Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Perjalanan ke Tator (Part 3)

Thursday, 21 January 2010

Viewed 3661 times, 2 times today | 60 Comments |

Hariatni Novitasari – Surabaya

Mereka Yang Hidup di Tengah Mayat

Kata Bang Jon, pemilik mobil yang kami tumpangi dari Batutumonga ke Rantepao, pesta pemakaman jauh lebih penting dan lebih mahal daripada pesta perkawinan dan kelahiran. Kata Bang Jon, biaya pesta itu sangat mahal. Meskipun bagi dia hal itu kurang rasional, dia tetap mengikuti adat itu. Bagi dia ini adalah modal sosial. Orang yang tidak ikut adat, secara tidak langsung akan “menyisihkan” dirinya sendiri dari rumpun keluarganya. “Keluarga besar tidak menyisihkan mereka. Tetapi, mereka merasa sungkan sendiri. Sehingga menjauh dari keluarga besar”

Besarnya biaya pesta yang harus mereka persiapkan, membuat orang Toraja harus bekerja lebih keras. Ambil contoh Bang Jon, paling tidak, dia harus mempersiapkan upacara untuk kedua orang tua dia, dan kedua orang mertua dia. Bang Jon bercerita, kalau dua tahun yang lalu, dia baru saja memakamkan ayahnya.

Dia sendiri harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 160 juta untuk membeli ternak. Biaya pesta pemakaman ini harus disiapkan dan ditanggung oleh anggota keluarga mereka. Paling tidak, satu ekor kerbau yang paling murah bisa mencapai harga Rp. 20 juta. Kerbau juga bisa mencapai ratusan juta untuk jenis kebo bule (saleko). Belum lagi kalau ditambah babi. Harga babi juga tidak murah. Paling tidak, per ekornya harus dibeli dengan harga Rp. 5 juta. Dari sini kita bisa mengkira-kira berapa uang yang harus dipersiapkan oleh keluarga.

Bagi orang Toraja, pesta pemakaman ini telah menjadi perdebatan akhir-akhir ini. Sebagian orang berpendapat, kalau budaya menyelenggarakan upacara pemakaman dan menguburkan mayat di batu tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran Kristen, kepercayaan yang banyak dianut oleh orang Toraja sekarang ini. Sebab, berbau animisme.

Tetapi, karena budaya ini telah mengakar selama ribuan tahun, tidak seorangpun mampu mengubahnya. Akhirnya, orang tetap melestarikannya. Di sisi lain, pihak gereja juga tidak mengadakan pelarangan. Untuk menyesuaikan diri dengan ajaran Kristen, pendeta biasanya datang ke tempat orang yang meninggal, ketika yang bersangkutan meninggal dunia. Meskipun setelah itu, mayat juga masih disimpan di dalam rumah.

Ketika ke Toraja ini, kami beruntung sekali bisa mengunjungi dua pesta pemakaman. Satu di lembang Tampan yang merupakan upacara pemakaman Marebila yang meninggal pada usia 90 tahun. Satunya, pemakaman dua orang anggota keluarga Ne’ Toni di Sa’dan.
 

Setiap upacara pemakaman, rangkaian acara paling tidak digelar selama satu minggu. Karena waktu kami yang sangat terbatas di Toraja, tidak semua prosesi pemakaman kami ikuti. Ketika mempersiapkan upacara ini, seluruh kegiatan perekonomian seperti berhenti di tempat itu. Misalnya saja di Sa’dan.

Daerah ini merupakan pusat tenun. Tapi, berhubung di sana ada upacara pemakaman dua orang keluarga Ne’ Toni (mertua dan menantu lelaki), tidak ada kegiatan menenun dan toko tenun juga tutup. Para penenun banyak yang membantu mempersiapkan kebutuhan pesta di keluarga Ne’ Toni.

Berhentinya kreativitas ekonomi tidak hanya di Sa’dan. Tetapi meluas sampai ke lembang sebelah, Cokbarana. Di lembang ini, ada semacam tempat sentra menenun. Disana ada los-los pasar tempat para perempuan menenun, sekaligus menjual hasil tenun ikat ini. Ketika kami tiba disana, kami hanya menjumpai satu orang pengrajin saja. Nenek Pangkau (70 tahun).

Dia ada di pusat kerajinan ini, antisipasi kalau ada turis. Sementara para penenun lainnya sedang ada di Sa’dan. Sayangnya, kami tidak bisa melihat Nek Pangkau menenun. Faktor usia, telah membuat mata Nek Pangkau tidak sejelas dulu. Sehingga dia telah berhenti menenun.
 
