56 Etnis Suku di China: The Oroqens

Sophie Mou

Kata "Oroqen" memiliki dua makna, yang pertama adalah "pelatih rusa", dan yang kedua berarti  "orang yang tinggal di gunung". Dalam Dinasti Yuan (1206-1368), mereka disebut "Orang-orang hutan". Dalam Dinasti Ming (1368-1644), mereka dikenal sebagai "orang dari pegunungan". Selama ratusan tahun, Suku Oroqen telah ada dan hidup dari berburu di area yang luas membentang dari tepi selatan Luar Pegunungan Hing’gan , sampai tepi timur Sungai Wusuli, Sungai Shileka di barat dan Karafuto ke timur.

Suku Oroqen adalah etnis minoritas terkecil ketiga dari 56 Suku Etnis minoritas di China, dengan jumlah penduduk sekitar 6.965 (per 1990), meningkat menjadi 8.196 pada tahun 2000. Mereka tinggal di Oroqen Otonomi Banner of Hulunbuir League di Pegunungan Hing'gan di Mongolia Dalam. Sejumlah kecil tersebar di Provinsi Heilongjiang.

Suku Oroqens mempunyai bahasa mereka sendiri yang termasuk dalam cabang Tungus Manchu-Tungusic Austronesia dari Filum Altai. Dikarenakan Mereka tidak memiliki transkip tulisan, mereka sekarang menggunakan bahasa China secara lisan dan tulisan bersama-sama dengan bahasa mereka sendiri.

Nenek moyang dari Oroqens awalnya tinggal di daerah yang luas di sebelah selatan Pegunungan Hing'gan disebelah luar utara Propinsi Heilongjiang. Pada abad ke-17, akibat invasi oleh Rusia, beberapa Oroqens pindah ke daerah dekat Lesser Pegunungan Hing'gan. Nama "Oroqen" pertama kali muncul pada tahun dua puluh, periode Kangxi. Sering ditulis dalam catatan sejarah Dinasti Han sebagai "Erchun", "Elechun", "Eluchun", "Elunqi" . Setelah berdirinya RRC pada tahun 1949, mereka secara resmi bernama Oroqen etnis minoritas.

Di masa lalu, orang-orang Oroqen terutama hidup dari berburu, dan kadang-kadang memancing. Setelah berdirinya RRC, mereka secara bertahap meninggalkan hutan, mereka berhenti hidup nomaden dan mulai menetap. Dengan dukungan dari pemerintah, mereka mulai mencoba belajar bertani dan beternak.

Sejarah panjang kehidupan berburu mempengaruhi penciptaan budaya berpakaian mereka yang unik. Pakaian Suku Oroqen, termasuk topi, sepatu dan kaus kaki, terbuat dari kulit binatang. Kaum Wanita Oroqen yang juga berburu, menunjukkan keahlian luar biasa dalam pola menyulam dari kulit rusa, beruang, dan kuda, mereka membuat sarung tangan, sepatu bot dan pakaian. Mereka juga membuat mangkuk-mangkuk, kotak dan objek lain. Diukir dengan berbagai desain dan dicelup dalam warna, benda-benda ini adalah karya-karya artistik yang menyampaikan gagasan tentang kesederhanaan dan keindahan.

Suku Oroqen menganut aliran Shamanisme dan totemisme.  Mereka sangat memuja dan menyukai binatang beruang dan harimau, dan menganggap mereka mempunyai ikatan darah dengan harimau dan beruang. Harimau dikenal sebagai wutaqi yang berarti "orang tua" dan beruang adalah amaha yang berarti "paman". Mereka menyembah alam dan nenek moyang mereka, dan percaya bahwa segala sesuatu di dunia memiliki jiwa.

Dukun terakhir dari Oroqen, Chuonnasuan (Meng Jin Fu), meninggal pada usia 73 pada tanggal 9 Oktober 2000.

Festival Musim Semi adalah salah satu Festival yang paling penting bagi Orogens. Mereka merayakannya pada tanggal yang sama dengan Suku Hans. Pada pagi hari pertama Tahun Baru, mereka membakar dupa dan bersujud kepada Dewa Api dan kepada orang-orang tua, dan berharap semua akan mendapatkan rejeki yang lebih baik di tahun yang akan datang. Berbagai kegiatan hiburan, seperti pertandingan gulat, pacuan kuda dan memanah, diadakan dari pertama sampai hari keenam Tahun Baru.

Di antara tarian Oroqen paling populer adalah "Black Bears Fight" dan "Wood Cock Dance," di mana gerakan penari seperti binatang dan burung. Mereka juga sering melakukan ritual di mana anggota-anggota klan berkumpul untuk melakukan tarian-tarian yang menggambarkan peristiwa dalam sejarah marga.

"Pengnuhua" (semacam harmonika) dan "Wentuwen" (tangan drum) adalah salah satu instrumen tradisional yang digunakan. Dimainkan oleh musisi Oroqen,s instrumen ini menghasilkan lagu yang terdengar seperti burung berkicau atau ringkikan rusa. Instrumen ini kadang-kadang digunakan untuk memikat hewan liar .

Suku Oroqens memiliki banyak cerita, fabel, legenda, peribahasa dan teka-teki yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Sejarah

Oroqens pada mulanya mendiami wilayah utara Sungai Heilong dan bagian selatan lingkar Luar Pegunungan Hinggan . Tapi agresi dan penjarahan yang dilakukan oleh Tsar Rusia setelah pertengahan abad ke-17 memaksa Oroqens untuk bermigrasi ke dalam Pegunungan Hinggan  Ada tujuh suku-suku yang tinggal bersama dalam sebuah komune marga masyarakat. Setiap komune marga disebut "Wulileng" terdiri dari lima sampai selusin keluarga keturunan dari nenek moyang laki-laki.  Kepala komune dipilih. Dalam komune, semua alat produksi dimiliki secara komunal. Anggota komune berburu bersama, dan binatang buruan yang tertangkap akan dibagi merata kepada semua keluarga.

