Ratu Boko

Dewi Aichi Saturday, 23 January 2010

| Viewed 798 times, 1 times today | 30 Comments |

Dewi Aichi – Brazil

Kesempatan terakhir waktuku di Jogja, mengunjungi obyek wisata Ratu Boko, yang terletak kurang lebih 2 km arah selatan candi Prambanan, kurang lebih 18 km arah timur kota Jogjakarta, kurang lebih 50 km dari arah barat kota Solo. Obyek wisata Ratu Boko terletak di atas bukit yang merupakan kelanjutan dari pegunungan seribu. Luas area Ratu Boko kurang lebih 250.000 m2 dengan ketinggian kurang lebih 195.97 m.

Sejarah penemuan situs Ratu Boko

Prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran tahun 746-784 masehi, kawasan situs Ratu Boko disebut Abhayagiri Wihara. Abhaya artinya tidak ada bahaya, giri artinya bukit/gunung, wihara artinya asrama/tempat. Dengan demikian Abhayagiri Wihara berarti "asrama/tempat para Bhiksu agama Budha yang terletak di atas bukit penuh kedamaian.

Pada masa berikutnya Abhayagiri Wihara berganti nama menjadi Kraton Walaing yang diproklamirkan oleh Raja Vasal bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Tahun 1790 Van Boeckholtz menemukan adanya reruntuhan kepurbakalaan di atas bukit Ratu Boko.

Setelah sekitar seratus tahun kemudian, FDK Bosch mengadakan penelitian dan melaporkan hasil penelitiannya yang diberi nama Kraton Van Ratoe Boko. Maka dari itu kepurbakalaan yang ada di bukit Ratu Boko dikenal dengan nama Kraton Ratu Boko.

Nama Kraton Ratu Boko berasal dari Kraton=ka-da-tu-an yang artinya tempat istana raja, Ratu=raja, Boko=bangau. Pengertian ini kemudian menimbulkan pertanyaan,"siapa yang disebut raja bangau?" Menurut masyarakat yang tinggal disekitar Ratu Boko, memang sering ada beberapa burung bangau yang selalu hinggap di pelataran wilayah Ratu Boko.

Pada bagian utara,barat dan selatan dari perbukitan Ratu Boko, merupakan tanah ngarai yang amat luas dan subur untuk daerah pertanian, sedangkan di bukit Ratu Boko sendiri terdapat kolam-kolam sebagai tandon air dari yang berukuran kecil sampai berukuran besar.

Berlanjut ke ceritaku

Sebenarnya tidak sengaja ke obyek wisata Ratu Boko. Waktu itu aku, suami, anakku dan adik-adikku makan siang di mall Malioboro. Pulangnya kita menghabiskan waktu tanpa tujuan yang akhirnya kita sampai jalan Solo. Karena suasana yang nyaman, meskipun sudah jam 3 sore, kita sepakat untuk naik ke bukit. Karena sudah deket dengan tempat parkir obyek wisata Ratu Boko, kita masuk meski terlalu sore, tapi kata penjaga loket, justru mulai jam 3 atau 4 sore, pengunjung mulai ramai.

Tempat Parkir

Benar juga, dengan semakin gelap, pemandangan di pelataran Ratu Boko luar biasa indah, ada sekelompok mahasiswa yang mengabadikan sunset dari Plaza Andrawina. Plaza Andrawina inilah yang biasanya digunakan untuk panggung terbuka/open stage. Letaknya beberapa meter sebelum pintu gerbang kedua, persis di lereng bukit seluas kurang lebih 500 m2.

Dari Plaza Andrawina inilah ketika senja tiba, tercipta nuansa alami dengan panorama alam yang sangat memukau. Jika pandangan mata kita arahkan lebih jauh, akan terlihat megahnya candi Prambanan dan candi Sewu dengan latar belakang gunung Merapi yang selalu mengepulkan asapnya. Masih ditambah lagi keindahan dan keramaian kota Prambanan yang di belah sungai Opak.

Prambanan di kejauhan

Dari Plaza Andrawina ke arah masuk, terlihat kesibukan para petugas yang akan mendirikan panggung, karena malamnya akan diadakan pertunjukan sendratari, dan untuk malam berikutnya diselenggarakan pertunjukan wayang kulit. (gambar 4, gambar 5).

Lebih masuk ke arah belakang panggung adalah pintu utama Ratu Boko, dari situlah biasanya pemandangan sunset lebih memukau dibanding dari Plaza Andrawina.

Gerbang Utama Candi Boko

Kurang lebih 15 meter dari arah Gapura, terdapat candi pembakaran yang terbuat dari batu putih. Tempat ini dulu digunakan untuk pembakaran mayat. Candi ini menghadap ke barat. Pada gambar terlihat tenda plastik, itu adalah kegiatan mahasiswa archeolog yang sedang melakukan eskavasi, restorasi dan konservasi.

Restorasi

Di sebelahnya terdapat pelataran yang luas, itu biasanya digunakan untuk kegiatan camping anak-anak sekolah dari wilayah Jogja maupun Solo. Karena memang fasilitas yang disediakan pengelola obyek wisata ini memang lengkap, seperti lapangan upacara, toilet putra dan putri, listrik, air, musholla, pendopo, dan juga menyediakan tenda camping, keamanan.

