. Biasanya kita terpaksa slentrap-slentrup kalo tidak bawa tissue. Pernah juga sedang pilek, stok tissuenya habis, ya kombinasi antara slentrap-slentrup, kadang kalo yang lain pada lengah ya dileletkan di kursi. Biasanya kalo sudah terasa ingusnya tertelan kembali itu, lega hidungnya, sedap …. Tingkat kekentalan juga menentukan bunyi dari penyedotan tersebut. Mungkin ada komposisi tertentu antara encer dan pliket yang sedotannya bisa menghasilkan suara yang harmonis. Ayo tarikkk ….

7. Membuang ingus: Dalam bhs Jawanya "sisi". Saya pernah di meja makan terasa hidung buntet karena pilek, jadi susah bernapas, ya sudah, tissue yang tadinya buat lap makan, jadi tumpuan harapanku. Tapi melakukannya pelan-pelan biar nggak menyolok. Sialnya pernah juga ingusnya tumpah di piring, tapi nggak ada yang lihat ya lanjutkan saja makannya, toh rasa kuah sopnya tak banyak berubah. Mungkin kita perlu melakukan sejumlah eksperimen, sebelum memperoleh suara "sisi" yang cukup aspiratif. Perhatikan juga perbedaan suara yang dihasilkan antara mempergunakan tissue, kertas koran, dan kertas kardus sebagai sarana "penampung aspirasi".

8. Mendengkur (ngorok):
Nah, suara ini mungkin termasuk yang paling populer. Kalo Pak Guru bisa marah mendengar ada murid menguap, mungkin beliau bakal ngamuk-ngamuk bila mendengar ada yang mendengkur. Karena susahnya merekam suara dengkur sendiri, yah bisa dicoba mulai dari dengkur suami atau istri. Justru seharusnya panjenengan merasa aman mendengar dengkur istri, karena bila suatu saat dengkurnya hilang siapa tahu dia baru mimpi ketemu Brad Pitt.

9. Celana robek: Saya terkenang dengan efek suara ini, ketika sedang menirukan gaya Van Damme split di pilem. Kapasitas otot sih mungkin kuat, tapi kapasitas celana nggak mendukung … Belakangan malah jadi teringat dengan asal-usul nama bintang pilem ganteng, yang konon saat beliau dilahirkan sang ayah yang sedang naik sepeda (pit onthel) celananya robek. Tahu, kan siapa nama bintang pilem tersebut?

10. Dehem-dehem: Bunyi dehem yang paling menggetarkan tentu saja dehemnya Pak Guru yang memergoki ada anak yang nyontek, atau dehemnya Boss yang mendapati panjenengan sedang asik main Frecell atau malah facebookan. Tapi coba cari teman yang sedang batuk berdahak, nah kan bisa sering-sering direkam dehemnya. Bunyi dehem lain yang mungkin cukup eksotik, adalah dehemnya calon mertua yang kurang berkenan anak gadisnya di-apelin. Sebagai calon menantu yang mengerti sopan santun, bila beliau mulai berdehem, mestinya dijawab dengan, "Ehm ehm, juga Pak …."

Baiklah teman-teman, bila panjenengan ingin memperoleh ringtone-ringtone bersangkutan, silakan ketik sesuai yang diminati, misalkan: REG PLUNG, REG ANGOP, REG NGOROK, REG NGEDEN, REG GLEGEKEN, REG EHEM, REG UMBELEN, dan REG NGOBROK, selebihnya silakan ditambahkan sendiri ….

NB: Redaksi, pesen gambar kuntilanak lagi menguap, bosen kalo gambar toilet lagi …….

About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

73 Comments to "Berburu ringtone ajaib"

  1. Fire  15 January, 2010 at 07:12

    kakangmas ilham, pam2, yg ada ringtone orang berantem ama penjual duren, hihihik …..

  2. Fire  15 January, 2010 at 07:10

    opa handoko, diganti ringtone uwong mangan krukupk yok , podho kriukk.. kriukk.. kriukkk …

  3. Fire  15 January, 2010 at 07:07

    mbokdhe elndongndong, taktukuke susur neng ojo dibalang tempoolok yook …

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)