Bagong Julianto, Sekayu-Sumsel
Seputar 1975, RSU Mangkubumen-Solo
Karena bertetangga dan sudah seperti jadi keluarga, saya percaya saja ketika Bu Lik Nanik yang seorang perawat di RSU Mangkubumen Solo menganjurkan untuk mencabut gigi geraham kiri belakang bawah yang berlobang dan sakit.Sebagai orang dalam RSU, dia akan membantu mempermudah urusan. Masih SMP saya saat itu, tapi terpaksa dan memaksakan diri KKN.
Cenut-cenut itu telah mendera saya berhari-hari. Bapak dan Ibu serta Oom saya sudah lulus penderitaan sakit gigi dengan cara dicabut. Warisan kesuksesan itu kini saya laksanakan secara lebih dini. Akhirnya gigi geraham berlobang sumber derita itupun tercabut dari posisinya. Saya tak menyadari bahwa ketiadaan satu gigi geraham bawah ini akan membawa dampak berpuluh tahun kemudian. Betapa rasa sakit oleh derita gigi sakit ini terlupakan dan tidak membuat saya merubah tata cara berpenghidupan/makan yang sembrono.
Seputar 1990, Dokter Gigi di Pekanbaru
Jelas bahwa gigi sakit timbul hanya dan hanya oleh cara makan yang sembrono. Cara makan yang sembrono yaitu mengolah dan mengunyah makanan serampangan. Yang dimakanpun adalah produk makanan yang kebanyakan dilumuri bahan pengawet dan atau kimiawi lain. Ada slilit dan remah-remah makanan yang ditampung sela-sela gigi.
Secara permanent, remah-remah itu memperlemah dan menggerus email gigi. Bayangkan: email gigi sekeras itu dilobangi sehingga saraf perasa yang dibungkusnya akan mengirim signal rasa ngilu cenut-cenut. Proses pelubangan itu tidak terjadi dalam semalam dua malam. Hanya cara makan sembrono saja yang menimbulkannya. Itu yang terjadi (lagi) pada saya. Kali ini gigi geraham bawah kanan.
Cara mengunyah yang sembrono, mengakibatkan dua gigi sekaligus berlobang! Satu gigi bahkan posisinya sampai miring! Di antara sela kemiringan itulah remah makanan yang bersifat asam sukses melubangi email saya. Gigi miring itu harus dibongkar, satu gigi di depannya, tetap dipertahanakan karena masih ¾ bagian yang bagus. Sakit selama proses pencabutan relative tidak semenderita saat cabut gigi pertama kali. Kelak tempel lubang gigi ini menjadi kebiasaan berulang…..
Januari 2010, Palembang
06 Januari 2010 sore, saya ngantri periksa gigi sakit di satu klinik bersama di Jalan Radial, Palembang. Saat diperiksa oleh dokter, tahulah saya bahwa gigi saya yang sakit, yaitu gigi geraham atas, gigi nomor 7, ternyata selama ini tidak berfungsi secara maksimal. Boleh dibilang dia hanya sekedar menempelgantung saja.
Mengapa?
Tidak ada gigi geraham di bawahnya sebagai alas tumbuk untuk membrakoti, menggigit, mengunyah makanan! Tergantung sia-sia! Maka oleh akibat efek seluruh gerakan gigi geligi dan geraham, dia tumbuh memanjang. Pada sisi lain pemanjangan email, tidak diikuti lapisan di dalamnya yang peka rasa sakit. Ini adalah akibat dicabutnya gigi geraham bawah sekitar 35 tahun berselang! Sabar nian sang gigi menyimpan rasa sakit itu! Lhah ini adalah kalimat egoissubyektifselfish mau enaknya sendiri! Yang benar, saya sembrono tidak hafal geligi sendiri dan tidak merawatnya secara semestinya.
Sore itu juga saya baru tahu bahwa cara menyikat gigi yang benar adalah gerakan bawah ke atas ke bawah ke atas bolak-balik dan bukan gerakan horisontal yang sudah saya praktekkan sepanjang umur saya mengenal sikat gigi!
Ediiaaannnnn! Sungguh, Bagong ini adalah orang yang sembrono! Ewes-ewes-ewes, ditempellah bagian yang peka itu dengan satu lapisan. Saya senang cara dokter gigi ini melaksanakan tugasnya. Minimal dibanding perlakuan yang saya terima tahun 2009 di Sekayu saat menempel ulang gigi. Betapa di Sekayu, perlakuannya berbeda. Awas, ini akan memberikan rasa sakit. Awas ini larutan rasanya lain. Awas ini sakit, itu sakit. Lhah, satu-dua menit sebelum treatment dia sudah meneror.
Yang di Palembang, memberi tahu rasa sakit itu pas memang pada saat-saat terakhir. Jadi rasa sakit itu hanya di gigi. Tidak di hati, di otak, di kepala, di telinga. Lagi pula peralatan di Sekayu lebih kuno, entah sarung tangan plastiknya dipakai lebih dari sekali. Belum lagi ditreatment, sudah tercium aroma gudal yang khas dari karang gigi! Aroma gudal gigi orang lain! Mungkin saya berlebihan, tapi itulah yang saya cium. Saya endus.
Ambrol Lagi, Gempil Lagi, Bongkarcabut Saja
Saat mengambil obat, saya ternyata diberi dental flosser. Benang halus pembersih slilit. (Memang ada juga disarankan pakai sikat gigi listrik. Nanti saja, periksa ulang 2 – 5 hari lagi). Flosser bentuknya seperti gergaji triplek, gesekkan pada sela gigi yang disliliti. Gak usah dienduscium itu slilit.