 
Hari pesta sama artinya dengan tidak ada aktivitas ekonomi. Tidak hanya para penenun yang berhenti bekerja, tukang ojek juga. Kami juga mengalaminya di Tampan. Kala itu, kami harus segera pergi ke Sa’dan untuk melihat upacara di rumah Nek Toni. Tidak ada satupun ojek. Kata masyarakat di sana, banyak sekali tukang ojek di Tampan. Akhirnya, kami membajak Jon Key mahasiswa STIKES Makale, untuk ngojek kami ke Sa’dan. Untung Jon Key tidak keberatan, karena dia juga berkepentingan pergi ke Sa’dan melihat adu kerbau.

Kembali ke pesta pemakaman. Orang Toraja paling banyak mengadakan pesta pemakaman pada bulan Juni sampai dengan Desember. Mengapa bulan-bulan itu yang dipilih? Pertama, karena orang Toraja baru saja panen. Tingginya biaya pemakaman di Toraja, keluarga besar dalam satu rumpun itu biasanya akan menabung dahulu. Karena itu, untuk menunggu kesiapan pesta mayat akan hidup di tengah-tengah orang hidup selama beberapa tahun. Dan, ketika panen, diasumsikan keluarga telah memiliki cukup uang untuk menggelar acara pemakaman buat anggota keluarga mereka.

Kedua, di bulan-bulan itu, banyak hari libur. Seperti misalnya saat anak libur sekolah, ataupun libur Natal dan Tahun Baru. Acara pemakaman adalah acara untuk mengumpulkan keluarga besar. Ketika mereka sedang berlibur, kemungkinan mereka berkumpul akan sangat besar. Karena itu, pesta pemakaman digelar di tongkonan milik keluarga. Semua prosesi digelar di tongkonan ini.

Ketika keluarga belum mampu untuk menggelar pesta, mayat biasanya akan ditempatkan di kamar belakang rumah. Mereka akan diberi makanan setiap hari seperti layaknya orang hidyp. Mereka juga diberi barang-barang kesukaan mereka. Seperti misalnya, rokok. Ketika mereka belum dipestakan ini, mereka dianggap masih sakit atau belum meninggal. Dalam bahasa Toraja-nya disebut dengan tomakula (orang sakit). Baru ketika mereka sudah dipestakan, mereka dipindahkan ke kuburan yang lazim disebut dengan tongkonan tameramto (rumah yang sudah tidak mengepulkan asap).

Pesta akan ditanggung oleh rumpun keluarga (anak, menantu, saudara, sepupu, keponakan dan lainnya). Mereka bisa menyumbang kerbau atau babi. Kerbau-kerbau inilah yang akan dipotong dalam pesta yang disebut matututerong. Sebelum pesta potong kerbau, sehari sebelumnya babi-babi dipotong terlebih dahulu, dan dibagi-bagikan kepada rumpun keluarga. Begitu pula kerbau. Sebelum kerbau-kerbau ini dipotong, akan diberi tanda sesuai dengan kelompok-kelompok yang nantinya akan menerima daging ini.

Agar bisa dibuatkan replika patung, paling tidak kerbau yang dikorbankan harus 24 ekor. Bagi orang meninggal yang patungnya ditempatkan di makam (tau-tau), selain mampu menyembelih lebih dari 24 ekor, mereka berasal dari keluarga bangsawan. Selain bangsawan, tidak boleh meletakkan patung di kuburan batu. Kalaupun mereka membuat patung cukup diletakkan di dalam tongkonan milik rumpun keluarga.

Patung ini dibuat dari kayu nangka. Kayu nangka dipilih karena warnanya kuning. Karena jaman dulu belum ada cat atau pewarna lainnya seperti jaman sekarang, dipilihlah warna yang paling mirip dengan kulit manusia. Patung ini dibuat mirip dengan manusia yang telah meninggal dunia.
 

Bagaimana orang Toraja memilih lokasi kuburan batunya? Di Toraja, setiap keluarga bebas memilih kuburan batu tempat makam keluarga mereka. Karena batu adalah milik Tuhan. Mereka bisa memilih lokasi di gunung ataupun lokasi di batu-batu sawah yang besarnya se-Gaban deh. Sekarang ini, ketika batu-batu besar yang mungkin dibuat makam di kampung mereka jumlahnya semakin menurun, banyak yang kemudian membuat kuburan-kuburan dari batu cor. Selain itu, kuburan cor juga dipilih karena lebih praktis. Mereka bisa membangunnya di dekat tempat tinggal mereka. Mereka tidak perlu mencari batu di kampung mereka atau kampung sebelah.
 