Oroqens mengenal senjata, alat besi dan penggunaan Kuda pada masa Dinasti Qing (1644-1911) Hal ini menjadi pemicu kekuatan produktif Oroqens ke tingkat lebih besar. Menjadikan pembelian dengan cara barter pada skala yang lebih besar dan munculnya kepemilikan pribadi. Membawa perubahan mendalam dalam kehidupan sosial, yaitu perubahan ekonomi. Masing-masing keluarga berhenti menjadi klan komune marga . Komune klan telah hancur, tidak ada kebersamaan lagi, masing2 membentuk komune keluarga sendiri. 

Pada jaman Dinasti Qing ada peraturan yang bernama  "Eight Banner System ", suku Oroqens terpaksa mendaftarkan diri ke dalam angkatan bersenjata dan mengirim upeti berupa kulit dan bulu hewan kepada Qing. Sebagian besar prajurit yang dikirim untuk berperang di Xinjiang, Yunnan, Taiwan dan tempat-tempat lain kehilangan nyawa.

Setelah jatuhnya Dinasti Qing pada tahun 1911 muncul peraturan perang yang mengalami beberapa perubahan dalam hal administratif terkait dengan eight banner system. Pemuda Oroqen diharuskan mengikuti "unit gerilya hutan," dan pemburu Oroqen dipaksa untuk menetap bertani. Sebagian besar dari mereka kemudian melarikan diri untuk berburu di hutan. Perubahan peraturan perang telah menjadikan para panglima perang sebagai tuan tanah yang menyewa Oroqens, Hans, Manchus dan Daurs menjadi buruh untuk membuka lahan besar untuk tanaman.

Pasukan Jepang, yang menduduki timur laut China pada 1931, menurunkan bom dan menghancurkan pertanian dan mengusir mereka kembali ke dalam hutan lagi. Tentara Jepang memperkenalkan candu yang merusak kesehatan suku Oroqen, beberapa di antaranya bahkan dipergunakan sebagai percobaan perkembangan bakteri. Semua ini, masih ditambah dengan timbulnya wabah penyakit, telah membawa kematian dan kehancuran bagi penduduk Oroqen yang hanya tersisa sekitar 1.000 pada saat Jepang menyerah pada 1945.

Kehidupan setelah kemerdekaan China dan bersatu

Kehidupan Oroqens mulai bangkit dan dapat diselamatkan dari kepunahan setelah berakhirnya Perang anti Jepang pada tahun 1945. Setelah dibentuknya PR of China, Pemerintah mulai mengirimkan, makanan, pakaian, garam, minyak kepada Suku Oroqens. Juga mengirimkan utusan untuk  membantu mereka meningkatkan produksi serta untuk menyiapkan pemerintah daerah.

Pembentukan dan pendirian Otonomi Oroqen Banner pada 1 Oktober 1951, beberapa kota-kota otonom didirikan di tempat-tempat di mana Oroqens hidup dalam komunitas bersama. Pada 1981, Pemerintah telah mengalokasikan dana untuk membangun konstruksi di tempat-tempat ini sebesar 46 juta yuan.

Pemerintah berusaha untuk mengalihkan kehidupan berburu dengan membantu mereka beralih ke ekonomi yang terdiversikasi dan mendirikan rumah untuk mereka menetap secara permanen. Pembangunan perumahan permanen untuk Oroqens dimulai pada tahun 1952. Selusin desa dibangun di Area Heihe untuk 300 keluarga yang dahulunya  menjalani hidup berkelana di 51 lokasi yang tersebar luas. Tiga desa lain dibangun untuk 150 keluarga pada tahun 1958.

Suku Hans dan suku Daurs mengajarkan cara menjadi petani, suku Oroqens mulai bercocok tanaman pada tahun 1956. Dan tahun 1975, orang-orang di daerah  otonom menjadi swasembada pangan-padi untuk pertama kalinya dalam sejarah Oroqen.

Tanpa industri apa pun di masa lalu, daerah otonom kini telah mendirikan  37 pabrik dan lokakarya mesin pertanian, peralatan listrik, tepung, susu bubuk, furnitur, kulit, bulu dan permen. Oroqens juga telah membangun sekolah, department store, rumah sakit, bank dan bioskop.

Semua anak-anak usia sekolah telah terdaftar di sekolah dasar dan sekolah menengah. Setiap tahun jumlah anak-anak masuk perguruan tinggi bertambah. Oroqens juga memiliki lagu dan tarian , film, Stasiun penyiaran dan klub.

Wabah penyakit yang mengambil korban berat di masa lalu,  80 persen perempuan menderita masalah yang berhubungan dengan ginekologi karena kurangnya dokter dan obat-obatan telah mendapatkan penangulangan tim medis dari Pemerintah Pusat. Juga telah dilakukan seminar dan peluncuran kampanye pencegahan penyakit serta pengetahuan mengenai kebersihan. Semua usaha telah menjadikan populasi Oroqen meningkat menjadi 4.100 pada tahun 1982.

 

Referensi :

Photo by Chen Hai Wen

Jeffry Kintscher

travelguidechina.com

china.org.shaosuminchu

Sumber-sumber lain Etnis Minoritas di China

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.