CAFTA Phobia

J C Friday, 15 January 2010

| Viewed 1054 times, 1 times today | 85 Comments |
Josh Chen – Global Citizen
 
CAFTA? CAFTA Phobia? Penyakit apakah itu?
 
CAFTA adalah China ASEAN Free Trade Agreement. Mulai berlaku tanggal 01 January 2010 dan secara bertahap akan diterapkan komoditas mana saja, dan negara-negara mana saja secara bertahap akan efektif menjalankan CAFTA.
 
Cikal bakal CAFTA dimulai di bulan November 2001. Setelah itu beberapa langkah sudah ditempuh dan dilaksanakan bertahap:
  • November 2004, pada ASEAN Summit ke 10 di Vientiane, Laos, para Menteri Perekonomian negara-negara ASEAN dan China menandatangani Agreement on Trade in Goods (TIG) sebagai framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation ASEAN – China
  • July 2005, langkah lebih lanjut detail trade in goods sekaligus beberapa dispute di 2004 diselesaikan di sini
  • January 2007, negosiasi untuk trade in services dan perjanjiannya ditandatangani
  • October 2008, CAFTA ditandatangani di Singapore
  • December 2008, China – ASEAN Investment ditandatangani di Thailand
  • Di antara itu, China dan beberapa negara dari Delta Mekong menyelesaikan pembicaraan untuk detail yang lainnya
  • Di 2007, sempat ternoda oleh skandal korupsi investment agreement Phillippines – China
Apa latar belakang CAFTA?
 
Tak lain tak bukan adalah pengembangan market yang lebih luas. Dengan jumlah total penduduk mencapai 1.7-1.8 miliar jiwa, pasar China – ASEAN merupakan pasar yang luar biasa luas dan potensial untuk seluruh anggota ASEAN dan China sendiri. Dengan total penduduk sekian banyak – mencapai sekitar 30% total penduduk dunia, adalah kekuatan ekonomi yang tidak main-main.
 
Apalagi jika nantinya FTA (Free Trade Area) makin terbuka bukan semata CAFTA, tapi ditambah dengan India, Taiwan, Jepang, dan kemungkinan Australia, bukan tak mungkin akan menjadi kekuatan ekonomi (dan politis, mungkin) terbesar di dunia. Jumlah penduduk akan mencapai 50% total penduduk dunia dan bisa dibayangkan berapa besar kekuatan ekonominya.
 
Kembali ke CAFTA:
  • Total GDP mencapai US$2 triliun di tahun 2005 dan terus tumbuh
  • Kontribusi China untuk perdagangan ASEAN kemungkinan sekarang menjadi terbesar ke 2 atau ke 3 (di tahun 2003 adalah ke 4, setelah USA 14%, Japan 13.7% dan EU 11.5%)
Serta merta terjadi kehebohan dan kebanyakan melihat negatif berlakunya CAFTA ini, dengan segala macam istilah dan jargon, mulai dari nasionalisme, mematikan pedagang kecil, mematikan UKM (Usaha Kecil Menengah = Small Medium Enterprise), neolib, ancaman imperialisme, dan masih banyak lagi.
 
Beberapa yang disorot adalah: tekstil dan sepatu, juga beberapa barang industri lainnya. TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) adalah yang paling kuatir dan mulai gencar berteriak di berbagai kesempatan dan media massa. Protes bertaburan, segala macam analisa berhamburan di mana-mana. Intinya adalah CAFTA akan mematikan banyak industri di Indonesia.
 
Sebenarnya apa permasalahan industri dan dunia usaha di Indonesia? Kenapa begitu ketakutan menghadapi CAFTA ini? Kebanyakan dari para analis, kolumnis dan pengamat ekonomi hanya mengedepankan masalah nasionalisme membabibuta, picik dan dangkal, tapi sampai saat ini tidak ada satupun yang membahas introspeksi kenapa Indonesia tidak siap sama sekali menyambut CAFTA ini.
 
Ketidaksiapan Indonesia dapat dijabarkan dengan satu kata saja, yaitu: Un-competitiveness.
 
Hal ini sudah cukup akut di hampir segala aspek dalam dunia industri dan perdagangan di Indonesia.

LISTRIK
Ini sudah bukan rahasia lagi, ketersediaan listrik dan reliabilitasnya jelas jauh sekali dari harapan, misteri besar apakah menyala atau tidak. Dengan ketidakjelasan pasokan listrik seperti ini, para pengusaha dari yang usaha mikro atau home industry, sampai dengan raksasa, jelas tidak bisa bersaing!
 