Bagi kuburan-kuburan yang terletak di gunung, biasanya ada tiga tingkatan. Tingkat bawah, biasanya ditempati oleh mereka dari golongan biasa. Tingkat kedua adalah kelas menengah. Sedangkan yang ada di puncak gunung biasanya adalah para bangsawan. Kalau dilihat dari gunung-gunung di Toraja yang sedikit curam, sangat sulit untuk membawa mayat ke kuburan. Mereka menggunakan tali untuk menarik peti ke atas. Karena, di gunung biasanya tidak ada jalan secara langsung. Kaum bangsawan kuburannya diletakkan di tingkatan paling atas karena ketika meninggal orang Toraja membawa serta harta benda yang paling mereka cintai. Misalnya saja, perhiasan.

Ketika kami ke Londa, di sana ada makam sebuah keluarga (Tangkele kalau tidak salah dengar). Selain makam-makan di atas bukit yang tidak bisa kami kunjungi, kami diajak tur makam. Gua itu berupa stalagtit dan stalagmit yang gelap. Untuk masuk kesana harus menggunakan lentera yang disewakan sebesar Rp. 20 ribu oleh rumpun keluarga tersebut.
 
 
Kami bisa membawa lentera itu sendiri atau menyewa guide. Selain membawa lentera, mereka akan menjelaskan tengkorak-tengkorak yang ada di dalam gua itu. Kami memilih menggunakan guide. Guide disini tidak menetapkan tarif. Hanya menggunakan kata “seikhlas”nya, yang membuat kami sedikit kebingungan, hehehe. Katanya, tergantung pada kepuasaan kami.
 

Di dalam gua ini, kami melihat peti-peti mayat yang ditaruh di banyak tempat. Kalau peti biasanya sudah rusak dan tinggal tengkoraknya saja,bisa ditaruh di mana saja. Semakin warna tengkorak putih, semakin lama usianya. Semakin coklat, semakin baru. Tetapi, sebaru-barunya tengkorak berwarna coklat paling tidak 20 tahun!
 

Peti-peti mayat yang ada di dalam gua, biasanya diletakkan bersama dengan barang-barang kesenangan orang yang meninggal. Tidak hanya baju, tetapi juga rokok! Banyak anggota keluarga-keluarga yang berkunjung, menaruh rokok di dekat peti. Peti yang telah rusak, sebenarnya bisa diganti kembali. Hanya saja, keluarga besar harus menggelar kembali pesta, sama ketika menggelar pesta kematian. Jadi, bisa dipastikan kalau biayanya juga akan sangat mahal.

Si guide bercerita, kalau di dalam gua itu, ada dua buah tengkorak milik sepasang kekasih. Ketika masih hidup, mereka dilarang menikah karena masih sepupu. Di kalangan masyarakat Toraja, saudara sepupu dianggap masih seperti saudara kandung. Jadi, tidak boleh menikah. Akhirnya, mereka pun mengakhiri hidupnya seperti Romeo dan Juliet. Katanya, mereka bunuh diri sekitar tahun 1960a-an. Tengkorak mereka-pun diletakkan berdampingan.

*****

Di Sa’dan, dua peti mayat mertua dan menantu itu diarak keliling sekitar tongkonan mereka. Genderang dipukul. Para lelaki mengusung mayat. Para perempuan berbaju hitam, membawa kain panjang berwarna merah yang mereka bawa di atas kepala mereka. Mereka bisa anggota keluarga, ataupun tamu yang kebetulan hadir di sana.
 

Sementara itu, semua rangkaian pesta pemakaman Marebila digelar di tongkonan keluarga itu. Para keluarga sudah berkumpul di rumah itu. Hari itu, 30 ekor kerbau disembelih. Sehari sebelumnya, 100 ekor babi telah dipotong dan dibagi-bagikan kepada sanak keluarga.

Para pemilik kerbau menemani ternak-ternak mereka. Mengelus kepala binatang malang itu. Sebentar lagi, kerbau-kerbau itu akan menenui kematiannya. Petasan dinyalakan tanda penyembelihan hewan dimulai. Kerbau-kerbau yang telah dibacakan mantra, satu persatu harus diikat di balok. Para pemilik yang juga menjadi jagal, mempersiapkan parang mereka. Sekali ditebaskan senjata mereka, binatang itu langsung menggelepar. Ada beberapa yang berusaha untuk bangkit. Para jagal mengayunkan kembali parang mereka. Akhirnya, binatang itu roboh, tumbang ke tanah.
 
