Orang Cina yang Punya Weton

Alexa – Jakarta
Persinggunganku dengan budaya Cina sudah dimulai sejak dini dengan supply bacaan Cerita Silat dari Ibu saat aku duduk di bangku SD. Ibu selalu berusaha menunjukkan bahwa di balik cerita-cerita yang kami baca itu ada makna tentang berjiwa kesatriaan tidak main belakang bahkan curang, apa lagi untuk bersikap iri bahkan culas, seharusnya berani membela kebenaran dan perkasa dalam arti siap menghadapi apapun yang menghalangi tapi tidak membabi buta (makanya beliau juga membelikanku buku Sun Tzu). Sampai akhir hayatpun Ibu menyukai serial David Carradine yang bertutur tentang pengelana berjiwa pendekar ( opo kuwi judul’e JC?).
Gak ada Duitnya
Makanya walaupun kehadiran orang Cina di kalangan kami sangat minoritas tapi aku tidak pernah memandang teman-teman Cinaku sebagai sesuatu yang aneh, tidak seperti teman-temanku di kampus waktu itu. Ya, belajar di UI yang merupakan Universitas Negeri yang secara tidak tertulis lebih merupakan tempat belajarnya mahasiswa “pribumi” maka kehadiran sedikit mahasiswa keturunan Cina merupakan hal langka.
Masa-masa kuliah di MMUI bagi sebagian mahasiswa dengan background non eksakta seperti aku tentu sangat berat…berusaha mengabsorb pelajaran metode kuantitatif, statistika dan ilmu ekonomi yang sarat dengan rumus-rumus dan perhitungan. Beberapa teman kuliah yang sudah berusia senior baik pria maupun wanita yang kembali ke kampus karena dikirim kantornyapun menjerit dan menangis saat belajar. Teksbuk tebal ribuan halaman selalu ditenteng wara-wiri tapi saat kita masuk ke ruang diskusi (sekeliling kampus dipersiapkan ruang-ruang kecil tertutup untuk belajar kelompok) ternyata bapak-bapak itu pada mengeluarkan senjata rahasia lain yakni kaplet-kaplet obat sakit kepala (ya Paramex, Panadol, Oskadon) yang pancen Oye untuk mengobati kepala yang tiba nyut-nyut mencoba memahami materi pelajaran. Beneran kata mereka hati tenang saat sudah menenteng buku-buku tebal (walaupun gak sempet dibuka waktu di rumah) dan obat sakit kepala…hehehe, kami jadi ketawa-ketawa di atas kebodohan deh.
Aku lampirkan fotoku dengan teman-teman saat liburan, salah satu adalah si jelita berambut panjang yang jenius –dia termasuk mahluk langka karena “figure/numero” is her middle name. Jadi mahasiswa teladan se UI waktu S1 FISIP jurusan Teknik Informasi/Komputer. Saking jeniusnya, dia suka enggak sabaran ngadepin teman-teman yang lelet bin lambreta kalau ngerjain tugas-tugas itung-itungan berkelompok maka akhirnya dia memilih untuk ngerjain sendiri tugas-tugas itu dan tidak bergabung dengan kelompok manapun. Ini tidak membuat dia jadi individualistis juga karena yang paling rajin hadir kalau ada acara rest n relax bareng ya dia. Sosoknya saat ini sering wora-wiri di media massa (Kompas bahkan pernah mengangkat sosoknya dalam rubrik Sosialita satu halaman, dinobatkan sebagai Wanita Eksekutif tahunan oleh Majalah Dewi dll) dan dia adalah Direktur Keuangan holding company milik si Cakil.
Jenius lain selain si jelita adalah sosok pria muda keturunan Cina Pontianak, pendek kecil dengan kacamata belor  – tapi Tommy (namanya) sangat cuek dan cenderung anti sosial (alias jarang gaul – datang menyelinap saat kelas sudah mulai dan pergi begitu saja segera setelah kelas usai). Waktu kuliah dengan tekun dia menyimak dan hanya mencatat point-point penting dalam selembar kertas – tidak pernah punya buku. Nama keluarga Tommy yang di Indonesiakan terdengar aneh ditelinga kami – sampai sekarang tidak ada yang menyamainya. Secuek-cueknya Tommy lama-kelamaan dia mulai berteman denganku dan kelihatannya dia hanya dekat denganku (dia juga mau menyapa sahabat-sahabatku).
Makin lama gemintang nilai Tommy makin berkilau membuat beberapa teman jadi iri dan sering menyindir di kelas ( yang heboh itu malah teman-teman lelaki juga ). Makin disindir Tommy makin cuek tapi selalu ada “tempat” bagi Alexa di hatinya (jhiah) jadi dia malah makin “merapat” ke aku. Aku sendiri suka tidak tahan mendengar celaan-celaan teman maka biasanya aku selalu menurunkan diri ke gelanggang dan  “berbalas pantun” dengan teman-teman itu. Cara yang kami lakukan selama ini selalu elegan (ya iyalah mahasiswa S2 di UI pula) – melontarkan sindiran-sindiran pedas dengan jenaka tanpa suara tinggi apalagi melotot-melotot seperti sinetron, rasanya lebih seperti bermain pingpong gitu. Biasanya cowok-cowok itu kalah skak mat dengan ketajaman lidahku – so pasti lulusan hukum bersilat lidah lawan lulusan tehnik – ntar siapa yang kalah bakalan disorakin sama teman sekelas.