Usaha mikro dan rumahan yang paling menderita dan terpukul jika PLN kumat penyakitnya, listrik menjadi antara ada dan tiada. Membeli genset jelas bukan pilihan bagi usaha mikro, dengan keuntungan yang minim dengan segera terbabat habis karena masalah listrik ini saja. Jika mati, mereka tidak bisa berproduksi, tidak bisa memenuhi pesanan. Untuk industri skala menengah dan besar, pasokan listrik PLN amblas, memang mereka masih mampu membeli, memasang dan membiayai dengan genset mereka, tapi apakah pilihan dan efisien?
 
Tentu akan berdampak kepada production cost secara keseluruhan dan jangka panjang.
 
Berbeda dengan industri yang sudah bisa self-sufficient seperti pabrik-pabrik kertas di Indonesia, kebanyakan mereka memiliki instalasi pembangkit listrik internal sama halnya dengan perkebunan-perkebunan kelapa sawit di belantara Sumatera dan Kalimantan, kebanyakan mereka menghasilkan listrik sendiri dari hasil pembakaran sisa pengolahan kelapa sawit menjadi CPO di PKS mereka (Pabrik Kelapa Sawit).
 
Tidak usah dibahas lagi BUMN negeri ini yang paling ciamik, sejak dulu kala sampai Y2K (2000’an) sampai milenium lalu selesai, dan sekarang satu dekade berlalu masih saja seperti itu. Setetes embun harapan pada Dahlan Iskan, yang ditunjuk menjadi Direktur Utama PLN, semoga beliau yang dikenal sebagai sosok yang bersih, tegas, dan memiliki visi jelas dapat membawa perbaikan PLN.

INFRASTRUKTUR
Mengutip dari tulisan saya sendiri (http://baltyra.com/2009/10/09/fenomena-mudik-brompit-pendatang/), jauh panggang dari api, khayalan semata jika membayangkan kenyamanan infrastruktur di Indonesia, terutama jalan raya!
 
Tahun 1987, Perak – Gempol sepanjang 42km, China belum ada apa-apa. Di akhir 2003, jalan tol China mencapai 30.000km, sementara di Indonesia jalan di tempat. Tahun 1988 jalan tol pertama China dibangun menghubungkan Senyang dan Dalian sepanjang 400km, dan setelah itu tak terbendung lagi rata-rata sekitar 2.000km tiap tahun dibangun jalan tol yang menghubungkan kota-kota penting di China.
 
Sangat kontras dengan Indonesia, rencana strategis PU 2004-2009 1600km, hanya realisasi 127km (7.9%). Total jalan tol hanya 690km, 2397 masih pra-konstruksi. Padahal rencana akan dibangun 3.087km jalan tol, sekali lagi masih rencana…
 
ECONOMIES OF SCALE
Ditinjau dari segi ini, memang China menempati posisi teratas. Dengan jumlah penduduk sekitar 1.4 miliar jiwa, China harus memenuhi kebutuhan penduduknya. Setiap produk kebutuhan untuk konsumsi dalam negeri, hampir bisa dipastikan China akan memroduksi dalam jumlah besar.
 
Contohnya saja, kaos kaki! Pukul rata saja, bisa dipastikan setiap orang di China butuh memakai kaos kaki. Dari sini saja, sudah jelas 1.4 miliar pasang kaos kaki harus diproduksi serentak. Dan jelas tidak mungkin penduduk sejumlah 1.4 miliar itu hanya memiliki sepasang kaos kaki. Berangkat dari ilustrasi ini saja, bisa dibayangkan kapasitas produksi kaos kaki di China.
 
Dan bukan hanya kaos kaki, termasuk banyak sekali jenis barang lain, misalnya pakaian (kaos, celana jeans, dsb), peralatan elektronik, kendaraan, sepeda, dan banyak lagi barang-barang konsumsi rumah tangga sehari-hari.
 
Dengan demikian, pencapaian economies of scale bukanlah masalah besar untuk China. Membuat 1.4 miliar pasang kaos kaki, tidak akan jauh bedanya untuk membuat dua kali lipat jumlah itu, tiga kali jumlah itu, dan semakin banyak pasang kaos kaki yang diproduksi, harga per unit juga akan makin rendah.
 
Dalil ekonomi yang sama akan berlaku untuk semua produsen – negara mana saja – yang dapat mencapai economies of scale, akan memiliki advantages dari segi harga, efisiensi, efektivitas, dan production cost.

PEMBERDAYAAN HOME INDUSTRY
Salah satu perbedaan terbesar antara industri Indonesia dan China adalah pemberdayaan home industry atau UKM. Yang satu sepenuh hati dan didukung penuh pemerintah, yang satu lagi jalan sendiri-sendiri menurut selera masing-masing.
 