 
Seketika, halaman tongkonan keluarga Marebila menjadi tempat “pembantaian binatang” yang sadis. Darah berceceran di mana-mana. Tubuh bergelimpangan di sembarang tempat. Turis-turis yang tidak tahan dengan pemandangan ini menutup matanya. Perempuan-perempuan memasak di dapur, dan sebagian lagi mengedarkan kopi bagi semua tamu. Keluarga melepas kepergian kepala suku itu dengan sedih.
 
Dan, mereka yang telah meninggal, akan segera meninggalkan rumah tongkonan dan orang-orang yang masih tinggal di dalamnya. Tetapi, tidak berarti mereka akan dilupakan. Mereka akan tetap menjadi bagian dari mereka yang hidup. (***)

Share This Post

Posted by Thursday, 21 January 2010 on 00:02.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

60 Responses to “Perjalanan ke Tator (Part 3)”

Pages: [6] 5 4 3 2 1 »

  1. 60
    maryojuana Says:

    wah, jd kangen ma kampung halaman… ^_^

    I LOVE TORAJA … !!!

  2. 59
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    HN, memang begitu. Dulu bagi saya sama aja Makassar dan Bugis, ternyata salah. Mereka seperti Jawa dan Sunda. Beda. Bersaingan di semua sisi kehidupan.

  3. 58
    HN Says:

    Mbak Nin: dari ngobrol2 dengan orang setempat di pesta, ada dua jenis kerbau yang mahal, saleko dan lotongboko, entah, apa mungkin aku salah dengar ya dan salah pengertian? hehehehe. Enaknya bilang, mungkin kebo bule gitu saja ya….

    Kemarin tidak terlalu banyak kuliner, Mbak. Sayang, hikssss… Cuman sempat ngopi saja di Raya Makale-Rantepao, menemukan satu kedai kopi dan bisa beli disana kopi bubuk. Enak kopinya. yang punya orang Toraja asli tapi istrinya orang Bandung.

  4. 57
    HN Says:

    Pak ISK: saya juga agak sesat pikir juga, kalau orang Makassar itu pasti Bugis. Ternyata itu, kurang tepat. Baru ketika saya sering ke Makassar, saya jadi tahu kalau Makassar itu nama suku, seperti halnya Bugis, Mandar dan Toraja. Dan, keempat suku ini yang mendominasi penduduk di makassar. Persaingan paling seru antara orang suku Makassar dan Bugis. persaingan mereka tidak hanya bisnis, tapi juga politik.

    Kalau daerah yang minor Bugis, ada di Bone, dan Palopo.

  5. 56
    elnino Says:

    Emon, kebo bule bertotol hitam bukan ‘tedong bonga’ ya sebutannya? Jenis yang paling mahal katanya…

    Syereemm banget tuh pembantaiannya. Kebo bulenya ekspresinya sedih banget…kasian

    Kakak ipar ada yg menikah dg anak raja Toraja muslim (udah migrasi ke Mks sih) dari fam Sampetodding. Pernah denger nama2 model ini Mon?

    Kulinernya menarik gak Mon? Ceritain dong..

  6. 55
    ilhampst Says:

    Pak ISK : benar Pak, awalnya saya bingung dengan perbedaan itu, tapi akhirnya maklum juga

  7. 54
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Beda ilham, pengertian kultural dan geografis. Jakarta memang ada di pulau Jawa (geografis), tetapi bukan Jawa (kultural).

  8. 53
    ilhampst Says:

    kalo saya malah pernah bingung, orang2 di Jakarta yang mau ke Jatim, Jateng n DIY pada bilang berangkat ke Jawa. Jakarta koq ga dianggap Jawa padahal juga sama2 ada di Pulau Jawa? hehehehe…

  9. 52
    nissa Says:

    huhuhu emonn.. pengen jalan2 ke toraja Y_Y
    pengen jalan2 ke TIbet
    pengen jalan2 ke Karimun Jawa
    pengen jalan2 ke Bali
    pengen jalanjalan naik kereta api
    tutu tuttuuutt

  10. 51
    Sophie Says:

    Buto ngaku2 dari semarang, wong medanlang aja kok ngeyel

Pages: [6] 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)