Tommy makin dekat dengan aku dan akhirnya dia banyak mengajari aku pelajaran-pelajaran yang gak mudeng itu. Dia bahkan sering mengorbankan hari-hari wikennya untuk datang ke kampus dan mengajari aku dan teman-teman yang rada debil itu (khususnya sahabat-sahabatku). Kalau lagi test, sengaja dia duduk di mukaku dan membuka lebar-lebar lembar jawabannya yang sudah diisi dan pasti 100% benar itu rada menyamping supaya bisa aku lihat. Tapi Alexa "Lihiap" mana mau nyontek-nyontek gitu – aku sudah peringatkan Tommy tapi dia cuman cengengesan gitu dan teman-teman makin kesal melihat aku berakrab ria dengan Tommy.
Sampai ada yang menggamitku dan bilang, “Lex, ngapain sih kamu akrab-akrab dengan Tommy, dia aneh gitu mana dia Cina Pontianak lagi. Kamu tau enggak Cina Pontianak itu Cina yang paling jahat (note: entah informasi darimana itu mbak).” Dengan lugas kujawab,”Mbak, sejahat-jahatnya orang tapi kalau dia baik ama aku ya jelas akan aku baikin. Sebaik-baiknya orang, kalau dia jahat ama aku masa aku kudu beramah tamah ama dia,” Si Mbak cuman bisa bilang, “U’ve got your point, Lex.”
Suatu hari aku pernah tanya ke Tommy kenapa dia diam saja saat disindir abis sama teman-teman. Dengan tertawa keras (jarang terjadi) dia menjawab, “Kenapa harus pusing Lex, selama itu gak ada duitnya aku gak pusingin. Tapi kalau ada duitnya pasti aku perjuangkan habis-habisan.” Aku takjub mendengarnya, hal itu merupakan suatu falsafah yang baru bagiku tapi kupikir benar adanya,” Ngapain musingin masalah kalau  gak ada duitnya.” Bisa-bisa stroke dan tambah cilaka kalo gak punya duit.
Begitulah hingga karya akhirpun aku mengerjakannya bersama Tommy dan menjadi karya akhir Numero Uno yang kelaar dan dapat nilai A. Pokoknya tanpa Tommy – belum tentu aku bisa selancar ini menyelesaikan studiku di MMUI.
Kebayoran Lama
Persahabatanku dengan orang Cina lain ya waktu bertugas di bank cabang Kebayoran Lama yang pernah dimuat : http://koki-kolomita.blogspot.com/2009/05/evita-peron-kawah-putih-kokisiana.html.
Terutama dengan Ibu Ho yang tinggal di Jln. Industri itu – kami saling mengukur dunia masing-masing. Ibu Ho iri dengan hidupku yang dilihat dari sudut pandangannya sangat blink-blink; berpakaian blazer turun naik mobil keren (mobil kantor) komplit dengan supir dan bekerja nine to five. Wiken kelayapan – pernah beberapa kali dia ikut jadwal kelayapanku ke tempat-tempat yang menurut dia unik (aku jarang berwiken ke mall).
Sementara aku sendiri tentunya terkagum-kagum melihat saldo rekeningnya belum lagi menurutku ya enakan dia bisa pakai baju seenaknya gak usah jaim-jaim. Aku pernah minta waktu satu hari khusus mengikuti aktivitas dia. Ibu Ho memulai usahanya dari kios satu petak kecil di Pasar Pagi Lama berjualan garmen, usaha mulai merangkak maju sampai suatu hari dia harus membuat keputusan dagang yang penting tapi suaminya tidak setuju.
Akhirnya Ibu Ho dan suami sepakat untuk mengurus usaha masing-masing secara terpisah sebab menurut Ibu Ho bisnisnya tidak akan maju jika suami terlalu ikut campur mana ketakutan melulu dan tidak berani mengambil kesempatan yang ada. Ya, waktu itu ada buyer dari Nigeria datang dan menawarkan bisnis ekspor garmen yang kontinyu dan bu Ho memutuskan mengambil kesempatan itu.
Bisnis rumahan berubah jadi industri – tapi bu Ho pintar, dia tidak mau membuat pabrik dan terperangkap pada berbagai berbagai birokrasi. Sistim yang dibentuknya adalah membina beberapa unit produksi dari ibu-ibu di beberapa wilayah. Dia memasok bahan-bahan pakaian yang sudah dipotongnya di rumahnya dan para ibu menjahit di rumah masing-masing dikordinir oleh seorang mandor di wilayah itu. Satu mandor membawahi 17 penjahit dan ada hampir 10 mandor di beberapa wilayah – para penjahit mendapat upah dari tiap potong baju yang dihasilkan. Dari hasil bisnisnya itu Ibu Ho bisa mengirim tiga anaknya kuliah di Amrik (dua anak perempuan yang kecantikannya luar biasa dan seorang putra yang gagah dan tampan), selain itu Ibu Ho berinvestasi properti pada beberapa toko di Tanah Abang, Mangga Dua dan rumah-rumah mewah di Kebon Jeruk serta Kelapa Gading…pokoknya menurutku Ibu Ho itu pintar.