Industri besar di China belum tentu memiliki pabrik yang luas di satu tempat, bisa jadi hanya merupakan kantor yang berukuran sepantasnya, namun proses pembuatan produk mereka dilimpahkan ke kelompok-kelompok usaha binaan perusahaan tsb dengan memberdayakan desa-desa, kampung-kampung sekitar. Dengan QC yang ketat, standard tinggi yang ditetapkan oleh para industrialis dan investor membuahkan hasil positif, walaupun terkadang masih saja produk China masih ada yang rendah kualitasnya (walaupun belum bisa dibilang “the real high quality”)
 
Efek domino pemberdayaan ini sungguh luar biasa, dari sisi ekonomis, yaitu tercapainya economies of scale dengan cukup cepat, dan efisiensi production cost untuk produk tsb.
 
TRANSPORTASI
Kalau sudah membicarakan transportasi ini sudah tak terperikan lagi kejengkelan dan kemarahan yang menumpuk dari tahun ke tahun. Bisa dibilang sangat terbelakang dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Transportasi di sini termasuk semuanya, dari darat, laut dan udara (tidak perlu disebut bawah tanah, entah kapan!).
 
Darat? Jangan ditanya lagi! Yang terbilang bagus dan mendingan jelas di Jawa, jalanan bisa dibilang cukup ok, walaupun masih banyak juga yang berantakan. Lupakan saja untuk transportasi bawah tanah seperti MRT atau terowongan bawah laut antar pulau…mimpi di siang bolong! Bikin Banjir Kanal Timur saja tidak becus, yang jelas kelihatan di atas tanah, apalagi di bawah tanah, bisa-bisa malah jadi selokan raksasa yang bisa menenggelamkan ribuan penumpang jika terjadi sesuatu yang tidak beres.
 
Laut? Ferry njempalik sudah biasa di berita, kapal penumpang nyungsep di bawah laut sudah jamak juga, jumlah penumpang melebihi kapasitas, tak heran lagi. Setelah kejadian pada tenggelam, pejabat yang berwenang beramai-ramai menyangkal.
 
Udara? Bisa dibilang sudah cukup baik dibandingkan beberapa tahun lalu yang jadi langganan kecelakaan pesawat hampir tiap bulan sekali. Dari Adam Air yang tugel terus jadi bungkuk, sampai dengan yang ngepot di Jogja, sekarang sudah tidak ada lagi. Tapi…lah ini dia…
 
Rute penerbangan di Indonesia terbilang paling aneh di kawasan Asia Tenggara ini!!
 
Sangat minim rute penerbangan antar kota langsung di Sumatera, sungguh mengherankan!! Padahal bandara-bandara di Sumatera juga cukup mumpuni kalau untuk sekedar domestic flight. Aneh sekali mau terbang dari Aceh misalnya, ke Palembang, kayaknya harus ke Jakarta dulu baru terbang balik ke Sumatera ke kota Palembang. Luar biasa aneh!
 
Keanehan yang lain adalah di Kalimantan. Hal yang sama dengan Sumatera, penerbangan antar kota di Kalimantan kebanyakan harus kembali ke Jawa dulu. Jadi misalnya dari kota A ke kota B, dari kota A harus terbang ke Surabaya dulu baru “transit” dan terbang lanjutan ke kota B…luar biasa ajaib!!
 
Dua pulau besar ini adalah salah satu backbone ekonomi Indonesia, mulai dari minyak kelapa sawit, produk pertambangan, minyak bumi, batu bara, dan masih banyak lagi yang sangat menunjang perekonomian Indonesia. Namun karena minimnya infrastruktur dan amburadulnya transportasi ini, menjadikannya salah satu komponen ekonomi biaya tinggi.
 
Distribusi bahan baku, barang jadi dan produk konsumsi menjadi jauh lebih mahal di luar Pulau Jawa. Lihat saja, berapa harga satu zak semen di Papua? Berapa harganya di Ambon? Kembali lagi berimbas ketidakekonomisan secara keseluruhan. Biaya pembangunan rumah di Papua dengan ukuran yang sama bisa berlipat-lipat dibanding jika dibangun di Jawa.
 
PELABUHAN & PUNGUTAN LIAR
Salah satu penunjang ekonomi terpenting sekaligus terparah kondisinya adalah pelabuhan laut di Indonesia. Keparahan itu antara lain:
  • THC (Terminal Handling Charges) yang mahal
  • Waktu yang lama
  • Peralatan yang kurang modern
  • Pungutan liar
  • Preman pelabuhan
  • Aparat yang “luar biasa”
  • Bea Cukai yang “mumpuni”
Berikut grafik perbandingan tarif THC di beberapa pelabuhan ASEAN dan China:
 
Di situ bisa dilihat, secara umum, tarif pelabuhan di Indonesia lebih mahal dibanding kebanyakan pelabuhan di negara ASEAN lain, dan jelas jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pelabuhan-pelabuhan utama di China.
 