Dental flosser, benang laksana sutra digesekkan untuk mengusir slilit
Ujung pegangan flosser yang runcing juga bisa digunakan untuk membersihkan gigi. Juga bersihkan gudal gigi. Sekali lagi, bersihkan saja, gak usah dienduscium itu gudal! Dua hari ditempel, masih ada rasa sakit dan sepertinya ada lagi slilit. Dengan sembrono saya bersihkan slilit itu. Hasilnya sudah bisa diduga: ambrollah tempelan gigi itu. 11 Januari 2010, satu gigi geraham atas no 7 saya akhirnya dibongkar. Gigi itu, tanpa saya mintapun rupanya memang diberikan ke saya. Diwadahi tempat mungil berbentuk gigi juga. Kali ini rasa sakitnya tidak begitu saya rasakan.

Bukti dan hasil kesembronoan makan: slilit sesuatu, cuilan daging di cuilan gigi dan tempelan
Kalau membayangkan ada dua perawat (assisten) dokter gigi, satu memegangi dua sisi kepala saya, satu membujuk sambil pegang kaki: ”Tenang, Pak. Lemaskan, Pak.. Santai, Pak!”, sementara dengan catutnya sang dokter membongkar gigi saya, menggoyanggeser kiri kanan apa pendapat anda?! Jangan mau sakit gigi! Rawatlah gigi dengan sesempurna mungkin! Jangan mau sakit gigi!

Sesuatu derita sakit di wadah gigi ini

Slilit apakah yang menempel di lubang? Biji cabe! Cukup diraba, jangan dienduscium!
Sampunnnnn. Suwunnnnn (BGJ, 110110)
Pages: [10] 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »
Pages: [10] 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »
January 19th, 2010 at 19:34
Leony>>>
DP, disturbing picture: down payment; Diah Permata; Dwi Prasetyo; Dewi Persik; dukun pijet……. Itu gigi taringnya sudah berjodoh! 5 plus 3. Yang lima minjamkan sementara ke yang tiga. First thing in the morning, mouth to mouth, as quick as possible! Hehehe….. Perjodohan gigi!
January 19th, 2010 at 19:24
Adhe>>>
Klinik A, bukan lumayan ramai lagi. Penuh antrian dua lantai! Saat lapor nunjukke kartu, disarankan datang balik 2 jam lagi! Wis, depan klinik ada sate kambingpun gak bisa nggugah selera, cukup teh anget pahit saja. Ada juga nasi goreng obama dan cendol idol, cukup dilihat dulu…… Babat Toman dan desa-desa dari Sekayu ke arah Linggau sudah banyak berubah, minimal pengamatan sendiri selama setahun terakhir. Pohon pinggir jalan ditebang jadi rumah, ruko, gudang dsb. Tapi pindang Babat Toman masih enak! Rambe, duku, rambutan, manggis, durian masih berlimpah! Sekarang cempedak. Pesta dan sedekah serta OT yaa makin seru…… Trims, sekarang gigi sudah sembuh……