Apabila naik sampai ke puncak bukit, kita bisa menemukan sebuah makam dengan dilengkapi patung, sayang sekali tidak ada keterangan apapun tertulis di sekitar makam maupun di batu nisan, sehingga saya tidak dapatkan keterangan tentang makam tersebut.

Patung

Inilah perjalanan terakhir di pertengahan tahun 2009 ketika saya sekeluarga di Jogja. Suatu senja di Ratu Boko. Tempat yang penuh sejarah di dataran tinggi yang memiliki formasi tanah misterius, hitam pekat, penuh guratan alam yang bernuansa teka teki. Fenomena alam yang luar biasa.

Bila meluangkan waktu untuk camping di tempat ini, dan bangun disaat subuh, memandangi garis-garis langit di ufuk timur, yang bagaikan lidah raksasa membelah kegelapan dengan sinarnya yang bertaburan, memberikan cahaya warna warni menerpa persawahan, inilah tempatnya, Ratu Boko: "out standing views of silk sunrise".

Gerbang Utama dari luar dan dalam

Gerbang Samping

Serakan Batu Candi

Serakan Batu Fondasi

Tembok Luar dan Bekas Parit

Tempat Pemandian

Additional pictures by: JC

Categories: Jalan-jalan
Tags: ,

30 Comments to “Ratu Boko”

Pages: « 3 2 [1]

  1. 10
    J C Says:

    Bener mas Iwan, satu hal lagi yang masyarakat kita memang tidak bisa menghargai peninggalan budaya. Vandalisme kelas bawah, corat-coret sampe vandalisme kelas balai lelang internasional…

    Masih bagus contoh dari UII, bangun perpustakaan, nemu candi, malah direservasi baik-baik, bukan kayak di Trowulan, sudah jelas di situ kompleks kuno Majapahit, main hajar saja obrak-abrik atas nama pembangunan Majapahit Center…wis ngawur luar biasa, untung masih ada kalangan cagar budaya, masyarakat dan akademisi yang ribut-ribut, jadi kayaknya perusakan tak berlanjut, tapi entahlah, kalo tertutup dari media…nanti tau-tau diresmikan oleh presiden bisa-bisa…

  2. 9
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Om JC, perasaan misteri itu pasti ada setiap kita mengunungi bangunan candi atau sejenisnya. Paling tidak pertanyaan misteri kemana dijualnya potongan atau penggalan vandalisme.

  3. 8
    J C Says:

    Menurut aku Candi Boko ini yang paling misterius dibanding candi-candi lain di sekitar situ. Waktu di sana, hawa misterius dan magis sangat terasa. Kharisma bekas kerajaan kuno masih terasa sisanya di sekitar situ (at least menurut aku lho ya).

    Indah, tapi sayang sekali berantakan dan terbengkalai…

  4. 7
    Bagong Julianto Says:

    DA>>>

    Trims liputannya. Belum pernah ke sana. Mudah-mudahan nanti ada kesempatan mudik, mau ikutan menek klopo dan ke Ratu Boko….

  5. 6
    Sumonggo Says:

    Wah patung bagus-bagus kok ada yang tega corat-coret. Terimakasih Mbak Dewi Aichi.

  6. 5
    Imeii Says:

    indah tapi penuh misteri ya kesannya, sayang ya banyak di tag tangan2 iseng

  7. 4
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Om Djoko, Ratu Amplop itu judul film satire komedi dari Benyamin S tahun 1970-an, yang menceritakan bahwa segala sesuatu di Indonesia, bisa mungkin asal ada pelicin (amplop) alias duit. Gimana kabar Om? Semiga semua baik dan sehat dalam lindungan Tuhan.

    Salam sayang dari kami.

  8. 3
    Dj. Says:

    Terimakasih mbak Dewi…untuk penjelasan dan foto-fotonya…..
    Sama dengan mas Iwan,kami kalau mudik juga selalu ke Jogja,tapi belum pernah singgah di ratu Boko….

    Mas Iwan….
    Ratu Amplop itu ratu dari mana….???

    Salam manis dari kami di Mainz….

  9. 2
    Lani Says:

    DA : setauku candi ratu Boko ini rusak berat, krn aku pernah ke Prambanan trs mampir kesini, sgt disayangkan ya…gak terurus, rusak berserakan

  10. 1
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Ratu Boko itu Candi atau istana? Dua-duanya bisa benar. Kata orang Jawa dulu, Boko itu artinya /baka/ atau kekal. Bangunan itu “paling terbengkalai” dalam hal segi ilmiah. Karena semua masih misteri dan tebak-tebakan ilmiah. Tidak seperti bangunan candi yang lain.

    Saya sedih belum pernah ke sini, mesi beberapa kali mondar mandir ke tempat sekitar itu. Yang paling saya inget, cuma Ratu Amplop, si Ratmi B-29.

    Terima kasih Aichi artikelnya.

Pages: « 3 2 [1]

Terima kasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan komentar.

Image (JPEG, max 50KB, please)

Archives



Internet Sehat

Advanced NewsPaper customized by Team Baltyra.com