Dengan tarif “resmi” $120 dan $190 untuk 20ft dan 40ft container, jelas sangat membebani biaya baik untuk export ataupun import. Belum lagi ditambah “biaya-biaya” lain yang dapat membengkak mencapai kisaran $200-$350 total hanya untuk bongkar muat saja, belum termasuk lagi kutipan sana sini. Kutipan tsb antara lain yang disebut dengan SPSI, koperasi ini dan koperasi itu, administrasi ini dan administrasi itu.
 
Itupun masih dapat “bonus” lamanya handling time di pelabuhan yang disebabkan peralatan dan perlengkapan di pelabuhan yang sudah cukup renta. Tidak mengherankan lagi jika crane ini dan crane itu macet, rusak, perlu pengecekan dsb, dsb. Diperparah dengan teknologi jaman sepur lempung, computer yang mungkin masih pakai prosesor 486 dan monochrome monitor, sukur-sukur tidak mesin ketik manual.
 
Belum termasuk lagi biaya dan “biaya” jika mengimport bahan baku untuk keperluan produksi, masih ada lagi biaya dan “biaya” untuk karantina dan pendaftaran merek di badan yang berwenang untuk barang-barang pertanian dan produk hasil pertanian.
 
Masih belum lengkap “penderitaan”. Jika harus diangkut kemudian antar kota dengan truk atau container. Dalam perjalanan, masih harus menyiapkan ekstra lagi, biaya atau kutipan atau pungutan liar di hampir setiap sudut jalan. Mulai dari jalan tol, biaya resmi jalan tol dan “biaya lain-lain”, salam tempel dengan aparat di jalan, setiap jembatan timbang yang dilewati, “kantong-kantong kekuasaan” mafia lokal setempat di mana-mana, uang lewat, uang keamanan, dsb, dsb, dsb.
 
Padahal, pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia ini sudah bukan milik Indonesia lagi. Sebut saja di Surabaya, Australian management ada di sana. Priok, Hutchison Port Holdings Group memiliki 51%, Pelindo II 48.9% dan Koperasi Pegawai Maritim 0.1%.
 
Bukan itu saja! Peti kemas yang membawa barang untuk tujuan export ke Eropa dan Amerika masih harus rela mampir ke Singapore untuk transit dan tentu saja terkena charge lagi di sana sebelum meluncur ke tempat tujuan. Walaupun memang untuk tujuan export Asia, sudah bisa langsung dari pelabuhan-pelabuhan Indonesia, itupun hanya sekitar 40% dari total traffic peti kemas. Jumlah 40% itu kebanyakan ke China, Jepang dan negara-negara mediterania.
 
Bisa dibayangkan betapa “bersaingnya” situasi dunia usaha di Indonesia. Dimulai sejak terbitnya matahari, membuka pintu dan jendela kantor, sampai dengan tidur kembali, dunia usaha di Indonesia harus berjuang sedemikian sehingga bisa melewati day-by-day.
 
Inti dari paparan di atas adalah ketidaksiapan Indonesia dalam menghadapi CAFTA yang disebabkan oleh un-competitiveness Indonesia sendiri. Ditinjau dari semua faktor, secara potensial, Indonesia seharusnya sanggup bersaing dan justru dapat menarik keuntungan dengan diberlakukannya CAFTA ini.
 
Sebab utama dari seluruh un-competitiveness di atas adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia diiringi dengan mentalitas korup yang kental. Sekali lagi korupsi adalah sumber utama segala permasalahan negeri ini. Itupun masih dipertahankan dan dipelihara dengan baik sampai sekarang ini, walaupun peperangan melawan korupsi yang dicanangkan oleh Presiden SBY juga berlangsung terus.
 
Ujung dari seluruh permasalahan adalah sekali lagi korupsi!! Sikat habis korupsi, dan kita semua punya keyakinan, Indonesia akan sangat mampu bersaing dengan negeri mana saja, bukan hanya CAFTA, tapi berkiprah di dunia internasional bukan lagi mimpi di siang bolong…
 
Sayang, sungguh sayang…ternyata kita semua masih bermimpi…
 
Tidak heran, 99.9% media negeri ini, baik yang cetak, online, milis, blog, kolumnis, pengamat, pelaku ekonomi, sudah meracuni pikiran mereka sendiri dengan: “We CANNOT” atau “Can we?”. Ketakutan, panik, mengumbar jargon nasionalisme picik, mengedepankan istilah-istilah canggih seperti “neolib”, “imperialisme Asia”, dsb, dsb.
 
