Jebakan Pangan

Osa Kurniawan Ilham

Saya dulu berasal dari sebuah keluarga miskin di desa, jadi menikmati mie instan adalah suatu kemewahan tersendiri. Ngomong-ngomong gara-gara di kemasannya ada gambar mie lengkap dengan telur dan ayam goreng, saya kira dulu kalau makan mie instan pasti sudah lengkap dengan telur dan ayamnya he..he.. (dasar katro, wong ndeso he..he..).

Lalu ketika saya kuliah, mulailah mie instan menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan lagi. Alasannya apa lagi kalau bukan karena murah, praktis, mengenyangkan (kalau tambah nasi lho) dan ketersediaannya dalam berbagai rasa. Saya ingat dulu saya menyediakan stok mie instan dalam berbagai rasa dari mie goreng, mie kuah rasa sapi, mie kuah rasa ayam, mie rasa soto. Pokoknya apapun rasanya bentuknya tetap mie he..he…

Kebiasaan selama kuliah tersebut ternyata terus bersambung sampai kini, mie instan tetap menjadi bagian dari hidup saya. Bahkan selama on-duty, kalau saya sudah bosan dengan makanan yang disediakan oleh chef, mie instan selalu menjadi andalan untuk mengobati kebosanan itu.

Tapi hidup tenyata memang harus berubah, seiring dengan pertambahan usia saya. Tingkat stres dan tekanan pekerjaan membuat saya memiliki sakit maag kronis, yang akan bertambah parah kalau mie instan masuk ke perut saya. Dengan alasan itulah akhirnya isteri tercinta saya menjatuhkan vonis kepada saya….tidak boleh lagi makan mie instan. Anak-anak pun turut mendapatkan vonis serupa. Ahh..dunia terasa kiamat dengan vonis itu he..he…

Kasus yang menimpa saya di atas adalah salah satu contoh jebakan pangan yang menimpa saya. Alih-alih hidup dengan makanan apa adanya seperti dulu, saya sekarang bagaikan kecanduan dengan mie instan. Saya yakin apa yang menimpa saya juga dialami oleh jutaan mahasiswa maupun alumni yang lain, bahkan sudah menyebar ke anak, istri bahkan sampai orang yang tergolong miskin dan pengungsi bencana alam pun terjerat dengan jebakan mie instan ini.

Akhirnya bangsa ini pun terjerat pula dalam jebakan pangan yang dihembuskan oleh strategi politik pangan negara-negara besar produsen gandum. Mie instan sekarang terbuat dari tepung terigu, yang berasal dari tanaman gandum yang tentu saja tidak cocok dibudidayakan di daerah tropis seperti Indonesia. Karena itulah untuk memenuhi hasrat perut saya dan Anda akan mie instan, setiap tahunnya negara kita selalu mengimpor 4.661.385,85 ton gandum sehingga kehilangan devisa sebesar Rp. 22.5 triliun per tahunnya untuk membayar hasrat perut kita itu.

Majalah Gatra edisi 9 September 2009 menulis dengan gamblang mengenai jebakan pangan tersebut, dengan suatu kesimpulan bahwa saat ini tanpa disadari Republik Indonesia telah terikat dan kecanduan oleh jebakan pangan yang dipasang oleh negara-negara maju lewat kapitalisme global.

Kita sudah sangat tergantung dengan dengan dunia luar, Saudaraku. Daging, kedelai, jagung, susu, gula, dan gandum yang kita makan kebanyakan berasal dari luar negeri. Ketergantungan pada bahan pangan impor itu menyedot devisa hingga Rp. 50 triliun per tahun. Memang secara total untuk sektor pertanian, neraca perdagangan memang masih surplus. Tapi nilai surplus itu disebabkan oleh ekspor komoditas non pangan seperti CPO, sedangan untuk bahan pangan utama kita cenderung mengalami defisit.

Jebakan pangan itu dimulai dari kebodohan kita sebagai negara miskin yang secara tidak sadar mengijinkan hidup kita mau diatur oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Bayangkan, mereka menguasai seluruh industri pangan dari hilir ke hulu. Di industri hilir, mereka menguasai pasar dengan menguasai produksi sarana produksi pertanian seperti benih, bibit, pupuk dan pestisida sementara di industri hulu mereka menguasai industri pengolahan pangan. Hebatnya lagi, AS dan negara Uni Eropa memberikan subsidi agar komoditas perusahaan multinasional itu dapat memenangkan persaingan di pasar dunia. Tentu saja petani-petani telah terkalahkan dengan strategi ini.

Lalu perusahaan multinasional juga menguasai pasar perdagangan melalui retail semacam supermarket dan hypermarket. Menurut catatan Gatra, total penjualan 10 perusahaan global untuk sarana produksi pertanian mencapai USD 40 milyar, industri pengolahan dan perdagangan pangan mencapai USD 409 milyar dan industri pengecer mencapai USD 1.091 milyar.

Jadi dengan skenario mereka tersebut, kita, negara miskin ini hanyalah berperan menjadi buruh tanam untuk benih yang disediakan oleh mereka. Hasil produksi kita tersebut kemudian dibeli mereka dengan harga murah untuk diolah melalui industri pengolahan mereka. Kemudian produk pangannya dijual ke kembali ke negara miskin melalui industri retail mereka dengan harga yang sedikit miring tapi tetap di atas nilai jual produk mentah pangan yang kita jual ke mereka. Jadi gain yang didapat petani kita tipis sekali.

Lalu apa yang kita perbuat untuk menghadapi masalah jebakan pangan di atas ? Melalui ketahanan pangan dan mengembangkan budaya hidup mandiri yang tidak tergantung pada produk impor, dan itu tepat dimulai dari anak-anak kita sendiri. Saya tidak bermaksud menggurui atau memprovokasi Anda tapi sekedar berbagi bahwa inilah yang isteri saya dan kami sudah lakukan:

  1. Berusaha membeli di pasar tradisional ketimbang di hypermarket.
  2. Selama ada produk pangan made in Indonesia, kami hanya membeli produk yang made in Indonesia (saya pernah menulis hal ini dalam tulisan berjudul Anakku Mencintai Negerinya Melalui Produk Makanan Lokal).
  3. Kalau bisa, membeli langsung ke petaninya.
  4. Kalau pun harus di hypermarket, kami lebih memilih di hypermarket franchise lokal ketimbang franchise asing.
  5. Kalau pun terpaksa di hypermarket franchise asing kami hanya membeli barang-barang non makanan seperti elektronika dan sebagainya.

Mungkin Anda mempunyai ide lain yang bisa kita terapkan bersama ?

 

Balikpapan, 19 November 2009

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.