Tammy – Sydney
Suamiku baru saja mengajak aku melihat-lihat rumah. Bukannya kami mau beli rumah, tapi ini adalah rumah yang dibeli salah seorang teman.Ceritanya, beberapa hari yang lalu suamiku memberitahu kalau pas lunch break dia ketemuan sama si Richard (seorang teman lama) dan diajak melihat rumah yang baru dia beli. Mereka belum pindah ke rumah itu, baru bayar deposit. Beberapa minggu lagi baru dilunasi dan bisa pindah.Aku heran kok tiba-tiba dengar kabar Richard beli rumah karena tiap ketemu mereka nggak pernah nyebut-nyebut rencana pindah. Mereka bilang mereka bahagia di rumah yang sekarang mereka tinggali. Lebih heran lagi waktu dengar suamiku cerita bagaimana proses si Richard beli rumah ini.
Waktu itu Richard dan istrinya, Trish sudah kelililing lihat beberapa rumah. Ada beberapa yang mereka pertimbangkan. Kemudian mereka lihat satu rumah lagi, yang sebenarnya mereka nggak begitu tertarik. Bahkan Trish nggak mau turun dari mobil. Si Richard melihat-lihat rumah itu dan langsung jatuh cinta. Dia langsung manggil Trish untuk melihat rumah itu dan berusaha meyakinkan Trish,”This house has so much potential.“ Dari ceritanya, suamiku mendapat kesan kalau Trish sebenarnya nggak begitu sreg dengan rumah itu, dia cuma melihat-lihat rumah itu sekitar 5 menit. Tapi Richard ngotot dan mengambil keputusan sendiri saat itu juga bilang ke real estate agent dia setuju dengan harga yang diminta, tanpa nawar-nawar.
Aku tanya suamiku, apa rumahnya bagus sekali sampai Richard seantusias itu? Suami cerita, rumah ini asalnya diiklankan untuk lelang. Pada waktu yang ditetapkan (auction day), ternyata tak ada satu orang pun yang datang. Tidak ada yang tertarik. Sementara pemilik rumah sudah pindah ke Inggris dan ingin sekali rumah ini cepat terjual. Nah karena dilelang nggak ada yang tertarik, akhirnya rumah ini diiklankan dengan harga 200 ribu dolar lebih murah daripada harga limit auction. Pada saat Richard datang itu adalah hari pertama open house rumah ini. Menurut Richard, waktu dia lihat note booknya si agen, ada sekitar 15 orang yang sudah melihat rumah ini. Mungkin dia takut kalau di antara meraka juga ada yang tertarik dengan rumah itu dan takut kalah nawar, akhirnya tanpa ba-bi-bu, dengan hanya melihat selama 10-15 menit dia langsung menyetujui harga yang diminta tanpa nawar.
Aku masih berusaha mencerna: Sudah jelas lewat lelang nggak ada yang tertarik sampai harganya diturunkan segitu banyak. Pemiliknya juga kebelet jual, berarti bargaining power mereka lemah. Baru kali ini dengar ada orang liat rumah 10 menit langsung setuju beli. Aku bandingkan dengan kami dulu, jika ada rumah yang kami sukai, setelah at least 2-3 kali viewing baru berani nawar.
Aku tanya suami, “What did you think of the house?“
“This is a house that you would absolutely hate.”
“Why?”
“This house ticks everything in your hate list. You’ve got to see it.”
Begitulah ceritanya, suamiku mengantar aku melihat rumah itu. Memang kita tidak bisa masuk ke dalam rumah karena kami ke sana nggak bilang-bilang ke Richard, sementara rumah itu masih kosong. Tapi kita bisa masuk memutari rumah untuk melihat bagian belakangnya juga. Betul kata suamiku, rumah itu punya semua criteria yang masuk dalam daftar big No-No yang kubuat dulu waktu kami masih cari rumah.
1. On Top of a Hill
Topografi kota Sydney memang nggak rata/flat, tapi berbukit-bukit atau naik turun. Banyak jalan yang slope-nya rada curam, jadinya kalau kita jalan kaki serasa lagi menanjaki bukit. Mungkin bagi si Richard dan Trish yang aslinya Switzerland hal ini nggak masalah. Tapi bagiku yang seumur hidup tinggal di daerah flat haram hukumnya punya rumah di atas bukit. Membayangkan kalau mau jalan kaki 50 meter saja mesti naik turun bukit sudah capek duluan.
2. In the Middle of Nowhere
Di Surabaya, sedari aku lahir jebret, aku tinggal di tengah kota. Jadi sudah biasa dengan keramaian dan kemudahan yang ditawarkan. Mau ke mana-mana dekat. Kalau lagi lapar dan di rumah nggak ada makanan tinggal buka pintu jalan beberapa langkah sudah banyak penjual makanan ini itu. Banyak toko macam-macam. Butuh peniti, perangko, bola lampu, fotokopi dokumen, sampai service mobil semuanya bisa dijangkau dalam hitungan meter. Nggak sampai satu kilometer. Makanya aku nggak suka hidup di tempat sepi. Pindah ke Sydney ini dan tinggal di suburb merupakan kompromi. Tapi syarat yang kuajukan ke suami: Walaupun sepi, harus ada convenience shop dekat rumah. Dekat maksudnya within an easy walking distance. Jadi nggak harus dekat saja, tapi juga mudah dijalani (nggak di atas bukit). Jadi kalau sewaktu-waktu butuh susu, gula, atau apa cuma perlu jalan kaki.
Sementara untuk mencapai rumah Richard, hanya ada satu akses jalan. Suamiku bilang: bayangkan kalau ada kecelakan di jalan itu. Bisa kejebak macet nggak bisa ke mana-mana, karena nggak ada jalan alternative. Jalan ini juga menanjak dan lumayan berliku. Kiri-kanan penuh pepohonan rimbun (bushes). Jangankan toko, yang namanya rumah saja nggak ada. Sampai di atas barulah terlihat tanda-tanda kehidupan, ada beberapa rumah, termasuk rumah si Richard.
Basically, Richard dan tetangganya adalah komunitas kecil di antara semak belukar. Aku sampai terheran-heran, kok berani beli rumah yang dikelilingi bushes, sementara di Australia sering terjadi bush fires.
3. Lower than the Street
Sekali lagi, karena topografi tanah yang nggak rata, tidak jarang ditemui rumah yang letaknya lebih rendah dari badan jalan. Di Indonesia yang seperti ini rasanya nggak mungkin ada. Kalau ada bisa kelelep tiap kali hujan. Di sini, walaupun nggak takut banjir, aku tetap nggak suka rumah yang letaknya lebih rendah daripada badan jalan. Aku merasa aneh saja, masak yang keliatan cuma atapnya. Aku juga membayangkan kalau di dalam rumah buka jendela mau lihat apa? Kayaknya rumah seperti ini kebanyakan gelap, karena nggak mendapat cukup sinar matahari.
Waktu aku lihat rumahnya Richard, aku mikir nggak heran Trish nggak mau turun dari mobil. Juga kebayang di kepalaku acara TV seperti “Selling Houses in Australia”, “Property Ladder”, dan sejenisnya yang sering aku tonton. Mereka selalu menekankan betapa pentingnya “street appeal”. Aku mikir: Nih rumah gak keliatan appealing sama sekali, wong yang keliatan dari jalan cuma atap sama car port tok.
4. On a Slope
Di samping nggak suka rumah di atas bukit, aku juga nggak suka rumah yang lahannya miring. Nah rumah baru si Richard ini lahannya miring sekali, bisa dibilang sangat curam. Tanah bagian depan rumah jauh lebih tinggi dibanding belakangnya. Oleh karena itu rumah 2 lantai ini nggak ditingkat ke atas, melainkan ke bawah. Sampai di bagian belakang rumah, aku lebih kaget lagi karena serasa berdiri di atas jurang.
Aku berdiri di teras belakang rumah. Kutengok ke bawah untuk melihat seberapa curamnya tanah itu tapi nggak keliatan, tertutup oleh semak-semak dan pepohonan yang besar-besar. Perkiraanku, pohon-pohon itu tingginya bisa mancapai 10 meter bahkan mungkin lebih. Dan pucuk pohon itu berada sejajar dengan tinggiku. Kata suamiku luas tanah property ini kira-kira 700 meter persegi. Berarti sebagian dari “jurang“ itu adalah property-nya Richard.
Aku perkirakan halaman depan dan rumah luasnya nggak lebih dari 400 meter persegi. Jadi Richard beli property yang separoh tanahnya sama sekali nggak bisa digunakan. You can’t even step a foot on it! Suamiku bilang: “You can’t get to the bottom of the property without a rope around you and not kill yourself.”
Tapi berdiri di teras itu juga, aku bisa melihat apa yang “membutakan” Richard: the view. Tapi tetap, bagiku pribadi pemandangan yang indah itu nggak cukup untuk menutupi kekurangan yang lain. Sudah umum bahwa view yang bagus bisa menaikkan harga jual rumah, tapi masih saja aku merasa Richard membeli rumah ini kelewat mahal, karena biarpun legally luas tanahnya 700 meter, hanya sekitar separohnya yang usable. Suamiku bilang: “He’s Swiss, maybe he wants to teach his kids to mountain-climb.”
5. Separate Toilets
Aku baru tau di dunia ini ada rumah yang toilet dan kamar mandinya pisah ya waktu pertama kali berkunjung ke Sydney. Waktu itu diajak ke rumahnya calon kakak ipar. Alangkah herannya aku waktu melihat toilet yang terpisah dari kamar mandi. Sudah gitu nggak ada wastafelnya. Kalau habis menjawab panggilan alam, mau cuci tangan mesti keluar dulu, terus ke wastafel yang ada di kamar mandi. Hmm… ribet dan kayaknya nggak higienic.
Suamiku bilang separate toilet adalah hal yang lumrah di Australia. Alasannya: kalau ada yang kebelet sementara kamar mandi dipake mandi, orang masih bisa ke toilet. Masuk akal sih. Alasan itu bisa kuterima untuk rumah yang hanya punya satu toilet. Tapi ternyata banyak sekali rumah yang punya 2-3 toilet tapi main bathroomnya tetap pisah dengan toilet. Seperti halnya rumah si Richard ini punya 4 kamar tidur. Dua kamar di atas, dua di bawah. Di lantai atas ada kamar mandi dan toilet terpisah. Di bawah juga ada. Betul-betul konsep yang nggak aku mengerti.
Anyway, tentu saja tiap orang punya selera yang beda. Yang menjadi bahan pembicaraan antara aku dan suamiku, selain rumah yang jauh dari selera kami, juga sifat Richard yang sangat impulsive. Bukan saja memutuskan beli rumah dalam waktu 15 menita tanpa nawar, tapi juga bayar deposit tanpa melakukan building inspection. Di sini kalau orang beli rumah tanpa menyewa seorang ahli untuk mengecek kesolidan rumah yang mau dibeli, maka orang itu akan dikatakan bodoh. Karena rumah yang kelihatannya bagus dan baru, bisa saja fondasinya rapuh, diserang rayap, atau ada problem dindingnya lembab, dll.
Aku juga heran kalau mengingat dulu Richard pernah menyebut ciri-ciri rumah idamannya: big backyard untuk tempat 2 anaknya (boys, kayaknya umur 4 dan 6) bermain. Ini hal yang biasa diinginkan family with young kids. Sayangnya rumah yang dibeli Richard sama sekali nggak punya backyard, yang ada malah jurang. Dia juga bilang ingin rumah yang master bedroom-nya luas, with an alcove and ensuite. Lagi-lagi rumah ini juga nggak punya itu. Entahlah, mungkin selera atau impiannya sudah berubah.
Yang jadi kecemasanku adalah gimana aku mesti bereaksi nanti kalau tiba saatnya Richard mengundang kami ke rumahnya. How should I react, and what should I say kalau kelak diundang ke rumahnya? Apa aku mesti bohong bilang “nice house” (gak tau juga apa aku bisa bohong dengan meyakinkan). Nggak mungkin kan mau bilang terus terang, sementara Richard sudah wanti-wanti ke suamiku: “Don’t mention anything bad to Trish. She’s already freaked out.” Untuk menenangkan istrinya, Richard berjanji, kalau dalam waktu dua tahun Trish tetap nggak suka rumah itu, dia setuju untuk pindah. Hmm… biarpun personally I think Richard bought the wrong house, aku tetap berharap dia dan keluarganya bahagia di rumah barunya nanti.
March 2nd, 2011 at 16:45
Tulisannya bagus-bagus…Informasi yang sangat bermanfaat!!!
Semoga dimudahkan jalannya dan sukses selalu…!!! [ACR]
January 21st, 2010 at 11:24
@ sakura : kayanya ga ada foto rumahnya de … cuman sebagian parkiran mobil + sebagian atap doang yg keliatan. oh well kalo mau ditambahin pegangan tangan di foto terakhir. laennya jalanan sama pohon2 aja tuch …..
*numpang lewat ……
btw emang lebih bagus kalu nama tokoh2nya nama samaran sich …
*peace*
January 21st, 2010 at 11:06
Wah, setelah membaca tulisan ini. Ternyata di Sri lanka juga struktur tanahnya seperti itu. berbukit-bukit. Rumah kami aja tanahya tidak flat bener. jadi seperti ada 3 level.
Kalau saya sih suka ya rumah yang berbukit bisa melihat pemandangan kebawah hehehe…namanya selera orang berbeda-beda.
January 21st, 2010 at 07:30
Tammy, oke sekarang saya kasih alasan kenapa saya nggak suka artikel kamu ini:
1. Kamu foto-fotoin rumah temanmu saat inspeksi ke sana dengan suami kamu ke sana tanpa seijin pemilik rumah (Richard) khan? Ini jelas melanggar privacy orang. Apalagi kamu masukin ke website yang bisa dibaca semua orang.
2. Kamu bikin point-point jelek atas rumah temanmu ini, berdasarkan isi kepala kamu. Padahal teman kamu jelas punya pendapat sendiri kenapa dia beli rumah tsb. Dan dia tidak pinjam uang kamu, kenapa kamu harus reseh jelek2in rumahnya dalam suatu artikel? Dan parahnya, kamu tulis di sini, dibaca semua orang.
Apa kamu membayangkan, kalau ini artikel di tulis dalam bhs Inggris, dan kamu sodorkan ini artikel ke Richard berikut foto-foto yang ada di sini? Apa nggak shock dia?
Saya akan maklumi jika yang kamu tulis itu rumah kamu pribadi, yang kamu nggak suka, tapi sudah terlanjur dibeli. Ini tidak akan meyakiti hati orang lain, dan kamu punya hak untuk itu.
Tapi untuk kasus ini, kamu nggak punya hak untuk menuliskannya, kecuali tanpa seijin Richard. Atau kamu sodorkan ini isi artikel, berikut foto-fotonya dan terjemahan dalam bhs Inggris, kemudian Richard setuju, maka no problem.
hati-hatilah menuliskan sesuatu. Kalau Richard complain dengan isi arikel kamu dan membawanya ke pengadilan, kamu bisa kena hukum.
Salam.
January 20th, 2010 at 05:22
Baca aku nyengir komentar Alexa, lucu sangat realistis. Disini sebelum rumah naik panggung untuk dipasarkan. Harus melalui lembaga apraisal kelayakan. Setelah mendapat certificate baru dech tebar pesona. Selain rumah tanah kosongpun sebelum dijual untuk dibangun rumah harus mendapat setifikat kelayakan, topography, sewer, kandungan air tanah. Ditempat tinggalku yang juga reservoir air minum New York, untuk membangun rumah tanah kosongnya harus 60%. Apraisal tanah kosong sangat mahal, untuk satu unit rumah termasuk blue print bisa mencapai $30-50,000,- padahal dengan uang segitu sudah cukup untuk DP membeli rumah bagus yang sudah jadi dengan cicilan dibawah $1000,-. Aku bersyukur diselongsori pondok kecil oleh mertua, it is “homy”.Salam!!
January 20th, 2010 at 00:56
Tammy : emank bener jd jauuuuuuuuuh jd panjang……….soale HOUSE dan HOME kan emang beda banget
January 19th, 2010 at 12:33
Lani: wah kalo ngomongi home bisa panjang nih.
BJ: Hehehe…. “a house with potential” itu biasanya adalah istilah real estate agent utk rumah yg run-down dan perlu direnov. Memang tiap orang kalo cari rumah lain2 maunya. Ada yg maunya “a house where you can move straight in”, ada juga yg gak keberatan doing some work, ato bahkan renov total. Rumah yg dibeli Richard ini bukannya run-down sih, dan setau kami sih Richard nggak ada rencana utk renov, at least dalam waktu dekat. Entah kalo bbrp taun lagi setelah morgagenya lunas, atau mungkin setelah Trish kerasan di tempat barunya.
Awesome: iya, viewnya bagus. Kayaknya memang itu yg bikin Richard jatuh cinta.