Kenapa tidak kita ganti: “Yes we can, yes we will!”
 
 
 
Referensi:
http://www.aseansec.org/17310.htm
http://www.iseas.edu.sg/ipsi12003.pdf
http://www.economist.com/world/asia/displaystory.cfm?story_id=15211682
http://www.bilaterals.org/rubrique.php3?id_rubrique=95
http://www.matrade.gov.my/cms/content.jsp?id=com.tms.cms.article.Article_hide_ASEANChina
http://www3.pids.gov.ph/ris/pn/pidspn0015.pdf
http://kadin-indonesia.or.id/en/doc/opini/Is_Asean_Still_Relevant_In_The_ERA_Of_%20Asean-China_FTA.pdf
Categories: Ekonomi & Politik
Tags:

85 Comments to “CAFTA Phobia”

Pages: [9] 8 7 6 5 4 3 2 1 »

  1. 85
    Sophie Says:

    No commentlah, yang teriak wis akeh.

  2. 84
    J C Says:

    Yung Mau Lin: salam kenal balik YML…terima kasih sudah berkunjung. Tidak bisa digeneralisasi, tapi memang seperti itulah potret sebagian masyarakat kita. Terutama adalah contoh yang diberikan oleh para pejabat, petinggi, anggota DPR, ya jelek semua gitu itu…perkaya diri sendiri dulu, korupsi yang banyak…

    Welcome to Baltyra, make yourself at home…sering-sering mampir lagi ya…

  3. 83
    Yung Mau Lin Says:

    Salam kenal Bapak Joseph Chen

    Orang Indonesia berpikiran pendek, mau kaya dengan cara memperkaya diri secara vulgar. Kalau orang tiongkok berpikir lebih jauh ke depan, dengan memperkaya dan memakmurkan negara dan bangsa maka secara otomatis rakyat akan menjadi kaya bukan? Tujuannya sama, caranya beda kebangetan.

  4. 82
    J C Says:

    Mbak Tantri matur nuwun sudah mampir lagi…ketidaksiapan yang dibikin sendiri, setelah sampai di depan mata, malah bengak-bengok, gimana lagi ya…[sigh]

    Sasayu: huuusss…kok ikutan manggil Buto? hahaha…tengkyu, tengkyu…di sana juga sama, masuk ke toko apa saja, hampir dipastikan barangnya produksi China…

    cizcoz: sebenernya para pelaku industri bisa dan sanggup untuk bersaing, masalahnya adalah situasi yang diciptakan pemerintah dan aparatnya yang bikin awut-awutan kayak sekarang ini, pungutan liar, korupsi adalah masalah terbesar…duh…

    Kornelya: menyedihkan memang! Contoh saja, untuk mendatangkan mesin sendiri, tarif, dan prosedur yang luar biasa rumit di pelabuhan, padahal jika kita mau membeli mesin-mesin dari India atau China, seharusnya kita bisa dan sanggup bersaing juga. Atau, mesin karya anak negeri yang juga mumpuni, itupun banyak kendala, dari bahan baku, perijinan, pendaftaran, dsb…terima kasih ya…salam.

  5. 81
    Kornelya Says:

    Suhu,jika persiapannya sudah sejak 2001, mengapa pemerintah kita tidak menyiapkan infrastrukturnya. Kita akan berhadapan dengan naga. Bukan hanya tekstil dan sepatu, produk pertanianpun akan terlindas. Pasar Amerika yang punya standar kwalitas tinggi saja mereka libas, apa lagi pasar kelas “kong kaling kong”. Jika mau bersaing, pemerintah harus membantu petani dan pengusaha kecil. Banyak perusahaan garment pribumi yang gulung tikar karena kekurangan modal. Kami pernah menaruh order di Probolinggo untuk sebuah brand terkenal, apalacur ternyata 3 factory hanya mengandalkan bartack mesin pinjaman dari Eratex. Saya tidak termasuk orang yang pesimis dengan CAFTA, tetapi saya sangat yakin dengan menumpang kapal bernama CAFTA yang dinahkodai Cina, ekonomi Indonesia akan tenggelam. Kita siap diperas, tetapi tidak untuk bersaing!! Congratulation for our government!!

Pages: [9] 8 7 6 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan komentar.

Image (JPEG, max 50KB, please)

Archives



Internet Sehat

Advanced NewsPaper customized by Team Baltyra.com