Walaupun sebenarnya Ibu Ho itu lancar berbahasa Inggris tapi dia selalu berpura-pura tidak bisa berbahasa Inggris saat bisnis meeting dengan orang-orang Nigeria itu (orang Nigerianya bukan yang tinggal di Tanah Abang lho – mereka kalau datang ke Jakarta nginap di Grand Hyatt dan aku pernah diajak untuk mengamati pertemuan mereka di Lounge yang ada). Ibu Ho datang dengan membawa contoh kain, renda, kancing dan reuitsleiting dan kertas kosong serta kalkulator. Perundingan mereka saling merujuk ke kalkulator dan menuliskan angka di kertas, kain-kain, renda serta ruitsleiting yang sudah disepakati langsung distepler di kertas dan ditandatangani berdua, urusan pembayaran diselesaikan dalam bentuk LC. Menurut Ibu Ho dia sengaja berpura-pura tidak bisa berbahasa Inggris karena jika berbahasa Inggris maka si Nigeria itu akan gencar menawar dan banyak permintaan.
Suatu hari Ibu Ho menghubungi aku karena akan mendeposit dana yang sangat besar sekaligus akan memakainya, ini berarti Ibu Ho akan mengajukan fasilitas pinjaman back to back (jaminan deposito). Tentu aku sangat senang karena berarti neraca cabangku akan naik sekaligus di sisi liability dan asset, tapi persoalan tidak semudah itu saat ibu Ho bilang kalau suaminya tidak boleh tahu masalah ini padahal mereka tidak ada perjanjian pisah harta. Dalam hukum pinjam meminjam ya pasangan hidup dari debitur harus tandatangan sebagai syarat turut menanggung kewajiban, phuih dilemma. Bisa saja aku memalsukan tandatangan suami Ibu Ho tapi mana ada seorang Lihiap berlaku curang?  Semalaman pusing tujuh keliling akhirnya ketemu deh jalan. Jalan apakah itu? RHS yang jelas Lihiap masih berjalan di jalan lurus deh. Dan kontribusi Ibu Ho (plus klien2 lain) lah yang mengantarkan aku menerima penghargaan dari perusahaan. Foto ini hanya contoh saja karena piala yang diterima benar-benar seabrek.
Karena ibu Ho pula aku jadi mulai memahami masalah Fengshui – dan ternyata Fengshui yang suka ada di televisi maupun di majalah itu baru kulitnya banget dan terlalu general sehingga jika dipraktekkan ke kehidupan seseorang belum tentu cocok. Misalnya masalah rumah tusuk sate yang selama ini dipercaya sebagai rumah yang gak hoki tuh gak bener buktinya justru orang-orang yang mendapat jatah rumah-rumah tusuk sate di kompleksku malah akhirnya menempati jabatan eselon satu di departemen atau jadi penguasa BUMN.
Kesimpulan:
Baik Tomy maupun Ibu Ho menunjukkan bahwa dalam menggapai cita – kita harus fokus. Adanya gangguan dari kiri-kanan jangan mengalihkan tujuan utama kita. Alasan Tomy bahwa sindiran teman-teman gak penting karena gak ada duitnya bukan berarti Tomy mata duitan buktinya dia siap sedia membantu me n the debil gank buat belajar, bahkan selalu memberikan “contekan” tanpa diminta.
Fokus juga yang menyebabkan Ibu Ho jernih melihat persoalan, melihat suami bira (bimbang dan ragu melulu) maka dia memutuskan untuk berpisah secara bisnis dengan suaminya tetapi tetap menjadi isteri yang baik. Bu Ho sangat bersyukur bisa menyekolahkan anak-anaknya ke Amrik karena disana anak-anaknya menemukan jodoh anak dan atau cucu dari konglomerat Indonesia terkemuka….”Coba kalau saya masih dagang di Pasar Pagi melulu, mana bisa saya menyekolahkan mereka ke AS dan mana bisa anak-anakku berkenalan dengan anak konglomerat,” demikian katanya.
Makanya di kemudian hari saat ada seorang teman yang turunan Cina ragu melulu saat harus bersikap, banyak timbang sana timbang sini aku segera mengatakan,”Haree genee ada orang Cina seperti elo,” dengan lugas dia menjawab, “Habis Cina yang ini punya weton seeh.” Gubraaak, bujubune…ilmu ngeles yang kreatif.
Dan tambah parah saat aku upload tulisan ini dan dibaca oleh redaksi yang di Serpong – dia langsung bilang : Aku juga punya weton…jhiah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *